MUI Berharap Aliran Sesat Brayat Agung di Situbondo Segera Dibubarkan

MUI Situbondo berharap aliran sesat ‘Brayat Agung’ segera dibubarkan.

MUI memastikan jika aliran yang diajarkan Agung sesat dan pengikutnya adalah murtad di mata Allah. Bahkan, MUI berani beradu argumen dengan pimpinan aliran terkait ajaran sesatnya.

Aliran Brayan Agung (kemudian disebut Brayat Agung) yang muncul di Situbondo ini melarang pengikutnya untuk membaca Al Quran, salat, serta berpuasa.

Inilah berita-beritanya:

Selasa, 19/01/2010 08:03 WIB

Aliran Sesat di Situbondo

MUI Minta Brayat Agung Dibubarkan

Irwan Yulianto – detikSurabaya

Situbondo – Munculnya aliran sesat ‘Brayat Agung’ mengundang reaksi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) cabang Situbondo. Untuk menghindari aksi anarkis, MUI berharap ajaran tersebut segera dibubarkan.

MUI memastikan jika aliran yang diajarkan Agung sesat dan pengikutnya adalah murtad di mata Allah. Bahkan, MUI berani beradu argumen dengan pimpinan aliran terkait ajaran sesatnya.

“Si Agung ini telah menyekutukan Allah dan menghina Nabi Muhammad, saya siap untuk berdialog dengan dia, apa dasarnya dari ajaran yang telah dia sebarkan, jika dia tidak bisa menunjukkan kebenaran ajarannya, taruhannya adalah hukum dunia dan akherat,” terang ketua MUI Situbondo, KHR Abdullah Faqih Ghufron saat dihubungi detiksurabaya.com, Selasa (19/1/2010).

Gus Faqih melanjutkan argumennya, apa yang telah dilakukan umat Islam adalah menjalankan semua kewajiban yang telah dilakukan Nabi Muhhammad sebagai pembawa agama Islam.

“Jika melenceng dari itu saya berani pastikan itu aliran sesat, segera bubarkan aliran itu sebelum muslim di Situbondo ini berprilaku anarkis, kami berharap bagi pihak berwajib segera bertindak,” terang Gus Faqih lagi.

(bdh/bdh) http://surabaya.detik.com/read/2010/01/19/080353/1281219/475/mui-minta-brayat-agung-dibubarkan

Aliran Sesat Brayan Agung Kembali Resahkan Warga Situbondo

Selasa, 19 Jan 2010

Situbondo (voa-islam.com) -Aliran sesat muncul di Situbondo, tepatnya di Desa Gelung, Kecamatan Kendit. Namanya aliran Brayan Agung. Ajaran ini sungguh menyesatkan. Konon, pengikutunya dilarang menjalankan salat, membaca Alquran, dan berpuasa.

Terang saja, munculnya ajaran itu langsung mengudang protes warga setempat. Warga resah karena ajaran yang disampaikan menyimpang dari ajaran Islam.

Yang paling ironis adalah adanya penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Saat melakukan Isra Mikraj, Nabi Muhammad dikatakan tidak naik buroq. “Tapi dikatakan buka rok, sambil bergerak-gerak layaknya orang melakukan hubungan seksual,” terang salah satu warga Gelung.

…”Kita sudah melakukan investigasi. Informasi yang kita dapatkan memang sungguh ironis. Ngaku orang Islam tapi perilakunya sudah tidak Islami. Ini jelas sudah sesat,” kata pria yang akrab dipanggi Gus Faqih…

Kejanggalan lain, Islam dimaknai sebagai isi langit dan bumi. “Ngakunya bernama Pangeran Agung. Ketika saya tanya, agamanya juga Islam,” lanjut warga tadi.

Islam juga dinilai sebagai agama penjajah. Sebab, dulu tanah Jawa dikuasai Majapahit. Kemudian, datang agama Islam yang merebut kekuasaan Majapahit. “Kita khawatir karena ada sejumlah warga yang mengikuti ajaran ini. Mereka sudah tidak salat dan tidak puasa. Kalau dibiarkan, makin lama nanti makin banyak,” papar warga.

Warga berhasil mengamankan sejumlah dokumen yang terkait ajaran-ajaran Pangeran Agung. Salah satunya, ada tulisan “Brayat Agung Mojopait, Selama Pancasila Dijadikan Sebagai Landasan Negara Republik Indonesia, Majapahit Akan Tetap Ada, Pancasila Adalah Ageman Bangsa Indonesia”.

Beberapa pekan terakhir ini, warga Desa Gelung sebenarnya sangat emosi. Sejumlah warga berencana membakar tempat tinggal Pengeran Agung. Namun, niat itu dihalangi karena akan merugikan warga sendiri. Akhirnya, selain melaporkan ke Polsek, warga juga melapor ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Situbondo. Pangeran Agung kini menghilang entah ke mana.

Ketua MUI Situbondo, K.H. Abdul Faqih Gufron mengungkapkan, pihaknya mendapat pengaduan adanya ajaran sesat di Desa Gelung sekitar satu minggu terakhir. “Kita sudah melakukan investigasi. Informasi yang kita dapatkan memang sungguh ironis. Ngaku orang Islam tapi perilakunya sudah tidak Islami. Ini jelas sudah sesat,” kata pria yang akrab dipanggil Gus Faqih itu.

Diperoleh keterangan, aliran sesat Brayan Agung itu juga menjadi perhatian serius Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) Situbondo.

Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbang Linmas) Situbondo terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk membubarkan ajaran tersebut.(ibnudzar/jpnn)

http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2010/01/19/2735/aliran-sesat-brayan-agung-kembali-resahkan-warga-situbondo/

MUI: Aliran Brayat Agung Sesat!

Selasa, 19 Januari 2010 – 15:40 wib

SURABAYA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menganggap aliran Brayat Agung yang berkembang di Situbondo, Jawa Timur, termasuk kategori sesat karena tidak mengajarkan ajaran Islam yang semestinya.

Ketua MUI Jatim Abu Somad Buchori mengungkapkan, Islam tidak mengajarkan hal sesat. Dalam aturan Islam, diajarkan salat lima waktu dalam sehari.

“Jika ada yang tidak boleh salat, maka hal itu diangap sudah jadi aliran sesat,” kata Buchori di kantornya, Selasa (19/1/2010).

Pada kesimpulannya, jika ada aliran atau ajaran yang tidak percaya rukun iman, maka ajaran tersebut dinyatakan sesat dan keliru. Selanjutnya, MUI Jawa Timur akan berkoordinasi dengan MUI daerah, khususnya Situbondo, sehingga MUI Jatim bisa membuat fatwa pada aliran tersebut.

Buchori menambahkan, jika tetap melanggar, maka sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia bisa dikenakan pasal 56 KUHP tentang Pedoman Agama. Pelakunya diancam pidana 5tahun penjara.

“Maraknya aliran sesat di Jawa Timur maupun di Indonesia secara keseluruhan, karena tingkat pendidikan masyarakat masih kurang. Di Jawa Timur, hampir seluruh daerah bisa disusupi aliran sesat,” pungkasnya.

(Johan Samudra/Trijaya/lam) okezoe

Rumah Dijaga Polisi, Penyebar Aliran Brayat Agung Menghilang

Selasa, 19 Januari 2010 16:41:13 WIB

Reporter : Oryza A. Wirawan

Situbondo (beritajatim.com) – Puluhan aparat gabungan kepolisian dan TNI menjaga ketat rumah Agung, di Desa Gelung, Kecamatan Panarukan, Selasa (19/1/2010). Penyebar aliran sesat Brayat Agung itu saat ini menghilang tak tentu rimba.

Aliran Brayat Agung adalah aliran yang dinilai menyimpang oleh warga Situbondo. Menurut informasi yang dihimpun, aliran ini melarang para pengikutnya membaca Al-quran, melaksanakan salat lima waktu, dan juga beribadah. Bahkan, Agung yang berasal dari Kabupaten Bondowoso ini, dianggap menghina Nabi Muhammad.

Kepolisian belum berhasil menemukan Agung. Namun, polisi sudah memeriksa pengikut Brayat Agung. Yoyon Sugiarto, salah satu pengikut Brayat Agung mengatakan, aliran Brayat Agung mengajarkan bersemedi bukan salat.

Sementara itu, Ketua MUI Situbondo Abdullah Faqih Ghufron menyatakan bahwa aliran Brayat Agung sesat. “Masa melarang pengikutnya berpuasa dan salat,” katanya. [wir] http://www.beritajatim.com/detailnews.php/8/Peristiwa/2010-01-19/54654/Rumah_Dijaga_Polisi,_Penyebar_Aliran_Brayat_Agung_Menghilang

Polisi Sudah Mengetahui Brayat Agung Sejak 1 Tahun Lalu

detikcom – Selasa, 19 Januari

Keberadaan aliran Brayat Agung (sebelumnya disebut Brayan Agung) di Situbondo, Jatim sudah diketahui pihak kepolisian. Namun polisi mengaku belum mengambil tindakan apapun. Pasalnya, sejak berdiri sekitar setahun lalu, aliran tersebut adem ayem saja.

“Kita sudah tahu keberadaan aliran tersebut dan selama ini ayem-ayem saja. Itu juga diakui oleh Kepala Desa Gelung,” kata salah satu petugas Polsek Panarukan, Aiptu Suparno, saat dihubungi detiksurabaya.com, Senin (18/1/2010) petang.

http://id.news.yahoo.com/dtik/20100118/tid-polisi-sudah-mengetahui-brayat-agung-b1ae096.html

Begitulah keadaan di negeri ini, aliran-aliran sesat di mana-mana itu seolah bagai sesuatu yang dipiara, bila dirasa monentnya tepat, maka baru diramaikan. Itu sudah biasa, sepertinya. Tentang proses selanjutnya, itu masalah lain lagi. Dan kalau sampai aliran sesat dinyatakan dilarang secara resmi pun, kemudian ya dibiarkan saja. Contohnya aliran sesat Islam Jama’ah dan dengan nama apapun telah dilarang Jaksa Agung tahun 1971. Tetapi sampai sekarang malah menjadi aliran sesat terbesar di Indonesia dan bahkan berani pasang plang-plang di aneka tempat dengan sandi 354. Itu polisi dan pemerintah ya sudah tahu puluhan tahun. Apalagi yang baru satu tahun, tahunya. Yang sudah puluhan tahun, dan sudah dinyatakan dilarang secara resmi saja dibiarkan. Itulah yang terjadi di Indonesia negeri kita ini. Paling tinggi, saling lempar alasan, seperti yang dikatakan oleh pejabat departemen agama ini:

“Kita sudah dengar. Dan kita sudah melakukan koordinasi dengan pihak terkait
diantaranya MUI dan kepolisian setempat untuk mengajak para jamaahnya kembali ke jalan yang benar,” kata Kasubbag Humas dan Kerukunan Umat Beragama Kanwil Depag Jatim, H Mohammad Nawawi, saat dihubungi detiksurabaya.com, Selasa (
19/1/2010).

Sayangnya, tambah Nawawi, pihaknya tidak mempunyai hak untuk melarang munculnya sebuah aliran.

“Tugas kita hanya mengajak para jamaahnya kembali ke jalan yang benar. Sedangkan untuk tugas itu adalah pakem atau MUI,” tegasnya.

(bdh/bdh) http://www.antara.co.id/schres/?cx=partner-pub-7452133798636650%3Atdcj1x-3bzh&

Sampai bakor pakem (pengawas kepercayan masyarakat) Kejaksaan Agung RI ketika didatangi LPPI, Dewan Dakwah dan lainnya dalam kasus aliran sangat sesat yakni Ahmadiyah yang punya nabi palsu dan telah difatwakan sesatnya oleh MUI 1980 dan 2005 pun pihak Kejaksaan Agung malah ngeles juga. Katanya, setelah reformasi, maka pihaknya tak berwenang lagi melarang aliran sesat. Itu wewenang presiden melalui Keppres.

Apa itu bukan berarti bahwa aliran sesat di Indonesia ini dipiara?

Yang belum dilarang, seperti Ahmadiyah itu sulit sekali pemerintah mengeluarkan larangan. Padahal sudah puluhan tahun para Ulama, tokoh Islam, dan Ummat Islam memohon-mohon untuk dilarangnya, karena jelas menodai Islam, mengaku Islam bahkan mengkafirkan orang Muslim, tetapi punya nabi palsu. Sedangkan yang sudah resmi dilarang seperti Islam Jama’ah kemudian dipiara lagi sampai kini dengan cara agar ganti-ganti nama.

Dengan demikian, kalau masyarakat lebih-lebih Ummat Islam kurang percaya kepada ekadaan ini, ya logis.

Dan kalau kami meniru cara saling lempar, cukup kami katakan: Tugas kami hanya nulis-nulis lho Pak! Sayang, kami tidak punya hak untuk melarang-larang… dan sayangnya lagi, yang punya tugas untuk melarang-larang tampaknya sampai sekarang belum diketemukan, masih saling lempar sambil mengandalkan jurus utama yakni mbulet.. Inilah salah satu bukti benarnya artikel berjudul Watak Mbulet, Modal Sukses Orang dan Media di Indonesia, 11:15 pm, https://www.nahimunkar.org/watak-mbulet-modal-sukses-orang-dan-media-di-indonesia/#more-788

Meskipun demikian, kami berupaya agar tidak ikut mbulet dan saling lempar. (Redaksi nahimunkar.com).