mui Logo_8w47652372684

Muncul dan berkembangnya kembali ajaran Baha’i di Indonesia khususnya di Jawa Barat harus diwaspadai umat Islam. Sebab ajaran yang terlihat mirip dengan ajaran dasar Islam itu sudah mulai menyebar di Bandung.

“Sudah ada yang melaporkan bahwa di daerah Banjaran Kabupaten Bandung ada komunitas yang terang-terangan mengaku beragama Baha’i,” jelas Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar, Drs.Rafani Achyar, kepada hidayatullah.com di kantornya Jln. LRE Martadinata Kota Bandung, Kamis (28/02/2013).

Rafani  juga telah menerima laporan soal ajaranBaha’i yang sudah masuk ke pelajar SMU. Ia mendapat laporan, ada anak siswa yang enggan mencantumkan agama di buku rapor. Setelah pihak sekolah menanyakan, rupanya ia enggan menulis karena mengaku beragama Baha’i.
Rafani juga mengungkapkan bahwa kini aliran Baha’i khususnya yang di Bandung sudah berani membuka dan menyebarkan ajarannya secara terang-terangan.Bahkan, lanjutnya, mereka siap menghadapi resiko apa pun jika terjadi karena mengaku sudah memiliki jaringan internasional.

“Mereka mengaku siap. Justru akan senang karena menjadi perhatian secara luas.Kalau mereka mendapatkan perlakuan yang tak menyenangkan, maka dunia internasional diklaim siap membela Baha’i,” katanya.

Menurut Rafani penyebaran aliran Baha’i kini sudah menyebar ke Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia.Untuk itu MUI Jabar menghimbau kepada MUI Kabupaten/Kota bersama dengan Ormas-ormas Islam perlu mewaspadai adanya penyebaran paham ini. Apalagi Bahai sudah berani mengusulkan ke Kementerian Dalam Negeri untuk disahkan menjadi agama baru.
Sementara itu Ketua Ormas Pagar Aqidah (Gardah) Kabupaten Bandung,Suryana Nurfatwa saat dikonfirmasi membenarkan jika ada komunitas Baha’i di daerahnya.

“Di Indonesia sendiri Baha’i pernah dilarang dengan terbitnya SK Presiden No.284 tahun 1982 namun jaman pemerintahan Abdurahman Wahid (Gusdur) larangan tersebut dicabut dengan keluarnya SK Presiden No.1969 tahun 2000,” jelas Suryana.

Dengan begitu, sambung Suryana,Bahai masuk agama yang dilindungi pemerintah namun tidak difasilitasi. Sehingga dalam perkembangannya terasa monoton dan baru sekarang-sekarang mereka seolah ingin bangkit.

Meski demikian Suryana juga meminta agar umat Islam tetap waspada terhadap ajaran Baha’i tersebut. Sementara untuk kasus yang terjadi di wilayah Bandung pihak Gardah mengaku tetap akan  mengawasinya agar tidak melakukan pemurtadan kepada umat Islam.

“Kalau mereka agama resmi kita hormati ajarannya,namun kalau melakukan pemurtadan kepada umat Islam itu yang akan kita hadapi,” pungkas Suryana.

Tahun 2009,  Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tulungagung Jawa Timur menemukan, aliran  Baha`i menjadikan Gunung Caramel di Israel sebagai kiblat dalam shalat. Aliran itu pernah ditemukan MUI di Desa Ringipitu, Kedungweru, Tulungagung, Jawa Timur, juga hanya mewajibkan pengikutnya shalat sekali dalam sehari.*

Rep: Ngadiman Djojonegoro

Red: Cholis Akbar

Jum’at, 01 Maret 2013

Hidayatullah.com–

***

Meresahkan Umat Islam

Ketua LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) M Amin Djamaluddin pernah mengemukakan, waktu Gus Dur mengizinkan Baha’I di Bandung maka besoknya langsung tempat Baha’I itu didatangi para pemrotes yang mendemo. Siapakah mereka? Ternyata yang mendemo keberadaan Baha’I itu justru dari kalangan NU pula. Jadi dibolehkannya keberadaan Baha’I yang tadinya dilarang pemerintah itu jelas meresahkan Ummat Islam, termasuk warga NU.

Tentang kesesatan Baha’I dan kenapa dilarang pemerintah sebelum zaman Gus Dur, dapat dibaca di buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia karya Hartono Ahmad Jaiz. Dalam acara pameran buku IBF (Islamic Book Fair) di Senayan Jakarta 1-10 Maret 2013, buku itu di antaranya ada di stand Pustaka Al-Kautsar. Juga dapat ditemui buku-buku yang menjelaskan aneka kesesatan dan penyimpangan yang perlu dicermati, terbitan Pustaka Nahimunkar/ nahimunkar.com di stand Senayan Publishing, stand no 139 di lorong belakang dekat cafetaria, Istora Senayan Jakarta.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.086 kali, 1 untuk hari ini)