MUI DKI dan Aktivis Islam Ragukan Indeks Kerukunan Umat Beragama Rilisan Kemenag

 

Indeks kerukunan umat beragama rilisan Kemenag dinilai bermuatan islamophobia, aneh, dan mengesankan semakin Islam dianggap semakin radikal. Hingga DKI Jakarta peringkat kerukunannya jauh di bawah Papua yang di Papua justru ada kekerasan tindakan kejam.

 

***

yang ingin dikesankan, Islam itu tidak toleran.

Ini bisa dikonfirmasi, bahwa provinsi-provinsi dengan indeks paling rendah, adalah provinsi yang selama ini justru dikenal dengan semangat Islam yang tinggi.

Paling rendah diurut keatas: Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Banten, Riau. Apakah pesan yang ingin diantar sama saja: Semakin Islam, semakin radikal.

Lucunya, seolah kemenag lupa, ratusan orang yang hilang nyawa di Papua kemarin. Ada yang dibakar, dipenggal, dan tindakan kejam lainnya, sungguh miris.

 

Inilah beritanya

 

***

 

MUI DKI Pertanyakan Indeks Kerukunan Jakarta di Bawah Papua


MUI DKI Pertanyakan Indeks Kerukunan Jakarta di Bawah Papua. Foto ilustrasi sejumlah jemaah Gereja Katedral menyeberangi jalan usai memarkirkan kendaraannya di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Foto: Republika/Putra M. Akbar

 

Ketum MUI DKI mengatakan kerja sama umat beragama di Jakarta cukup baik.

JAKARTA — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta KH Munahar Muchtar mempertanyakan nilai indeks kerukunan umat beragama (KUB) DKI Jakarta di bawah Papua dan Papua Barat. Menurutnya, di Jakarta tidak ada kerusuhan dan kehidupan umat beragama baik-baik saja.

“Ini penilaian yang aneh dari Kementerian Agama (Kemenag) kalau (indeks KUB) Jakarta di bawah Papua,” kata KH Munahar kepada Republika.co.id, Rabu (11/12) malam.  

Sebelumnya, Kemenag merilis nilai indeks KUB nasional rata-rata 73,83, tapi nilai indeks KUB DKI Jakarta di bawah rata-rata karena hanya sebesar 71,3. Sementara, nilai indeks KUB Papua Barat sebesar 82,1 dan Papua 79,0.

Oleh karena itu, MUI DKI Jakarta mempertanyakan penilaian indeks KUB yang dirilis Kemenag. KH Munahar juga menanyakan, Kemenag menggunakan sudut pandang seperti apa sehingga menilai indeks KUB Jakarta di bawah rata-rata. Sementara di beberapa wilayah yang rawan seperti di Papua Barat dan Papua nilai kerukunan umat beragamanya di atas rata-rata.

“Tapi kenapa nilai kerukunan umat beragama di Jakarta di bawah, padahal Jakarta sudah cukup kondusif,” ujarnya.

Ia menegaskan, apa yang telah terjadi di Jakarta sehingga nilai indeks KUB Jakarta di bawah rata-rata. Kalau ada demonstrasi dan aksi 212 di Jakarta, itu hal yang sangat biasa. Demonstrasi dan aksi yang terjadi di Jakarta juga tidak menyangkut masalah kerukunan umat beragama.

Dia menegaskan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Jakarta juga sudah berjalan bagus. Bahkan kerja sama umat beragama cukup baik melalui FKUB.

“Tidak ada masalah (di Jakarta), (umat beragama) juga toleransi, tidak ada gontok-gontokan antaragama, semuanya baik-baik saja,” ujarnya.

KH Munahar mengatakan, jika Kemenag akan membuat penilaian terhadap KUB, sebaiknya melibatkan MUI di berbagai provinsi. Kemenag juga sebaiknya dialog terlebih dahulu dengan MUI.

Menurut dia, MUI wajib dilibatkan dalam penilaian indeks KUB sebab MUI paling tahu kondisi masyarakat di bawah karena MUI ada sampai tingkat kelurahan. “Jangan mungkin karena ada ketidaksukaan dan lain sebagainya lantas Jakarta di bawah rata rata (nilai indeks KUB-nya), padahal Jakarta ini cukup kondusif, antarumat beragama rukun dan hidup biasa,” ujarnya.

republika.co.id, Kamis 12 Dec 2019 05:55 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah

 

***

Sabtu, 14 Desember 2019  Felix Siauw

Felix Siauw:
Islamophobia Dibalik Survei Kerukunan Umat Beragama

 


 

Islamophobia Dibalik Survei Kerukunan Umat Beragama


Kemenag merilis Indeks Kerukunan Umat Beragama, yang diukur adalah toleransi, kesetaraan dan kerjasama antarumat. Sedangkan kebencian jadi faktor rendahnya indeks.

Yang menarik, yang menempati papan atas adalah provinsi yang minim Muslimnya, walau tak semua. Yang juga menarik, Prov. Papua dianggap lebih rukun dari DKI Jakarta.

Perbedaannya juga sangat jauh, Prov. Papua dengan indeks 79.0 berada di posisi 6, sedang DKI Jakarta hanya 71.3 berada di posisi 27 dan ditempatkan di bawah rata-rata indeks nasional.

Saya jadi bertanya-tanya, sebenarnya untuk apa Kemenag merilis indeks ini? Untuk memberikan informasi, ataukah menajdi bagian program rekayasa sosial?

Andai hanya untuk informasi, maka indeks semisal ini hanya memecah belah Indonesia. Seperti peringkat pada siswa, yang akhirnya membuat segregasi atau pemisahan.

Andai memang seperti dalam indeks itu adanya, bukankah lebih baik bagi kemenag, atau yang terkait, untuk melakukan silent operation? Program pembenahan tanpa ramai?

Beda halnya bila ini masuk ke dalam program Islamophobia, atau de-radikalisasi. Apalagi yang mengeluarkan kemenag, yang ingin dikesankan, Islam itu tidak toleran.

Ini bisa dikonfirmasi, bahwa provinsi-provinsi dengan indeks paling rendah, adalah provinsi yang selama ini justru dikenal dengan semangat Islam yang tinggi.

Paling rendah diurut keatas: Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Banten, Riau. Apakah pesan yang ingin diantar sama saja: Semakin Islam, semakin radikal.

Lucunya, seolah kemenag lupa, ratusan orang yang hilang nyawa di Papua kemarin. Ada yang dibakar, dipenggal, dan tindakan kejam lainnya, sungguh miris.

Kemenag saat ini juga mungkin tak lagi tahu, bagaimana Islam itu agama penuh damai dan toleran. 212 adalah bukti nyata kerukunan umat, bukan kertas survei khayalan belaka.

By Felix Siauw [IG]/ portal-islam.id

***

Keanehan rilisan Kemenag itu mengikuti yang ini?

Para teroris pembakar Masjid Tolikara di Papua justru dijamu Jokowi di Istana Jakarta.

***

Teroris GIDI Pembakar Masjid Dijamu di Istana, Akankah Jokowi Juga Jamu Pembakar Gereja?

Posted on 17 Oktober 2015

by Nahimunkar.com


Teroris gidi pembakar mesjid dijamu jokowi di istana/ foto posmetro

Aceh Singkil  di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam  rusuh, Selasa siang (13/10). Tepatnya di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah. Kerusuhan bernuansa agama itu memakan korban nyawa dan gereja dibakar.

Terkait peristiwa ini, pemilik akun @JudasSaveYou di Twitter melontarkan pertanyaan yang menggelitik. “Gak diundang ke Istana sama Jokowi?” katanya.

Sebagaimana diketahui, sejumlah tokoh Gereja Injili di Indonesia (GIDI)—yang diduga berada di balik pembakaran masjid di Tolikara, Papua, ketika jamaahnya sedang melaksanakan solat Idul Fitri—malah diundang ke istana oleh Joko setelah peristiwa pembakaran tersebut. [pn]

Demikian berita yang diringkas dari posmetro.info, 14 Oktober 2015

***

Ancaman Allah Ta’ala terhadap yang setia kepada orang kafir

 

Setiap muslim diancam oleh Allah Ta’ala, bila setia alias loyal kepada orang kafir maka dinilai sebagai bagian dari mereka. Dan itu disebut oleh Allah Ta’ala sebagai

tingkah yang “Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka”.

Firman Allah Ta’ala yang menegaskan masalah itu cukup banyak. Di antaranya:

 تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80) وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ [المائدة/80، 81]

(80) Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (81) Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.  (QS Al-Maaidah: 80, 81)

 ] يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ[

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (Al-Maidah: 51)

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51)

{ ومن يتولهم منكم } أي أيها المؤمنين { فإنه منهم } ، لأنه بحكم موالاتهم سيكون حرباً على الله ورسوله والمؤمنين وبذلك يصبح منهم قطعاً) أيسر التفاسير للجزائري – (ج 1 / ص 356)(

Karena konsekwensi kesetiaan kepada mereka (Yahudi dan Nasrani)  itu akan menjadikan perang terhadap Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Dengan demikian pasti akan menjadi bagian dari mereka. (Al-Jazaairi dalam tafsirnya, Aisarut tafaasiir juz 1 halaman 356).

https://www.nahimunkar.org/jokowi-pernah-menolak-kedatangan-delegasi-muslim-uighur-yang-dizalimi-china/

(nahimunkar.org)

 

 


 

(Dibaca 299 kali, 1 untuk hari ini)