• Wah Makin Error Antek Syiah!
  • Dalil-dalil Rasulullah Dijamin Masuk Surga

JAKARTA (voa-islam.com) – Dedengkot Syiah Indonesia, Muhsin Labib ikut angkat bicara soal ‘Cap’ Quraish Shihab sebagai penganut syiah.

Muhsin menyatakan itu bukan merupakan tuduhan, tetapi justru atribut berkelas, karena identik dengan peradaban Islam yang dibangun di atas filsafat, tasawuf, teks dan lainnya.

Pernyataan itu disampaikan dosen filsafat UIN Syarif Hidayatullah, Muhsin Labib, menyikapi polemik tuduhan Syiah yang dialamatkan kepada Quraish Shihab. “Cap Syiah bukan tuduhan, justru atribut berkelas karena identik dengan peradaban Islam yang dibangun di atas filsafat, tasawuf,  teks dll,” tulis Muhsin Labib di akun Twitter @muhsinlabib.

Dalam “kuliah twitter” (kultwit), sosok yang dikenal sebagai tokoh Syiah ini, membeberkan upaya sejumlah pihak yang menimpakan fitnah dengan tudingan penganut Syiah. “Bila tokoh-tokoh pendukung toleransi di-Syiahkan, yang tersisa hanya 2, yang dikafirkan dan mengkafirkan. Setelah itu, yang ada yang mengkafirkan,” tulis @muhsinlabib.

Muhsin Labib juga membeberkan sejumlah modus yang diarahkan untuk menyingkirkan tokoh-tokoh toleran. Salah satu modus itu adalah pemutarbalikan fakta. “Meski selalu sasaran pembunuhan,Syiah ditampilkan sebagai pelaku via ceramah-ceramah, situs-situs Wahabi dan video-video gratis,” kicau @muhsinlabib.

Wah Makin Error antek syiah!

Sebelumnya polemik tayangan Tafsir Al-Misbah yang dibawakan Quraish Shihab di Metro TV pada Sabtu (12/7) menunai kontroversi. Itu setelah pakar tafsir terkemuka tersebut menyinggung bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mendapat jaminan tempat di surga.

Pernyataan itu dikeluarkan alumnus Universitas Al Azhar Kairo itu ketika ditanya sang pembaca acara bahwa Rasulullah adalah manusia mulia yang dijamin masuk surga.

Berikut kutipan dialog tersebut:

Tidak benar. Saya ulangi tidak benar bahwa Nabi Muhammad mendapat jaminan Surga. Surga itu hak prerogratif Allah. Memang kita yakin bahwa Beliau mulia. Mengapa saya katakan begitu? Karena ada seorang sahabat Nabi dikenal orang, terus teman-teman di sekitarnya berkata, ‘bahagialah Engkau akan mendapat surga’. Kemudian Nabi dengar, siapa yang bilang begitu, Nabi berkata, tidak seorang pun orang masuk surga karena amalnya, dia berkata baik amalnya akan masuk surga, surga adalah hak prerogratif Tuhan,” ujar Quraish Shihab.

Dia melanjutkan, “Kalau ditanya, kamu pun tidak wahai Muhammad? Kecuali kalau Allah menganugerahkan rahmat kepada saya. Jadi kita berkata, kita berkata dalam konteks surga dan neraka tidak ada yang dijamin Tuhan, kecuali kita katakan bahwa Tuhan menulis di dalam kitab sucinya bahwa yang taat itu akan dapat surga. Ada ayatnya,” tambahnya.

Pernyataan tersebut bisa memunculkan pemahaman meragukan kebenaran ajaran Islam yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bawa. Jika Muhammad sebagai rasul dalam Islam, dirinya tidak dijamin masuk surga, apa jaminan kebenaran Islam itu, lalu bagaimana dengan nasib umat-umatnya yang mengikuti ajarannya.

Alasan tokoh yang dikenal dekat dengan Syi’ah ini adalah hadits yang diterjemahkan olehnya, “Tidak seorangpun masuk surga karena amalnya.”

Makna hadits yang disebutkan bapak dari Najwa Shihab yang tak berjilbab, telah ditulis Imam Nawawi di shahihnya dengan judul bab,

بَاب لَنْ يَدْخُلَ أَحَدٌ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ بَلْ بِرَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى

“Bab: Seseorang tidak masuk surga dengan amalnya, tapi dengan rahmat Allah Ta’ala.”

Kemudian beliau menyebutkan hadits yang berbunyi,

وَاعْلَمُوا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْتَ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ

Dan ketahuilah, sesungguhnya salah seorang kalian tidak akan selamat dengan amalnya. Para sahabat brtanya: tdak pula engau wahai Rasulullah? Beliau menjawab: tidak pusa saya, hanya saja Allah melimpahkan rahmat dan karunianya kepadaku.” (HR. Muslim)

Letak perelisihan ada pada huruf (ba’) yang sering diartikan sebab. Berarti seseorang tidak masuk surga (tidak selamat) dengan sebab amalnya. Padahal sejumlah ayat menerangkan bahwa amal adalah salah satu sebab masuk ke surga. Yang benar ba’ trsebut adalah ba’ tsamaniyah, artinya ba’ yang menunjukkan harga. Maksudnya amal bukan harga (alat barter) untuk masuk surga, tapi masuk surga dengan sebab amal yang mendapat taufiq dan rahmat dari Allah. Dan kita tidak mendapat taufiq untuk beramal shalih kecuali dengan rahmat Allah dan karunianya.

Imam Nawawi berkata dalam syarahnya: Zahir hadits ini menjadi bukti bagi Ahlul Hak bahwa seseorang tidak berhak mendapat pahala dan surga dengan ketaatannya. Adapun firman Allah “Masuklah surga dengan apa yang sudah kalian kerjakan”, “Itulah surga yang diwarisan untuk kalian disebabkan apa yang sudah kalian kerjakan”, dan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa amal menjadi sebab masuk surga lainnya. Hadits-hadits ini tidak bertentangan dengan makna ayat bahwa masuk surga dengan sebab amal, lalu taufik untuk beramal, hidayah, dan ikhlas di dalamnya, serta diterimanya amal dengan sebab rahmat dan karunia Allah Ta’ala. Sehingga maksud hadits, seseorang tidak masuk surga sebatas dengan amalnya. Dia masuk surga dengan amal-amal, yaitu dengan sebab amal tersebut yang itu dari rahmat Allah. Wallahu A’lam.”

Hadits di atas juga mengabarkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendapat jaminan rahmat dan karunia dari Allah sehingga amal-amal beliau diterima dan dimasukkan ke dalam surga. Maka berdalil dengan hadits di atas bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak dijamin masuk surga adalah salah besar.

. . . Kaum muslimin dari kalangan sahabat dan pengikut mereka yang baik meyakini bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dijamin masuk surga. . .

. . . Tidak ada yang menyangsikan bahwa utusan Allah kepada mereka berada di surga Firdaus sesudah wafatnya. . . .

Dalil-dalil Rasulullah Dijamin Masuk Surga

Kaum muslimin dari kalangan sahabat dan pengikut mereka yang baik meyakini bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dijamin masuk surga. Tidak ada yang menyangsikan bahwa utusan Allah kepada mereka berada di surga Firdaus sesudah wafatnya. Berikut ini beberapa sunnah Nabi yang suci menjelaskannya:

Pertama: menjelang wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, saat sakit semakin berat, menyampaikan kepada Fatimah yang merasa kasian dengan penderitaan ayahnya yang berat. Beliau bersabda kepadanya, “Setelah hari ini, Ayahmu tidak akan merasakan penderitaan lagi”. Maka saat beliau sudah wafat, Fatimah berkata,

يَا أَبَتَاهُ أَجَابَ رَبًّا دَعَاهُ يَا أَبَتَاهْ مَنْ جَنَّةُ الْفِرْدَوْسِ مَأْوَاهْ يَا أَبَتَاهْ إِلَى جِبْرِيلَ نَنْعَاهْ

Wahai ayah, Rabb telah memenuhi doamu. Wahai ayah, surga Firdaus tempat kembalimu. Wahai ayah, kepada Jibril kami mengkhabarkan atas kewafatanmu.” (HR. Al-Bukhari)

Hadits di atas mengandung dua bukti bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dijamin surga: 1. ucapan beliau, “setelah hari ini, Ayahmu tidak akan merasakan penderitaan lagi”, bahwa beliau akan mendapatkan kenikmatan sesudah ini di surga di sisi Rabbul ‘Alamin. 2. Ucapan Fatimah. “Wahai ayah, surga Firdaus tempat kembalimu”, ini adalah bukti bahwa orang di sekitar beliau meyakini bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di surga Firdaus tertinggi setelah wafatnya.

. . . Ucapan Fatimah. “Wahai ayah, surga Firdaus tempat kembalimu”, ini adalah bukti bahwa orang di sekitar beliau meyakini bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di surga Firdaus tertinggi setelah wafatnya. . .

Kedua:Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا

Saya dan orang yang merawat anak yatim di surga kelak seperti ini,” seraya beliau mengisyaratkan jari tengah dan telunjuknya lalu merenggangkan keduanya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih) ini juga menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pasti masuk surga. Dan beliau juga tahu bahwa dirinya akan menjadi penghuni surga termulia, sehingga beliau mengiming-imingi para sahabatnya untuk melakukan amal shalih ini supaya bisa dekat dengan beliau di surga.

Ketiga: diriwayatkan dari Anas bin Malij Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ أَوْ ثَلَاثُ أَخَوَاتٍ اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَقَامَ عَلَيْهِنَّ كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ الْأَرْبَعِ

Siapa memiliki 3 anak wanita atau tiga orang saudari perempuan, ia bertakwa kepada Allah ‘Azza Wajalla dan memenuhi kebutuhan mereka, maka ia bersamaku di surga seperti ini; dan beliau mengisyaratkan dengan 4 jarinya.” (HR. Ahmad)

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dijamin surga dan beliau yakin bahwa dirinya akan berada di surga setelah wafatnya.

Keempat: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengabaran bahwa dirinya kelak akan memberikan syafa’at untuk selainnya supaya mereka masuk surga. Keterangan itu terdapat dalam Shahh Muslim dari ANas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

أَنَا أَوَّلُ النَّاسِ يَشْفَعُ فِى الْجَنَّةِ وَأَنَا أَكْثَرُ الأَنْبِيَاءِ تَبَعًا

Aku adalah manusia yang pertama kali memberi Syafa’at di dalam Surga dan aku adalah diantara Nabi-nabi yang terbanyak pengikutnya.” Ini tidak mungkin diucapkan kecuali oleh orang yang yakin dirinya dijamin surga. Kalau beliau tidak yakin masuk surga bagaimana beliau bisa member syafaat untuk selainnya?

Hadits di atas dikuatkan oleh sejumlah riwayat, Imam Bukhari meriwayatkan dalam al-Adab al-Mufrad, dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تدركَا، دَخَلْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ

Barangsiapa yang memelihara (mendidik) dua wanita sampai mereka dewasa, maka saya akan masuk surga bersamanya di surga kelak seperti ini”, beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Imam Muslim juga meriwayatkan serupa dalam Shahihnya

Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Siapa yang mempunyai dua orang saudari atau dua orang putri lalu ia berbuat baik kepada keduanya selama mereka bersama dirinya maka saya dan dia di surga seperti ini,” beliau mendekatkan kedua jarinya.

Kelima:beliau menjanjikan tempat mulia bersama beliau di surga bagi mereka yang memiliki akhlak mulia. Ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendapat jaminan surga.

Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

Sesungguhnya orang yang paling saya cintai dan paling dekat majelisnya denganku di antara kalian hari kiamat kelak (di surga) adalah yang paling baik akhlaknya…“. (HR. Al-Tirmidzi dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Keenam: Sejumlah sahabat menginginkan agar bisa dekat (menemani) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di surga, jika mereka tidak yakin kalau Nabi mereka mendapat jaminan surga tentu tidak akan menginginkan hal tersebut.

Disebutkan dalam Shahih Muslim, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami Radhiyallahu ‘Anhu bercerita

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِى«سَلْ». فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ«أَوَغَيْرَذَلِكَ». قُلْتُ هُوَ ذَاكَ. قَالَ«فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ».

bahwa dia pernah bermalam bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian ia meyiapkan air wudhu dan keperluannya. Beliau lalu bersabda kepadaku,

“Mintalah sesuatu kepadaku!”, saya berkata, “Saya meminta agar saya bisa bersamamu di surga.” Beliau menjawab, “Adakah permintaan selain itu”, saya berkata, “hanya itu.” Beliau lalu bersabda, “Maka bantulah aku atas dirimu (untuk memohon kepada Allah agar memenuhi permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (shalat)”.” (HR. Muslim)

. . . Sejumlah sahabat menginginkan agar bisa dekat (menemani) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di surga, jika mereka tidak yakin kalau Nabi mereka mendapat jaminan surga tentu tidak akan menginginkan hal tersebut. . .

Dan masih banyak lagi bukti dan keterangan dari nash-nash shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah dijamin masuk surga. Bahkan beliau mengetahuinya sebelum beliau wafat. Dengan keyakinan ini beliau memotifasi para sahabatnya untuk mengerjakan amal besar dalam Islam agar bisa dekat dengannya di surga. Para sahabat pun yakin betul, tanpa ragu, bahwa Nabinya adalah manusia mulia yang dijamin masuk surga. Sehingga mereka sangat yakin dalam mengimani beliau dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Wallahu A’lam. [PurWD/adivammar/intel/voa-islam.com]Jum’at, 20 Ramadhan 1435 H / 18 Juli 2014 06:06 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.384 kali, 1 untuk hari ini)