mui tidak akui ldii

Jakarta (SI Online) – Ulama Bogor yang terdiri dari para pimpinan ormas dan lembaga Islam beserta civitas Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor pada Selasa (25/6/2013) mendatangi pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di kantornya, Jl. Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat. Kedatangan rombongan yang dipimpin oleh Prof Dr KH. Didin Hafidhuddin ini bermaksud melaporkan kasus penyerangan massa LDII ke Masjid Al Hijri UIKA Bogor pada Sabtu (15/6/2013) lalu. Selain menyampaikan insiden anarkisme LDII tersebut, ulama Bogor Bogor juga meminta kejelasan status LDII.

Menanggapi hal itu, MUI Pusat melalui ketuanya KH. Ma’ruf Amin menegaskan, pihaknya belum mengakui secara menyeluruh paradigma baru Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Pengakuan terhadap paradigma baru LDII baru dilakukan oleh sekitar 20 kepengurusan MUI tingkat provinsi.

“Jangan keliru. Kita masih belum buat kesimpulan,” kata Kiyai Ma’ruf kepada ulama Bogor yang hadir.

Ulama Bogor juga meminta MUI menarik kembali Surat Keputusan Komisi Fatwa No. 03/Kep/KF-MUI/XI/2006 tentang paradigma baru LDII yang dijadikan tameng LDII untuk menutupi ajaran mereka yang masih eksklusif dan menganggap kafir umat Islam di luar jamaahnya.

Usulan mencabut SK tersebut langsung didukung oleh salah satu ketua MUI Pusat, KH. Cholil Ridwan.

“Kertas SK yang disebarluaskan oleh LDII itu, itulah senjata yang digunakan LDII keliling ke berbagai daerah termasuk untuk masuk dalam kepengurusan MUI Daerah, bahkan ke Menteri Agama. Menteri agama bahkan telah menjadikan ketua umum LDII menjadi anggota Amirul Hajj pada tahun 2012 lalu. Itu sudah diprotes namun tidak digubris baik oleh Sekjen Kemenag Bahrul Hayat maupun Menteri Agama”, ujar KH. Cholil Ridwan.

Berkaitan hal itu, KH. Ma’ruf Amin mengatakan, boleh saja LDII menggunakan SK Komisi Fatwa MUI itu untuk kepentingan mereka.

“Boleh saja mereka jualan pakai itu,” kata Kiyai Ma’ruf.

Kepada wartawan, Kiyai Ma’ruf menjelaskan, SK itu maksudnya LDII telah melapor ke MUI dan menerangkan status mereka yang dalam proses klarifikasi MUI.

“Mereka sudah minta untuk klarifikasi. Tapi MUI belum menyatakan LDII sudah benar-benar berparadigma baru,” jelasnya.

Rep: Adhila/ Rabu, 26/06/2013 14:07:52 | syaiful falah

***

Paradigma “Baru” LDII

Posted by admin in Nasional on 05 21st, 2010

Dengan paradigma “baru”, LDII berusaha mengklarifikasi dirinya bukan sebagai aliran sesat. Benarkah? Amin Jamaludin bilang hati-hati.

Hati-hati

Ketua Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) yang juga anggota Komisi Pengkajian MUI Pusat, Amin Djamaluddin mengatakan masalah LDII belum selesai. MUI belum mengklarifikasi dan belum menyatakan LDII bebas dari penyimpangan sehingga bisa disetarakan dengan ormas-ormas Islam lain di Indonesia. “Harus hati-hati (terhadap LDII),” kata Amin kepada Suara Hidayatullah.

Amin menunjukkan sejumlah bukti, bahwa LDII sama sekali belum mengubah keyakinannya. Sejumlah bukti tulisan LDII yang dikeluarkan pasca Rakernas LDII Maret 2007 lalu menunjukan demikian. Dalam acara kepemudaan LDII, Cinta Alam Indonesia (CAI), LDII menerbitkan makalah yang masih mengajarkan tentang jamaah dan manqul. Pada bagian akhir makalah tertulis: untuk peramutan Jama’ah dalam pelestarian Jamaah ila yaumil qiyamah, maka melestarikan ilmu al-Quran dan al-Hadits secara manqul-musnad-muttashil mukhlis jamaah, adalah suatu kewajiban dan menjadi satu-satunya tanggung jawab jamaah.

Bukti lain yang ditunjukan Amin, tulisan LDII yang berjudul Nasihat-Ijtihad dari Imam keluaran Mei 2007 yang masih mengandung ajaran mengkafirkan orang Islam non-LDII. Di situ ditulis, “Nasihat imam kepada jamaah, para jamaah supaya betul-betul memiliki faham jamaah yang kuat, keimanan yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh walaupun banyak cobaan, cibiran, fitnahan, bujukan, dan pancingan yang tujuannya supaya jamaah bisa terpengaruh dan akhirnya keluar dari jamaah, murtad dari agama Allah. Itu berarti hilang surganya, mati sewaktu-waktu wajib masuk neraka.”

Menurut Amin, dari kutipan tadi difahami, orang yang keluar dari jamaah mereka adalah kafir dan masuk neraka. “Berarti mereka masih mengkafirkan orang di luar jamaahnya,” kata Amin.

Amin meminta umat Islam berhati hati. Sebab, kata Amin, LDII memiliki doktrin bithonah (bohong). “Jadi, mereka lain di mulut lain di hati, dan bithonah itu bagi mereka wajib,” ujar Amin. *Surya Fachrizal, Dwi Budiman/Suara Hidayatullah PEBRUARI 2009

http://majalah.hidayatullah.com/?p=159

***

Mempresentasikan Bukti-bukti Kedustaan Paradigma Baru

Hari Ahad pada 30 Juni 2013, di Mesjid Muttaqien Ranting Muhammadiyah Bengkulu, SekJen FRIH/Forum Ruju’ ilal Haq (Forum Komunikasi Mantan LDII), Adam Amrullah menemui MUI Bengkulu, K.H.Rusydi Syam, dan Sekertaris Umum MUI Ust Rahmat Hidayat dan Kepala Kejaksaan Negeri Bengkulu Suryanto S.H. Dalam kunjungannya tersebut, Adam memberikan bukti-bukti terkait tentang LDII yang masih mengajarkan ajaran Islam Jamaah, agar menjadi kewaspadaan bagi Umat Islam di Bengkulu.

K.H.Rusydi Syam yang juga adalah Ketua Tarbiyah Muhammadiyah Bengkulu ini sudah memahami siapa LDII sebenarnya. “Beberapa waktu lalu, saya sudah bicara juga kepada Kepala Jaksa Negeri Bengkulu, bahwa LDII adalah Islam Jamaah, walaupun mereka mengaku sudah berparadigma baru”.

Ust Rahmat Hidayat, yang juga aktif di Dewan Dakwah dan Persis ini menambahkan, “LDII pernah meminta saya untuk mengecek langsung ke pengajiannya untuk membuktikan Paradigma Baru mereka, tapi saya khawatir, kalau saya pergi ke sana, nanti mereka mengambil foto saya dan diberitakan dengan informasi yang jauh berbeda.. yang seakan-akan saya sudah tidak lagi menganggap LDII sesat”

Kepala Kejaksaan Negeri Bengkulu, Suryanto S.H., menambahkan “saya merasa beruntung kedatangan tamu seperti Ustadz Adam, karena LDII memang dalam waktu dekat berkeinginan bertemu dengan saya. Bukti-bukti ini akan saya teruskan ke atasan saya Kepala Kejaksaan Tinggi. Saya gak main-main soal ini, karena hal ini adalah Urusan Akidah Umat”

Adam mempresentasikan Bukti-bukti Kedustaan Paradigma Baru, diantaranya adalah Suara langsung Abdullah Syam, Ketua Umum LDII yang mengungkap bahwa LDII adalah penerus Islam Jamaah, dengan imamnya saat ini adalah Sulthon Aulia Abdul Aziz bin Nurhasan, turut diputar juga video Penyerangan Massa LDII ke Jamaah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Universitas Ibnu Khaldun Bogor 15 Juni 2013 lalu. Tak lupa Adam menjelaskan topeng Islam Jamaah yang berseragam, berLogo mirip sekali dengan pakaian seragam dan logo POLRI. Semua bukti yang FRIH punya sudah di sampaikan ke MUI dan Kejaksaan Negeri. Adam menambahkan “Insya Allah, Kami akan terus maju bersama Umat Islam dan Ulama-Ulama Pejuang Akidah, dan Pemerintah untuk terus menjaga Umat Islam dari bahaya perusak Akidah yang jelas-jelas sudah dilarang Pemerintah dan di Fatwa Sesat oleh MUI sejak dulu ini.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.237 kali, 1 untuk hari ini)