KIBLAT.NET, Tanjungbalai – Ketua MUI Kota Tanjungbalai, KH. Syahron Sirait menegaskan situasi terakhir di Kota Tanjungbalai berangsur-angsur semakin kondusif.

“Alhamdulillah. Kalau sampai saat ini, sudah kondusif lah,” ujarnya kepada Kiblat.net melalui sambungan telepon pada Selasa, (02/08).

Kyai Syahron menyatakan hari ini telah datang utusan dari Kanwil Kementerian Agama, beserta bidang-bidang agamanya. Turut serta di antaranya adalah Majelis Agama Budha.

“Pertemuan itu mengingatkan kembali persaudaraan antar umat beragama, sebagaimana yang diharapkan FKUB. Ada perjanjian tidak akan terjadi lagi seperi itu dan berusaha menjaga-jaga hal yang menjadikan pemicu kerusuhan,” jelasnya.

MUI Tanjungbalai juga merasa khawatir atas penetapan 12 pelaku kerusuhan, sementara Meliana, warga Jalan Karya Tanjungbalai, yang menjadi pemicu kerusuhan baru sebatas saksi.

“Tadi kami dengan Kemenag, pukul 9.00 menjumpai Kapolres Tanjungbalai supaya ada peningkatan status terhadap Meliana dari saksi menjadi tersangka,” kata dia.

Menurut Kyai Syahron, Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan pada saat itu menjawab, “Ini masih kita pelajari, kita panggil saksi ahli, yang ahli di bidang itu untuk mempelajari apakah saksi (Meliana) bisa jadi tersangka.”

Reporter: Bunyanun Marsus
Editor: Fajar Shadiq

Sumber: kiblat.net

***

MUI Tanjungbalai: Bukan Soal Pengeras Suara, Tapi Meliana Tidak Mengerti Kerukunan

kerusuhan-di-tanjung-balai

KIBLAT.NET, Tanjungbalai – Ketua MUI Kota Tanjungbalai KH Syahron Sirait membantah jika akar permasalahan kerusuhan di Tanjungbalai, Sumatera Utara karena persoalan pengeras suara.

Sebagaiman diberitakan sebelumnya,  kerusuhan yang terjadi di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara, pada Jumat malam hingga Sabtu (29-30 Juli 2016) dini hari, dipicu oleh keberatan dari seorang warga etnis Cina bernama Merliana terhadap suara adzan dari Masjid Al-Makshum.

“Sebenarnya kalau memang pengeras suara itu yang membuat kerusuhan, sementara jiran-jirannya (tetangganya, red) tidak begitu. Jirannya itu kan orang Chinese juga tidak ada pernah membicarakan tentang itu (pengeras suara, red),” tukas Kyai Syahron kepada Kiblat.net melalui sambungan telepon pada Selasa, (02/08).

MUI Tanjungbalai menilai sangat tidak tepat kalau mau dibuat aturan mengenai pengeras suara. Sebab, kerusuhan itu bermula dari satu rumah (Meliana, red) saja.

“Kalau begitu, memang bukan persoalan pengeras suara, tapi orangnya bermasalah. Si Meliana itu kalau kupikir dia tidak mengerti tentang kerukunan,” jelasnya.

MUI Kota Tanjungbalai juga memohon dukungan dari segenap masyarakat dan pemerintah pusat agar Kapolres bisa menetapan Meliana sebagai tersangka, jangan sebatas saksi.

Hal ini harus dilakukan agar konflik di Tanjungbalai bisa segera mereda. Penetapan Meliana sebagai tersangka juga diharapkan dapat memenuhi asas keadilan di tengah masyarakat.

“Jadi kalau ada dukungan dari umat Islam, Kapolres atau Kapolda bisa berpikir,” pungkas dia.

Reporter: Bunyanun Marsus
Editor: Fajar Shadiq

Sumber: kiblat.net

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.850 kali, 1 untuk hari ini)