wi_logo_843652375432

  • Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH.Ahmad Cholil Ridwan, membantah tuduhan Wahid Institute yang menempatkan MUI dalam posisi atas, dalam tindak kekerasan agama melalui fatwa-fatwa yang dikeluarkan.
  • “Biasa itu, LSM cari duitnya seperti itu, menyebar berita fitnah, karena kalau enggak begitu nanti mereka enggak bisa isi perutnya,” ujar Sobri Lubis sekjen FPI kepada Okezone, Sabtu (29/12/2012).

Inilah beritanya.

MUI Difitnah Terlibat Kekerasan Keagamaan?

Adalah Koordinator Program Wahid Institute Rumadi Ahmad yang menuduh MUI terlibat dalam pelanggaran kebebasan beragama. Alasannya? Fatwa-fatwa keagamaan.

“Bentuk tindakan intoleransi yang paling sering dilakukan MUI adalah fatwa-fatwa keagamaan yang menyesatkan kelompok lain, dimana MUI juga meminta pemerintah melarang kelompok tersebut,” tuturnya di Balai Kartini Jakarta, Jumat (28/12/2012).

Selain itu, lanjutnya, MUI juga sering melakukan tindakan penyebaran rasa benci terhadap aliran-aliran yang mereka sesatkan.

Rumadi Ahmad, menyebutkan sebanyak 52 kasus FPI terlibat dalam pelanggaran kebebasan beragama selama tahun 2012, disusul kelompok masyarakat sebanyak 51 kasus, individu sebanyak 25 kasus, Majelis Ulama Indonesia (MUI) 24 kasus, dan tokoh agama 12 kasus.

Mengomentari FPI, Rumadi mengatakan, “Tingginya jumlah pelaku yang melibatkan anggota FPI pada tahun ini tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2011 anggota FPI juga tertinggi menjadi 38 kasus.”

12/28/2012 05:35:00 PM | Posted by Ghiroh Tsaqofy/Islamedia

***

Fatwanya disesatkan, MUI bantah tudingan Wahid Institute

Bilal

Sabtu, 29 Desember 2012 10:34:22

JAKARTA (Arrahmah.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH.Ahmad Cholil Ridwan, membantah tuduhan Wahid Institute yang menempatkan MUI dalam posisi atas, dalam tindak kekerasan agama melalui fatwa-fatwa yang dikeluarkan.

“Enggak benar itu, fatwa itu kan atas dasar ayat-ayat Alquran dan hadist nabi, jadi fungsi dari fatwa adalah untuk menyelamatkan umat dari kesesatan,” kata Kiyai Cholil, saat berbincang dengan Okezone, Jumat (28/12/2012).

Sebelumnya, Koordinator Program Wahid Institute, Rumadi Ahmad, berpendapat bentuk tindakan intoleransi yang paling sering dilakukan MUI adalah fatwa-fatwa keagamaan yang menyesatkan kelompok lain, dimana MUI juga meminta pemerintah melarang kelompok tersebut. Selain itu, MUI juga sering melakukan tindakan penyebaran rasa benci terhadap aliran-aliran yang mereka sesatkan.

Terkait hal tersebut, Kiyai Cholil berpandanganngan bahwa MUI berkewajiban untuk selalu melindungi umat dari organisasi atapun golongan yang memang ada untuk menyesatkan umat seperti Ahmadiyah yang mengklaim memiliki nabi terakhir setelah nabi Muhammad.

“Sekali lagi saya tekankan bahwa fatwa yang dikeluarkan MUI itu untuk menjaga umat, dan MUI berkewajiban akan itu. Seperti Ahmadiyah yang menjadi agama sendiri, itu kan sesat, ya kami harus mengingatkan umat, melindungi umat, fatwa itu memiki dasar yang pasti yakni ayat Allah dan Hadist nabi,” ujarnya.

Selain MUI, FPI juga dituding sebagai ormas lain yang menonjol sebagai pelaku pelanggaran nonpemerintah. Bahkan FPI berada diposisi teratas dalam hal pelanggaran beragama berdasarkan data Wahid Institute. (bilal/arrahmah.com)

***

FPI: Wahid Institute Sebar Berita Fitnah!

Susi Fatimah – Okezone

Sabtu, 29 Desember 2012 10:30 wib

JAKARTA – Sekjen Front Pembela Islam (FPI), Sobri Lubis, tak ambil pusing dalam menanggapi pernyataan Wahid Institute yang menobatkan FPI sebagai organisasi masyarakat yang paling banyak melakukan pelanggaran kebebasan beragama di tahun 2012.

“Biasa itu, LSM cari duitnya seperti itu, menyebar berita fitnah, karena kalau enggak begitu nanti mereka enggak bisa isi perutnya,” ujar Sobri kepadaOkezone, Sabtu (29/12/2012).

Kata Sobri, pernyataan dari pihak Wahid Institute melalui Koordinatornya yaitu Rumadi, aneh. Kekerasan beragama yang kerap dilakukan warga Nahdatul Ulama (NU) di Jawa Timur justru tak masuk dalam catatan akhir tahun mereka. Padahal hal itu juga kerap terjadi, namun tak disorot.

“Kekerasan NU di Jatim banyak, kekerasan polisi juga banyak tapi dia tidak mau ungkapkan, emang mereka duitnya dari sana, itu dapur mereka,” tuturnya.

Sementara terkait pelarangan ibadah bagi jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin di Bogor Jawa Barat, Sobri menegaskan bahwa pembangunan gereja tersebut ilegal atau tak sesuai hukum. Sobri memastikan, FPI tak akan mempermasalahkan pembangunan rumah ibadah jika sesuai prosedur.

“Dekat markas FPI ada lima gereja, semua rukun, enggak ada yang kita persoalkan,” tegasnya.

Lanjut Sobri, terkait GKI Yasmin, warga menolak lantaran jemaat ingin membangun gereja didekat pemukiman mereka dengan mengatasnamakan dari pihak gereja, padahal pihak gereja sendiri tak mengizinkan. Hal itu lah yang membuat gesekan-gesekan dimasyarakat.

“Itu namanya penipuan, pelanggaran hukum. Wahid Institute justru membela, dan menjelek-jelekan umat Islam, menjelek-jelekan pemerintah,” tuturnya.

Oleh karenanya, sambung Sobri, FPI tak ambil pusing atas pernyataan dari Wahid Institute. “Anjing menggonggong kafilah berlalu,” tutupnya.(sus)okz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 516 kali, 1 untuk hari ini)