Rektor UIN Semarang, Muhibbin, diberitakan bernada ngeyel soal pelarangan cadar di kampus yang dia pimpin. Bahkan dia sampai mengatakan: ““Cadar itu bukan merupakan syariat (Islam)….”

Bagaimana Muhibbin berani bilang begitu, sedangkan Ulama Syafi’iyah dapat dibaca pendapatnya yang menegaskan tentang cadar.

Imam as-Suyuthy menjelaskan tingkatan aurat wanita, (di antaranya):

…وحالة مع الأجانب وعورتها كل البدن حتى الوجه والكفين في الأصح …

“…kondisi wanita bersama lelaki asing, maka auratnya adalah seluruh badannya, termasuk wajah dan kedua telapak tangan menurut pendapat yang lebih benar…” (al-Asybah wa an-Nadzair, hlm. 240).

Oleh karena itu, ketika mahasiswi memakai cadar itu sejatinya adalah menjalankan keyakinan agamanya. Dan itu dilindungi oleh UUD 1945 alias konstitusi, undang-undang yang dinilai tertinggi di sini, hingga tidak boleh ada aturan apapun yang bertentangan dengannya. Sehingga, pelarangan cadar itu jelas melanggar konstitusi.

Inilah berita tentang ngeyelnya Rektor UIN Semarang, Muhibbin, dan bagian bawah ada penjelasan tentang cadar dari para ulama Syafi’iyah, serta berita mengenai Muhibbin yang diragukan keilmuannya oleh mahasiswa Mesir.

***

Rektor UIN Walisongo Anggap Larangan Cadar Adalah Hal Yang Wajar

Jakarta – Polemik mengenai pelarangan pemakaian cadar bagi mahasiswi di lingkungan kampus ternyata menarik perhatian banyak pihak. Mengejutkannya lagi, pelarangan tersebut sudah diterapkan oleh Univesitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.

Muhibbin selaku Rektor UIN Walisongo menjelaskan bahwa di kampusnya telah ada tata tertib tersendiri, dibuat sejak instansinya masih berdiri sebagai Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang mengatur kode etik berbusana mahasiswa dan mahasiswi selama mengikuti kegiatan perkuliahan.

“Tidak secara spesifik melarang pakai cadar. Intinya pakai pakaian itu yang sopan, tidak ketat untuk perempuan. Laki-laki juga, dalam artian seperti, tidak pakai sarung, sandal, dan sebagainya,” terangnya saat ditemui di kantornya, Kamis (8/3).

Mengenai aturan pelarangan pemakaian cadar yang kemudian disebut sebagai tindakan melanggar hak asasi manusia (HAM), Guru Besar Ilmu Hadist UIN Walisongo itu tidak sependapat. Menurutnya, sah-sah saja bagi instansinya untuk menerapkan aturan tersebut.

“Cadar itu bukan merupakan syariat (Islam). Jadi yang syariat itu menutup aurat dan aurat perempuan itu kan mengecualikan wajah dan telapak tangan. Kampus punya tata tertibnya sendiri, kita juga tidak melarang selain di lingkungan kampus. Kalau melarang orang memakai jilbab itu baru melanggar HAM,” sambungnya.

(Ikhsan Djuhandar – harianindo.com) www.harianindo.com in Nasional 10/03/2018

***

Siapa Muhibbin Rektor UIN semarang itu, berani menampik cadar… mengecualikannya dari syari’at Islam, dengan mengatakan: “Cadar itu bukan merupakan syariat (Islam)…”

Bila dia mau melihat ayat berikut ini, apakah dia tetap akan mengharamkan (melarang) sesuatu ataupun menghalalkannya (membolehkannya) semau dia tanpa dasar dari Allah Ta’ala? Sedangkan Allah Ta’ala telah berfirman:

{ وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (116) مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ } [النحل: 116، 117]

  1. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung
  2. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih [An Nahl,116-117]

***

Keterangan para ulama Syafiiyah tentang cadar

Keterangan Imam as-Suyuthy.

Beliau menjelaskan tingkatan aurat wanita, (di antaranya):

…وحالة مع الأجانب وعورتها كل البدن حتى الوجه والكفين في الأصح …

“…kondisi wanita bersama lelaki asing, maka auratnya adalah seluruh badannya, termasuk wajah dan kedua telapak tangan menurut pendapat yang lebih benar…” (al-Asybah wa an-Nadzair, hlm. 240).

(Silakan simak selengkapnya berikut ini):

[1] Keterangan Imamul Haramain al-Juwaini

Beliau menjelaskan perbedaan pendapat ulama tentang cadar. Selanjutnya beliau menyebutkan pendapat yang melarang melihat wajah wanita yang bukan mahram. Lalu beliau mengatakan,

وهو قوي عندي، مع اتفاق المسلمين على منع النساء من التبرج والسفور وترك التنقب

“dan itu pendapat yang lebih kuat menurutku, disertai kesepakatan kaum muslimin untuk melarang para wanita dari melakukan tabarruj dan membuka wajah mereka dan meninggalkan cadar…”(Nihayah al-Mathlab fi Dirayah al-Madzhab, 12/31)

[2] Keterangan al-Ghazali.

Dalam Ihya’ Ulumiddin beliau menegaskan,

فإذا خرجت , فينبغي أن تغض بصرها عن الرجال , ولسنا نقول : إن وجه الرجل في حقها عورة , كوجه المرأة في حقه, بل هو كوجه الصبي الأمرد في حق الرجل , فيحرم النظر عند خوف الفتنة فقط , فإن لم تكن فتنة فلا , إذ لم يزل الرجال على ممر الزمان مكشوفي الوجوه , والنساء يخرجن منتقبات , ولو كان وجوه الرجال عورة في حق النساء لأمروا بالتنقب أو منعن من الخروج إلا لضرورة

“Jika seorang wanita keluar maka hendaknya ia menundukkan pandangannya dari memandang para lelaki. Kami tidak mengatakan bahwa wajah lelaki adalah aurat bagi wanita –sebagaimana wajah wanita yang merupakan aurat bagi lelaki- akan tetapi ia sebagaimana wajah pemuda amrod (yang tidak berjanggut dan tanpan) bagi para lelaki, maka diharamkan untuk memandang jika dikhawatirkan fitnah, dan jika tidak dikhawatirkan fitnah maka tidak diharamkan. Karena para lelaki senantiasa terbuka wajah-wajah mereka sejak zaman-zaman lalu, dan para wanita senantiasa keluar dengan bercadar. Kalau seandainya wajah para lelaki adalah aurat bagi wanita maka tentunya para lelaki akan diperintahkan untuk bercadar atau dilarang untuk keluar kecuali karena darurat” (Ihya Ulum ad-Diin, 2/47)

Pernyataan al-Ghazali sangat jelas mengenai wajibnya bercadar. Dan pernyataan ini beliau sampaikan di kitab yang kita semua kenal, ihya ulumiddin.

[3] Keterangna an-Nawawi

ويحرم نظر فحل بالغ إلى عورة حرة كبيرة أجنبية وكذا وجهها وكفيها عند خوف فتنة وكذا عند الأمن على الصحيح

“Dan diharamkan seorang lelaki dewasa memandang aurat wanita dewasa ajnabiyah, demikian juga haram memandang wajahnya dan kedua tangannya tatkala dikhawatirkan fitnah, dan demikian juga haram tatkala aman dari fitnah menurut pendapat yang benar.” (Minhaj at-Thalibin, hlm. 95)

Wanita ajnabiyah artinya wanita yang bukan mahram dan bukan istri dari seorang lelaki.

[4] Keterangan as-Suyuthy.

Beliau menjelaskan tingkatan aurat wanita,

المرأة في العورة لها أحوال حالة مع الزوج ولا عورة بينهما وفي الفرج وجه وحالة مع الأجانب وعورتها كل البدن حتى الوجه والكفين في الأصح وحالة مع المحارم والنساء وعورتها ما بين السرة والركبة وحالة في الصلاة وعورتها كل البدن إلا الوجه والكفين

“Wanita perihal auratnya memiliki beberapa keadaan, (1) kondisi bersama suaminya, maka tidak ada aurat diantara keduanya, dan ada pendapat bahwa kemaluan adalah aurat (2) kondisi wanita bersama lelaki asing, maka auratnya adalah seluruh badannya, termasuk wajah dan kedua telapak tangan menurut pendapat yang lebih benar, (3) Kondisi bersama para mahromnya dan para wanita lain, maka auratnya antara pusar dan lutut, (4) dan auratnya tatkala sholat adalah seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan” (al-Asybah wa an-Nadzair, hlm. 240).

[5] Keterangan as-Subki.

Beliau menegaskan perbedaan aurat wanita di depan lelaki dan aurat ketika shalat,

الأقرب إلى صنع الأصحاب: أن وجهها وكفيها عورة في النظر لا في الصلاة

“Yang lebih dekat kepada sikap para ulama syafi’iyah bahwasanya wajah wanita dan kedua telapak tangannya adalah aurat dalam hal dipandang bukan dalam sholat” (Keterangan as-Subki disebutkan asy-Syarbini dalam Mughni al-Muhtaj, 3/129).

[6] Keterangan asy-Syarbini.

Beliau menegaskan, sekalipun wajah bukan aurat bagi wanita ketika shalat, namun jika wanita shalat di tempat terbuka yang dilihat lelaki umum, dia tidak boleh melepas cadarnya,

ويكره أن يصلي في ثوب فيه صورة , وأن يصلي في الرجل متلثماً والمرأة منتقبة إلا أن تكون في مكان وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر إليها , فلا يجوز لها رفع النقاب

Dan dimakaruhkan seorang lelaki sholat dengan baju yang ada gambarnya, demikian juga makruh sholat dengan menutupi wajahnya. Dan dimakruhkan seorang wanita sholat dengan memakai cadar kecuali jika dia sholat di suatu tempat dan ada para lelaki yang bukan mahramnya, yang tidak menjaga pandangan mereka untuk melihatnya maka tidak boleh baginya untuk membuka cadarnya (Al-Iqnaa’, 1/124)..

Dan masih banyak keterangan para ulama syafiiyah lainnya yang menekankan bagi para wanita untuk bercadar. Kami berharap semoga tidak ada tuduhan bahwa kitab-kitab itu dipalsukan.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: konsultasisyariah.com

***

Mahasiswa Mesir Ragukan Keilmuan Guru Besar IAIN Semarang Pengritik Hadits

by Nahimunkar.com, 15 Desember 2009

Mahasiswa Mesir Ragukan Keilmuan Guru Besar IAIN Semarang Pengritik Hadits

Mahasiswa Mesir menganggap hasil penelitian Dr. Muhibbin –yang mengkritik hadits Shahih Bukhari karena dia anggap tidak rasional— adalah karena guru besar IAIN Semarang ini kurang referensi dan juga kurang pemahaman bahasa Arab.

Dalam dialog umum di Kairo, Jum’at 11/12/09, di antaranya tampil Prof. Dr Muhibbin M. Ag (Guru Besar IAIN Walisongo Semarang) yang pernah menulis buku tentang kritik kitab “Shahih Bukhari”. Beliau menyatakan tidak semua hadits dalam Shahih Bukhari itu shahih, bahkan terdapat beberapa hadits termasuk kategori lemah dan palsu.

Setelah para mahasiswa Indonesia di Mesir mendengar hujjah-hujjah Dr Muhibbin, maka mahasiswa menilai, yang sedang dipermasalahkan saat ini tidak murni kritik matan. Yang terjadi adalah mengkritik matan hadits karena belum bisa dipahami oleh si pengkritik. Hal ini tentu saja tidak menurunkan derajat sebuah hadits shahih, tetapi pemahamannyalah yang perlu dikaji kembali.

Semua itu, menurut mahasiswa Mesir, karena hasil penelitian Dr. Muhibbin ini kurang referensi dan juga kurang pemahaman bahasa Arab.

Para mahasiswa tampak lebih geli ketika pengkritik hadits shahih Bukhari dari IAIN Semarang itu menjawab dengan perkataan: “Apabila naql bertentangan dengan akal, maka yang didahulukan adalah akal.” tegasnya.

Sontak mahasiswa yang hadir pada saat itu seakan tertawa meringis akan tanggapan yang diuraikan oleh beliau.

Inilah berita selengkapnya dari eramuslim.com:

Mahasiswa Mesir Tolak Kritikan Dr. Muhibbin Terhadap Shahih Bukhari

Geliat aktifitas Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) ternyata masih segar. Di tengah kesibukan mempersiapkan ujian, mereka masih antusias untuk menghadiri acara “ Dialog Umum ” yang diadakan oleh El-Montada, KPMJB dan FATIHA, Jum’at 11/12/09 di auditorium pesanggrahan KPMBJ.

Dialog ini diisi oleh dua nara sumber dari Indonesia yaitu Prof. Dr. Endang Soetari M. Si (Guru Besar UIN Sunan Gunung Jati Bandung) yang menyampaikan materi seputar Problematika Studi Hadits di Indonesia dan Prof. Dr Muhibbin M. Ag (Guru Besar IAIN Walisongo Semarang) yang menyampaikan materi tentang Urgensi Kritik Matan dalam Pembuktian Validitas Hadits. Hadir sebagai Pembanding Ust. Ahmad Ikhwani, Lc. Dipl (Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Al-Azhar jurusan Hadits) dengan moderator Ust. Roni Fajar, Lc. (Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Hadits)

Di awal acara, Ust. Saifuddin M.A. selaku ketua El-Montada (organisasi mahasiswa program pasca sarjana dan doktoral) menyampaikan sambutan yang antara lain menyatakan bahwa antusias para masisir untuk mengkaji kegiatan yang bersifat keilmuan ternyata lebih tinggi daripada mengkaji tentang politik, terbukti dengan jumlah peserta yang hadir melebihi kapasitas auditorium yang disediakan.

Dr. Endang Soetari. M.Si yang mendapat giliran pertama dalam diskusi ini menyebutkan tentang Problematika Ilmu hadits di Indonesia. Hingga saat ini metode digunakan oleh beliau ialah penetapan keshahihan hadits dengan cara Takhrij.

Pemaparan kedua dilanjutkan oleh Dr. Muhibbin. M. Ag. yang pernah menulis buku tentang kritik kitab “Shahih Bukhari”. Beliau menyatakan tidak semua hadits dalam Shahih Bukhari itu shahih, bahkan terdapat beberapa hadits termasuk kategori lemah dan palsu.

Dinginnya kairo yang sempat terkena percikan gerimis sebelumnya berubah menjadi hangat setelah pemaparannya yang mengkritik matan hadits. Menurutnya ini untuk membela Nabi Muhammad sabda beliau yang telah melalui beberapa kurun waktu itu tidak ada yang bertentangan dengan akal.

Contohnya hadits tentang lalat dan tentang mayit yang disiksa karena tangisan keluarganya yang menurutnya tidak rasional. Semua kritikan itu bisa ditanggapi dengan baik oleh pemateri pembanding, Ust. Ahmad Ikhwani, Lc. Dipl.

Acara pun berlanjut ke sesi tanya jawab. Setelah moderator mempersilahkan para hadirin untuk bertanya bak gayung bersambut begitu banyak tangan-tangan yang mengacung ingin bertanya. Tanggapan pertama disampaikan Ust Zulfi Akmal, Lc. Dipl. (Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Tafsir Univ. Al-Azhar) menyampaikan bahwa seorang mahasiswa Al-Azhar tingkat dua pun sanggup mengkonter hadits tersebut dari syubuhat yang disampaikan oleh Dr. Muhibbin tadi. Ust. Zulfi juga menolak adanya proses belajar hadits tanpa guru, seperti yang dilakukan oleh Dr. Muhibbin.

Kemudian Ust Bukhari, Lc. Dipl. (Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Hadits Univ. Al-Azhar) angkat bicara membantah pernyataan keraguan Dr. Muhibbin terhadap hadits pada Shahih Bukhari. Ia menjelaskan secara gamblang status beberapa hadits yang dikritik berikut dalil tentang kedudukan hadits tersebut. Ust. Bukhari Lc menganggap hasil penelitian Dr. Muhibbin ini kurang referensi dan juga kurang pemahaman bahasa Arab.

Pertanyaan-pertanyaan beserta tanggapan-tanggapan yang ditanyakan akhirnya dijawab oleh Dr. Muhibbin dengan berusaha membela argumen beliau. Beliau menganggap hadits-hadits itu diragukan karena irrasional. Sebab mengkaji hadits tidak hanya dari matan dan sanad saja, tapi perlu memperhatikan aspek rasionan, sejarah dan sirah. “Apabila naql bertentangan dengan akal, maka yang didahulukan adalah akal.” tegasnya. Sontak mahasiswa yang hadir pada saat itu seakan tertawa meringis akan tanggapan yang diuraikan oleh beliau.

Acara yang mulai beranjak malam tersebut tidak mengendurkan semangat para hadirin, terbukti dengan antusias para penanya pada sesi ke dua yang semakin membuat hangat suasana. Diantara pernyataan yang paling menyentak disampaikan oleh Riyadh, Mahasiswa Al-Azhar Fakultas Dirasat Islamiyah konsentrasi Ushuluddin yang menanyakan standarisasi tesis kandidat doktor di Indonesia, karena begitu mudahnya hanya tinggal mengangkat sesuatu yang berbenturan antara nash Al-Quran dengan nash Hadits bisa lulus membondong gelar doktor. “Kalau gitu saya ingin cepat-cepat pulanglah ke Indonesia melihat segampang itu bapak menjadi Doktor” ungkap Riyadh. Sontak seluruh hadirin riuh seketika.

Kemudian disusul dengan pernyataan Umarulfaruq Abubakar, Mahasiswa Fakultas Darul Ulum Universitas Kairo, yang menyebutkan bahwa yang sedang dipermasalahkan saat ini tidak murni kritik matan. Yang terjadi adalah mengkritik matan hadits karena belum bisa dipahami oleh si pengkritik. Hal ini tentu saja tidak menurunkan derajat sebuah hadits shahih, pemahamannyalah yang perlu dikaji kembali.

Antusias masisir dalam menanggapi dialog ini masih berlanjut. “Bahkan sampai pagi pun masih siap” ungkap salah seorang hadirin. Namun karena waktu pula, sesi tanya jawab berakhir setelah adanya kata penutup dari kedua nara sumber. Kedua nara sumber ini adalah anggota bagian dari rombongan para Doktor yang sedang menjalankan studi singkat di Mesir dalam rangka meningkatkan kompetensi selaku dosen di universitas masing-masing. (sn/fjr)

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/mahasiswa-mesir-tolak-kritikan-dr-muhibbin-terhadap-shahih-bukhari.htm

Modal aneh atau sesat

Tokoh-tokoh Indonesia yang bicara aneh bahkan sesat menyesatkan tentang Islam dan kemudian dibantah para mahasiswa di Mesir kadang justru ketika kembali ke Indonesia diangkat jadi pejabat tinggi. Contohnya Prof Dr Quraish Shihab, tahun 1990-an dia berbicara tentang tidak wajibnya pakai jilbab bagi wanita Muslimah. Padahal para ulama menyatakan wajib berdasarkan Al-Qur’an Surat Al-Ahzab/ 33 ayat 59 dan QS An-Nur/ 24 ayat 31. Maka dibantah oleh mahasiswa Mesir, kata Dr Daud Rasyid sewaktu masih berada di Mesir.

Berita itupun kemudian jadi ramai di media massa Islam, di antaranya di Majalah Media Dakwah terbitan Dewan Dakwah di Jakarta.

Namun apa yang terjadi selanjutnya? Justru Quraish Shihab diangkat jadi menteri agama oleh Presiden Soeharto. Walaupun hanya berumur 70 hari, karena Presiden Soeharto lengser dari kursi kepresidenan, namun artinya bersuara aneh dan dibantah oleh mahasiswa Mesir, justru tampaknya jadi modal untuk naik pangkat atau menduduki jabatan tinggi.

Ayat Al-Qur’an telah memperingatkan:

وَآمِنُواْ بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُونُواْ أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ ﴿٤١﴾

  1. Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. (QS Al-baqarah: 41).

Apakah pengkritik hadits shahih Bukhari dengan hujjah yang srampangan ini juga nantinya akan diangkat jadi pejabat tinggi, wallahu a’lam.

Bahkan kalau berhasil menyebarkan keanehan dan kesesatan, maka sudah mati pun masih dipuja puji dengan diadakan acara resmi, dihadiri menteri agama. Contohnya, Harun Nasution yang menyebarkan keraguan aqidah Islam dengan tidak mempercayai taqdir sebagai rukun iman, dan juga Nurcholish Madjid yang menyatakan bahwa iblis kelak akan masuk surga dan surganya tertinggi karena tak mau sujud kepada Adam; maka mereka ini sudah mati pun diberi anugerah. Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Bahtiar Effendy,mengadakan acara penganugerahan kepada mendiang Nurcholish Madjid dan mendiang Harun Nasution atas apa yang disebutnya sebagai sumbangannya kepada ilmu pengetahuan di Indonesia, Senin (14/12). Menteri Agama Suryadharma Ali hadir dalam acara itu. (lihat Republika Newsroom, Senin, 14 Desember 2009 pukul 11:35:00).

Untuk mengetahui kesesatan-kesesatan dan bahayanya pemikiran Harun Nasution dan Nurcholish Madjid bisa dibaca buku-buku kritikan terhadap dua mendiang itu, tulisan Prof. Dr. HM Rasjidi, tempo dulu. Adapun buku-buku yang beredar sekarang tentang bahaya dan kesesatan Harun Nsution, Nurcholish Madjid, dan bahkan pengajaran di IAIN, UIN, STAIN, STAIS dan sebagainya bisa dibaca buku-buku Hartono Ahmad jaiz. Di antaranya buku Ada Pemurtadan di IAIN; Menangkal Bahaya JIL dan FLA; Aliran dan Paham Sesat di Indonesia; Islam dan Al-Qur’an pun Diserang;Rekayasa Pembusukan Islam; Pangkal Kekeliruan Golongan Sesat dan lain-lain.

Bantahan mahasiswa Mesir terhadap keanehan dan kesesatan pemikiran dan pemahaman tokoh-tokoh seperti tersebut juga menjadi bukti sejarah tentang masih ditegakkannya amar ma’ruf nahi munkar. Sehingga janji Allah dan peringatannya berikut ini cukup menjadi pegangan dalam menghadapi kesesatan mereka.

Asalkan amar ma’ruf ditegakkan di Ummat Islam ini, maka orang-orang sesat itu tidak akan membahayakan apabila kita telah mendapat petunjuk.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿١٠٥﴾

  1. Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Al-Maaidah: 105).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 309 kali, 1 untuk hari ini)