• Kasus Salah Tangkap di Tulungagung
  • Mabes Polri sempat merilis sedemikian rupa, yang memaparkan seolah-olah korban adalah teroris benaran. Pernyataan Humas Mabes Polri merupakan pencemaran nama baik dan pembunuhan karakter bagi korban

 densus 88

Densus 88

Hidayatullah.com–Indonesia Police Watch (IPW) mengecam keras kasus salah tangkap yang dilakukan Densus 88 terhadap dua warga Tulungagung, Jatim, yakni Sapari (49) dan Mugi Hartanto (38).

“Kasus salah tangkap di Tulungagung adalah salah satu bukti kekejian polisi, khususnya Densus 88. Kasus ini tidak boleh ditolerir,” ucap Ketua Presidium IPW Neta S Pane.

Menurut Neta, lembaga-lembaga  negara, seperti DPR dan Komnas HAM, perlu mempersoalkan kasus ini secara serius, antara lain memanggil dan meminta pertanggungjawaban Kapolri dan Komandan Densus 88.

Selain itu kata Neta, korban harus melakukan tuntutan pidana dan perdata. Pihak yang paling bertanggung jawab dalam kasus ini yang bisa dituntut secara pidana adalah anggota Densus yang melakukan penangkapan dan penyiksaan, kemudian Komandan Densus di lapangan maupun Komandan Densus yang memerintahkan penangkapan.

Mereka yang dituntut secara pidana harus segera ditahan, mengingat pelaku penyiksaan diancam 5 tahun penjara. Sedangkan Kapolda dan Kapolri bisa dituntut secara perdata,” kata Neta, dalam berita Waspada, Rabu (31/07/2013).

Dalam kasus salah tangkap di Inggris lima tahun lalu, kata Neta, pengadilan memerintahkan polisi Inggris membayar ganti rugi sebesar Rp15 miliar (jika dirupiahkan) kepada korban salah tangkap.

Tuntutan perdata dan pidana ini harus  dilakukan korban. “IPW berharap Muhammadiyah yang sejak awal membantu advokasi terhadap korban bisa segera mengajukan tuntutan perdata dan pidana agar ada pembelajaran terhadap polisi maupun Densus 88 agar tidak bersikap sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya,” katanya.

Apalagi dalam kasus Tulungagung, Mabes Polri sempat merilis sedemikian rupa, yang memaparkan seolah-olah  korban adalah teroris benaran. “Pernyataan Humas Mabes Polri tersebut merupakan pencemaran nama baik dan pembunuhan karakter bagi korban,” tukasnya.

Lanjut Neta, dalam kasus ini IPW berharap Kapolri dan Humas Mabes Polri berjiwa besar untuk meminta maaf kepada korban. Wilayah Polda Jatim belakangan ini banyak terjadi aksi salah tangkap. Setidaknya ada lima kasus salah tangkap yg menimbulkan kontroversi di jatim.

“Kasus Tulungagung menunjukkan betapa buruknya kinerja Densus 88 dan intelijen kepolisian. Informasi intelijen yang tidak akurat ditelan mentah-mentah  dan melakukan penangkapan dan penyiksaan secara membabi buta terhadap korban.”

Kasus malpraktik yang dilakukan Polri dan Densus ini sangat menakutkan publik serta mencederai rasa keadilan masyarakat. Belajar dari kasus ini sudah saatnya Kapolri mengevaluasi kinerja Densus 88 dan sudah saatnya kalangan DPR, Komnas HAM dan komponen-komponen masyarakat lainnya mengontrol secara ketat sikap, perilaku, dan kinerja Densus 88.

Jika kontrol ketat ini tidak dilakukan dipastikan Densus 88 akan semakin sewenang-wenang  dan kasus salah tangkap terus terulang,” tegas Neta.*

 Rep:

Insan Kamil

Editor: Syaiful Irwan, Rabu, 31 Juli 2013 – 11:34 WIB

***

• 14 jam yang lalu

Dalam benak Densus 88 kagak penting apakah yang dibunuh warga Muhammadiyah apa yang lain. Yang penting dia aktifis Islam, bagi Densus itulah teroris yang harus dibunuh. Sudah terbukti dan teruji! Memerangi terorisme hanya dalih/kedok untuk menghabisi para dai dan aktifis Islam.

Anda tidak percaya dengan saya? Berarti selama ini Anda tidak pernah benar-benar cermat membaca berita, akhirnya tergerus juga dengan opini/kampanye yang dibangun sebagian besar media. Satu hal yang mencolok saja yang perlu Anda tahu, aktifis Islam selalu disebut teroris sementara pengacau keamanan yang ingin mengganggu stabilitas RI di Papua tidak pernah disebut demikian.

• 15 jam yang lalu

 Muhammadiyah memang harus bergerak untuk menuntut kelakuan Densus 88 yang semakin jadi mesin pembunuh, kalau NU jangan diharapkan.

***

DI DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS  SUDAH ADA PETUNJUK NYATA.

{الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (67) وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ } [التوبة: 67، 68]

67. orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[berlaku kikir]. mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.

68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS At-Taubah/ 9 : 67-68).

Dalam hal dibunuhnya Umat Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim. ( Hr. An-Nasa-I (Vii/82), Dari ‘Abdullah Bin ‘Amr Radhiyallahu Anhu. Diriwayatkan Juga Oleh At-Tirmidzi (No. 1395). Hadits Ini Dishahihkan Oleh Syaikh Al-Albani Dalam Shahiih Sunan An-Nasa-I Dan Lihat Ghaayatul Maraam Fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal Wal Haraam (No. 439).

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dahsyatnya siksa bagi pembunuh orang mu’min dengan sengaja:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا  [النساء : 93]

93. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS AN-NISAA’/4: 93)

Senjata  Umat Islam di antaranya adalah doa. Sedang doa yang paling mustajab adalah doa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berdoa untuk manusia-manusia semacam itu:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عنعائشة)

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.099 kali, 1 untuk hari ini)