Massa melakukan aksi damai untuk Palestina di depan Kedubes Amerika Serikat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Minggu (10/12/2017). Aksi bela Palestina ini dilakukan untuk merespons keputusan Presiden AS Donald Trump dalam menetapkan Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel. /foto KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG

Inilah beritanya.

***

MUI: Trump Punya Agenda Sangat Keji

JAKARTA — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri, KH Muhyiddin Junaidi, mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempunyai agenda yang sangat keji di balik rencananya mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

“Donald Trump memang punya agenda sangat keji dan merugikan kepentingan umat Islam dunia, khususnya dunia Arab,” ujar Kiai Muhyiddin saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (7/12).

Menurut Kiai Muhyiddin, kebijakan Trump tersebut harus disikapi secara serius, termasuk oleh pemerintah Indonesia.

Sebagai bentuk perlawanan, pemerintah Indonesia dapat saja menempuh langkah penarikan Kedutaan Besar Indonesia yang ada di Amerika Serikat.

Ia menganggap, kebijakan Trump akan membuat Amerika Serikat dikucilkan oleh banyak negara di dunia.

“Dunia internasional dan umat Islam harus melawannya dengan menarik para duta besar mereka dari AS dan membekukan hubungan diplomasi sebagai reaksi atas prilaku Donald Trump yang semena-mena,” ucapnya.

Kiai Muhyiddin mensinyalir sikap trump terhadap Yerusalem sebenarnya juga merupakan upaya untuk mengalihkan opini publik tentang masalah domestik AS, khususnya terkait kasus hubungan rahasia dengan Rusia.

“Ini untuk mengalihkan publik opini tentang masalah domestik yang menyudutkan Donald Trump terutama setelah ditetapkannya Michael Flynn (mantan penasihat keamanan nasional Trump) sebagai tersangka dalam kasus hubungan rahasia dengan Rusia,” kata Kiai Muhyiddin.

Trump telah mengumumkan kebijakan pemerintahannya yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, Rabu (7/12) waktu setempat. Dia juga akan memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem.

“Sudah waktunya mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel,” ujar Trump di Gedung Putih. (REPUBLIKA.CO.ID)  Rep: Muhyiddin / Red: Reiny Dwinanda

Kamis , 07 December 2017, 03:50 WIB

***

Terima Balasan Gedung Putih, MUI Rapatkan Barisan

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan merapatkan barisan menyusul ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memutuskan bantuan kepada negara penentang deklasari Yerusalem sebagai Ibukota Israel.

Ketua Hubungan Luar Negeri MUI, Muhyiddin Junaidi, mengatakan Indonesia tidak takut dan tidak merasa dikucilkan dengan ancaman Trump tersebut.

“Bahkan sebaliknya kami menganggap bahwa sikap tersebut adalah energi baru bagi kami umat Islam Indonesia meningkatkan solidaritas dan persatuan umat Islam. Kami akan terus menekan Presiden AS sampai beliau mencabut keputusannya,” kata Muhyiddin dalam jumpa pers Kantor MUI, Jakarta, Jumat (22/12).

Muhyiddin juga menyampaikan bahwa petisi MUI tertanggal 18 Desember telah diterima Gedung Putih dan mendapat balasan. “Substansinya Amerika tidak mau mengubah atau menarik keputusan Presiden Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel,” Muhyiddin menjelaskan.

Menurutnya, surat balasan diteken oleh pejabat Tinggi Gedung Putih dan Dewan Keamanan Nasional AS. Ia menyayangkan surat tersebut tidak ditandatangani Trump. Atas surat balasan itu MUI akan menggelar rapat pimpinan. (feh)/  Publicanews, 22 Desember 2017 | 14:44:10

***

Amerika Serikat Kirim Surat Balasan, Ketum MUI Ma’aruf Amin: Aksi Bela Palestina di Monas Efektif

Massa melakukan aksi damai untuk Palestina di depan Kedubes Amerika Serikat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Minggu (10/12/2017). Aksi bela Palestina ini dilakukan untuk merespons keputusan Presiden AS Donald Trump dalam menetapkan Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel. 

TRIBUNWOW.COM – Ketua Umum MUI, Ma’ruf Amin, mengatkaan pihaknya sudah menerima surat dari pihak gedung putih, yang antara lain mengklarifikasi pernyataan Presiden AS Donald Trump.

“Gedung putih sudah memberi jawaban, walaupun menurut kami jawaban itu tidak kuat, dia bilang bahwasanya tindakan Amerika mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, tidak menghilangkan peran Amerika sebagai juru damai,” ujarnya kepada wartawan di kantor pusat MUI, Jakata Pusat, Jumat (22/12/2017).

Dilansir Tribunnews.com, surat balasan dari Gedung Putih itu, ditandatangani oleh Deputy Assistant to the President and Senior Director for East Asian Affair at the National Securiy Council, Matthew Pottinger.

Surat dengan kop Gedung Putih itu, dikirim untuk Ketua Umum MUI, Ma’ruf Amin.

Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa pernyataan Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebegai ibu kota Israel, tidak menghilangkan peran negri Paman Sam itu sebagai juru damai, dari konflik Palestina – Israel, termasuk dalam sengketa lahan di Yerusalem.

Pernyataan Donald Trump juga tidak menghilangkan posisi Yerusalem sebagai kota suci tiga agama.

“Tidak menghilangkan posisi Yerusalem sebagai ibu kota apa namanya, tiga agama, itu kan kontradiksi, kalau dibilang dia itu tiga agama, kenapa ditaruh di bawah Israel, mustinya di bawah PBB, internasional, bukan di bawah negara Israel,” ujarnya.

“Alasannya tidak rasional menurut kami,” tutur Ma’ruf Amin.

Surat yang diterima MUI kemarin, Kamis (21/12) rencananya menurut Ma’ruf Amin akan dibalas.

Surat balasan dari MUI, sampai saat ini menurutnya masih terus dibahas.

Salah satu pilihannya, adalah MUI akan membalas dengan mengirimkan surat ke Kejaksaan Agung AS, untuk mengevaluasi pernyataan Donald Trump.

Dengan surat balasan tersebut, Ma’ruf Amin menganggap aksi yang diikuti oleh jutaan muslim pada hari Minggu lalu, sedikit banyaknya bisa dikatakan efektif.

Jika Dondal Trump tidak mencabut pernyataannya soal Yerusalem, pihaknya (MUI) siap untuk mengambil kebijakan lanjutan, seperti menyerukan boikot untuk AS.

Diberitakan sebelumnya, Donald Trump mengancam akan memotong bantuan ke negara-negara yang memberikan suara untuk memilih rancangan resolusi PBB yang mengecam keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Trump mengatakan di Gedung Putih pada hari Rabu bahwa AS akan ‘memperhatikan suara mereka’ di Majelis Umum.

“Mereka mengambil ratusan juta dolar dan bahkan miliaran dolar, dan kemudian mereka memberikan suara menentang kita. Baik, kita melihat suara itu. Biarkan mereka memberikan suara melawan kita. Kita akan menghemat banyak. Kami tidak peduli,” kata Donald Trump dikutip kantor berita Reuters.

Meski demikian, negara-negara anggota PBB tidak merasa terintimidasi dan tetap mendukung Palestina.

Hal tersebut tampak dari hasil pada sidang darurat Majelis Umum pada hari Kamis (21/12/2017), 128 negara memilih resolusi yang menolak keputusan kontroversial Presiden AS Donald Trump pada 6 Desember.

Sembilan negara menentang PBB, sementara 35 abstain.

Menanggapi hasil tersebut, pemerintah Palestina mengaku senang.

Para pemimpin Palestina juga menyampaikan terimakasih kepada negara-negara yang mendukungnya.

“Keputusan ini menegaskan kembali sekali lagi bahwa Palestina mendapat dukungan dari masyarakat internasional, dan tidak ada keputusan yang dibuat oleh pihak manapun dapat mengubah kenyataan, bahwa Yerusalem adalah wilayah yang diduduki Palestina berdasarkan hukum internasional,” ucap Nabil Abu Rudeina, juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas. (*)/tribunwow.com.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.426 kali, 1 untuk hari ini)