Fatwa MUI Tentang Haramnya Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama

 

Silakan simak ini.

***

 

MUI Tanggapi Pernyataan Jend Dudung: Menyamakan Semua Agama Adalah Sikap Pluralisme Agama yang Dinyatakan Haram dalam Fatwa MUI

 

  • “Pandangan yang menyamakan semua agama, adalah sikap dari pluralisme agama, yang dinyatakan haram oleh MUI berdasarkan fatwanya,” tegas
    Prof Dr H Utang Ranuwijaya Ketua MUI.
  • “… sebagai pribadi muslim sangat keliru dan berlebihan jika menyebut bahwa semua agama itu benar dimata Tuhan, karena mestinya jika berbicara soal keyakinan atau keimanan harus berdasar dalil naqli/nash yang menjelaskan soal ini,” tandasnya Prof Utang Ranuwijaya
  • Ketua MUI itu juga menyampaikan bahwa dalam Al Quran Surat Ali ‘Imran ayat 19 dan 85 dijelaskan bahwa agama yang benar di sisi Allah Islam, dan selain Islam adalah tertolak. Maka wajib bagi setiap pribadi muslim untuk meyakini bahwa hanya Islam satu-satunya agama yang benar.

 
 

JAKARTA, Panjimas – Menanggapi pernyataan yang disampaikan oleh Pangkostrad, Letjen Dudung Abdurachman pada saat melakukan kunjungan kerja ke Batalyon Zeni Tempur (Yon Zipur) Buana Kostrad, Bandung yang mengatakan bahwa semua agama itu benar di mata Tuhan dari pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun memberikan sikapnya atas pernyataan tersebut.

Dalam kesempatan itu Letjen Dudung menyampaikan pesan kepada para prajurit agar cermat dalam menyikapi berita yang beredar, terutama di media sosial. Mantan Panglima Kodam Jaya itu juga mengingatkan agar kepada setiap prajurit untuk tidak mudah mengirimkan berita yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenaran informasinya.

“Saya menangkap kesan bahwa dia ingin mengarahkan agar prajurit TNI berada di tengah-tengah rakyat, karena prajurit milik rakyat dan harus mengayomi semua rakyatnya,” ujar Prof Utang Ranuwijaya, MA dari pihak MUI

Menurut Ketua Bidang Pengkajian dan Konten-konten ke Islaman MUI Pusat ini juga setuju dan sependapat dengan pernyataan Dudung tersebut. Begitu juga dirinya masih setuju jika prajurt itu harus bijak dalam bermain medsos dan jangan mudah terprovokasi oleh berita-berita yang tidak benar.

Masih dalam kesempatan yang sama ketika Dudung mengatakan didepan para prajurit bahwa “Hindari fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama. Karena semua agama itu benar di mata Tuhan,” ucap mantan Gubernur Akmil tersebut maka hal itu langsung dikritisi oleh Prof Dr H Utang Ranuwijaya

“Tetapi sebagai pribadi muslim sangat keliru dan berlebihan jika menyebut bahwa semua agama itu benar dimata Tuhan, karena mestinya jika berbicara soal keyakinan atau keimanan harus berdasar dalil naqli/nash yang menjelaskan soal ini,” tandasnya Prof Utang Ranuwijaya

Ketua MUI itu juga menyampaikan bahwa dalam Al Quran Surat Ali ‘Imran ayat 19 dan 85 dijelaskan bahwa agama yang benar di sisi Allah Islam, dan selain Islam adalah tertolak. Maka wajib bagi setiap pribadi muslim untuk meyakini bahwa hanya Islam satu-satunya agama yang benar.

Masih menurut Dr H Utang, bahwa pernyataan adalah bagian dari hak asasi beragama seorang muslim. Adapun penganut agama lain berpendapat lain, itu adalah hak mereka yang harus dihormati oleh penganut agama lain sebagai sesama warga bangsa.

Soal keyakinan akan kebenaran agamanya menurutnya adalah hak privasi seseorang yang tidak boleh malu atau takut untuk mengatakannya. Seperti juga hak pribadi penganut agama lain untuk mengatakan lain yang berbeda, sesuai keyakinan masing-masing.

“Pandangan yang menyamakan semua agama, adalah sikap dari pluralisme agama, yang dinyatakan haram oleh MUI berdasarkan fatwanya,” pungkasnya.

panjimas.com, 14 Sep 2021

***

Fatwa MUI Tentang Haramnya Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama

 

Ilustrasi cover buku Pluralisme Agama Haram, terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta. Foto/bklpk

 

Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia
Nomor : 7/Munas VII/MUI/11/2005
Tentang

Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama

Bismillahirrahmanirrahim

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H/26-29 Juli 2005 :

Menimbang :

Bahwa pada akhir-akhir ini berkembang paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama serta paham-paham sejenis liannya dikalangan masyarakat;
Bahwa berkembangnya paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama dikalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan sehingga sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut;
Bahwa oleh karena itu, MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam.
Mengingat :

Firman Allah SWT :
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Imram [3] : 85)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam..” (QS. Al-Imran [3] : 19)

“Untukmulah agamamu, dan untukkulah agama-ku”. (QS. Al-Kafirun [109] : 6)

“Dan tidak patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetpkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzab [33] : 36)

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dai negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlakuk adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan kawanmu orang-orang yang memernagi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu.Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mreka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Mumtahinah [60] : 8-9)

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamju melupakan bahagaianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orng-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash [28] : 77)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah”. (QS. Al-An’am [6] : 116)

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. Al-Mu’minun [23] : 71)

Hadist Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam:
Imam Muslim (wafat 262) dalam kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salllam :”Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Nabi mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non muslim, antara lain Kaisar Heraklius, Raja Romawi, yang beragama Nasrani dan Kisra Persia yang berama Majusi, di mana Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam. (Riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat al Kubra dan Imam al-Bukhari dalam Shahih Bukhari).

Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas-komunitas non muslim seperti komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar dan Nasrani yang tinggal Najran, bahkan salah seorang mertua Nabi yang bernama Huyay bin Ahthab adalah tokoh Yahudi dari Ban Quraizhah (Sayyid Quraizhah). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Memperhatikan :Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII MUI 2005.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

Menetapkan : Fatwa Tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama

Pertama : Ketentuan Umum

Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan,

Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.

Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.

Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (al-Qur’an dan Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas, dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

Sekulerisme agama adalah memishkan urusan dunia dari agama, agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

Kedua : Ketentuan Hukum

Pluralisme, Sekulerisme, dan Liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme, Sekulerisme dan Liberalisme agama.
Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.

Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain lain (pluralitas agama), dalam maslah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan agama lain sepanjang tidak saling merugikan.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 21 Jumadil Akhir 1426 H/28 Juli 2005 M.

Musyawarah Nasional VII
Majelis Ulama Indonesia

Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa

KH. Ma’ruf Amin
Ketua

Drs. H.Hasanuddin M. Ag
Sekretaris

Pimpinan Sidang Pleno:

Prof. Dr. H. Umar Shihab
Ketua.

Prof. Dr. HM. Din Syamsuddin
Sekretaris.

=======

 BY SATUMEDIA.NET

 

(nahimunkar.org)

 


 

(Dibaca 146 kali, 1 untuk hari ini)