MUI Sumbar Dukung Seruan, Pejabat Muslim agar Tidak Gunakan Salam Agama Selain Islam

  • Menurut Ketua MUI Sumbar, salam merupakan doa keselamatan dan rahmat untuk orang yang diberikan salam. “Doa atau permohonan, haram hukumnya dimintakan kepada selain Allah swt. Itulah yang ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya: Iyyaka nabudu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan),” terangnya.
  • “Jadi dalam ucapan salam, ada aqidah dan ada ibadah. Keduanya tidaklah boleh ditundukkan pada inklusifitas toleransi antar umat beragama. Lakum diinukum wa liiyya diin (untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku) merupakan ketentuan muthlak yang harus dipakai dalam masalah ini,” tuturnya.
  • “Dengan alasan di atas, patut sekali para pejabat menyadari bahwa cara-cara yang mereka lakukan bisa membawa kepada kesesatan dalam bentuk pluralisme agama (yang telah diharamkan MUI Pusat dalam Fatwanya tahun 2005, red NM).
    Hal itu bisa masuk dalam kategori “pemimpin jahil yang sesat dan menyesatkan”. Semoga himbauan “agar tidak menggunakan salam pembuka seluruh agama” tersebut dipatuhi,” imbuhnya.

     

     

 


Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa (Foto: dok. Istimewa)

 

PADANG — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Gusrizal mendukung seruan dan himbauan MUI Jatim agar umat Islam terutama para pejabat tidak menggunakan salam semua agama.

Ketum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Gusrizal Dt. Palimo Basa mengingatkan agar umat lain tidak menggunakan salam umat Islam sebagai pembuka pembicaraan mereka.

“Bagi kaum muslimin, salam bukanlah semata pembuka pidato atau pembukaan pembicaraan,” ujarnya kepada MinangkabauNews, Minggu, (10/11/2019).

Menurutnya, salam merupakan doa keselamatan dan rahmat untuk orang yang diberikan salam. “Doa atau permohonan, haram hukumnya dimintakan kepada selain Allah swt. Itulah yang ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya: Iyyaka nabudu wa iyyaka nastain (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan),” terangnya.

Lanjutnya, memintakan rahmat dan keselamatan tentu berlandaskan pula kepada keyakinan siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak mendapatkan rahmat dan keselamatan tersebut.

“Jadi dalam ucapan salam, ada aqidah dan ada ibadah. Keduanya tidaklah boleh ditundukkan pada inklusifitas toleransi antar umat beragama. Lakum diinukum wa liiyya diin (untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku) merupakan ketentuan muthlak yang harus dipakai dalam masalah ini,” tuturnya.

Himbauan ini memang patut sekali ditujukan lebih khusus kepada para pejabat.
Menduduki jabatan tinggi, belum tentu menjamin seseorang faham secara mendalam bagaimana cara beragama.
Karena itu, semestinya sikap keberagamaan tidaklah ditauladani dari seseorang hanya dengan melihat jabatan yang dia sandang.
Namun apa hendak dikata, kondisi umat hari ini begitu mudah terpengaruh oleh cara-cara yang dilakukan oleh mereka yang berkuasa.
Ditambah lagi dengan sikap menjilat dan asal bapak senang, cenderung membuat “bawahan” ikut-ikutan dengan cara-cara “atasan” walaupun keliru.

“Dengan alasan di atas, patut sekali para pejabat menyadari bahwa cara-cara yang mereka lakukan bisa membawa kepada kesesatan dalam bentuk pluralisme agama.
Hal itu bisa masuk dalam kategori “pemimpin jahil yang sesat dan menyesatkan”. Semoga himbauan “agar tidak menggunakan salam pembuka seluruh agama” tersebut dipatuhi,” imbuhnya.

Buya Gusrizal Gazahar mengingatkan para pemimpin negeri ini, janganlah menjadi pemula dalam kesalahan. Dengarkanlah peringatan Nabi saw, “siapa saja yang menjadi pembuka jalan keburukan, akan memikul dosa perbuataannya dan perbuatan orang-orang yang mengikutinya”. Allahu yahdii man yasyaa ila shiraathim mustaqiim. (RI)

https://minangkabaunews.com/
10 November 2019 – 21:54:36 WIB – 18555

***

Mari kita simak hadits ini:

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ.

“Sesungguhnya di antara manusia ada kunci-kunci (pembuka pintu) kebaikan dan gembok-gembok (penutup pintu) keburukan. Dan di antara manusia ada kunci-kunci (pembuka pintu) keburukan dan gembok-gembok (penutup pintu) kebaikan. Beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan tersebut di kedua tangannya. Dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan di kedua tangannya.” (HR. Ibnu Majah dihasankan oleh Al-Albani).

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 303 kali, 1 untuk hari ini)