KIBLAT.NET, Kairo – Mufti Iraq mengungkapkan kisah mengerikan di negara yang dilanda peperangan saat ini. Menurutnya, di Iraq ada sejumlah milisi-milisi Syiah yang bertindak kejam terhadap rakyat sipil.

Dalam pertemuan bersama 120 perwakilan tokoh agama dari negara-negara internasional di Mesir, Rabu (03/12), mufti Iraq, Syaikh Rafi Al-Rifa’i mengungkapkan bahwa di Iraq saat ini tidak ada pemerintahan yang nyata. Wilayah di Iraq terbagi-bagi dan dikuasai kelompok-kelompok bersenjata.

Akan tetapi, lanjutnya, ada lebih dari 32 milisi Syiah bersenjata yang mengontrol seperempat dari seluruh wilayah Iraq. Mereka tak kalah berbahaya dari kelompok Daulah Islamiyah.

Milisi-milisi Syiah itu menyembelih warga Ahlu Sunnah dengan dalih memerangi terorisme. Mereka juga membakar rumah-rumah warga Ahlu Sunnah di tempat-tempat yang mereka kuasai.

Bahkan, tegas Rifa’i, terdapat sejumlah tempat yang warganya tidak bisa berani menamai anak mereka dengan nama “Umar”. Seperti diketahui, Syiah sangat benci dengan nama khalifah umat Islam kedua setelah Abu Bakar itu.

Masih menurut keterangan Rifa’i, para milisi Syiah itu merupakan milisi bayaran dan sebagian digaji pemerintah. Mereka juga memampang foto-foto tokoh rujukan Syiah Iran, Ali Khomeini, di daerah-daerah yang mereka kontrol.

Hal itu disampaikannya di hadapan 120 perwakilan negara dalam pertemuan di Mesir. Pertemuan yang bertema “Muktamar Al-Azhar untuk Memerangi Ekstrimis dan Terorisme” itu diikuti dari berbagai aliran agama, termasuk aliran sesat Yazidiyah dan Sabi’ah. Bahkan,tokoh-tokoh non muslim juga ikut dalam konferensi yang berlangsung selama 3-4 Desember itu.
Sumber: Al-Jazeera
Penulis: Hunef


Asosiasi Ulama Sunni Iraq Tuduh Milisi Syiah Lakukan Genosida

KIBLAT.NET, Baghdad – Asosiasi Ulama Ahlu Sunnah Iraq menuduh pemerintah dan pihak-pihak yang mendukung operasi militer Iraq bertanggung jawab atas pembantaian rakyat Sunni. Sebagaimana laporan media, militer Iraq bersama milisi Syiah berusaha melenyapkan Ahlu Sunnah dari Iraq di wilayah-wilayah yang mereka rebut dari Daulah Islamiyah.

Dilansir Al-Jazeera, Kamis (27/11), Asosiasi Ulama Iraq menuduh militer dan milisi Syiah Al-Hasd Al-Syakbi melakukan kejahatan dan pelanggaran di Diyala, Shalahudin, Jarf Shakr dan Abu Ghuraib. Mereka mengusir warga Ahlu Sunnah dari rumah-rumah mereka dengan cara dibakar.

Asosiasi Ulama juga mengutuk dunia internasional yang berdiam diri atas pembantaian yang dilakukan militer Iraq serta milisi Syiah yang didukung mereka terhadap warga Sunni.

Sebagaimana diberitakan, militer Iraq dan milisi Syiah membakar rumah-rumah warga Ahlu Sunnah di Diyala setelah mengontrol dua kota dari Daulah Islamiyah. Mereka berusaha mencegah warga Sunni kembali ke rumah mereka.

Aksi itu mendapatkan reaksi keras dari Kepala Kantor Wakaf Sunni, Mahmud As-Sumaidi. Ia mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan milisi Syiah di provinsi Diyala adalah pembersihan etnis dan genosida.

Ia mengatakan telah mendesak tokoh rujukan Syiah tertinggi di Najaf untuk campur tangan menghentikan pembersihan warga Sunni di Diyala, Shalahudin, Nabel dan daerah-daerah Iraq lainnya. Setelah merebut wilayah dari Daulah, milisi Syiah membantai warga sunni dan membakar serta menghancurkan masjid-masjid Sunni.

Hal senada juga disampaikan Sekjen Konferensi Pendiri provinsi Shalahudin, Najih Al-Mizan. Ia mengungkapkan bahwa kejahatan milisi Syiah sangat mengerikan dan dilakukan secara sistematis. Bahkan, tambahnya, satu warga desa Sunni habis tak bersisa akibat genosida yang dilakukan milisi Syiah.

Mizan menambahkan, mayoritas warga melarikan diri meninggalkan kampung mereka setelah pasukan pemerintah dan milisi Syiah menduduki kampung mereka. Mereka takut menjadi sasaran genosida dari milisi-milisi Syiah yang didukung pemerintah.

Sumber: Al-Jazeera
Penulis: Hunef

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.257 kali, 1 untuk hari ini)