MUI Jangan Tepuk Dada Dulu Ketika Bisa Jadi Khatib dan Imam Jumat di Pust LDII Kediri

Diberitakan, dengan nada bangga oleh situs resmi MUI dengan judul: Pertama Sejak 70 Tahun, Imam Khatib Masjid Pusat LDII dari Kalangan Luar

 


KEDIRI— Jumat (11/06) hari ini LDII mencetak sejarah baru. Sebab, setelah 70 tahun, baru hari ini ada imam dan khatib shalat Jumat di Masjid Pusat LDII Kediri yang bukan berasal dari internal LDII. Sekretaris Komisi Penelitian dan Pengkajian MUI, KH Dr Ali M Abdillah, bertindak sebagai Khatib, sedangkan anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Jawa Timur sekaligus Wakil Rektor IAIN Kediri Dr H Ahmad Subakir menjadi Imam. (mui.or.id, 11 June 2021).

Ya baguslah, MUI bisa berkhutbah dan mengimami shalat Jumat di pusat LDII Kediri Jawa Timu kemarin itu. Tapi perlu diingat, MUI perlu menindak lanjuti reomendasi yang telah dikeluarannya secara resmi:

Rekomendasi MUI untuk Pembubaran Ahmadiyah, LDII dan sebagainya

 

Posted on 4 Oktober 2015

by Nahimunkar.org

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat.

Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

“Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Posted on Sep 25th, 2013

by nahimunkar.org

(nahimunkar.org)

 ***

 Bukti Bukti Kesesatan Jamaah LDII

Redaksi – Minggu, 16 Juni 2013 17:00 WIB


Bukti-bukti kesesatan LDII, Fatwa-fatwa tentang sesatnya, dan pelarangan Islam Jama’ah dan apapun namanya yang bersifat/ berajaran serupa:

  1. LDII sesat. MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan Ahmadiyah agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat. Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut: “Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah. MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).
  2. Menganggap kafir orang Muslim di luar jama’ah LDII. Dalam Makalah LDII dinyatakan: “Dan dalam nasehat supaya ditekankan bahwa bagaimanapun juga cantiknya dan gantengnya orang-orang di luar jama’ah, mereka itu adalah orang kafir, musuh Allah, musuh orang iman, calon ahli neraka, yang tidak boleh dikasihi,” (Makalah LDII berjudul Pentingnya Pembinaan Generasi Muda Jama’ahdengan kode H/ 97, halaman 8).
  3. Surat 21 orang keluarga R. Didi Garnadi dari Cimahi Bandung menyatakan sadar, insyaf, taubat dan mencabut Bai’at mereka terhadap LDII, Oktober 1999. Dalam surat itu dinyatakan di antara kejanggalan LDII hingga mereka bertaubat dan keluar dari LDII, karena: Dilarang menikah dengan orang luar Kerajaan Mafia Islam jama’ah, LEMKARI, LDII karena dihukumi Najis dan dalam kefahaman Kerajaan Mafia Islam Jama’ah, LEMKARI, LDII bahwa mereka itu BINATANG. (Lihat surat 21 orang dari Cimahi Bandung yang mencabut bai’atnya terhadap LDII alias keluar ramai-ramai dari LDII, surat ditujukan kepada DPP LDII, Imam Amirul Mu’minin Pusat , dan pimpinan cabang LDII Cimahi Bandung, Oktober 1999, dimuat di buku Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 276- 280).
  4. Menganggap najis Muslimin di luar jama’ah LDII dengan cap sangat jorok, turuk bosok (vagina busuk). Ungkapan Imam LDII dalam teks yang berjudul Rangkuman Nasehat Bapak Imam di CAI (Cinta Alam Indonesia, semacam jamboree nasional tapi khusus untuk muda mudi LDII) di Wonosalam Jombang tahun 2000. Pada poin ke-20 (dari 50 poin dalam 11 halaman): “Dengan banyaknya bermunculan jamaah-jamaah sekarang ini, semakin memperkuat kedudukan jamaah kita (maksudnya, LDII, pen.). Karena betul-betul yang pertama ya jamaah kita. Maka dari itu jangan sampai kefahamannya berubah, sana dianggap baik, sana dianggap benar, akhirnya terpengaruh ikut sana. Kefahaman dan keyakinan kita supaya dipolkan. Bahwa yang betul-betul wajib masuk sorga ya kita ini. Lainnya turuk bosok kabeh.” (CAI 2000, Rangkuman Nasehat Bapak Imam di CAI Wonosalam. Pada poin ke-20 (dari 50 poin dalam 11 halaman).
  5. Menganggap sholat orang Muslim selain LDII tidak sah, hingga dalam kenyataan, biasanya orang LDII tak mau makmum kepada selain golongannya, hingga mereka membuat masjid-masjid untuk golongan LDII.Bagaimanapun LDII tidak bisa mengelak dengan dalih apapun, misalnya mengaku bahwa mereka sudah memakai paradigma baru, bukan model Nur Hasan Ubaidah. Itu tidak bisa. Sebab di akhir buku Kitabussholah yang ada Nur Hasan Ubaidah dengan nama ‘Ubaidah bin Abdul Aziz di halaman 124 itu di akhir buku ditulis: KHUSUS UNTUK INTERN WARGA LDII. Jadi pengakuan LDII bahwa sekarang sudah memakai paradigma baru, lain dengan yang lama, itu dusta alias bohong.
  6. Penipuan Triliunan Rupiah: Kasus tahun 2002/2003 ramai di Jawa Timur tentang banyaknya korban apa yang disebut investasi yang dikelola dan dikampanyekan oleh para tokoh LDII dengan iming-iming bunga 5% perbulan. Ternyata investasi itu ada tanda-tanda duit yang telah disetor sangat sulit diambil, apalagi bunga yang dijanjikan. Padahal dalam perjanjian, duit yang disetor bisa diambil kapan saja. Jumlah duit yang disetor para korban mencapai hampir 11 triliun rupiah. Di antara korban itu ada yang menyetornya ke isteri amir LDII Abdu Dhahir yakni Umi Salamah sebesar Rp 169 juta dan Rp 70 juta dari penduduk Kertosono Jawa Timur. Dan korban dari Kertosono pula ada yang menyetor ke cucu Nurhasan Ubaidah bernama M Ontorejo alias Oong sebesar Rp22 miliar, Rp 959 juta, dan Rp800 juta. Korban bukan hanya sekitar Jawa Timur, namun ada yang dari Pontianak Rp2 miliar, Jakarta Rp2,5 miliar, dan Bengkulu Rp1 miliar. Paling banyak dari penduduk Kediri Jawa Timur ada kelompok yang sampai jadi korban sebesar Rp900 miliar. (Sumber Radar Minggu, Jombang, dari 21 Februari sampai Agustus 2003, dan akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiahkarya H.M.C. Shodiq, LPPI Jakarta, 2004. ).
  7. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat: Bahwa ajaran Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 06 Rabiul Awwal 1415H/ 13 Agustus 1994M, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, Ketua Umum: K.H. Hasan Basri, Sekretaris Umum: H.S. Prodjokusumo.
  8. Fatwa Majelis Ulama DKI Jakarta: Bahwa ajaran Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 20 Agustus 1979, Dewan Pimpinan Majelis Ulama DKI Jakarta, K.H. Abdullah Syafi’ie ketua umum, H. Gazali Syahlan sekretaris umum.
  9. Pelarangan Islam Jama’ah dengan nama apapun dari Jaksa Agung tahun 1971: Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-089/D.A./10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul Hadits, Djama’ah jang bersifat/ beradjaran serupa. Menetapkan: Pertama: Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok Peantren Nasional (JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia. Kedua: Melarang semua adjaran aliran-aliran tersebut pada bab pertama dalam keputusan ini jang bertentangan dengan/ menodai adjaran-adjaran Agama. Ketiga: Surat Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan: Djakarta pada tanggal: 29 Oktober 1971, Djaksa Agung R.I. tjap. Ttd (Soegih Arto).
  10. Kesesatan, penyimpangan, dan tipuan LDII diuraikan dalam buku-buku LPPI tentang Bahaya Islam Jama’ah, Lemkari, LDII(1999); Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah (2004).
  11. LDII aliran sempalan yang bisa membahayakan aqidah umat, ditegaskan dalam teks pidato Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan Agama Ir. Soetomo, SA, Mayor Jenderal TNI bahwa “Beberapa contoh aliran sempalan Islam yang bisa membahayakan aqidah Islamiyah, yang telah dilarang seperti: Lemkari, LDII, Darul Hadis, Islam Jama’ah.” (Jakarta 12 Februari 2000, Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan Agama, Ir. Soetomo, SA, Mayor Jendral TNI).
  12. LDII dinyatakan sesat oleh MUI karena penjelmaan dari Islam Jamaah. Ketua Komisi fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) KH Ma’ruf Amin menyatakan, Fatwa MUI: LDII sesat. Dalam wawancara dengan Majalah Sabili, KH Ma’ruf Amin menegaskan: Kita sudah mengeluarkan fatwa terbaru pada acara Munas MUI (Juli 2005) yang menyebutkan secara jelas bahwa LDII sesat. Maksudnya, LDII dianggap sebagai penjelamaan dari Islam Jamaah. Itu jelas!” (Sabili, No 21 Th XIII, 4 Mei 2006/ 6 Rabi’ul Akhir 1427, halaman 31).

Sistem Manqul

LDII memiliki sistem manqul. Sistem manqul menurut Nurhasan Ubaidah Lubis adalah “Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru; telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat. Terhalang dinding atau lewat buku tidak sah. Sedang murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun ia menguasai ilmu tersebut, kecuali murid tersebut telah mendapat Ijazah dari guru maka ia dibolehkan mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu”. (Drs. Imran AM. Selintas Mengenai Islam Jama’ah dan Ajarannya, Dwi Dinar, Bangil, 1993, hal.24).

Kemudian di Indonesia ini satu-satunya ulama yang ilmu agamanya manqul hanyalah Nurhasan Ubaidah Lubis.

Ajaran ini bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. yang memerintahkan agar siapa saja yang mendengarkan ucapannya hendaklah memelihara apa yang didengarnya itu, kemudian disampaikan kepada orang lain, dan Nabi tidak pernah mem berikan Ijazah kepada para sahabat. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا، ثُمَّ أَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا .

Artinya: “Semoga Allah mengelokkan orang yang mendengar ucapan lalu menyampaikannya (kepada orang lain) sebagaimana apa yang ia dengar.” (Syafi’i dan Baihaqi)

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kepada orang yang mau mempelajari hadits-haditsnya lalu menyampaikan kepada orang lain seperti yang ia dengar. Adapun cara bagaiman atau alat apa dalam mempelajari dan menyampaikan hadits-haditsnya itu tidak ditentukan. Jadi bisa disampaikan dengan lisan, dengan tulisan, dengan radio, tv dan lain-lainnya. Maka ajaran manqulnya Nurhasan Ubaidah Lubis terlihat mengada-ada. Tujuannya membuat pengikutnya fanatik, tidak dipengaruhi oleh pikiran orang lain, sehingga sangat tergantung dan terikat denga apa yang digariskan Amirnya (Nurhasan Ubaidah). Padahal Allah SWT menghargai hamba-hambanya yang mau mendengarkan ucapan, lalu menseleksinya mana yang lebih baik untuk diikutinya. Firman-Nya:

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ(17)

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ(18)

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az-Zumar [39] : 17-18)

Dalam ayat tersebut tidak ada sama sekali keterangan harus manqul dalam mempelajari agama. Bahkan kita diberi kebebasan untuk mendengarkan perkataan, hanya saja harus mengikuti yang paling baik. Itulah ciri-ciri orang yang mempunyai akal. Dan bukan harus mengikuti manqul dari Nur Hasan Ubaidah yang kini digantikan oleh anaknya, Abdul Aziz, setelah matinya kakaknya yakni Abdu Dhahir. Maka orang yang menetapkan harus/wajib manqul dari Nur Hasan atau amir itulah ciri-ciri orang yang tidak punya akal. (Lihat Buku Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI, Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 258- 260).

Intinya, berbagai kesesatan LDII telah nyata di antaranya:

  1. Menganggap kafir orang Muslim di luar jama’ah LDII.
  2. Menganggap najis Muslimin di luar jama’ah LDII dengan cap sangat jorok, turuk bosok (vagina busuk).
  3. Menganggap sholat orang Muslim selain LDII tidak sah, hingga orang LDII tak mau makmum kepada selain golongannya.

Bagaimanapun LDII tidak bisa mengelak dengan dalih apapun, misalnya mengaku bahwa mereka sudah memakai paradigma baru, bukan model Nur Hasan Ubaidah. Itu tidak bisa. Sebab di akhir buku Kitabussholah yang ada Nur Hasan Ubaidah dengan nama ‘Ubaidah bin Abdul Aziz di halaman 124 itu di akhir buku ditulis: KHUSUS UNTUK INTERN WARGA LDII. Jadi pengakuan LDII bahwa sekarang sudah memakai paradigma baru, lain dengan yang lama, itu dusta alias bohong.

***

Diskrispi tentang LDII

LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia)

Pendiri dan pemimpin tertinggi pertamanya adalah Madigol Nurhasan Ubaidah Lubis bin Abdul bin Thahir bin Irsyad. Lahir di Desa Bangi, Kec. Purwoasri,. Kediri Jawa Timur, Indonesia, tahun 1915 M (Tahun 1908 menurut versi Mundzir Thahir, keponakannya).

Faham yang dianut oleh LDII tidak berbeda dengan aliran Islam Jama’ah/Darul Hadits yang telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1971 (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971). Keberadaan LDII mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/Islam Jama’ah yang didirikan pada tahun 1951 oleh Nurhasan Al Ubaidah Lubis (Madigol). Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan

Islam (LEMKARI) pada tahun 1972 (tanggal 13 Januari 1972, tanggal ini dalam Anggaran Dasar LDII sebagai tanggal berdirinya LDII. Maka perlu dipertanyakan bila mereka bilang bahwa mereka tidak ada kaitannya dengan LEMKARI atau nama sebelumnya Islam Jama’ah dan sebelumnya lagi Darul Hadits.). Pengikut tersebut pada pemilu 1971 mendukung GOLKAR.

Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol) bertemu dan mendapat konsep asal doktrin imamah dan jama’ah (yaitu : Bai’at, Amir, Jama’ah, Taat) dari seorang Jama’atul Muslimin Hizbullah, yaitu Wali al-Fatah, yang dibai’at pada tahun 1953 di Jakarta oleh para jama’ah termasuk sang Madigol sendiri. Pada waktu itu Wali al-Fatah adalah Kepala Biro Politik Kementrian Dalam Negeri RI (jaman Bung Karno). Aliran sesat yang telah dilarang Jaksa Agung 1971 ini kemudian dibina oleh mendiang Soedjono Hoermardani dan Jenderal Ali Moertopo. LEMKARI dibekukan di seluruh Jawa Timur oleh pihak penguasa di Jawa Timur atas desakan keras MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jatim di bawah pimpinan KH. Misbach. LEMKARI diganti nama atas anjuran Jenderal Rudini (Mendagri) dalam Mubes ke-4 Lemkari di Wisma Haji Pondok Gede, Jakarta, 21 November 1990 menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia). (Lihat Jawa Pos, 22 November 1990, Berita Buana, 22 November 1990, Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 265, 266, 267).

Semua itu digerakkan dengan disiplin dan mobilitas komando “Sistem Struktur Kerajaan 354″ menjadi kekuatan manqul, berupa: “Bai’at, Jama’ah, Ta’at” yang selalu ditutup rapat-rapat dengan system: “Taqiyyah, Fathonah, Bithonah, Budi luhur Luhuring Budi karena Allah.” (lihat situs: alislam.or.id).

Penyelewengan utamanya: Menganggap Al-Qur’an dan As-Sunnah baru sah diamalkan kalau manqul (yang keluar dari mulut imam atau amirnya), maka anggapan itu sesat. Sebab membuat syarat baru tentang sahnya keislaman orang. Akibatnya, orang yang tidak masuk golongan mereka dianggap kafir dan najis (Lihat surat 21 orang dari Bandung yang mencabut bai’atnya terhadap LDII alias keluar ramai-ramai dari LDII, surat ditujukan kepada DPP LDII, Imam Amirul Mu’minin Pusat , dan pimpinan cabang LDII Cimahi Bandung, Oktober 1999, Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 276- 280).

Itulah kelompok LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang dulunya bernama Lemkari, Islam Jama’ah, Darul Hadits pimpinan Nur Hasan Ubaidah Madigol Lubis (Luar Biasa) Sakeh (Sawahe Akeh/sawahnya banyak) dari Kediri Jawa Timur yang kini digantikan anaknya, Abdu Dhohir. Penampilan orang sesat model ini: kaku–kasar tidak lemah lembut, ada yang bedigasan, ngotot karena mewarisi sifat kaum khawarij, ada doktrin bahwa mencuri barang selain kelompok mereka itu boleh, dan bohong pun biasa; karena ayat saja oleh amirnya diplintir-plintir untuk kepentingan dirinya. (Lihat buku Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001).

Modus operandinya: Mengajak siapa saja ikut ke pengajian mereka sacara rutin, agar Islamnya benar (menurut mereka). Kalau sudah masuk maka diberi ajaran tentang shalat dan sebagainya berdasarkan hadits, lalu disuntikkan doktrin-doktrin bahwa hanya Islam model manqul itulah yang sah, benar. Hanya jama’ah mereka lah yang benar. Kalau menyelisihi maka masuk neraka, tidak taat amir pun masuk neraka dan sebagainya. Pelanggaran-pelanggaran semacam itu harus ditebus dengan duit. Daripada masuk neraka maka para korban lebih baik menebusnya dengan duit.

Dalam hal duit, bekas murid Nurhasan Ubaidah menceritakan bahwa dulu Nurhasan Ubaidah menarik duit dari jama’ahnya, katanya untuk saham pendirian pabrik tenun. Para jama’ahnya dari Madura sampai Jawa Timur banyak yang menjual sawah, kebun, hewan ternak, perhiasan dan sebagainya untuk disetorkan kepada Nurhasan sebagai saham. Namun ditunggu-tunggu ternyata pabrik tenunnya tidak ada, sedang duit yang telah mereka setorkan pun amblas. Kalau sampai ada yang menanyakannya maka dituduh “tidak taat amir”, resikonya diancam masuk neraka, maka untuk membebaskannya harus membayar pakai duit lagi.

Kasus tahun 2002/2003 (disebut kasus Maryoso) ramai di Jawa Timur tentang banyaknya korban apa yang disebut investasi yang dikelola dan dikampanyekan oleh para tokoh LDII dengan iming-iming bunga 5% perbulan. Ternyata investasi itu ada tanda-tanda duit yang telah disetor sangat sulit diambil, apalagi bunga yang dijanjikan. Padahal dalam perjanjian, duit yang disetor bisa diambil kapan saja. Jumlah duit yang disetor para korban mencapai hampir 11 triliun rupiah. (Sumber Radar Minggu, Jombang, dari 21 Februari sampai Agustus 2003, dan akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah karya H.M.C. Shodiq, LPPI Jakarta, 2004)

Lihat pula tulisan yang dikutip oleh nahimungkar.com dengan judul : Keluar dari Kubangan Sesat Jamaah Galipat Burengan Kediri

https://www.nahimunkar.org/keluar-dari-kubangan-sesat-jamaah-galipat-burengan-kediri/#more-2349.

http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/bukti-bukti-kesesatan-jamaah-ldii.htm

(nahimunkar.org)

***

Kenapa MUI tidak boleh bangga?

Karena menurut para mantan aliran takfiri (bahkan beredar rekaman manusia yang diduga imam aliran LDII itu mengecam orang di luar jamaah mereka adalah ta*k bonjr*t, tu*uk Bosok) itu punya ajaran penting semacam taqiyah dengan sebutan Fathonah Bithonah. Jadi apa yang mereka lakukan dan tampakkan kepada orang di luar jamaah mereka belum tentu sama dengan keyakinan mereka. Hingga misalnya mereka menyatakan bahwa imam mereka telah dipecat pun, maka belum tentu sebenarnya, karena ada jurus fathonah bithonah itu, menurut para mantan LDII.

Imam LDII yang rekamanannya beredar dengan menyebut orang di luar jamaah mereka dia sebut ta*k bonjr*t, tu*uk Bosok (dapat dicari di internet dengan kata misalnya: imam turbo) itu jelas merupakan manusia yang mulutnya bukan akhlaq mukmin. Cukuplah kesesatan mereka dapat disimak dari hadits berikut ini.

***

Dua Hadits untuk Membantah Aliran S354T Galipat

 

Posted on 10 Februari 2015

by Nahimunkar.org

Di dalam hadits ada yang disebut sebagai ‘assyaar عَشَّارًا (pemungut persepuluhan harta orang tidak sesuai syari’at). Sebagaimana para pentolan Islam Jama’ah atau 354 (aliran sesat yang ganti-ganti nama didirikan oleh mendiang Nur Hasan Ubaidah Madigol), terkena ancaman do’anya tidak diijabahi. Karena mereka adalah tergolong orang-orang yang ditolak doanya, karena sebagai ‘assyaar (pemungut persepuluhan harta orang tidak sesuai syari’at). Hal itu termasuk dalam ancaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ فَيُنَادِي مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَهُ ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى ؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجُ عَنْهُ ؟ فَلَا يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو دَعْوَةً إلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ إلَّا زَانِيَةً تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارًا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ صحيح الترغيب والترهيب – (ج 2 / ص 305) 2391 – ( صحيح)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pintu-pintu langit dibuka tengah malam maka pemanggil menyeru, adakah yang berdoa, maka (pasti) diijabahi baginya. Adakah yang meminta, maka (pasti) diberi. Adakah yang dirundung keruwetn, maka (pasti) dilapangkan darinya. Maka tidak tersisa seorang muslim pun yang berdoa dengan suatu doa kecuali Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan baginya kecuali wanita pezina (pelacur) yang berusaha dengan farjinya (kemaluannya) atau pemungut (harta orang) persepuluhan. (Hr Ahmad Dan At-Thabarani, Lafal Ini Bagi At-Thabrani, Dishahihkan Oleh Al-Albani Dalam Shahih At-Targhib Wat-Tarhib Nomor 2391).

Hadits tentang Lima ahli neraka disebutkan dalam Hadits Shahih Muslim:

وَأَهْلُ النَّارِ خَمْسَةٌ: اَلضَّعِيْفُ الَّذِي لاَ زَبْرَ لَهُ، اَلَّذِيْنَ هُمْ فِيْكُمْ تَبَعًا لاَ يَتْبَعُوْنَ أَهْلاً وَلاَ مَالاً. وَالْخَائِنُ الَّذِي لاَ يَخْفَى لَهُ طَمَعٌ، وَإِنْ دَقَّ إِلاَّ خَانَهُ. وَرَجُلٌ لاَ يُصْبِحُ وَلاَ يُمْسِي إِلاَّ وَهُوَ يُخَادِعُكَ عَنْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ. “وَذَكَرَ الْبُخْلَ أَوِ الْكَذِبَ ” وَالشِّنْظِيْرُ الْفَحَّاشُ

Dan penghuni neraka ada lima golongan: ORANG LEMAH YANG TIADA MENGGUNAKAN AKALNYA, mereka hanya menjadi pengikut dan tiada berusaha mencari harta dan mengurus keluarga. PENGKHIANAT YANG TAMAK, biarpun perkara kecil dikhianatinya juga. Orang yang diwaktu pagi dan petang SENANTIASA MENIPUMU terhadap keluarga dan hartamu. Dan disebutkan lagi: orang yang BAKHIL (PELIT) ATAU PEMBOHONG DAN ORANG YANG SUKA BERKATA KOTOR. (HR Muslim HADIST NO – 5109)

Di Indonesia ada aliran sesat yang mengklaim bahwa hanya golongan mereka saja yang sah Islamnya, yang lain masuk neraka semua. Namun menurut penuturan para mantan aliran sesat itu, pendiri aliran sesat ini suka sekali berkata jorok, kotor lagi porno, bahkan hampir selalu dalam setiap mengajar dalam pengajian.  Padahal suka berkata kotor  itu adalah merupakan ciri calon ahli neraka.  Dalam hadits itu secara umum. Maka dapat difahami, lebih buruk lagi bila suka berkata kotor itu di depan khalayak ramai, apalagi pengajian, berarti sama dengan mengajarkan agama dengan kata-kata kotor.

Hujjah dan bukti telah dikemukakan.  Tinggal pilih ikut aliran yang telah jelas-jelas dilarang dan memang menyimpang dari Islam lagi sesat menyesatkan, atau pilih selamat dengan mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang telah diwarisi oleh para ulama ahlus sunnah.

Selengkapnya dapat dilihat di link ini https://www.nahimunkar.org/aliran-sesat-ldii-mengkafirkan-selain-jamaahnya-pakai-hadits-mauquf-lagi-dhaif/

(nahimunkar.org)

***

Bahkan ada kisah nyata yang perlu dipelajari MUI dan lainnya, terutama ketika mereka (LDII) kedatangan MUI dan semacamnya.

Berikut ini kisahnya secara lengkap. Diantaranya ada istilah khusus seperti galipat, maksudnya kode mereka angka 354.

***

Keluar dari Kubangan Sesat Jamaah Galipat Burengan Kediri

 

Posted on 25 April 2010

by Nahimunkar.org

Slamet bin Sandriya seorang yang terperosok selama 26 tahun dalam aliran sesat Jamaah Galipat atau Jamaah 354 Burengan Kediri Jawa Timur kemudian mendapat hidayah dari Allah Ta’ala sehingga keluar dan meninggalkan kesesatan itu.

Inilah hasil wawancara nahimunkar.com dengan Slamet bin Sandriya:

Bagaimana Anda dapat keluar dari kubangan aliran sesat Galipat Burengan Kediri?

Mula-mula saya berada di Thaif Saudi Arabia. Dalam pengajian, saya bertanya kepada Syaikh Muhammad Hinin di Masjid Mukhadamat Al-Haramain di Thaif tahun 2006, tentang miqot haji (tempat mulai ihram) orang Indonesia.

Jawab Syaikh Hinin: Yalamlam atau di Bi’r ‘Ali (Dzul Hulaifah).

Kenapa Anda bertanya tentang miqot haji bagi orang Indonesia?

Orang jamaah Galipat punya rumah di Hut di sekitar Makkah sebelah timur Masjidil Haram. Faham Galipat, miqot orang Galipat dari Indonesia harus dari Hut di Makkah, karena punya rumah sendiri di Hut. Jadi niat orang Galipat Indonesia ketika ke Makkah itu adalah pulang ke rumah di Hut, maka miqotnya sama dengan orang Makkah, jadi miqotnya dari rumahnya itu yakni Hut.

Itu saya kemukakan ke Syaikh Hinin. Bahwaqiyasnya: Orang Galipat dari Indonesia ke Hut adalah sama dengan orang Makkah sendiri, maka miqotnya dari rumah masing-masing. Bagaimana ini ya Syaikh?

Dijawab: Ya tidak boleh. Dari Indonesia ya dari miqot yang sudah disyari’atkan. Kalau dari Indonesia ya dari Yalamlam atau Dzul Hulaifah (Bi’r ‘Ali). Itu yang syar’i, sesuai dengan yang ditetapkan Rasulullah.

Danitu yang syar’i, sesuai dengan yang ditetapkan Rasulullah.

Anda sendiri mengikuti yang mana, yang Galipat atau yang keterangan Syaikh sesuai ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Saya sendiri meyakini yang itu, yang ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu tahun 1990 (ke Saudi yang pertama) saya Slametbin Sandriya dari Riyadh, miqot dari Madinah (Dzul Hulaifah/ Bir Ali) dari posisi saya di rumah Amir Muhammad bin Abdul Aziz bin Su’ud (Putera Mahkota) di Riyadh, beliau memberangkatkan haji, miqotnya di Bi’r ‘Ali. Tapi teman-teman di Galipat meyakini haji saya tidak sah, dan mereka ucapkan (haji saya tidak sah), karena tidak sambung di Hut (rumah jamaah Galipat di Makkah) dan tidak miqot dari Hut. Ternyata setelah ditanyakan kepada Syaikh Hinin justru yang saya laksanakan miqot dari Bi’r ‘Ali itu dibenarkan.

Dengan jawaban Syaikh itu bagaimana sikap Anda?

Dari bertanya kepada Syaikh itu tadi kemudian saya timbul keraguan. Maka saya sering bertanya kepada Syaikh-Syaikh di Saudi.

Tanya tentang apa?

Tanya tentang keamiran.

Bagaimana jawab Syaikh?

Jawaban Syaikh Abu Samah di Thaif tahun 2006 (saya ke Saudi yang kedua kalinya), bahwa keamiran di dunia ini seluruh dunia ini belum ada Amirul Mukminin. Adanya masih firqoh-firqoh, belum bisa mendirikan keamiran secara syar’i seluruh dunia sampai sekarang. Jadi kalau nanti ada amir yang syar’i ya bai’at ke dia kalau menemui, kalau masih menjumpai. Lha sekarang kita ya berdoa saja (masih menunggu). Sedang Amir Kerajaan (Balad) Negara itu bukan Amirul Mukminin yang syar’i yang memimpin seluruh dunia. Sikap kita terhadap Amir Balad ya wajib taat, tidak boleh memberontak. Itu termasuk pemimpin kita.

Dengan jawaban itu bagaimana sikap Anda?

Maka saya yakin bahwa keluar (tidak ikut lagi) dari amir buatan Jamaah Galipat Burengan Kediri itu tidak ada masalah, karena bukan Amir Balad, dan bukan Amirul Muikminin yang menguasai dunia. Setelah punya pikiran begitu maka saya meninggalkan faham Jamaah Galipat Burengan tahun 2006.

Bagaimana tanggapan teman-teman Anda?

Maka saya ditanya-tanya kenapa kok keluar.

Saya jawab sudah meninggalkan faham Jamaah Galipat Burengan. Tidak sepaham, setelah ada keterangan dari Syaikh-Syaikh di Saudi Arabia.

Biasanya, orang yang keluar dari Jamaah Galipat itu terus difitnah atau disebarkan isu yang tidak benar. Apakah itu menimpa Anda juga?

Ya. Saya keluar kan karena telah mendapat penjelasan dari Syaikh-Syaikh di Arab. Tapi anehnya, orang-orang menuduh, saya keluar dari Jamaah Galipat Burengan karena kasus bisnis Maryoso. Memang dalam kasus itu, saya tertipu 3 milyar 600 juta Rupiah, hingga rumah, tanah-tanah dan apa saja semua dijual untuk nomboki orang-orang yang setor ke saya untuk saya setorkan ke atasan. Saya sudah menjual harta saya semuanya,dan masih belum lunas. Saya harus nomboki itu karena jadi pengepul (pengumpul dari jama’ah untuk disetorkan ke atasan yakni lingkungan keamiran aliran sesat Galipat).

Apakah tidak ada janji untuk diganti oleh Amir Jamaah Galipat?

Setelah saya nomboki, ada janji dari Amirnya (Abdu Dho)bahwa nanti semua uang yang untuk nomboki (nambeli) dan uang yang dititipkan untuk bisnis dikembalikan semua. Ternyata (kejadian tahun 2003-an) setelah janji Amir itu diucapkan, sampai sekarang pun tahun 2010 tidak ada kabaranya.Keamiran berjanji mengembalikan itu sehabis sholat asar di Burengan Kediri , yang berbicara adalah Pak Kastaman, wakil Imam Galipat. Saya dengar pengumuman itu karena lagi kumpul para tokoh Jamaah Galipat di Burengan.

Anehnya, Amirnya sendiri, Abdu Dho di Gadingmangu Perak Jombang, setelah sholat subuh mengumumkan, keamiran tidak mau tahu urusan Bisnis Maryoso. Tidak menjanjikan. Yang bicara itu amirnya sendiri (Abdu Dho). Jadi hanya selang satu malam, dari Asar sampai subuh, sudah diingkari. Dan pengingkarannya itu hanya di hadapan jama’ah setempat, tidak didengar oleh para tokoh seperti di Burengan kemarin Asar. Namun saya tahu itu karena pengingkaran dari Amir itu didengar oleh Ibu Mertua saya waktu itu ngontrak di Gading Mangu Jombang bersama keluarga. Karena posisi waktu itu saya dikejar-kejar nasabah, maka lari ke Gading mangu Jombang bersama mertua dan keluarga.

Bagaimana ketika mendengar bahwa pihak Amir tidak akan mengganti uang Anda 3 milyar 600 juta yang amblas dan Anda harus nomboki itu?

Mendengar pengumuman Amir itu maka saya sangat bingung. Akhirnya saya pulang dari Gading lari sembunyi ngontrak di Dlopo Madiun bersama keluarga dan mertua. Di situ kami bisnis kecil-kecilan, mertua buka warung nasi pecel, bahkan waktu itu makan sehari pun tidak kenyang, kekurangan. Sedang kalau mau utang ke pengurus atau teman-teman pun tidak dipercaya karena dianggap sangat miskin tak akan mampu menyaur.

Alhamdulillah, sekarang mertua sudah bisa beli rumah dan tanah, warungnya sudah jadi depot (besar), dan laris sekali. Dan langganannya sudah banyak, alhamdulillah tidak debleg (melarat banget) seperti yang diancamkan orang Galipat kalau keluar dari Jamaah Burengan akan jadi kere. Alhamdulillah tidak jadi kere.

Bagaimana Anda dapat berangkat ke Arab Saudi padahal tak punya uang?

Saya pergi ke Saudi tahun 2006 dipinjami oleh Kyai Ahmad Muzayyin pemimpin Pesantren Duri Sawo (pondok pertama) di Ponorogo. Tempat mondok saya dulu (pesantren tradisional) sebelum ke Burengan pusat Jamaah Galipat. Saya terus ke Arab ke Thaif jadi sopir dan alhamdulillah bisa tanya-tanya kepada Syaikh-syaikh. Waktu di Thaif saya masih ngaji di Galipat didatangi mubalighh-muballigh Galipat, menerima lembaran-lembaran teks bulanan belum diartikan(teks Quran dan Haditsnya belum dimaknai) yang akan dibacakan kepada jamaah. Teks bulanan dari Galipat itu saya maknai (beri arti) dulu baru kemudian dibacakan ke kelompok-kelompok Galipat di Thaif. Isinya teks nasihat bulanan dari Imam kepada jama’ah yang diterbitkan tiap bulan.

Apa isi teks bulanan dari Imam Galipat itu?

Isinya teks-teks ajakan kepada keamiran, manqul, musnad muttasil, dan presenan (yang mempunyai hasil setiap bulan maka wajib mengeluarkan untuk persenan 10 persen disetorkan ke pusat Jamaah Galipat Burengan) dipungut dari masing-masing kepala (anggota Jamaah Galipat). Kaya dan miskin dikenai kewajiban mengeluarkan persenan itu. Kalau miskin, pokoknya setor tiap bulan dengan bebas. Tidak dijatah berapanya. Yang penting setor. Bahkan ada doktrin, pernah saya dengar, kalau rumahnya gedek bamboo, agar gedeknya dicabut satu persatu dijadikan lidi, dijual untuk pembelaan keamiran.

Bagaimana dengan doktrin galipat yang tidak ada belas kasihan terhadap orang miskin itu?

Mendengar seperti itu waktu saya masih di Jamaah Galipat ya tetap mantap, karena untuk membela keamiran.

Terus, kapan mulai tidak mantap?

Setelah di Thaif, kemudian saya pindah ke Madinah dalam keadaan goyang karena sudah bertanya kepada Syaikh-Syaikh itu. Dan saya sempat belajar kitab Siyasah Syar’iyah Ibnu Utsaimin kepada Syaikh Abu Samah di Thaif, 2 tahun lebih. Akhirnya sudah tidak mantap bahwa keamiran yang ada di Indonesia yang berpusat di Burengan Kediri disebut “adalah satu-satunya jalan masuk surga selamat dari neraka”, bahkan menurut saya, itu adalah ajakan ta’ashub (fanatisme golongan) yang dilarang Rasulullah saw:

عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Dari Abu Mijlaz dari Jundab bin Abdullah Al Bajali dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa terbunuh karena membela bendera kefanatikan yang menyeru kepada ‘ashobiyah (fanatic golongan) atau mendukungnya, maka matinya seperti mati Jahiliyah.” (Hadits shahih riwayat Muslim nomor 3440).

Lalu saya berani meninggalkan faham Jama’ah Galipat Burengan. Dan sudah difikir segala resikonya apapun. Terus saya kabarkan kepada imam kelompok, Romdon Thoyib di dukuh Maya Desa Tonatan Kecamatan Kota Kabupaten Ponorogo, 2006. Bahwa kalau ditanya, saya sudah melepaskan faham Jamaah Galipat Burengan.

Reaksi dari keamiran yakni saya bersama 12 orang dinyatakan murtad, lewat internet dan nasehat-nasehat bulanan.

Apa maksud perkataan “dinyatakan murtad” ?

Murtad dari jamaah maksudnya, dikafirkan, sudah tidak berhak dimakmumi lagi. Prakteknya sudah tidak ada yang mau makmum bila saya shalat di masjid Galipat.

Sehingga seluruh warga Jamaah Galipat tahu semua dan menghindar, takut terpengaruh ikut keluar dari faham Jamaah Galipat. Hanya yang belum tahu ya kenal nama saja. Tapi alhamdulillah, justru murid-murid saya yang setia bertanya, mengapa kok keluar? Terus saya jelaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا[النساء/59]

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa’: 59).

Di situ ditegaskan,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya)…

jadi kalau saya berselisih pendapat dengan seseorang maka saya kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Berarti keluar saya dari Jamaah Galipat itu justru lari kepada Allah dan Rasul-Nya, dan meninggalkan faham segelintir manusia. Karena ajakan ‘ashobiyah tadi adalah bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi saya kembali kepada Al-Qur’an was Sunnah. Sedangkan kalau tetap mengikuti ajakan ‘ashobiyah berarti mengikuti jahiliyah. Siapa sekarang yang mau disebut jahiliyah. Kalau tidak keluar dari fahan segelintir manusia itu ya tetap seperti jahiliyah terus sampai kapanpun.

Bagaimana Hasilnhya, dengan keterangan Anda itu?

Alhamdulillah mereka ikut keluar dari ‘ashobiyah, contohnya Pak Gumrek di Ponorogo bertanya tentang kenapa saya keluar dari Jama’ah Galipat Burengan. Setelah dijelaskan, alhamdulillah rujuk kepada Al-Quran was Sunnah, faham salafus shalih. Masjidnya yang dulu dipakai Jamaah Galipat, sekarang ditempati pengajian ‘ala minhajin nubuwwah yakni ‘ala fahmi salafus shalih ajakan Tauhid terbebas dari syirik dan ‘ashobiyah. Pak Gumrek dan murid-muridnya banyak.

Pengaruhnya, sekarang sudah banyak muballigh-muballigh yang tetap bertanya kepada mantan-mantan yang 12 orang itu dengan sembunyi-sembunyi, akhirnya banyak yang terpengaruh juga, dapat hidayah. Lewat hp (hand phone) mereka bertanya, dan dapat hidayah.

Ada hampir tiap kabupaten ada yang bertanya-tanya kemudian keluar dari Jamaah Galipat Burengan.

Kaitannya dengan tuduhan bahwa Anda keluar dari Galipat gara-gara tertipu kasus Bisnis Maryoso?

Bukan gara-gara bisnis tipuan Maryoso, saya keluar dari Jamaah Galipat Burengan, tetapi karena sekarang faham aqidah yang sesuai salafus shalih.

Apa perubahan secara fisik yang Anda alami?

Di antara perubahannya, dulu saya tidak berjenggot sekarang berjenggot.

Terus, apa saja yang janggal-janggal di ajaran Jamaah Galipat?:

1.Ajakan ‘ashobiyah itu dilarang dalam Islam tetapi kok malah dijadikan tujuan. Padahal tujuan dakwah itu adalah ad’u ilallah bukan ad’u ilal imaroh (mengajak kepada jalan Allah, bukan mengajak kepada keamiran) maka saya dan kawan-kawan memilih yang ad’u ilallah ‘ala minhajin nubuwwah yakni bertauhid kepada Allah tidak bertauhid kepada amir.

2.Teks bulanan isinya penekanan supaya menetapi ijtihad-ijtihad dari Imam Jamaah Galipat dan tidak mencari ilmu agama kepada orang di luar Jamaah Galipat. Untuk meyakinkan bahwa ilmu-ilmu yang tidak manqul kepada amir (‘ashobiyah) itu tidak sah. Itu menurut faham mereka. Walau Quran Hadits yang diamalkan, kalau tidak dari kelompok Jamaah Galipat maka diyakini tidak sah. Itulah bid’ah keyakinan yang dipraktekkan dalam kelompok ‘ashobiyah. Quran Hadits dikaji, tetapi faham amirnya yang ‘ashobiyah itulah yang saya tolak. Sedangkan yang diberlakukan justru faham amirnya itu. Ini kalau diibaratkan sama dengan orang Yahudi yang kitabnya Taurat tetapi yang dipakai adalah Talmud تلمودatau “ijtihad” rahib-rahibnya. Inilah sebab keberanian saya untuk meninggalkan Jamaah Galipat Burengan. Bukan karena kasus Maryoso walaupun saya sampai debleg (sangat miskin) awalnya tapi bukan penyebab keluarnya saya dari Jamaah Galipat Burengan yang ‘ashobiyah itu.

3.Persenan, atau pungutan itu termasuk bikinan untuk membela ‘ashobiyahnya. Sedangkan kalau dirujukkan ke Al-Qur’an maka hanya diperlakukan kepada non Muslim berupa jizyah (samacam upeti), yaitu untuk jaminan keamanan. Tetapi ini kok ditimpakan kepada Muslim. Kalau orang Muslim kan cukup zakat. Apakah mau, orang-orang Jamaah Galipat Burengan dibilang non Muslim? Tapi kok diperlakukan begitu. Jadi ada dua kesalahan. Pertama, memperlakukan ayat yang sebenarnya untuk non Muslim tetapi dipakai untuk orang muslim. Bagaimana ini? Kedua, memungutnya itu untuk membela keamiran (‘ashobiyah).

4.Galipat dalam arti organisasi bernama Elde dipimipin Prof Dr Abdillah Some Esha difahami jamaah Galipat Burengan sebagai mantel untuk melindungi jamaah. Sementara itu keamiran Jamaah Galipat Burengan dengan amirnya Abdulloh bin Digol pendiri Jamaah Galipat ini dilindungi oleh Prof Dr Abudillah Some Esha. Ini aneh. Anehnya, Abdillah Some, seorang professor justru wajib taat kepada Amir, ini berarti yang melindungi kok malah taat kepada yang minta dilindungi? Aneh kan? Coba berfikir? Ini ibarat induk ayam yang harus melindungi kok malah wajib taat kepada anak ayam yang minta perlindungan. Bagaimana Pak Profesor? Sampai Pak Proffesor ini membayar syarat untuk perlindungan keamanan kepada Amir yaitu persenan. Apa tidak terbalik-balik? Padahal dua-duanya itu bukan penguasa yang sah yang dapat melindungi keamanan. Inilah yang menjadikan rasa aneh. Maka saya berani meninggalkan Jamaah Galipat yang nyleneh dan aneh itu.

Apa perbedaan antara ketika masih dalam Jamaah Galipat dengan setelah keluar?

Alhamdulillah, setelah keluar dari Jamaah Galipat Burengan justru saya dapat berdakwah di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Lebih leluasa. Itu baru dakwah. Tentang kehidupan lebih leluasa lagi. Hanya saja dari segi muamalah mu’asyarah akhalqul karimah semakin terjaga, insya Alloh.

Ada contohnya?

Contoh, waktu saya masih di Jamaah Galipat Burengan, bisnis saya waktu dulu di antaranya jual beli toko rumah di pinggir jalan raya. Saya dulu jual toko di pinggir jalan raya tidak laku-laku. Setiap ada orang yang melihat, akan membelinyatapi dengan syarat, pedagang kaki lima yang di depan toko itu harus pindah dari situ. Maka saya cari jalan agar pedagang kaki lima pergi dari muka took. Saya kerahkan pejabat dengan nyogok 500 ribu Rupiah tahun 2000-an. Maka kios-kios di muka toko saya itu diangkut tenaga pemebersihan kota, akhirnya orang-orang pedagang kaki lima yang sudah miskin itu macet kerjanya. Dan itu saya anggap baik-baik saja, tanpa rasa belas kasihan. Semoga sekarang istighfar saya diampuni oleh Allah dari sifat muamalah yang rusak tersebut. Rusaknya itu karena faham Jamaah Galipat Burengan tadi, ya mentolo-mentolo (tega) saja.

Anda pernah menipu juga?

Tahun 1987 saya jadi guru diBurengan masih bujangan. Kebetulan semua murid dijadikan satu di Gedung klub motor, dan waktu itu saya didapuk (ditugasi untuk berperan) mengajar, ketika ada tamu dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jawa Timur yakni KH Misbah, Sun’an dan lain-lain. Saat itu lagi ramai-ramainya LEMKARI dipermasalahkan. Maka saya ditugasi untuk mengajar kitab Nadhom ‘Umrithi, ilmu nahwu Bahasa Arab yang biasa diajarkan di Pesantren NU (Nahdlatul Ulama). Sehingga saya praktekkan seakan-akan di pesantren NU.

Lalu MUI bertanya: “Wah di sini diajar nahwu juga tho?”

Jawab Iwang dan Mustajibun (guru Burengan), ya, di sini diajar nahwu. Padahal cuma satu hari itu saya mengajar nahwu untuk ngibuli (menipu), berdalih agar dianggap sama dengan orang-orang di luar Jamaah Galipat Burengan. Ini artinya, saya sudah pernah ditugaskan pura-pura jadi guru senior nahwu, padahal sama sekali dan juga tidak pernah ada pelajaran nahwu di pesantren Burengan saat itu.

MUI tampaknya semua percaya dengan keterangan saya, Iwang dan Mustajibun. Kalau ingat waktu itu, sekarang saya hanya tertawa, bahwa itu semua permainan belaka, sandiwara saja. Masa’ sampai sekarang mau jadi sandiwara terus, kan lucu; maka pilih meninggalkan faham itu demi cinta Allah dan Rasul-Nya. Bukan karena Maryoso yang selalu diulek-ulek (dikata-katakan terus) oleh jamaah 354 di mana-mana bahwa keluarnya saya hanya karena Maryoso. Itu tidak benar!

Tadi Anda dianggap murtad. Mana bukti anggapan itu, apa ada?

Keluar dari Jamaah 354 Burenganitu oleh teman-teman saya dianggap murtad dari Islam. Buktinya sms ini:

Faham saya Slamet itu halal dipenggal. Syukron. Saya tidak butuh nasehat sampeyan. Tgl 26 April 2009.

Itu sms dari Umar (TKI, sopir di Madinah) no hp 0559123063.

SMS itu dikirim ke Slamet Riyadi no hp 05856065202di Ponorogo atas pertanyaan: Faham kamu bagaimana terhadap Slamet yang keluar dari jamaah (Galipat) itu. Kemudian sms itu dikirimkan oleh Slamet Riyadi ke saya (Slamet bin Sandriya) bahwa pendapat Umar begitu.

Ternyata kemudian Umar bertandang di Madinah mau menghajar saya dengan pukulan maut Asadun (silat Galipat), namun qadarullah, karena sangat kerasnya pukulan, hingga ketika saya hindari justru Umar tersungkur sehingga tangannya berdarah. Setelah kejadian itu Umar tampak malu, mudah-mudahan Umar mendapat hidayah.

Pribadi Slamet:

Slamet bin Sandriya asal Jawa Timur kelahiran 1961

Pendidikan: SLTA, nyantri di Pesantren Duri Sawo dan Maya di Tinatan Ponorogo 1984 tamat.

Masuk ke Jama’ah Galipat di Burengan Kediri tahun 1985 dan keluar dari Galipat tahun 2006 di Madinah Al-Munawwaroh.

Isteri 3 orang. Anak 11 anak. Sekarang pulang ke rumah ibunya masing-masing karena Slamet Purwanto tidak punya rumah dan tanah, sebab dijual semua untuk nasabah-nasabah dalam kasus tipuan di lingkungan Galipat yang dikenal dengan Bisnis Maryoso tahun 2003-an. (Kasus Bisnis Maryoso itu diuraikan panjang lebar kasus-kasusnya dalam buku H.M.C. Shodiq berjudul Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah, terbitan LPPI –Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam— Jakarta, 2004).

Cita-cita Slamet: Kembali membina rumah tangga, meluruskan aqidah yang pernah dia anut yakni faham ‘ashobiyah, kembali ke faham minhajun nubuwwah ‘ala fahmi salafus shalih. Menegakkan da’wah tauhid kepada Allah, menghindarkan ajakan ‘ashobiyah. (nahimunkar.org)

https://www.nahimunkar.org/keluar-dari-kubangan-sesat-jamaah-galipat-burengan-kediri/

***

MUI mau membina?

Memangnya MUI sekarang berfungsi secara operasional?

Yang jadi fungsinya asli seperti mengeluarkan fatwa saja tidak beres2 sampai dilabrak oleh para ulama dari Jawa Timur, dan ulama tingkat nasional yang tergabung dalam ANNAS anti Syiah, agar MUI menepati janjinya yaitu segera memfatwakan sesatnya syiah saja sampai kini belum terwujud.

Lha kok malah mau membina atau bicara soal membina LDII, padahal dari dulu dikenal MUI itu tidak berfungsi sebagai lembaga operasonal?

Oleh karena itu, rekomendasi MUI soal agar LDII, Ahmadiyah dan sebagainya itu dibubarkan oleh penguasa di Indonesia ini; itulah yang harus digarap secara intensip didesakkan oleh MUI. Bukan malah nunggu orderan dari LDII untuk khutbah dan mengimami, lalu diberitakan dengan nada bangga lagi di situs resminya.

Maaf… mungkin ini kata2 pahit, tapi memang perlu disampaikan. Semoga Allah berikan langkah yang tepat dalam menghadapi aliran takfiri dan semacamnya yang sejatinya memang radikal namun jarang disebut begitu itu.

(nahimunkar.org)


(Dibaca 475 kali, 1 untuk hari ini)