MUI Surakarta Prof Dr dr KH Zainal Arifin Adnan SpPD dengan tegas menolaknya.

“Saya tegaskan, buku putih itu tidak bisa ditarik, karena isinya mengambil dari ayat Al Qur’an dan Hadist, bagaimana mau ditarik dari peredaran ?

Inilah beritanya.

***

MUI Pusat Minta Buku “Gerakan Deradikalisasi” Ditarik dari Peredaran

Abdul Halim | Rabu, 07 Desember 2011 | 13:03:19 WIB

Jakarta -Baru kali ini MUI Pusat kebakaran jenggot, karena mendapat kritikan tajam dari MUI Kota Surakarta, Jawa Tengah. Gara-gara beredarnya buku “Kritik Evaluasi & Dekonstruksi GERAKAN DERADIKALISASI Aqidah Muslim di Indonesia”, yang diterbitkan MUI Kota Surakarta awal tahun ini. Buku putih setebal 128 halaman itu menyoroti secara tajam halaqoh yang diadakan MUI Pusat bersama dengan Forum Komunikasi Praktisi Media Nasional (FKPMN) tahun lalu, dimana para pembicara halaqoh mengenai Deradikalisasi tersebut banyak dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) termasuk Ketuanya Ansyaad Mbai.

Sebagai dampak dari beredarnya puluhan ribuan buku putih tersebut, Selasa (7/12) kemarin pimpinan MUI Surakarta diundang MUI Pusat ke kantornya jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Pimpinan MUI Surakarta diwakili antara lain Prof Dr dr KH Zainal Arifin Adnan SpPD (Ketua), KH A. Mudzakir, KH Ahmad Sukina dan KH Wahyuddin. Sedangkan MUI Pusat diwakili KH Ma’ruf Amin (Ketua), Ichwan Syam (Sekjen), KH Yunahar Ilyas, KH Umar Syihab, KH Slamet Effendi Yusuf, KH Natsir Zubaidi, KH Cholil Ridwan, KH Amidhan dan KH Muhyiddin Junaidi.

Dalam dialog yang diselingi dengan perdebatan tersebut, Sekjen MUI KH Ichwan Syam dengan tegas meminta agar MUI Surakarta menarik dari peredaran buku putih Gerakan Deradikalisasi tersebut. “MUI meminta agar buku putih mengenai  Gerakan Deradikalisasi yang diterbitkan MUI Surakarta tersebut ditarik seluruhnya dari peredaran di masyarakat,” tegas KH Ichwan Syam yang juga diamini KH Ma’ruf Amin.

Sedangkan KH Ma’ruf Amin sendiri menyayangkan mengapa MUI Surakarta tergesa-gesa menerbitkan buku yang membongkar makar gerakan deradikalisasi yang dimotori BNPT tersebut.  Padahal selama ini BNPT menjadi mitra MUI dalam menanggulangi  terorisme.

“Saya sangat menyayangkan penerbitan buku putih mengenai Gerakan Deradikalisasi tersebut. Seharusnya sebelum diterbitkan, MUI Surakarta melakukan klarifikasi terlebih dahulu dengan MUI Pusat. Sebab buku itu bisa mengesankan terjadinya polemik antara MUI Pusat dan MUI Surakarta sehingga akan terjadi salah faham di masyarakat,” ungkap KH Ma’ruf Amin.

Menanggapi permintaan penarikan buku putih Gerakan Deradikalisasi itu, Ketua MUI Surakarta KH Zainal Arifin Adnan dengan tegas menolaknya. Sebab isu buku tersebut diambilkan dari ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist.

“Saya kira MUI Pusat merasa “terkena” dengan isi buku putih tersebut sehingga minta ditarik dari peredaran. Saya tegaskan, buku putih itu tidak bisa ditarik, karena isinya mengambil dari ayat Al Qur’an dan Hadist, bagaimana mau ditarik dari peredaran ? Apalagi sekarang sudah beredar puluhan ribu buku dan terus dicetak oleh masyarakat,” tegas Dekan FK UNS dan dokter spesialis penyakin dalam tersebut.

Menurut KH Zainal Arifin Adnan, sekarang beberapa daerah sudah mengantri ingin mencetak buku tersebut. Penerbitan buku putih itu merupakan kewajiban MUI Surakarta sebagai tanggapan atas roadshow halaqoh Deradikalisasi yang diselenggarakan MUI Pusat di berbagai daerah dan untuk menyelamatkan umat Islam Indonesia. Jadi penerbitan buku putih itu tidak memerlukan klarifikasi terlebih dahulu ke MUI Pusat, sebab isinya hanya mengambil dari Al Qur’an dan Hadist.

Rep: Abdul Halim (SI ONLINE)-

***

Situs Muhammadiyah Yogyakarta memberitakan sebagai berikut:

Kritik Evalusi dan Dekonstruksi Gerakan Deradikalisasi Aqidah Muslim di Indonesia


Rabu, 26 Oktober 2011Cakra Aminuddin

Yogyakarta_Ahad, 23 Oktober 2011 Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadyah Daerah Istimewa Yogyakarta telah melaksanakan bedah buku “Kritik Evaluasi dan dekonstruksi Gerakan Deradikalisasi Aqidah Muslim di Indonesia”. Acara yang diselenggarakan di Aula Gedung Mu’alimin Muhammadiyah ini menghadirkan pembicara Prof. Dr. Yunahar Ilyas (PP Muhammadiyah), Mahendradata, SH. (tim Pengacara Muslim) dan Ust.Mudzakir (MUI solo).

Buku Kritik Evalusi dan Dekonstruksi Gerakan Deradikalisasi Aqidah Muslim di Indonesia terbitan MUI solo ini, menurut Drs. H. M. Sabihis (keteua Majelis Tabligh) dibedah karena banyak upaya dari berbagai pihak untuk mendangkalkan aqidah umat Islam. “terutama pada orang – orang yang memeiliki komitmen tinggi pada umat Islam, dengan adanya pruralisme yang menganggap semua agama itu benar padahal Islam adalah satu – satunya agama yang benar” papar Pak Sabihis.

Kegiatan yang menurut paniti, diselenggarakan sebagai usaha mengantisipasi akibat program deradikalisasi yang berpotensi memecah belah dan mendangkalkan umat Islam ini, diikuti dengan antusias oleh peserta.

http://muhammadiyahdiy.or.id/opini/baca/26/kritik_evalusi_dan_dekonstruksi_gerakan_deradikalisasi_aqidah_muslim_di_indonesia_

***

Buku itu di antaranya dapat disimak dari berita bedah buku berikut ini

Gerakan Deradikalisasi BNPT, Upaya Untuk Mengamputasi Syari’at Islam

Diposting Kamis, 04-08-2011 | 11:26:13 WIB

Solo Baru, Sukoharjo, 2/8/2011 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta kembali mengadakan acara bedah buku yang ditulis oleh segenap jajarannya dari para ulama di Kota Solo & sekitarnya sebagai wasilah untuk menjaga & menyelamatkan aqidah ummat islam. Acara kali ini diselenggarakan di Masjid Baitul Makmur Solo Baru Sukoharjo pada hari Ahad pagi 31 Juli 2011 yang dihadiri ± 5.000 jama’ah kaum muslimin se-Solo Raya & bahkan ada yang dari luar kota Solo.

Buku yang diberi judul “Kritik Evaluasi & Dekontruksi GERAKAN DERADIKALISASI Aqidah Muslimin Di Indonesia” kali ini dibedah oleh 3 narasumber dari berbagai unsur elemen ummat islam. Mereke adalah 1) dr. Joze Rizal dari MER-C Jakarta, 2) Munarman, S.H. selaku Ketua An-Nasr Institut sekaligus Pengacara dari Jakarta & 3) Ust. Abu Rusydan seorang Mubaligh dari Kudus.

Sebelumnya, acara seperti ini sudah pernah sekali diadakan oleh MUI Solo di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo bekerjasama dengan Fakultas Pasca Sarjana UMS Solo. Akan tetapi acara yang berlangsung pada tanggal 16 Juli 2011 lalu tersebut hanya untuk kalangan terbatas dengan pematerinya adalah 1) Ust. Muinudinillah Basri MA. Direktur Program Pasca Sarjana UMS & juga Pimpinan Ponpes Ibnu ‘Abbas Klaten, 2) Munarman, S.H. selaku Ketua An-Nasr Institut sekaligus Pengacara dari Jakarta & 3) (harusnya) Kepala BNPT Ansyad Mbai, akan tetapi Mbai tidak ‘berani’ datang & hanya mengutus perwakilannya.

Acara ini disamping bertujuan sebagaimana diatas, juga sebagai upaya untuk meluruskan pemahaman kaum muslimin tentang istilah-istilah & nilai-nilai islam yang coba diselewengkan & disalahtafsirkan oleh BNPT melalui kegiatan yang sebelumnya pernah diadakan oleh BNPT diberbagai kota besar diseluruh Indonesia dengan judul acara “Halaqoh Penangggulangan Terorisme”.

Acara yang dalam publikasinya telah mencantumkan nama MUI Pusat atau BNPT meng-klaim telah bekerjasama dengan MUI Pusat, ternyata setelah diinvestigasi & diklarifikasi oleh MUI Solo kepada MUI Pusat/Jakarta melalui KH. Ma’ruf Amin, MUI Jakarta sendiri tidak tau menau tentang acara yang diadakan oleh BNPT tersebut. Akhirnya MUI Solo berkesimpulan bahwa acara yang diadakan oleh BNPT pada bulan lalu diberbagai kota merupakan acara ‘ilegal’, dikarenakan acara tersebut hanya mengambil oknum yang ada di MUI Pusat tanpa minta ijin kepada MUI Pusat secara lembaga, tapi meng-atasnamakan lembaga resmi yaitu MUI Pusat/Jakarta.

PAPARAN PARA PEMATERI

Dalam kesempatan pertama yang menyampaikan makalah ringkas dari buku tersebut adalah Ust. Abu Rusydan. Sebagai orang yang pernah ditangkap oleh Densus 88 dalam kasus ‘terorisme’ & masuk dalam daftar orang yang akan di-Deradikalisasi-kan, tentunya beliau sudah sangat faham trik-trik & cara-cara serta materi yang digunakan oleh para penyidik Densus 88 dalam mengintrogasi para tahanan yang dituduh terlibat dengan kegiatan ‘terorisme’.

Maka beliau mengatakan dalam acara tersebut tidak akan menanggapi secara keseluruhan materi yang ada dalam Program Deradikalisasi BNPT tersebut. “Saya sejak awal sudah mengetahui & menduga bahwa program ini merupakan program yang cacat baik secara konsepsinya maupun prakteknya. Program ini kalau dipelajari maka akan membingungkan, maka dari itu BNPT sendiri dalam berdiskusi dengan fihak lain tentang programnya tersebut, tidak bisa menjawab pertanyaan lawan diskusinya. Untuk itu jika MUI Solo menanggapi halaman per-halaman dari program BNPT tersbut saya berharap tidak ikut bingung”. Ujar beliau dalam salah satu penyampaiannya.

Sedangkan garis besar point-point yang disampaikan oleh beliau antara lain :

  1. Sasaran utama Gerakan Deradikalisasi Terorisme kesemuanya adalah pola pikir & nilai-nilai islam, seperti pola pikir yang menginginkan tegaknya Syari’at Islam & Khilafah Islamiyah melalui nilai-nilai/faham Al Wala’ wal Bara’, Takfir, Jama’ah, Ba’iah & sistem perjuangannya dengan Jihad & Istimata. Tidak ada satupun sasaran deradikalisasi ini yang ‘menyasar’ kepada istilah & nilai-nilai agama lain seperti Nashrani, Hindu, Budha, dll. Jadi orang yang mempunyai faham diatas patut dijadikan obyek Deradikalisasi.
  2. BNPT sering berkoar-koar dimedia, baik cetak maupun elektronik bahwa salah satu faham kelompok Teroris adalah meng-kafirkan orang yang berada diluar kelompok/jama’ahnya. Menanggapi hal ini beliau menyampaikan bahwa hal itu merupakan kebohongan & kedustaan yang besar dari BNPT. Selama beliau berinteraksi dengan para Mujahidin baik yang ada di Indonesia maupun diluar negeri semisal Al Qoida dan bahkan pemimpin-pemipin Al Qoida, beliau tidak pernah mendengar para Mujahidin meng-Kafirkan orang yang berada diluar/selain kelompoknya.
  3. Gerakan Deradikalisasi Terorisme merupakan program “AMPUTASI ORGAN PENTING AGAMA ISLAM & KAUM MUSLIMIN”terhadap keinginan ummat islam untuk tegaknya Syari’at Islam & untuk memecah belah kekuatan ummat islam. Salah satu sebab mereka adalah sedini mungkin merusak istilah Ukhuwah Islamiyah dengan istilah-istilah yang mereka inginkan seperti istilah Ukhuwah Wathoniyah, dll.
  4. Salah satu program ‘Amputasi’ BNPT terhadap ruh islam adalah “Melakukan segala cara untuk menindak dan menumpas segala kegiatan yang mengarah kepada Jihad dan Hubbusy-Syahadah”. Pertanyaannya : “Apakah Jihad tidak disyari’atkan & diperintahkan dalam islam? Padahal kedudukan jihad itu didalam hadits pahalanya lebih besar dari pada ibadah lainnya seperti Sholat, Puasa, Zakat, dll?!?”
  5. BNPT juga sering mengatakan bahwa salah satu faham kelompok Teroris adalah sering meng-kafirkan penguasa & pemerintahan ‘sah’ yang tidak mau menghukumi dengan Al Qur’an & Sunah dengan mengambil potongan ayat Al Qur’an secara sebagian & mengambil fatwa ulama yang tidak diakui oleh kalangan ulama Saudi. Dalam hal ini, beliau menanggapi bahwa apa yang disampaikan BNPT merupakan suatu asumsi yang tidak mendasar, & tidak pernah mau mempelajari Al Qur’an dengan sungguh-sungguh & keseluruhan. Menanggapi tuduhan BNPT tersebut, beliau kemudian mengutip fatwa Syeikh Bin Baz rh. yang merupakan ulama yang diakui fatwanya oleh kalangan ulama Saudi. Dalam fatwa Syeikh Bin Baz rh. tentang status hukum bagi penguasa/pemerintah yang tidak mau menghukumi manusia dengan apa yang telah Allah turunkan dan mengganti hukum Allah dengan hukum buatan manusia & menganggap hukum manusia lebih baik dari hukum Allah, maka hukumnya adalah KAFIR.

Demikian point-point yang disampaikan oleh Ust. Abu Rusydan dalam acara tersebut. Intinya bahwa sasaran Deradikalisasi Terorisme yang sedang dilakukan oleh BNPT tidak lain & tidak bukan adalah Islam & Kaum Muslimin secara keseluruhan.

Kemudian pemateri kedua, Bp. Munarman S.H memulai pemaparannya dengan menyampaikan dokumen Rant Corporation yang disampaikan didepan Konggres Amerika pada bulan Juli 2007. Dalam dokumen itu disebutkan bahwa “Pada hari/sekarang ini, jika seseorang itu menyebut istilah Terorisme pasti terkait erat dengan ideologi ekstrimis yaitu ideologi Jihad yang dilakukan oleh kelompok Salafi Jihadis”. Ucap Munarman dalam pemaparannya.

Jadi menurut beliau jika issu perang melawan teror atau War on Teror dikatakan bukan perang melawan Islam & Ummat Islam maka itu suatu kebohongan yang besar, sebab sebagian besar program Deradikalisasi Terorisme merupakan jiplakan dari dokumen Rant Corporation. “Jelas sekali disitu dikatakan bahwa perang melawan teror adalah perang melawan ideologi Jihad, sedangkan yang mempunyai ideologi & istilah Jihad hanya Islam & Ummat Islam”. Ujar Beliau

Dalam statmen lainnya beliau melanjutkan bahwa, “Program Deradikalisasi Terorisme yang sekarang ini sedang dijalankan oleh BNPT merupakan program untuk menghapus istilah & nilai-nilai yang terkandung didalam Islam khususnya istilah Jihad yang merupakan ruh ummat islam demi tegaknya Syari’at Islam. Hal ini sudah sangat jelas sekali & terang benderang sebagaimana yang acap kali diucapkan melalui mulut Kepala BNPT Ansyad Mbai, Mantan Kepala BIN Hendropriyono ataupun Dir. Penindakan BNPT Petrus Reinhard Golose”.

Selanjutnya beliau menyampaikan bahwa, “Salah satu elemen yang ada dibawah BNPT yaitu Densus 88 ada suatu satuan Satgas Bom yang langsung dikomandoi/sebagai Panglimanya adalah Gories Merre, & perlu diketahui oleh khalayak umum, satuan ini tidak berada dibawah struktur Densus 88. Satuan ini bertugas sebagai Eksekutor/tembak mati tanpa proses hukum bila polisi tidak bisa menangkap orang yang dituduh sebagai teroris. satuan ini tidak berlatih di Mabes Polri sebagaimana anggota Densus 88 lainnya, melainkan mereka berlatih di sebuah Pulau milik Pengusaha Tomi Winata”.

Dalam materi terakhir yang disampaikan oleh dr. Joze Rizal, beliau berujar bahwa, “Sebetulnya yang namanya ideologi didunia ini ada 3 macam, 1) Ideologi Islam, 2) Ideologi Nasharani & 3) Ideologi Yahudi/Zionis. Semuanya saya yakin semuanya mempunyai tujuan, kalau didalam islam untuk menegakkan Syari’at Islam & Khilafah, sedangkan didalam Zionis disebut dengan istilah ‘Membangun Tatanan Dunia Baru’. Jadi ummat islam & para aktifis islam jangan takut dengan program Deradikalisasi yang dilakukan oleh BNPT, karena kita sedang memperjuangkan ideologi yang bersumber dari Al Qur’an & As Sunah. Sebab sejatinya mereka ini juga sedang melakukan perang ideologi kepada kita”.

Terakhir beliau berpesan kepada kaum muslimin, “Hendaklah kita selalu menjaga silaturahmi sebagai senjata kedua setelah tauhid/aqidah islamiyah dalam perang pemikiran sekarang ini. Bila ada perbedaan-perbedaan sedikit dalam masalah strategi perjuangan, jangan sampai menjadi celah bagi musuh islam untuk menghantam & melemahkan kekuatan ummat islam. Sistem perjuangan ummat islam untuk menegakkan Syari’at Islam sudah jelas, yaitu melalui Da’wah & Jihad. Da’wah mari kita lakukan dengan hikmah, & Jihad sekarang ini kita lakukan dengan cara melakukan persiapan, baik fisik maupun yang lainnya”.

Maka saya sangat mengapresiasi langkah MUI Solo & elemen serta Ormas-Ormas Islam yang mengadakan & mendukung acara seperti ini. Harapan saya, acara-acara seperti ini lebih sering diadakan baik dalam forum seminar, halaqoh, dauroh atau bedah buku untuk menguatkan ruhiyah kita dalam mendalami dienul islam, memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat agar mereka tidak disesatkan dengan acara Deradikalisasi lainnya, memberi informasi yang berimbang atas berita yang disampaikan oleh media-media barat yang ada di Indonesia & bisa menjadi sarana menguatkan ukhuwah serta sebagai kantong saling bertukar pandangan untuk meminimalisir perbedaan yang ada”. Tutup beliau

Dalam sambutan yang disampaikan oleh wakil dari MUI Solo yaitu Ust Dahlan, MUI Solo sudah mencetak buku ini sebanyak 30.000 eks. Rencananya acara seperti ini akan diadakan ‘Road Show’ disetiap kota yang sudah dijadikan BNPT sebagai tempat penyelenggarakan acara “Halaqoh Penangggulangan Terorisme”, pada bulan yang lalu. Tentunya kegiatan seperti ini tetap bekerjasama dengan MUI & Ormas Islam setempat untuk menjalin kekuatan disetiap lini ummat islam. [Bekti Sejati]

INFORMASI : Bila ada yang menginginkan VCD acara bedah buku diatas, silahkan datang kekantor Radio Dakwah Syariah (RDS) Solo 107.7 & 101.4 Fm atau pada nomor HP. 081 226 170 777 – 0271 765 1818 atau melalui email rdsfmsolo@yahoo.com pada tanggal 7 Ramadhan 1432 H.

http://muslimdaily.net/opini/specialfeature/gerakan-deradikalisasi-bnpt-upaya-untuk-mengamputasi-syari’at-islam.html

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.214 kali, 1 untuk hari ini)