“Sikap MUI Jawa Timur menganggap Syiah sesat semakin mengerucut. Mereka mendesak Gubernur mengeluarkan aturan serupa yang melarang Ahmadiyah.”

Surabaya – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur meminta Gubernur Soekarwo melarang ajaran Syiah. Rekomendasi ini sekaligus mendukung fatwa MUI Jatim yang menyatakan ajaran Syiah sesat.

Ketua MUI Jatim, KH Abdusshomad Buchori mengatakan pihaknya mengusulkan Gubernur mengeluarkan aturan yang khusus melarang Syiah, sama seperti Peraturan Gubernur tentang larangan ajaran Ahmadiyah.

Menurut Abdusshomad, Pergub 55/2012 tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat hanya mengatur larangan secara umum. Dia juga meminta Pemprov Jatim mengawasi 12 daerah penyebaran ajaran Syiah.

Meski Syiah diakui oleh umat Islam internasional, MUI Jatim tetap menganggap ajaran Syiah sesat karena rawan menyebabkan gangguan keamanan.

“MUI Jatim tidaka kan pernah mencabut pernyataan Syiah sesat. Syiah itu ajarannya mencaci sahabat Rasulullah. Islam di Indonesia mengakui Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib,” kata Abdusshomad, Rabu (24/10).

Abdusshomad mengakui desakan agar Gubernur Jatim melarang ajaran Syiah dipicu diskusi bertema “Haruskah Syiah Ditolak?” yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, 22 Oktober 2012.

Diskusi membedah ajaran Syiah tersebut dibubarkan Albayyinat Indonesia. Habib Achmad bin Zein Alkaf, Ketua Bidang Organisasi Albayyinat Indonesia yang juga pengurus MUI Jatim mengatakan, ajaran Syiah tidak dapat disamakan dengan Islam. (E1)

Yovinus Guntur / Angga (VHRmedia) Rabu, 24 Oktober 2012

Ilustrasi: islampos

(nahimunkar.com)

(Dibaca 353 kali, 1 untuk hari ini)