MUI Madiun: Dukun Tiban Dekat dengan Syirik

mui-madiun1

MUI dan Ummat Islam hendaknya sigap untuk memberantas perdukunan yang kental dengan kemusyrikan. Perusakan aqidah sangat mengancam, maka kasus ini hendaknya cepat diberantas sebelum ada tangan-tangan yang memeliharanya, sebagaimana isu NII yang disinyalir berbagai pihak sebagai peliharaan pihak tertentu untuk mengebiri Ummat Islam.

***


Madiun – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Madiun menilai praktik dukun tiban Endang Yuniatiningsih (51) alias Mbah Yuyun di Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo mendekati perbuatan syirik.

“Karena dalam penyembuhannya pihak dukun tiban mengatasnamakan roh anaknya atau makhluk halus tanpa didasarkan pada kekuatan penyembuhan dari Tuhan atau Allah,” ujar Ketua MUI Kota Madiun, Sutoyo, Jumat (29/4/2011).

Menurut Mbah Yuyun, yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit dengan bantuan Mas Kemis yang tak lain adalah roh janin bayi yang dikandungnya yang meninggal karena keguguran. Roh atau arwah tersebut yang dinilai telah memberikan kekuatan penyembuhan.

Sutoyo berharap agar praktik pengobatan yang dilakukan oleh dukun tiban Mbah Yuyun tidak menyimpang dari ajaran agama. Karena segala macam penyakit dan obat itu datangnya dari Allah SWT bukan dari makhluk gaib dan sejenisnya.

“Saya mengimbau pada semua orang bahwa kita ini diwajibakan berihtiar termasuk saat sakit dan mencari obat agar mempercayai bahwa apa yang diberikan dokter maupun apa yang dilakukan oleh dukun itu atas izin Allah SWT. Jadi kesembuhan itu datangnya dari Allah SWT bukan dari dukun maupun dokter,” kata Sutoyo.

Hingga saat ini sejak praktik pengobatan dukun tiban Mbah Yuyun/Mas Kemis dibuka, ratusan pasien masih terus memadati sekitar rumah dukun tersebut. Bahkan mereka rela mengatri berjam jam hanya untuk mendapatkan pengobatan dari dukun dadakan tersebut. [beritajatim.com]/

INILAH.COM, Sabtu, 30 April 2011rik

Sudah ada penjelasan MUI Madiun seperti itu, namun kadang ada juga orang yang mengaku tokoh Islam kemudian ngomong semaunya, menganggap kasus yang rawan kemusyrikan itu boleh-boleh saja. Kadang berdalih tergantung niatnya. Padahal niat baik dalam Islam tidak menjadikan halalnya yang haram. Sebagaimana kasus dukun cilik Ponari di Jombang, ada oknum-oknum yang mengaku tokoh Islam namun bicaranya bagai pembela dukun saja. Oleh karena itu perlu difahami masalah kemusyrikan berkaitan dengan pengobatan sebagai berikut:

Batu dan Kemusyrikan

Yang primitif, misalnya bisa dilihat dari kasus Ponari dan Dewi, dukun cilik yang dianggap sakti karena dipercaya bisa menyembuhkan segala macam penyakit, berkat batu petir yang dimilikinya. Itu sisa-sisa keyakinan primitive yang bersumber pada ajaran dynamisme, yang dalam Islam disebut syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya. Karena menganggap batu itu sebagai batu sakti yang memiliki kekuatan untuk penyembuhan. Kecuali kalau khasiat untuk obat itu ada landasan dalilnya yang shahih, misalnya air zamzam, madu, dan habbatus sauda’ (jinten hitam). Ternyata barang-barang yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu memang bisa dibuktikan secara ilmiyah lantaran memiliki kandungan yang berunsur obat. Demikian pula barang-barang yang bisa dibuktikan secara ilmiyah memang bisa untuk obat, dengan hukum sebab akibat, maka boleh-boleh saja untuk berobat. Namun ketika batu dipercaya sebagai barang ajaib dan menyembuhkan aneka penyakit, tanpa bukti-bukti ilmiyah dan juga tanpa dalil syar’i,  maka ini termasuk yang digolongkan mempercayai kekuatan sakti pada selain Allah. Dalam keyakinan Islam digolongkan syirik, menyekutukan Allah Ta’ala. Itu dosa terbesar.

Oleh karena itu ketika Al-Lajnah Al-Daaimah di Saudi Arabia (terdiri dari kibar ulama/ ulama-ulama besar) ditanya tentang sepotong kain atau sepotong kulit dan sejenisnya diletakkan di atas perut anak laki-laki dan perempuan pada usia menyusu dan juga sesudah besar, maka jawabnya:

Jika meletakkan sepotong kain atau kulit yang diniatkan sebagai tamimah (jimat) untuk mengambil manfaat atau menolak bahaya, maka ini diharamkan, bahkan bisa menjadi kesyirikan. Jika itu untuk tujuan yang benar seperti menahan pusar bayi agar tidak menyembul atau meluruskan punggung, maka ini tidak apa-apa.” (Al-Lajnah Ad-Daaimah, Fatawa al-‘Ilaj bi Al-Qur’an wa Assunnah, ar-Ruqo wamaa yata’allaqu biha, halaman 93).

Mencari berkah kepada pohon, batu dan lainnya termasuk dilarang dalam Islam, bahkan bila dilakukan maka termasuk kemusyrikan. Karena telah jelas dalam Hadits:

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ خَرَجَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ حُنَيْنٍ فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا هَذِهِ ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لِلْكُفَّارِ ذَاتُ أَنْوَاطٍ وَكَانَ الْكُفَّارُ يَنُوطُونَ بِسِلَاحِهِمْ بِسِدْرَةٍ وَيَعْكُفُونَ حَوْلَهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً إِنَّكُمْ تَرْكَبُونَ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Riwayat dari Abi Waqid Al Laitsi, ia berkata: “Kami keluar kota Madinah bersama Rasulullah menuju perang Hunain, maka kami melalui sebatang pohon bidara, aku berkata: “Ya Rasulullah jadikanlah bagi kami pohon “dzatu anwaath” (pohon yang dianggap keramat) sebagaimana orang kafir mempunyai “dzatu anwaath”. Dan adalah orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka di pohon bidara dan beri’tikaf di sekitarnya. Maka Rasulullah menjawab: “Allah Maha Besar, permintaanmu ini seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa: (`Jadikanlah bagi kami suatu sembahan, sebagaimana mereka mempunyainya`), sesungguhnya kamu mengikuti kepercayaan orang sebelum kamu.” (HR Ahmad dan Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, hadits no 267, juga riwayat At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih).

Tafsir Al-Qur’an keluaran Departemen Agama RI mengulas sebagai berikut:

Kenyataan tentang adanya kepercayaan itu diisyaratkan hadits di atas pada masa dahulu dan masa sekarang hendaknya merupakan peringatan bagi kaum muslimin agar berusaha sekuat tenaga untuk memberi pengertian dan penerangan, sehingga seluruh kaum muslimin mempunyai akidah dan kepercayaan sesuai dengan yang diajarkan agama Islam. Masih banyak di antara kaum muslimin yang masih memuja kuburan, mempercayai adanya kekuatan gaib pada batu-batu, pohon-pohon, gua-gua, dan sebagainya. Karena itu mereka memuja dan menyembahnya dengan ketundukan dan kekhusyukan, yang kadang-kadang melebihi ketundukan dan kekhusyukan menyembah Allah sendiri. Banyak juga di antara kaum muslimin yang menggunakan perantara (wasilah) dalam beribadah, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Allah Maha Dekat kepada hamba-Nya dan bahwa ibadah yang ditujukan kepada-Nya itu akan sampai tanpa perantara. Kepercayaan seperti ini tidak berbeda  dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, jilid 3, halaman 573-574). (nahimunkar.com dalam judul News Maker from Jombang February 20, 2009 8:25 pm)

Dari penjelasan tersebut di atas, kalau batu dipakai untuk menggosok daki-daki di badan agar hilang dan bersih, misalnya, maka boleh saja. Karena sesuai dengan sifatnya, batu itu memang bisa untuk menggosoki badan, menghilangi daki. Tetapi kalau batu itu dicelupkan ke air lalu airnya diminum kemudian diyakini akan memberikan kesembuhan, padahal tidak ada dalil syar’i tentang itu atau tidak ada bukti ilmiah bahwa batu itu tadi ada unsur-unsur obat, maka berarti menjadikan batu itu sebagai tamiimah alias jimat. Itu termasuk kemusyrikan.  Jadinya dukun cilik Ponari atau lainnya dengan batu yang diyakini sakti itu jelas bentuk kemusyrikan.

Dalilnya:

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : { إنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتُّوَلَةَ شِرْكٌ } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ .

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya mantra-mantra, jimat-jimat, dan pelet  (aji pengasihan, mantra ataupun jimat untuk menjadikan cinta atau pisahnya lelaki-perempuan) adalah syirik.? (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Larangan menganggap benda sebagai barang yang sakti:

عن عمران بن حصين رض{ : أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً – أَرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ – فَقَالَ : وَيْحَك مَا هَذِهِ ؟ قَالَ : مِنْ الْوَاهِنَةِ . قَالَ أَمَّا إنَّهَا لَا تَزِيدُك إلَّا وَهْنًا , انْبِذْهَا عَنْك فَإِنَّك لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْك مَا أَفْلَحْتَ  أَبَدًا } .  (رواه أحمد بسند لا بأس به).

“Dari Imran bin Hushain ra dinyatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya, celaka kamu, apa ini??  Orang itu menjawab: menolak lemah (wahinah)?. Maka Nabi berkata kepada orang itu, dapun sesungguhnya ia tidak akan menambah kamu kecuali kelemahan, maka lepaskanlah gelang itu darimu, karena sesungguhnya apabila kamu mati sedangkan ia masih ada padamu, tentulah engkau tidak akan beruntung selama-lamanya.? (HR Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad laa ba’sa bih).

Pernyataan Hasyim Muzadi agar praktik dukun cilik Ponari tidak perlu ditutup, menunjukkan bahwa ia mendukung praktik kemusyrikan. Setiap ulama pewaris Nabi (bukan ulama su’/ ulama yang jahat) tentu mengerti makna dan hakekat syirik. Sehingga, yang ia nyatakan dan upayakan adalah menghilangkan praktik kemusyrikan, bukan sekadar mengatur masalah teknis untuk menghindarkan timbulnya korban akibat antrean yang panjang. Tugas ulama adalah menyelamatkan ummatnya dari aneka kesesatan dan bid’ah, terutama menyelamatkan dari kemusyrikan. Karena kalau sampai musyrik, maka semua amalnya akan sia-sia belaka. Tidak akan mendapatkan pahala sama sekali, justru mendapatkan dosa terbesar tak diampuni oleh Allah Ta’ala.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ(65)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS Az-Zumar: 65).

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا(48)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS An-Nisaa’: 48).

(lihat nahimunkar.com, Kemusyrikan Terbentang Luas Dari Ponari Hingga Hasyim Muzadi

February 24, 2009 4:33 am https://www.nahimunkar.org/kemusyrikan-terbentang-luas-dari-ponari-hingga-hasyim-muzadi/#more-249)

Lebih celaka lagi di zaman serba rekayasa ini, akan menambah tersesatnya masyarakat bila adanya dukun tiban yang dekat dengan kemusyrikan ini kemudian ada pihak-pihak yang memeliharanya demi menyesatkan Ummat Islam. Sehingga peliharaannya akan tambah lagi, bukan hanya NII yang kini diduga dipiara untuk mengebiri Ummat Islam. Sebelum ada tangan-tangan yang memelihara, MUI dan Ummat Islam mesti harus lebih tanggap, mmberantasnya dengan segera, agar Ummat Islam ini selamat.

Foto: lintasberita.com

(nahimunkar.com)