KETUA PP Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM, dan Kebijakan, Busyro Muqoddas mempertanyakan alasan aparatur desa Pogung, Cawas, Klaten yang menolak rencana otopsi jenazah Siyono.

Padahal sepengamatan dirinya warga desa adalah warga yang guyub dan rukun. Ada salah seorang warganya yang meniggal seluruh warga sekitarnya akan datang melayat.

“Jadi.. aneh, aneh sekali,” tuturnya di gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (31/3/2016).

Meski begitu Busyro mengungkapkan tidak ada ancaman yang datang terkait rencana otopsi hingga saat ini. Pembongkaran makam dan rencana otopsi yang hendak dilakukan tim ahli forensik Muhammadiyah telah berdasar ketentuan hukum.

“Jadi bagi yang menghalang-halangi nanti akan kami petimbangkan dari aspek hukum,” tegasnya.

Otopsi, lanjutnya, merupakan pembuktian ilmiah terhadap penyebab kematian seseorang. Dari sana dapat diketahui apakah Siyono meninggal secara wajar atau tidak.

Sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang melakukan tinjauan langsung mengatakan ada upaya sistematis aparat desa Pogung untuk menolak rencana otopsi. Suratmi, istri almarhum Siyono bahkan kerap mendapat intimidasi agar merelakan saja kepergian suaminya.

Sementara Dahnil Anzar, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah yang langsung mendatangi dan melihat kondisi keluarga Siyono di Klaten menuturkan bahwa salah satu alasan aparat desa adalah ketertiban. Warga, katanya, tidak ingin adanya keramaian massa yang datang dari luar. (suandriansyah/Islampos) – Jumat 22 Jamadilakhir 1437 / 1 April 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.058 kali, 1 untuk hari ini)