MTQ Nasional Rupanya Bikin Tokoh Sekuler Blingsatan, hingga Dihembuskan ‘Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar)’

Rupanya apapun yang diduga akan mengakibatkan semarak dan bergairahnya Umat Islam dalam Berislam, menjadikan tokoh2 sekuler ataupu anti Islam blingsatan atau meradang. Hingga mereka mempopulerkan sesuatu yang tidak populer untuk memadamkan apa-apa yang dianggap menyemarakkan Islam.

Salah satu contoh, akan diselenggarakannya MTQ Nasional ke-14 di Pontianak 1985, gemanya menasional sejak beberapa pekan sebelumnya. Maka bertandanglah para tokoh pengusung sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme, yang kelak tahun 2005 difatwakan haramnya oleh MUI)* dengan sebutan mentereng “para pembaharu Islam” bahkan dengan mantel sebagai “cendekiawan Muslim” mencuatkan hal2 yang aneh (nyleneh) yang dilontarkan ke Umat Islam.

Di antaranya, Dr Nurcholish Madjid yang saat itu masih langka adanya doktor keislaman, dia baru pulang dari kuliah di Chicago Amerika membawa gelar doktor. Lalu ia melontarkan kalimah thoyyibah Laa ilaaha illallaah diterjemahkan menjadi Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar).

Keruan saja Umat Islam jadi ribut. Mimbar2 da’wah diinterupsi oleh terjemahan yang nyeleneh alias aneh dan asing bagi Umat Islam itu hingga bertahun-tahun.

Kalau dilihat dari sisi waktu, lontaran itu digemborkan sebulan sebelum pembukaan MTQ ke-14 di Pontianak Mei 1985 yang memang gemanya cukup besar tingkat nasional, karena diikuti 700 peserta dari seluruh provinsi di Indonesia.

Jadi rupanya acara itu bikin gerah kaum sepilis hingga klimpungan dan ngomong ngaco hingga bikin ribut Umat Islam.

Sekadar mengulang adanya berita MTQ yang dimaksud, silakan simak ini.

***

 

1985-05-03 Presiden Soeharto Buka MTQ Nasional Di Pontianak

NASIONAL

Presiden Soeharto Buka MTQ Nasional di Pontianak[1]

JUM’AT, 3 MEI 1985 Malam ini, pada jam 20.30 waktu setempat, Presiden Soeharto membuka MTQ tingkat nasional ke-14. MTQ Pontianak ini diikuti oleh 700 orang peserta yang berasal dari seluruh provinsi di tanah air.

Menyambut penyelenggaraan MTQ ini, dalam pidatonya Presiden mengatakan bahwa dengan penyelenggaraan MTQ sebanyak 14 kali menunjukkan betapa panjang jalan yang telah kita tempuh dalam mengembangkan seni baca Kalam Ilahi ditengah-tengah masyarakat kita. Hal ini juga menunjukkan betapa agama Islam mendapat tempat yang sangat terhormat dalam negara kita yang berdasarkan Pancasila. Presiden mengatakan bahwa seni baca al-Qur’an itu makin hari makin berkembang dikalangan kaum Muslimin Indonesia, sehingga kita telah memiliki qari, qariah dan hafidz yang mengharumkan nama umat Islam Indonesia dalam lomba seni baca al-Qur’an di tingkat dunia.

Namun Presiden mengingatkan bahwa al-Qur’an diturunkan bukan untuk dibaca saja. Dikatakan oleh Kepala Negara bahwa al-Qur’an adalah jalan bagi kaum muslimin demi kebahagiaan dan keselamatan hidup kita di dunia dan di akhirat. (AFR)

__________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988”, hal 319-320. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

https://soeharto.co/1985-05-03-presiden-soeharto-buka-mtq-nasional-di-pontianak/

***

Saya (Hartono Ahmad Jaiz) lagi cari2 artikel lawas yang terbit di Harian Pelita -Jakarta (halaman depan), di hari2 pekan pertama Mei 1985, berjudul Tuhannya Dr Nurcholish Madjid oleh Hartono.

Isinya membantah Dr Nurcholish Madjid yang menerjemahkan kalimah thoyyibah Laa ilaaha illallaah menjadi Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar).

Sayang, artikel itu belum ketemu, malah nemu berita lawas tentang pembukaan MTQ di Pontanak 1985.

*
Fatwa MUI Tentang Haramnya Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama https://www.nahimunkar.org/fatwa-mui-tentang-haramnya-pluralisme-liberalisme-dan-sekulerisme-agama/

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 213 kali, 1 untuk hari ini)