Syiah sudah jelas menodai agama, bahkan telah terbukti secara hukum, pentolan syiah Sampang Tajul Muluk menodai agama hingga divonis hukuman penjara (4 tahun) sampai ke tingkat MA (Mahkamah Agung).

Kalau ada yang berkilah seperti Muhyiddin Junaidi orang MUI bahwa ada syiah yang tidak sesat (di Indonesia ini) maka tentu menimbulkan rekasi Umat Islam, dan pantas dianggap bahwa dia itu membela syiah. Karena ternyata pentolan syiah Jalaluddin Rakhmat dan konco-konconya sampai membela Syiah Sampang lewat media Katolik, Kompas TV Senin malam (16/9 2013). Juga haddad Alwi yang penyanyi dan ditengarai sebagai penyebar nyanyian Ya Thaiba yang ghuluw (melampaui batas) ala syiah itu mengunjungi orang syiah Sampang. Dalam kunjungannya ke pengungsian Syiah di Sampang, 29/9/2012, ia (Haddad Alwi) mengatakan, “Nggak ada orang mau masuk surga tidak diuji, Rasulullah tidak jauh dari kita, dan jangan ragu Rasullulah tidak sayang sama kita. Penderitaan Rasullulah lebih berat ujiannya daripada ujian kita.”

Dari fakta-fakta itu, Syiah di Indonesia adalah yang seperti syiahnya Tajul Muluk yang telah terbukti secara hukum, menodai agama. Kalau tidak, kenapa yang sudah jelas (bahwa syiah itu menodai agama) masih pula dibela? Oleh karena itu, pantas saja ada yang menyebut Muhyiddin Junaidi goblok, dapat uang berapa dia dari Syi’ah kok membela Syi’ah. (lihat berita di bawah).

Syiah Menodai Agama, Mengingkari Otentisitas Al-Qur’an.

Telah terbukti, Tajul Muluk Pentolan Syiah Sampang divonis penjara 4 tahun karena menodai agama Islam (menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi), melanggar pasal 156A KUHP.

Syiah jelas-jelas menodai agama (Islam) itu sudah tidak kurang data dan fakta. Di antaranya.

  1. Fatwa MUI Jawa Timur tentang sesatnya Syiah lihat di siniFatwa MUI Jawa Timurtentang Kesesatan Ajaran Syi’ah
  2. MUI Pusat menilai fatwa MUI Jawa Timur itu sah. Lihat ini MUI Pusat mensahkan dan mendukung Fatwa MUI Jatimtentang kesesatan syiah.
  3. Tajul Muluk pentolan syiah dari Sampang telah divonis 4 tahun penjara karena terbukti  melanggar pasal 156a tentang penodan agama, karena Tajul Muluk menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi. Vonis Pengadilan itu sampai diketok palu oleh tiga jenis pengadilan yakni Pengadilan Negeri Sampang dengan Nomor 69/Pid.B/2012/PN.SPG pada Juli 2012 lalu memvonis Tajul  Muluk hukuman penjara 2 tahun karena menodai agama, melanggar pasal 156a. Lalu Tajul Muluk naik banding ke pengadilan Tinggi Surabaya, divonis 4 tahun penjara karena terbukti menodai agama. Putusan PT Surabaya yang tertuang dalam surat bernomor 481/Pid/2012/PT.Sby pada 21 September 2012 itu memutuskan terdakwa Tajul Muluk alias Ali Murtadha terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana perbuatan yang bersifat penodaan agama. Kemudian ia mengajukan kasasi dan putusannya, kasasi ditolak MA, maka tetap Tajul Muluk wajib menjalani hukuman 4 tahun penjara. Keputusan itu tertuang dalam petikan putusan MA dengan Nomor 1787 K/ Pid/2012 yang dikirim oleh MA ke Pengadilan Negeri (PN) Sampang tertanggal 9 Januari 2013. Hal itu diungkapkan oleh Humas PN Sampang Shihabuddin saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Madura terkait kasasi Tajul Muluk ke MA, kemarin (16/1 2013). Jadi jelas-jelas syiah telah terbukti sesat bahkan menodai agama (Islam).  Lihat ini https://www.nahimunkar.org/kejahatan-syiah-dari-mazdak-hingga-tajul-muluk-sampang
  4. Apabila masih ada yang berkilah bahwa itu hanya Tajul Muluk saja, sedang syiah yang lainnya di Indonesia ini tidak begitu, maka coba lihat bagaimana Jalaluddin Rakhmat dengan konco-konconya dari Ijabi bahkan didukung pula oleh penghalal homseks Musdah Mulia membela syiah sampang dengan “menyerang” MUI dalam dialog di tv kompas Senin malam (16/9 2013).

Ketika syiah itu secara bukti hukum telah menodi agama dan kenyataan adanya berbagai gejolak baik secara nasionl maupun internasional dunia Islam telah menimbulkan banyak korban bahkan lenyapnya aqidah, maka menjadi tanggung jawab para ulama dan tokoh Islam Indonesia yang berkongres itulah untuk menentukan sikap tegasnya. https://www.nahimunkar.org/kongres-umat-islam-dan-masalah-syiah-yang-menodai-agama/

Inilah berita tentang Muhyiddin Junaidi dan sorotannya

***

Ahad, 24 Rabi`ul Akhir 1436H / February 15, 2015

Bela Syi’ah & Sebut Syi’ah Tak Sesat, Habib Zein Alkaf: Muhyiddin Junaidi Goblok!!

JAKARTA (Panjimas.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Hubungan Luar Negeri, KH Muhyiddin Junaidi mengatakan penyerangan brutal yang dilakukan gerombolan preman Syi’ah terhadap perkampungan masjid Az Zikra Sentul Bogor asuhan KH Muhammad Arifin Ilham pada Rabu (11/2/2015) malam terjadi karena ada sebab akibat.

Penyebabnya, kata Junaidi, lantaran majelis dzikir Az Zikra memasang spanduk anti Syi’ah di area masjid. Hal itulah yang memicu penyerangan. Muhyiddin juga mengatakan, sejauh ini MUI belum pernah mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Syi’ah. Fatwa yang dikeluarkan pada tahun 2004 itu hanya mewaspadai faham Syi’ah.

“Memang ada aliran Syi’ah yang sesat, tetapi ada juga yang tidak. Karena itu, sampai hari ini MUI belum pernah mengeluarkan fatwa Syi’ah sesat,” ujar Muhyiddin Junaidi saat dihubungi pojoksatu.id, pada Kamis (12/2/2015).

Statemen Muhyiddin ini ditujukan untuk meluruskan keterangan ustaz Arifin Ilham di laman Faceboknya K.H Muhammad Arifin Ilham. Dalam akun itu disebutkan “Faham Syiah adalah ajaran yang difatwakan Majelis Ulama Indonesia Sesat”.

Tak hanya itu, Muhyiddin juga menyalahkan ustadz Arifin Ilham karena memasang spanduk yang menebar kebencian di masjid yang seharusnya hal itu dihindari. Sebab, masjid itu merupakan ruang publik. “Janganlah menunjukkan kebencian kepada kelompok atau orang lain, itu tidak baik,” kilah Muhyiddin.

Mendengar pernyataan Muhyiddin itu, Ketua Bidang Organisasi Al Bayyinat Al Islamiyyah Indonesia, Habib Achmad Zein Alkaf mengaku heran, kenapa orang seperti Muyiddin bisa menjadi pengurus MUI. Padahal sudah sangat jelas sekali bahwa MUI telah mengeluarkan fatwa sesat soal Syi’ah, dan hingga saat ini fatwa tersebut masih berlaku. (Baca: MUI: Fatwa Sesat MUI Soal Syi’ah Sampai Saat ini Masih Berlaku)

“Orang goblok seperti Muhyiddin Junaidi kok jadi pengurus MUI. Dapat uang berapa dia dari Syi’ah kok membela Syi’ah. Kami siap dialog dengan dia dan siapa saja yang mengatakan Syi’ah tidak sesat,” tegas Ketua Umum Front Anti Aliran Sesat (FAAS) Jatim ini kepada Panjimas.com pada Jum’at (13/2/2015). [GA]

***

Dari segi pembelaan yang dilontarkan Muhyiddin Junaidi dapat disimpulkan, gerombolan syiah penyerang Az Zikra dan penculik petugas Az Zikra yang 34 orang jadi tersangka dan diancam hukuman 5 tahun penjara itu adalah karena membela syiah yang telah menodai agama tersebut. Bukan hanya tindak pidana murni, tapi membela aliran sesat syiah yang telah menodai agama, dan sudah punya pendukung di antaranya seperti Muhyiddin Junaidi.

***

Muhyiddin Junaidi dan Syiah

Ada tokoh yang pernah mengaku (dengan bangga ?) bahwa dirinya menandatangani kerjasama dengan lermbaga syiah di Karbala Irak. Orang yang duduk di bidang luar negeri di MUI itu adalah orang yang mengarahkan untuk diadakan seminar di satu kampus di Solo Jawa Tengah dengan menghadirkan duta besar dari Suriah dan Amerika. Sangat mengherankan, karena justru rezim Suriah yang syiah itu membantai umat Islam, kenapa dubesnya agar dihadirkan untuk memberi materi seminar ? Alhamdulillah, Umat Islam Solo mencium kebusukan itu, hingga berhasil digagalkan.

Kemudian an-najah.net mewawancarai Joko Beras dari Solo yang dinilai sebagai pemrakarsa seminar aneh berbau syiah itu. Ternyata Joko Beras mengaku bahwa semua itu atas pengarahan Muhyiddin Junaidi dari MUI Pusat. Lha dalaah… kecekel rahasianya.

Kiprah orang itu di antaranya dapat dibaca di artikel Syi’ah Memusuhi Islam Bersekongkol dengan Para Pengkhianat https://www.nahimunkar.org/syiah-memusuhi-islam-bersekongkol-dengan-para-pengkhianat/

Yang lebih menyedihkan terutama bagi Ummat Islam Indonesia, di saat Ummat Islam (Sunni) dimusuhi oleh syi’ah di pusatnya di dunia yakni Iran, justru oknum MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat berbangga bekerjasama dengan Iran dalam bidang riset/ penelitian (agama). Surat kabar yang mewawancarainya (Republika) pun tampak membeberkan dengan lantangnya.

Sebagian wawancara Republika dengan orang MUI, Muhyiddin Junaidi, sebagai berikut:

MUI telah mencoba melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan organisasi-organisasi Islam di luar negeri.

Beberapa waktu lalu, kami diundang ke Irak dan telah menandatangani kerja sama dengan Pusat Kajian Alquran di Irak yang berpusat di Karbala. Walaupun berbeda mazhab, kita ingin sama-sama sharing untuk meningkatkan metodologi hafalan Alquran. Kami bertemu dengan tokoh di Irak, baik Suni maupun Syiah. Bahkan, mereka sangat mengapresiasi kunjungan kita ke Irak di tengah-tengah situasi kemanan yang menurut berita internasional kurang kondusif.

Kita ingin menjalin kerja sama dengan umat Islam walaupun berbeda aliran/mazhab. Kita sadar bahwa musuh-musuh Islam selalu berupaya melemahkan Islam dengan mengadu domba antara Syiah dan Sunni. Kita tak mau itu terjadi. Syiah itu tak seperti Ahmadiyah karena Syiah adalah mazhab yang diakui dunia Islam.

(Pada bagian lain dikemukakan):

MUI juga akan melakukan riset bersama di Iran tentang peradaban Islam. Mereka bisa melakukan riset mengenai peran MUI dalam merekatkan ukhuwah Islamiyah dan ormas-ormas Islam di Indonesia. (Republika, KH Muhyiddin Junaidi MA, Umat Harus Waspadai Konspirasi Musuh

Minggu, 13 Februari 2011 pukul 11:47:00).

Kini orang ituMuhyiddin Junaidi (duduk di MUI dan juga tokoh Muhammadiyah), mengeluarkan himbauan kepada umat Islam agar tidak takut dalam memilih caleg nonmuslim-kafir. Aneh, dan sangat ironis. Imbauan komplotan syiah itu memalukan sekali karena diucapkan ketika dunia syiah sedang gempar karena Ulama tertinggi Syiah masuk Islam dan kini tinggal di Jeddah. Lihat berita dan video:    Dunia Syiah Gempar! Dikhabarkan, Ulama Tertinggi Syiah Masuk Islam/ Sunni https://www.nahimunkar.org/dunia-syiah-gempar-dikhabarkan-ulama-tertinggi-syiah-masuk-islam-sunni/

Komplotan syiah yang lainnya dikhabarkan pula akan mengisi tabligh akbar di Masjid Raya Bintaro, 31 Maret 2014. Info Masalah Tabligh Akbar Pendukung Syiah https://www.nahimunkar.org/info-masalah-tabligh-akbar-pendukung-syiah/

– See more at: https://www.nahimunkar.org/waspadai-komplotan-syiah-di-mui-serukan-umat-islam-pilih-caleg-non-muslim/#sthash.mWGxefMg.dpuf

***

Umar Shihab dan Muhyidin Junaidi promosi Syiah lewat MUI dengan menghadirkan Ulama Sunni “plat merah” Iran?

By nahimunkar.com on 21 February 2012

Bukan sekali saja Umar Shihab dan Muhyidin Junaidi menggunakan MUI untuk kepentingan promosi induk aliran sesat syiah. Senin kemarin juga ya.

Ini beritanya.

***

  1. Tengku Zulkarnaen: Mimpi Jika Menyatukan Sunni-Syiah

JAKARTA (VoA-Islam) – Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnain menegaskan, dalam rapat pimpinan MUI yang diadakan tiga bulan lalu, telah disepakati, bahwa MUI tidak akan bekerjasama dengan Pemerintah Syiah Iran, kecuali dalam hal ekonomi dan keuangan syariah.

“Kerjasama tingkat dunia antara Sunni-Syiah itu sama halnya dengan bermimpi,” kata KH. Tengku Zulkarnain saat dijumpai Voa-Islam, usai diskusi tentang Kaum Sunni di Iran oleh Grand Imam Sunni Iran, Maulana Maulawi Madani.

Dalam diskusi tersebut, dari kalangan Sunni hadir antara lain: KH. Mahyidin Junaidi (MUI), Ustadz Rasmin Zaitun (Wahdah Islamiyah), Ustadz Fariq Uqbah (Al Islam), Ustadz Ahmad Satori (IKADI), KH. Hamdan Rasyid (Ketua MUI DKI), KH. Syaifudin Amsir (Syuriah PP PBNU), KH. Muhammad Al Khaththath (FUI), Anwar Abas (Muhammdiyah), KH. Tengku Zulkarnain (MUI).

Sedangkan, dari kalangan Syiah dihadiri oleh: Umar Syihab (MUI), Dr.Mahmoud Farazandeh (Dubes Republik Islam Iran), dan beberama tokoh Syiah lainnya.

Saat diskusi, KH. Tengku Zulkarnain yang juga Wakil Ketua Komisi Fatwa Mathlaul Anwar , mempertanyakan kenapa di Irak tidak ada dari kalangan Sunni yang menjadi Menteri maupun gubernur. Sedangkan di Indonesia, kaum Syiah bisa menjadi Menteri.

Soal kenapa Syiah mencaci maki sahabat Nabi, tak terkecuali istri Nabi (Aisyah)? Lalu dengan diplomatis, ulama Syiah itu mengatakan, mereka adalah pengikut Syiah yang bodoh.

“Jika begitu, berarti  Jalaluddin Rahmat alias Kang Jalal itu bodoh, karena telah membuat puisi berjudul Fatimah dalam bukunya, yang menyebut sahabat Nabi Abu Bakar Shiddiq sebagai perampas. Khalifah Abu Bakar juga disebut telah merampas Ali. Jadi orang Syiah yang mencela sahabat Nabi itu bodoh,” kata Tengku.

Terkait nikah mut’ah, madzhab Syiah terang-terangan telah membolehkan. Dari sini sudah jelas, tidak mungkin mempersatukan antara Sunni-Syiah, karena dari awal sudah berbeda, terutama dalam hal-hal pokok agama (ikhtilaf usul). Jadi sekali lagi, mimpi jika menyatukan Sunni-Syiah. “Jika orang Syiah anggap Sunni itu sesat, maka begitu juga Sunni menilai Syiah itu sesat. Jadi kesimpulannya dalam pertemuan tersebut, biarlah Sunni-Syiah jalan masing-masing. Hubungan Sunni-Syiah hanya sebatas wawasan pemikiran dan politik, bukan madzhab.”

MUI sendiri telah mengimbau kepada umat Islam agar mewaspadai gerakan Syiah di Indonesia. Ketika ditanya, bagaimana dengan Umar Syihab yang dituding sebagai Syi’i? Tengku Zulkarnain mengatakan, kita sudah tanya pada saudara Umar Syihab tentang apakah anda seorang Syiah? Tapi tetap saja Umar Syihab tidak pernah mau mengakui dirinya sebagai Syi’i. “Asal tahu saja, diskusi ini, sesungguhnya adalah atas prakarsa Umar Syihab,” kata KH. Tengku. (Desastian) Selasa, 21 Feb 2012

***

(nahimunkar.com)

(Dibaca 62.683 kali, 1 untuk hari ini)