MUI Jawa Timur Imbau Pejabat Muslim Tidak Ucapkan Salam Lintas Agama

 

  • Sekjen MUI Pusat, KH. Anwar Abbas mendukung imbauan MUI Jawa Timur.
  • “Bagi orang Islam, (salam) itu doa meminta kepada Alloh. Jangan orang Islam meminta kepada Alloh SWT, tapi juga meminta pada Tuhan dari agama lain, bisa dimurkai karena itu namanya mempersekutukan dan itu dosa yang paling besar dalam agama Islam, itu namanya Syirik!,” tegasnya.




Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengimbau pejabat muslim tak memakai salam pembuka semua agama saat sambutan resmi./ (istimewa)

 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menghimbau umat Islam dan para pejabat untuk tidak mengucapkan salam pembuka agama lain dalam forum resmi. Kebiasaan itu dianggap perbuatan bid’ah yang dapat merusak kemurnian agama Islam.

Imbauan MUI Jawa Timur:

  • Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menghimbau umat Islam dan para pejabat untuk tidak mengucapkan salam lintas agama.
  • Pejabat muslim disarankan hanya ucapkan ‘Assalamu’alaikum Wr. Wb
  • Pejabat menilai imbauan ini berpotensi memarjinalkan penganut agama lain hanya karena salam

Imbauan MUI Jawa Timur yang diteken Ketua MUI Jatim, KH. Abdusshomad Buchori ini memuat delapan butir tausiyah atau pokok pikiran MUI Jatim.

Salah satunya menyerukan umat Islam dan para pejabat muslim cukup mengucapkan salam pembuka khas dalam Islam yakni kalimat “Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” tanpa mengucapkan salam pembuka dalam agama lain yakni Syaloom, Om swasti astu, Namo buddaya yang lazim diucapkan diawal sambutan.

“Dewan Pimpinan MUI Provinsi Jawa Timur menyerukan kepada umat Islam khususnya dan kepada pemangku kebijakan agar dalam persoalan salam pembuka dilakukan sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Untuk umat Islam cukup mengucapkan kalimat, “Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Dengan demikian bagi umat Islam akan dapat terhindar dari perbuatan syubhat yang dapat merusak kemurnian dari agama yang dianutnya.” Demikian bunyi imbauan tersebut.

MUI Jawa Timur berpendapat, salam menurut Islam bukan hanya sekedar basa-basi melainkan bentuk doa dan ibadah kepada Alloh SWT, Tuhan yang diyakini umat Islam.

Sementara salam pembuka dalam agama lain juga mencerminkan keyakinan pada Tuhan dari masing-masing agama tersebut.

“Jika dicermati, salam adalah ungkapan do’a yang merujuk pada keyakinan dari agama tertentu.

“Sebagai contoh, Salam umat Islam, “Assalaamu’alaikum” yang artinya “semoga Allah mencurahkan keselamatan kepada kalian”.

“Ungkapan ini adalah doa yang ditujukan kepada Allah Swt, Tuhan yang Maha Esa, yang tidak ada Tuhan selain Dia.” demikian bunyi himbauan MUI Jatim.

“Salam umat Budha, “Namo Buddaya artinya terpujilah Sang Budha, satu ungkapan yang tidak terpisahkan dengan keyakinan umat Budha tentang Sidarta Gautama.

“Ungkapan pembuka dari agama Hindu, “Om Swasti Astu” Om, adalah panggilan umat Hindu khususnya di Bali kepada Tuhan yang mereka yakini yaitu “Sang Yang Widhi”. ”

“Dengan demikian ungkapan Om swasti astu kurang lebih artinya, “semoga Sang Yang Widhi mencurahkan kebaikan dan kebahagiaan”.

Dalam imbauan itu, MUI Jatim juga menyatakan meski Islam memiliki tradisi yang menjunjung tinggi prinsip toleransi, namun penerapannya perlu dibatasi untuk menjaga kemurnian ajaran agama Islam.

Mengucapkan salam pembuka lintas agama yang dilakukan oleh umat Islam adalah perbuatan baru yang merupakan bid’ah yang tidak pernah ada di masa yang lalu, minimal mengandung nilai syubhat yang patut dihindari.

Berbeda dengan fatwa, imbauan seperti yang diterbitkan MUI Jawa Timur ini tidak bersikap mengikat dan MUI di daerah lain bisa berbeda sikap dan pendapat.

Tradisi positif

Menanggapi imbauan ini, dikutip dari Detik.com, Menteri Agama, Fachrul Rozi menolak menyikapi imbauan ini karena mengaku belum mengetahui secara rinci imbauan MUI Jatim itu.

“Kalau di situ bukan hanya orang agama Islam, pasti … Kecuali acara Islam, Islam saja. Tapi kalau acara umum, nasional, harus nasional,” kata Fachrul di Royal Kuningan Hotel Jakarta, Minggu (10/11/2019).




Sekjen MUI Pusat, KH. Anwar Abbas mendukung imbauan MUI Jawa Timur./ (Istimewa)

 

Sekjen MUI Pusat, KH Anwar Abbas menyangkal tudingan imbauan ini berpotensi mencederai praktek toleransi antar umat beragama di tanah air selama ini.

Menurutnya sikap ini sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah serta UUD 45 pasal 29 ayat dimana negara menjamin setiap warganya untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya masing-masing.

“Bagi saya tidak harus seperti itu kalau mencerminkan toleransi, MUI itu tugasnya, menjaga umat Islam baik aqidahnya, ahlaknya, muamalahnya supaya tidak terkontaminasi dan jangan rusak.”

Dan saya lihat ada fenomena yang tidak tepat. Itu akan mengarah pada sinkretisme agama dan Pluralisme agama, sebuah paham yang menyatakan semua agama itu benar.”

“Bagi orang islam itu doa meminta kepada Alloh. Jangan orang Islam meminta kepada Alloh SWT, tapi juga meminta pada Tuhan dari agama lain, bisa dimurkai karena itu namanya mempersekutukan dan itu dosa yang paling besar dalam agama Islam, itu namanya Syirik!,” tegasnya.

KH Anwar Abbas mengaku dirinya akan mengangkat isu ini pada sidang fatwa MUI pusat mendatang tanpa menyebut kapan waktunya.

Oleh Iffah Nur Arifah

abc.net.au/
Posted about an hour ago/ diringkas

 

***

 

Musibah Agama! Salam Islam Dilanjutkan dengan Salam Agama-Agama Lain


Foto ytb

Astaghfirullah. Capres 01 Jokowi dan Capres 02 Prabowo sama-sama mengucapkan salam Islam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh) lalu dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain. Itu berlangsung dalam debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu malam (13/4/2019).

Mereka sama-sama orang Islam. Perlu diketahui benar-benar, Salam dalam Islam itu termasuk doa. Doa itu ibadah. Sedangkan dalam Islam sudah jelas melarang mencampur ibadah dengan ritual agama lain. Ditegaskan, ibadah itu haram dicampur atau disertai ritual agama-agama lain. Karena telah ditegaskan dalam QS Al-Kafirun: 6.

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦ [ الـكافرون:6-6]

6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. [Al Kafirun:6]

Dengan demikian, mengucapkan salam Islam, lalu dilanjutkan dengan salam agama-agama lain itu jelas-jelas melanggar. Bahkan dapat menjadikan pelakunya murtad alias keluar dari Islam, membatalkan syahadat. Karena sama dengan mengikrarkan ketuhanan agama lain yang otomatis kontradiksi dengan Syahadat. Ini berlaku bagi setiap Muslim, tanpa terkecuali capres maupun presiden.

Ini musibah agama!

Ini biangnya. Nasaruddin Umar imam besar Masjid Istiqlal Jakarta berdoa untuk membuka debat kelima (terakhir) capres cawapres 2019. Nasaruddin Umar imam besar Masjid Istiqlal Jakarta mengucapkan salam Islam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh), lalu dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain dan bahkan aliran kepercayaan. ini di antara biangnya, karena telah diketahui, Nasaruddin Umar Menyamakan konsep Asmaul Husna dalam Islam dengan doktrin ketuhanan Trinitas dalam Kristen. Maka dia pantas untuk bertanggung jawab atas musibah agama, dua capres (Jokowi dan Prabowo) pun kemudian mengucapkan salam Islam disertai salam-salam agama-agama lain.

***

Bisa Murtad dan Musyrik! Mengucapkan Salam Islam Disertai Salam Agama Lain

Posted on 30 Oktober 2014

by Nahimunkar.com


Presiden Joko Widodo (ANTARA/Yudhi Mahatma) dalam acara pelantikan yang digelar di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/10/2014). Jokowi pidato sejak 11.40 WIB sampai 11.50 WIB. Ia membuka pidatonya dan menyampaikan salam menurut 4 agama: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya.

  • Salam Oplosan Mencopot Iman, Miras Oplosan Mencopot Nyawa.
  • Salam Oplosan, Haram! Dapat Membatalkan Iman bagi Muslim. Lebih dahsyat bahayanya dibanding miras oplosan yang dapat mengakibatkan copotnya nyawa.
  • Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang monothetisme itu sangat dikecam oleh Hindu.

Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010) menyatakan: “Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).
Oleh karena itu, orang Islam yang mengucapkan salam Hindu, Om Swastiastu (yang itu kental dengan ketuhanan Hindu) maka dapat mengeluarkannya dari Islam alias bisa murtad dan musyrik. Na’udzubillahi min dzalik! Bila meninggal dalam keadaan tetap belum bertaubat, bila terhitung musyrik, maka haram masuk surga, dan kekal di nereka. Na’udzubillahi min dzalik!

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Walaupun sama-sama sangat berbahaya antara salam oplosan dengan miras oplosan, namun sejatinya lebih berbahaya salam oplosan, karena jatuhnya ke syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya, yang itu dosa paling besar dan tidak diampuni bila meninggal dalam keadaan belum bertaubat.

***

Kita masih ingat saat kemarin di gedung perwakilan rakyat, seorang penguasa yang baru dilantik dan memberikan pidato perdananya. Ia membuka pidatonya dan menyampaikan salam menurut 4 agama: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya.
Tindakan pejabat tinggi Indonesia dalam mengucapkan salam dalam berbagai versi agama itu sudah seringkali terdengar. Bagi kaum Hindu, “Om Swastyastu” memang ucapan ibadah dalam agama Hindu.
Dr. Adian Husaini, dalam Catatan Akhir Pekan-nya di Hidayatullah Online, 12 November 2012, menyebutkan bahwa Seorang Hindu menjelaskan tentang makna Om Swastyastu sebagai berikut:
“Salam Om Swastyastu yang ditampilkan dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan.
Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng.” (http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/msg07018.html).

Itulah penjelasan Hindu tentang ucapan salam khas Hindu, “Om Swastyastu”. Dari penjelasan itu tampak, bahwa ungkapan salam Hindu itu sangat terkait erat dengan konsep Tuhan dan sembahyang dalam agama Hindu. Jadi, kata “Om” dalam agama Hindu berarti “Ya Tuhan”.
Dalam buku kecil berjudul “Sembahyang, Tuntunan Bagi Umat Hindu” karya Jro Mangku I Wayan Sumerta (Denpasar: CV Dharma Duta, 2007), disebutkan sejumlah contoh doa dalam agama Hindu yang diawali dengan kata “Om”, seperti doa sebelum mandi: “OM, gangga di gangga prama gangga suke ya namah swaha”.
Meskipun sama-sama menyatakan bertuhan SATU, agama-agama memiliki konsep Tuhan yang berbeda-beda tentang “Yang Satu” itu. Kaum Hindu, misalnya, mempunyai konsep dan juga sebutan-sebutan untuk Tuhan mereka secara khas. Dalam buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010), dijelaskan perbedaan konsep Tuhan antara Hindu, Kristen, Yahudi, dan Islam. Tentu saja penjelasan itu dalam perspektif Hindu. Menurut penulis buku ini, Tuhan dalam agama Hindu, yakni Sang Hyang Widhi tidak dapat disebut “Allah”. Disimpulkan oleh penulis buku ini: “Membangun toleransi bukan dengan mencampuradukkan pemahaman tentang Tuhan, tetapi sebaliknya justru dengan mengakui perbedaan itu. Dalam pengertian ini, Krishna bukan Kristus, Sang Hyang Widhi bukan Allah!” (hal. 33).
Misalnya, tentang perbedaan antara Kristus dan Krishna dijelaskan: “Ingat Hindu tidak percaya akan dosa asal, tidak percaya dengan Adam dan Hawa, dan Krishna juga tidak mati di kayu salib. Krishna datang ke dunia sebagai Avatara, bukan untuk menebus dosa, tetapi untuk menegaskan kembali jalan menuju moksha (empat yoga itu) terutama karma yoga. Jadi manusia sendiri harus aktif untuk memperoleh keselamatannya. Tidak perlu akal yang terlalu kritis untuk membedakan misi keberadaan Kristus dengan Krishna di dunia ini.” (hal. 31).
Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku terbitan Media Hindu ini menyatakan:

“Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).

Untuk membanggakan agama Hindu sebagai agama yang lebih hebat dari agama Yahudi, Kristen, dan Islam, buku ini juga memberikan gambaran yang tidak sepenuhnya benar tentang ajaran Islam. Dalam bab berjudul “Agama-agama Langit Kualitasnya Jauh di Bawah Hindu” ditulis ungkapan-ungkapan sebagai berikut: “Hakikat manusia adalah dosa (Yahudi/Kristen) atau budak Allah (Islam). Artinya agama-agama ini memandang manusia secara sangat negatif. Untuk membuat manusia tetap percaya kepada Tuhan dan agennya dan taat beribadah, ia terus diancam dengan kiamat, siksa neraka bahkan termasuk pembunuhan di dunia ini. Di samping itu, agar manusia terus memerlukan Tuhan, Tuhan menciptakan dan memelihara setan untuk menggoda manusia.

Sebagai budak manusia tidak memiliki kebebasan. Hidupnya ditentukan secara sepihak dan sewenang-wenang oleh Tuhannya, pemilik budak-budak itu. Karena Tuhan bermukim jauh di langit, kekuasaan Tuhan itu didelegasikan atau diasumsikan oleh para agennya, apakah dengan sebutan nabi, rasul, sultan, atau paus. Kebebasannya digantungkan pada seorang tokoh pendiri agama. Kematian Yesus menyelamatkan semua pengikutnya. Muhammad, pada waktu Pengadilan Akhir, merekomendasikan siapa dari pengikutnya masuk sorga atau neraka, dan Allah hanya mengikuti rekomendasi itu. Keselamatan mereka semata-mata karena iman. Bukan karena perbuatannya. Etika tidak perlu. Ini tentu saja merupakan ketidakadilan rangkap dua…
Tujuan tertinggi manusia menurut agama-agama ini adalah sorga di mana mereka hidup abadi dengan badannya, yang berasal dari badan yang hina, tempat pencabulan, kata Paulus, salah satu pendiri agama Kristen. Bahkan di dalam sorga salah satu agama ini, dijelaskan secara rinci bagaimana hidup untuk memenuhi nafsu birahinya, terutama seks, tanpa batas. Sorga menjadi tempat pesta orgi yang menjijikkan.” (hal. 217-218).

Itulah pandangan Hindu yang pada realitasnya tidak bisa disatukan dengan konsep tauhid dalam Islam. Sehingga mengucapkan salam “Om Swastyastu” adalah tidak diperbolehkan. Selain itu, salam “Om Swastyastu” juga merupakan syiar agama lain yang mana umat Islam diharamkan untuk menyebarkannya.
Mengucap salam “Om Swastyastu” yang merupakan ciri khas keagamaan Hindu merupakan bentuk tasyabbuh bil kufar yang haram.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Lantas, bagaimana hukum mengucapkan salam “Assalamu’alaikum” untuk sekelompok orang yang terdiri dari orang Islam dan non Islam?

وعن أُسَامَة – رضي الله عنه – : أنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيهِ أخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكينَ – عَبَدَة الأَوْثَانِ – واليَهُودِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِم النبيُّ- صلى الله عليه وسلم –

Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati suatu majelis yang di situ bercampur antara muslim, orang musyrik -penyembah berhala-, dan orang Yahudi. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi salam kepada mereka. (HR. Bukhari no. 6254 dan Muslim no. 1798).
Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan disunnahkan jika melewati majelis yang bercampur antara Muslim dan non Muslim untuk tetap mengucapkan salam untuk maksud umum dengan diniatkan salam tersebut untuk Muslim. (Al Adzkar, hal. 464).
Nah, bagaimana jika terhadap orang non Islam yang di situ tidak ada orang Islamnya sama sekali? Bolehkah memberi salam, “Assalamu’alaikum”?
Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zadul Ma’ad jilid 2 halaman 424 menuliskan bahwa sebagian ulama membolehkan untuk mendahului non muslim dalam memberi salam demi kemashlahatan yang kuat dan nyata amat diperlukan, atau karena kwatir dari ulah non muslim itu, atau karena adanya hubungan kekerabatan dengan mereka. Atau karena sebab-sebab lain yang seperti itu.
Imam Al-Qurtubi menyebutkan nama beberapa ulama salaf yang membolehkan memberi salam kepada non Muslim. Di anataranya Ibnu Mas’ud, Al-Hasan Al-Bashri, An-Nakhai, dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menyebutkan di dalam kitabnya Fathul Bari bahwa Abu Umamah dan Ibnu Uyainah berpendapat sedemikian.
Sementara itu, ulama lain menyatakan tidak boleh memberi salam berdasarkan hadits berikut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

“Jangan kalian mengawali mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani. Jika kalian berjumpa salah seorang di antara mereka di jalan, maka pepetlah hingga ke pinggirnya.” (HR. Muslim no. 2167)
Fimadani/Tarqiyah
***

Kesimpulan

  • Mengucapkan salam Isam kepada hadirin yang ada muslimnya dan ada non muslimnya, tidak jadi persoalan.
  • Mengucapkan salam Islam kepada hadirin yang tidak ada muslimnya, menurut hadits riwayat Muslim tersebut tidak boleh mengawalinya/ tidak boleh memulai duluan.
  • Yang jadi persoalan adalah mengucapkan salam Islam disertai mengucapkan salam agama selain Islam. Itu dapat mengakibatkan murtad bahkan syirik, pelakunya disebut musyrik menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya. Karena mengucapkan salam (selain salam Islam) yang berisi ketuhanan yang bertentangan dengan Tauhid, keesaan dan kemahasucian Allah Ta’ala.

Hakekatnya: Mengucapkan salam Islam disertai salam agama selan Islam pada hakekatnya adalah penodaan terhadap Islam secara terang-terangan. Bahkan bila disengaja atau bahkan disengaja agar ditiru, maka berarti punya misi pemurtadan secara massal. Mencontohi praktek salam Islam disertai salam agama selain Islam, resikonya mendapatkan dosa, masih pula memperoleh dosa dari para penirunya tanpa mengurangi dosa para penirunya. Betapa beratnya, menumpuk dosa. Orangnya (yang mencontohi itu) sudah meninggal pun bila ajaran atau contohnya itu masih dilakukan orang, maka tetap masih mendapatkan aliran dosa . Betapa beratnya. Maka sebaiknya para pelakunya (yang mencontohi itu) mengumumkan untuk mencabut dari kesalahannya dan bertaubat. Semoga saja.

HAJ/BR

(nahimunkar.com)

***

Bantahan Telak untuk Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal yang Samakan 99 Asmaul Husna dengan Trinitas

Posted on 11 Oktober 2017

by Nahimunkar.com

 


Ilustrasi: Pendiri Lippo Group Mochtar Riady (kedua dari kanan) menyambut kehadiran Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (kedua dari kiri), di acara Halalbihalal Lippo Group, Karawaci (Foto, BeritaSatu) Senin, 10 Juli 2017 


Menyamakan konsep Asmaul Husna dalam Islam dengan doktrin ketuhanan Trinitas dalam Kristen adalah tindakan yang sangat ceroboh dan tidak berdasar. Karena keduanya jelas bertolak belakang dengan empat perbedaan yang paling mendasar.

Dalam Asmaul Husna terdapat 99 nama dan sifat Allah yang Esa, sedangkan dalam Trinitas ada tiga oknum Tuhan yang berbeda bentuk/wujud.

Pengkajian mengenai Tauhid dalam akidah Islam sangat mudah dipahami baik secara aqli maupun naqli. Sedangkan perbincangan apologetika mengenai Trinitas sampai kapan pun tidak akan menemui titik terang dari selimut kebuntuan dan kegelapan. Pada tanggal 28 April 2007 pukul 10.00-16.00 pihak Kristen mengadakan seminar dengan tema “Keilahian Yesus Kristus dari Perspektif Alkitab” di Alam Indah Resto, Semarang. Pembicara yang paling banyak mendapat sorotan adalah Romo Tom Jacobs. Dengan berani Romo Tom menghantam doktrin Trinitas:

“Saya keberatan dengan istilah Allah Bapak, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Yesus itu jalan menuju Allah. Rumusan Yesus 100% Allah dan 100% manusia itu tidak tepat. Rumusan ini hasil dari Calcedon, bukan dari kitab suci.”

([ Jadi kalau Romo Tom dari Kristen saja berani menghantam doktrin Trinitas, lalu Nasaruddin Umar yang mengaku Muslim bahkan duduk jadi Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta tega-teganya mengumumkan diri membebek kepada cerita pendeta yang menyamakan 99 asmaul husna dengan trinitas, lantas akan diletakkan di mana muka Nasruddin Umar –bila tidak mau bertobat dan sampai matinya– ketika di kuburan nanti ditanya oleh Malaikat dengan pertanyaan Man Rabbuka – siapa Tuhanmu?

Bila dijawab dengan; Tuhanku Allah tapi sama dengan Tuhannya Kristen yang trinitas, maka giliran ditanya apa agamamu, apa jawabnya? Jawaban yang merupakan konsekuensi dari pendapat Nasaruddin Umar yang telah ia sebarkan adalah: Islam tapi yang sudah saya ubah Tuhannya sama dengan trinitasnya Kristen.

Ketika sudah sampai ke titik itu, maka betapa gembiranya iblis, karena cita-cita sangat buruk dari iblis yaitu menyuruh manusia untuk mengubah ciptaan Allah (maksudnya mengubah agama Allah) telah terlaksana.

{لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا (118) وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا (119) يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا (120) أُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلَا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا } [النساء: 118 – 121]

(118). yang dilaknati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), (119). dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, lalu benar-benar mereka meubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata, (120). Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka, (121). Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya [An Nisa”,118-121].

Mengubah ciptaan Allah dapat berarti mengubah yang diciptakan Allah seperti mengebiri binatang. Ada yang mengartikannya dengan mengubah agama Allah. – catatan kaki Al-Qur’an dan Terjemahnya no 352. ])

Berikut ini arsip tulisan pakar kristologi  yang juga aktif di media online, mengenai Trinitas Versus Asmaul Husna. Tulisan ini insya Allah bermanfaat untuk membungkam pendapat sangat sesat dan menyesatkan dari Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta yang menyamakan 99 asmaul husna dengan trinitas hanya berdasarkan cerita seorang pendeta. (lihat: Astaghfirullah…  Na’udzubillah… Nasaruddin Umar  Imam Besar Masjid Istiqlal Samakan 99 Asmaul Husna dengan Trinitashttps://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-naudzubillah-nasaruddin-umar-imam-besar-masjid-istiqlal-samakan-99-asmaul-husna-dengan-trinitas/)

 

https://www.nahimunkar.org/musibah-agama-salam-islam-dilanjutkan-dengan-salam-agama-agama-lain/

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 242 kali, 1 untuk hari ini)