MUI dan NU Belum Nyatakan Kehalalan Vaksin Sinovic

Silakan simak ini.

***

Vaksin Sinovac Sudah Disebar, MUI: Kehalalannya Sedang Diteliti

Vaksin COVID-19 buatan Sinovac mulai didistribusikan ke 34 provinsi (Foto: ANTARA FOTO/ARDIANSYAH)

Jakarta – 

Vaksin COVID-19 buatan Sinovac sudah disebar ke 34 provinsi di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan vaksin buatan China tersebut harus terlebih dahulu dipastikan halal dan mujarab sebelum digunakan.

“Kehalalan, kemanfaatan, dan kemujaraban itu kan sedang diteliti LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika) MUI dan BPOM tentang khasiat dan kemujaraban serta keamanan vaksin tersebut. Paralel dengan itu juga, MUI sedang meneliti kehalalannya,” kata Ketua MUI bidang Infokom KH Masduki Baidlowi kepada wartawan, Selasa (5/1/2021).

 

Dia menyatakan pemerintah dan MUI peduli soal kehalalan dan kemujaraban sebuah vaksin. Masduki mengatakan banyak hoax soal vaksin beredar yang bisa mempengaruhi masyarakat.

Ketua MUI bidang Infokom Masduki Baidlowi (Lisye Sri Rahayu/detikcom)

“Ada berita yang perlu kita luruskan supaya rakyat tidak salah paham. Ketika kemarin Sinovac itu dikirim ke berbagai daerah, terkesan, kepada orang-orang terutama umat Islam, ‘ini halalnya saja belum kok sudah dikirim ke daerah?’. Kan banyak yang bertanya seperti itu. Seakan-akan pemerintah sudah tidak peduli dengan kehalalan atau fatwa MUI. Itu tidak benar,” kata dia.

Dia mengatakan jajaran petinggi MUI pun baru saja menggelar rapat terkait vaksin COVID-19. Di dalam rapat itu turut hadir Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar, Waketum MUI Anwar Abbas, Direktur LPPOM MUI Lukmanul, hingga Ketua MUI Bidang Fatwa KH Salahuddin Al Ayubi.

 

Masduki mengatakan vaksin Sinovac disebar terlebih dahulu agar pelaksanaan vaksinasi dilakukan secara serempak. Dia mengatakan MUI tetap akan melakukan uji kehalalan atas vaksin tersebut.

“Kalau barang sudah dikirim dahulu, tak ada masalah, agar semua serempak dan kompak. Tetapi bukan barang itu tak ada fatwa MUI. Fatwa MUI tetap akan ada itu, karena pengujian atas sampling vaksin tersebut sedang dilakukan. Bukan berarti meninggalkan kemujaraban dan kehalalan, kita peduli dengan itu,” kata dia.

“Itu yang perlu dipahami. supaya tidak terjadi salah paham di masyarakat karena di medsos sudah banyak itu hoax. Hoax terkait kesehatan berdasarkan survei Kominfo itu mencapai 30 persen, ini kan tinggi. Berbahaya kalau masyarakat nantinya kena hoax yang seakan-akan kebenaran dan kemudian masuk ke dalam pikiran masyarakat,” sambung jubir Wakil Presiden Ma’ruf Amin ini.

Jabbar Ramdhani – detikNews

Selasa, 05 Jan 2021 13:28 WIB

***

 

LBM PBNU Belum Putuskan Soal Kehalalan Vaksin Sinovac


LBM PBNU Belum Putuskan Soal Kehalalan Vaksin Sinovac. Petugas melakukan proses bongkar muat truk pengangkut vaksin COVID-19 Sinovac di kantor Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Mataram, NTB, Selasa (5/1/2021). Sebanyak 28.760 dosis vaksin COVID-19 Sinovac tahap pertama untuk tenaga kesehatan NTB tersebut akan disimpan di ruang pendingin terlebih dahulu sebelum didistribusikan.

Foto: Antara/Ahmad Subaidi

Sulit mendapatkan informasi bahan yang digunakan dalam vaksin Sinovac.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU), Sarmidi Husna, menyampaikan turut melakukan kajian terhadap kehalalan vaksin Covid-19 asal China Sinovac. Kajian ini digelar dengan mengundang Biofarma dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“LBM sudah beberapa kali, dua kali, melakukan kajian terkait vaksin Covid-19. Dan juga sudah mengundang Biofarma dan BPOM RI, untuk menjelaskan bahan atau komponen vaksin Sinovac, karena yang kita kaji adalah Sinovac,” kata dia dalam diskusi daring bertajuk ‘Kehalalan & Keamanan Vaksin Covid-19’, Selasa (5/1).

Namun, Sarmidi mengakui, sulit mendapatkan informasi mengenai komponen atau bahan yang digunakan dalam proses memproduksi vaksin Sinovac. “Sulit sekali. Dan Biofarma juga belum menyampaikan apa komponennya, sehingga kami sampai sekarang belum memutuskan terkait keputusan Bahtsul Masail tentang vaksin Covid-19 ini,” tuturnya.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah

REPUBLIKA.CO.ID, Selasa 05 Jan 2021 16:31 WIB

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 163 kali, 1 untuk hari ini)