korbandensus

  • …Sekaligus kita katakan tidak professional Densus 88 itu. BNPT itu tidak ada gunanya, dibubarkan saja
  • …Apa kerjanya BNPT itu? Hanya selalu ngomong, menyalahkan dan menyinggung perasaan umat Islam
  •  “Densus jangan hanya berani pada masyarakat, apalagi masyarakat Islam.”

Inilah beritanya.

Allahu Akbar! Selain Densus 88, Din Syamsudin Desak BNPT Dibubarkan

JAKARTA (voa-islam.com) – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin, MA, mendesak agar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) diaudit aliran dananya dan dibubarkan.

Sebelumnya, Din Syamsudin bersama MUI dan pimpinan ormas-ormas Islam telah sepakat meminta Densus 88 harus dievaluasi, bahkan jika perlu dibubarkan.

“Kalau dari kami, ormas-ormas Islam, MUI kita sepakat saya kira Densus 88 itu harus dievaluasi, bila perlu dibubarkan. Tapi diganti dengan sebuah lembaga dengan pendekatan baru untuk bersama-sama untuk memberantas terorisme,” kata Din Syamsudin kepada wartawan di Mabes Polri, Kamis (28/2/2012).

…Sekaligus kita katakan tidak professional Densus 88 itu. BNPT itu tidak ada gunanya, dibubarkan saja

Ternyata, selain Densus 88, Din Syamsudin juga mendesak BNPT dibubarkan lantaran menurutnya institusi tersebut tak ada gunanya.

“Sekaligus kita katakan tidak professional Densus 88 itu. BNPT itu tidak ada gunanya, dibubarkan saja dan apalagi harus diaudit dananya, kemungkinan mendapat sumbangan dari luar negeri,” ungkap Din Syamsudin kepada wartawan di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (28/3/2013).

Lebih lanjut kata Din Syamsudin, BNPT kerap menyalahkan dan menyinggung perasaan umat Islam.

“Apa kerjanya BNPT itu? Hanya selalu ngomong, menyalahkan dan menyinggung perasaan umat Islam,” ujarnya.

…Apa kerjanya BNPT itu? Hanya selalu ngomong, menyalahkan dan menyinggung perasaan umat Islam

Selain menuntut pembubaran BNPT, ia juga meminta agar institusi yang bertanggung jawab kepada presiden melalui koordinasi Menkopolhukam itu diaselidiki aliran dananya.

“Dana-dananya itu patut diselidiki itu dari luar negeri. Jangan demi untuk melanggengkan terorisme dilakukan pendekatan-pendekatan seperti itu,” tandasnya.

Untuk diketahui, Komnas HAM, Senin (18/3/2013), dalam rekomendasinya saat konferensi pers hasil investigasi video penyiksaan yang diduga dilakukan Densus 88 juga pernah mendesak DPR agar mengaudit aliran dana yang digunakan dalam penanggulangan terorisme.

“Meminta DPR melakukan pengawasan terhadap penggunaan dana, baik yang dari APBN maupun dana bantuan luar negeri, yang digunakan dalam program penanggulangan terorisme” demikian rilis Komnas HAM yang ditandatangani Siane Indriani  selaku Ketua Tim Pemantauan dan Penyelidikan Penanganan Tindak Pidana Terorisme. [Ahmed Widad] Sabtu, 30 Mar 2013

***

Sabtu, 30 Mar 2013

Ternyata Korban dalam Video Penyiksaan Densus 88 Warga Muhammadiyah

JAKARTA (voa-islam.com) – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin, MA, akhirnya mengungkapkan bahwa sejumlah korban dalam video kekerasan yang diduga dilakukan Densus 88 ternyata anak-anak keluarga besar Muhammadiyah.

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu Din Syamsudin bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah delegasi pimpinan Ormas-ormas Islam pernah mendatangi Mabes Polri.

Saat itu kedatangan Din Syamsudin bersama MUI dan ormas Islam tersebut secara khusus melaporkan kepada Kapolri Jendral Timur Pradopo terkait adanya bukti video dugaan pelanggaran HAM berat yang dilakukan aparat Densus 88 dalam penanganan kasus terorisme.

“Secara khusus juga kami datang untuk melaporkan adanya bukti berupa video yang mengandung gambar tentang pemberantasan teroris, kami tidak tahu dimana dan kapan. Tetapi sangat jelas mengindikasikan pelanggaran HAM berat, oleh karena itu kami meminta untuk ditindaklanjuti,” kata Din Syamsudin kepada wartawan di depan gedung Rupatama, Mabes Polri, Kamis (28/2/2012).

Sementara, Komnas HAM yang juga memiliki bukti video yang sama, melakukan investigasi ke Poso. hasilnya setelah melakukan pemantauan dan penyelidikan melalui wawancara dengan para saksi serta tinjauan langsung ke lapangan diperoleh data, fakta dan informasi bahwa, peristiwa yang terekam dalam video kekerasan yang diduga dilakukan oleh Densus 88 adalah benar-benar terjadi pada 22 Januari 2007 di Tanah Runtuh, Kelurahan Gebang Rejo, Kecamatan Poso Kota, Kabupaten Poso.

Namun, temuan terbaru yang sangat mencengangkan dan membuat miris umat Islam adalah korban penyiksaan dalam video tersebut adalah anak-anak keluarga besar Muhammadiyah.

Hal ini disampaikan Din Syamsudin usai konferensi pers PP Muhammadiyah terkait RUU Ormas yang akan segera disahkan.

“Seperti kejadian di Poso itu anak-anak keluarga besar Muhammadiyah yang akan menunaikan shalat Idul Fitri, Oktober 2007 yang kebetulan berbeda harinya dengan pemerintah. Tapi kok pada sore dan malam hari itu didatangi oleh polisi dengan operasi sambang, lalu terjadi benturan, itu bukan teroris!” tegas Din Syamsudin kepada wartawan, di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis (28/3/2013).

Din juga menyayangkan sikap aparat kepolisian dalam hal ini Densus 88 yang hanya berani kepada masyarakat biasa dari umat Islam, sedangkan untuk kasus teror penyerangan di Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta hingga kini Densus 88 sama sekali belum mengungkapnya.

“Densus jangan hanya berani pada masyarakat, apalagi masyarakat Islam,” tandasnya. [Ahmed Widad]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 703 kali, 1 untuk hari ini)