MUI Minta Telusuri Video ‘Santri Berpeci Baca Puisi Paskah’

 


 

 

Wakil Ketua Umum MUI KH Muhyiddin Junaidi, meminta video santri berpeci baca puisi Paskah ditelusuri.

 

MUI menilai video santri berpeci baca puisi Paskah meresahkan.

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti beredarnya video pembacaan puisi paskah tapi memakai atribut Muslim seperti peci dan jilbab.

MUI memandang perlunya pengungkapan oknum pembuat video tersebut.

Setelah diketahui dalang pembuat videonya maka harus ada sanksi tegas. Sebab video tersebut dianggap mengganggu hubungan lintas agama.

“Sanksi tegas perlu ditujukan pada pihak yang dengan sengaja memanfaatkan momen berharga tersebut untuk mencari keuntungan bagi kelompok tertentu tanpa memikirkan dampak yang timbul akibat perbuatannya,” ujar Muhyiddin.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Nashih Nashrullah

Republika.co.id, 
Kamis 16 Apr 2020 10:28 WIB/ diringkas.

Ilustrasi foto/ ytb

***

Sebelumnya, tokoh NU Prof Rochmat telah mengemukakan keprihatinannya atas kejadian itu.

Beritanya dapat disimak di antaranya ini.

***

Wong NU Geger! Santri Berkopiyah NU Baca Puisi ‘Jumat Agung’ (Paskah), Prof Rochmat: Ini Menginjak-injak Islam dan NU

Posted on 14 April 2020

by Nahimunkar.org


Wong NU Geger! Santri Berkopiyah NU Baca Puisi ‘Jumat Agung’ (Paskah), Prof Rochmat: Ini Menginjak-injak Islam dan NU

Ini pertanda liberalisasi di tubuh NU begitu jahat.

Prof Rochmat berharap agar generasi santri tidak dirusak dengan pikiran-pikiran liberal. NU jangan dipermainkan seperti itu.

Para muassis NU bisa menangis ketika menyaksikan semua ini, betapa kita membiarkan liberalisasi memporak-porandakan NU.

Ini sama saja menginjak-injak Islam dan NU.

 
 

 SURABAYA |– Dua hari, sejak Sabtu dan Ahad (12/4/2020) viral di media sosial nahdliyin, sejumlah santri berbaju putih – yang laki-laki menggunakan kopyah NU – sedang asyik membacakan puisi bertajuk ‘Jumat Agung’, karya Ulil Abshar Abdalla.

Semua tahu, Jumat Agung , adalah hari Jumat, tiga hari menjelang Paskah, hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus yang wafat di Bukit Golgota, dikenal sebagai bukit Calvary, tempat Yesus disalibkan. “Ya, Yesusmu adalah juga Yesusku. Ia telah menebusku dari iman, yang jumawa dan tinggi hati. Ia membuatku cinta pada yang dinista!,” demikian penggalan akhir puisi sebanyak 1296 karakter ini.

Sejumlah kiai dan akademisi NU pun, melempar komentar. Salah seorang dosen di Universitas Indonesia (UI) Jakarta, mempertanyakan urgensi santri dengan kopyah NU membaca puisi itu. “Ini puisi lama, sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, hari ini sengaja dipoles untuk ‘menjual’ NU. Yang ditampilkan santri dengan kopyah NU. Ini pertanda liberalisasi di tubuh NU begitu jahat,” demikian disampaikan kepada duta.co, Ahad (12/4/2020).

Prof Dr H Rochmat Wahab, mantan Ketua PWNU DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), mengaku prihatin dengan kelompok liberal yang begitu massif merusak generasi nahdliyin. “Kasih anak-anak kita. Puisi itu sangat terkait dengan Hari Wafat Yesus Kristus. Isinya sangat kental dengan urusan aqidah. Siapa pun boleh membuat puisi. Silakan. Sah-sah saja, baik orang yang beragama Kristen, Katolik, Islam atau lainnya. Tetapi, setiap penulis mesti bertanggungjawab dengan tulisannya,” tegas Guru Besar Ilmu Pendidikan Anak Berbakat Universitas Negeri Yogyakarta ini kepada duta.co, Ahad (12/4/2020).

Menurut Prof Rochmat, yang menjadi masalah dari puisi ‘Jumat Agung’ itu, adalah diviralkan dengan menggunakan sejumlah remaja laki-laki dan perempuan dengan kopyah berlogo NU. Penampilan ini secara langsung atau tidak langsung, melibatkan NU, seakan-akan secara institusional, NU ikut memback-up. “Dan secara aqidah, jelas sekali materi dalam puisi yang dibaca itu, tidak sejalan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh NU dan para masyayikh,” tegas Prof Rochmat.

Prof Rochmat berharap agar generasi santri tidak dirusak dengan pikiran-pikiran liberal. NU jangan dipermainkan seperti itu. Para muassis NU bisa menangis ketika menyaksikan semua ini, betapa kita membiarkan liberalisasi memporak-porandakan NU./ duta.co

Selengkapnya data dibaca di sini: https://www.nahimunkar.org/wong-nu-geger-santri-berkopiyah-nu-baca-puisi-jumat-agung-paskah-prof-rochmat-ini-menginjak-injak-islam-dan-nu/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 417 kali, 1 untuk hari ini)