Secara hukum agama, membuat makam secara mewah tidaklah disarankan. “Ya sebenarnya kalau kuburan dibesarkan (bentuknya) untuk apa? Kalau untuk membesarkan nama yang meninggal apa lagi terkait agama dan akidah itu keliru,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Amidhan.

Itu tak hanya memunculkan kontroversi di antara pihak keluarga saja. Namun makam Uje yang tampak tak seragam dengan makam lainnya di kawasan pemakaman Karet Tengsin (Jakarta) tersebut, belakangan ini dianggap telah menyalahi peraturan daerah (Perda) yang berlaku.

 

Selain pendapat MUI, bila kita rujuk kepada Ulama penutan kebanyakan Muslimin Indonesia, dapat disimak sebagai berikut:

Imam Syafi’i (yang banyak dianut oleh Umat Islam di Indonesia ini) mengatakan, “Dan saya melihat para penguasa ada yang menghancurkan bangunan-bangunan di atas kuburan dan saya tidak melihat ada ahli fiqih yang menyalahkan hal itu. Hal itu karena membiarkan bangunan-bangunan itu di atas kuburan akan mempersempit ruang pemakaman/penguburan bagi orang-orang lain.” [Al-Majmu’, V/266]

Imam as-Suwaidi asy-Syafi’i mengatakan, “Kamu dapat melihat orang-orang meninggikan kuburan sangat tinggi, dan menuliskan ayat-ayat al-Qur’an di atasnya…. Semua itu bertentangan dengan ajaran agama yang dibawa oleh para rasul, dan jelas menentang Allah dan Rasul-Nya. (al-‘Iqd ats-Tsamin, hal. 185) 
Berikut ini berita tentang kontroversi pembangunan makam Uje, dan di bagian bawah tentang pendapat Imam Syafi’I dan Ibnu Katsir yang melarang dibangunnya kuburan.

***

Kontroversi Soal Renovasi Makam Uje Masih Berlanjut

 Jakarta – Masih seputar kontroversi makam Ustad Jeffry atau Uje yang baru saja direnovasi. Belakangan, perbedaan pendapat perihal bentuk makam pendakwah yang akrab disapa ustad gaul tersebut muncul di antara sang ibunda, Umi Tattu serta sang istri Pipik.

Pipik mengungkapkan dirinya kecewa dengan bentuk makam Uje yang terkesan ‘mewah’ setelah dipugar. Sebaliknya, menurut orangtua Uje, Umi Tattu, keputusan untuk merenovasi makam putranya tersebut memang bukan tanpa pertimbangan.

Umi menuturkan, ia memiliki kewajiban untuk membuat makam Uje nyaman untuk disinggahi banyak peziarah.

Mencoba menanggapi perselisihan yang terjadi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. H. Amidhan pun angkat bicara.

“Mungkin orang-orang yang memperindah hanya bermaksud membuat semacam penghormatan,” ujar Amidhan saat dihubungi detikHOT via telepon, Selasa (24/9/2013).

Makam Uje01

Foto: Ini Makam Uje Setelah Direnovasi


Meski lebih lanjut Amidhan menuturkan secara hukum agama, membuat makam secara mewah tidaklah disarankan. “Ya sebenarnya kalau kuburan dibesarkan (bentuknya) untuk apa? Kalau untuk membesarkan nama yang meninggal apa lagi terkait agama dan akidah itu keliru,” imbuh Amidhan.

Agar permasalahan tak semakin memanjang, keluarga pun disarankan memindahkan makam Uje ke tempat lain. Sebab tak hanya memunculkan kontroversi di antara pihak keluarga saja. Namun makam Uje yang tampak tak seragam dengan makam lainnya di kawasan pemakaman Karet Tengsin tersebut, belakangan ini dianggap telah menyalahi peraturan daerah (Perda) yang berlaku.

“Saya kira makam tersebut dipindahkan saja oleh keluarga. Kalau menurutnya istimewa sendiri, di cari tempat tersendiri saja. Kalau memang bertentangan dengan regulasi, makam kan bisa di pindahkan,” saran Amidhan.

(doc/sip) Mahardian Prawira Bhisma – detikhot

Selasa, 24/09/2013 20:52 WIB

***

Imam Syafi’i juga berkata, “Dimakruhkan menembok kuburan, menulis nama yang mati (di batu nisan atau yang lainnya) di atas kuburan, atau tulisan-tulisan yang lain, dan membuat bangunan di atas kuburan.” [Al-Majmu’, V/266] Beliau juga mengatakan, “Dan saya melihat para penguasa ada yang menghancurkan bangunan-bangunan di atas kuburan dan saya tidak melihat ada ahli fiqih yang menyalahkan hal itu. Hal itu karena membiarkan bangunan-bangunan itu di atas kuburan akan mempersempit ruang pemakaman/penguburan bagi orang-orang lain.” [Al-Majmu’, V/266]

Imam Syafi’i juga menegaskan, “Saya tidak menyukai ada makhluk yang diagung-agungkan sehingga kuburannya dijadikan masjid, karena khawatir terjadi fitnah (pengkultusan) pada dirinya pada saat itu, atau orang-orang yang datang sesudahnya mengkultuskan dirinya.” [al-Muhadzdzab, I/456]

Imam as-Suwaidi asy-Syafi’i mengatakan, “Kamu dapat melihat orang-orang meninggikan kuburan sangat tinggi, dan menuliskan ayat-ayat al-Qur’an di atasnya. Mereka membuat peti-peti dari kayu jati dan sebagainya untuk kuburan-kuburan itu. Di atasnya mereka kasih kain kelambu yang dihiasi dengan emas dan perak murni.

Mereka tidak puas dengan membangun kuburan seperti itu, dibikinnya jendela-jendela dari perak atau yang lain mengelilingi kuburan, mereka pasang pula lampu-lampu emas. Di atasnya mereka bikin kubah-kubah dari emas atau dari kaca yang diukir. Dibuatnya pintu-pintu yang dihiasi indah. Di pintu-pintu itu dipasang kunci-kunci dari perak atau dari yang lain agar tidak dicuri oleh pencuri.

Semua itu bertentangan dengan ajaran agama yang dibawa oleh para rasul, dan jelas menentang Allah dan Rasul-Nya. Sekiranya mereka itu mengikuti jejak Rasulullah, seyogianya mereka melihat apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat, padahal mereka itu sebaik-baik sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang-orang itu hendaknya juga melihat makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bagaimana para sahabat memperlakukannya.”  (al-‘Iqd ats-Tsamin, hal. 185)

Kesalahpahaman dan Sanggahannya

Sementara orang yang senang membuat bangunan-bangunan di atas kubur, berpendapat bahwa membangun masjid di atas kubur itu boleh. Dalilnya adalah kisah Ash-habul Kahfi, di mana orang-orang itu membangun masjid di atas kubur Ash-habul Kahfi.

Imam al-Hafizh Ibnu Katsir menjawab kesalahpahaman ini dengan dua jawaban:
1. Perbuatan tersebut dilakukan oleh orang-orang kafir dan musyrik. Oleh karena itu, hal itu tidak dapat dijadikan hujjah (dalil).
2. Sekiranya perbuatan itu dilakukan oleh orang-orang Islam, maka mereka itu bukanlah orang-orang terpuji dalam perbuatan tersebut.  (Tafsir Ibnu Katsir, III/78) (Lihat alsofwah.or.id, Kemusyrikan Menurut Madzhab Syafi’i).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.736 kali, 1 untuk hari ini)