.

 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) merasa prihatin dengan maraknya pemakaman Muslim modern, mewah, dan berharga mahal.

Inilah beritanya.

***

MUI Sebut Pemakaman Mewah Tidak Sesuai Ajaran Islam

Jum’at, 20 Desember 2013 – 14:52 WIB

Alangkah baiknya jika biaya makam mewah dialokasikan untuk membantu fakir miskin dan anak yatim

Hidayatullah.com–Majelis Ulama Indonesia (MUI) merasa prihatin dengan maraknya pemakaman Muslim modern, mewah, dan berharga mahal. Hal ini dikatakan KH Ma’ruf Amin, Ketua MUI saat berbincang dengan hidayatullah.com, di kantor MUI Jalan Proklamasi 51 Jakarta, Kamis (19/12/2013) pagi.

“Pemakaman itu sebaiknya sederhana saja. Hukum membangun makam itu makruh kalau di tanah milik sendiri. Kalau di tanah wakaf tentu haram hukumnya,” kata Kiai Ma’ruf.

Menurut Kiai Ma’ruf, kalau niatnya untuk menyediakan makam yang asri, bersih, rapi, transportasinya bagus maka itu masih bisa diterima.

“Mewah itu ya harus dihindari. Ini tidak sesuai dengan jiwa keislaman yang mengedepankan aspek kesederhanaan,” tegasnya.

Alangkah baiknya, lanjut Kiai Ma’ruf, jika biaya makam mewah yang kabarnya puluhan juta hingga miliyaran rupiah itu dialokasikan untuk membantu fakir miskin dan anak yatim.

“Saya kira kalau harganya sampai miliyaran rupiah ada kepentingan lain. Saya kira uang itu baiknya digunakan untuk fakir miskin, dhuafa yang jumlahnya masih banyak. Untuk pendidikan, beasiswa untuk yatim. Bisa bikin masjid, sekolah,” lanjutnya.

Kiai Ma’ruf mengaku MUI sampai saat ini belum pernah menerima konsultasi atau memberikan sertifikat Dewan Syariah Nasional (DSN) kepada pengelola pemakaman Muslim mewah.

“Belum ada pengelola makam mewah yang mengajukan sertifikasi dari DSN. Kalau makam tidaklah kita (urus) itu. Harga miliyaran terlalu mahal itu. Kita menghimbaulah para kaya, elit kalau bikin makam jangan mewah lah,” tutupnya.*

Rep: Ibnu Syafaat

Editor: Cholis Akbar/hdyatllahcom

***

Larangan Menghambur-hamburkan Harta

Di dalam kitab Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) ditegaskan sebuah hadits yang diriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu’bah:

كَانَ يَنْهَى عَنْ قِيْلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةِ الْمَالِ، وَكَثْرَةِ السُّؤَالِ.

 “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang banyak bicara dan membicarakan (kabar/ isu yang tak berguna atau tanpa dasar), menghambur-hamburkan harta, serta banyak bertanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah l meridhai bagi kalian tiga perkara dan membenci bagi kalian tiga perkara. Dia meridhai bagi kalian agar kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kalian berpegang teguh dengan tali Allah (Al-Qur’an dan As-Sunnah), dan agar kalian tidak berpecah-belah. Dan Dia membenci bagi kalian qiila wa qala, banyak bertanya (keras kepala), dan membuang-buang harta (tanpa ada faedahnya).” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 845 kali, 1 untuk hari ini)