Seorang da’i menulis: Kita wajib tolak Islam Nusantara yang diusung JIN (Jemaat Islam Nusantara, red). Ayo, katakan NO untuk Islam Nusantara … !!!

“Islam itu diturunkan untuk seluruh umat manusia, rahmatan lilalamin. Jadi tidak perlu kita bonsai, Islam yang sudah besar untuk seluruh alam lalu dijadikan Islam Indonesia, Islam Barat, Islam Timur,” ujar Ketua Bidang Seni Budaya MUI Pusat, KH Cholil Ridwan.

Ulama kelahiran Jakarta ini menghimbau kepada pemerintah agar tidak memaksakan istilah Islam Nusantara. Jika terus dibesar-besarkan dia khawatir akan menjadi masalah bagi umat Islam sendiri.

“Akhirnya umat Islam akan punya PR terus, dan akan ketinggalan terus. Sekarang di-cooling down sajalah,” pungkasnya.

Inilah beritanya.

***

Wacana Islam Nusantara, Kyai Cholil: Islam Rahmat untuk Alam Semesta, Tak Perlu Dibonsai

1 bulan lalu

KIBLAT.NET, Jakarta – Dikampanyekannya istilah Islam Nusantara oleh sejumlah tokoh dan pejabat negara terus mendapat sorotan. Ketua Bidang Seni Budaya MUI Pusat, KH Cholil Ridwan menilai perlu adanya koreksi terkait istilah tersebut.

“Tidak ada Islam Nusantara itu. Islam itu Islam saja. Islam alami, Islam internasional,” kata KH Cholil Ridwan kepada Kiblat.net, Selasa (19/05).

Menurut Kyai Cholil, dengan tidak adanya Islam Nusantara berarti tidak ada juga Islam Arab, Islam Cina, Islam Eropa, dan sebagainya. Dia juga menegaskan bahwa Islam itu satu, yaitu Islam yang rahmatan lilalamin.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berulang kali mengungkapkan istilah Islam Nusantara. Beberapa waktu lalu muncul bacaan Al-Quran langgam Jawa dalam peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara yang dianggap untuk memelihara Islam Nusantara. Belakangan, wacana itu justru menimbulkan perdebatan di kalangan umat Islam sendiri.

Kyai Cholil menambahkan, tidak perlu ada klaim Islam Nusantara, yang seolah-olah menarik Islam hanya milik orang Indonesia. Sehingga kemudian akan menolak Islam dari belahan negara lain seperti dari Arab, dan jika ada orang yang berbeda dianggap bukan Islam Nusantara.

“Islam itu diturunkan untuk seluruh umat manusia, rahmatan lilalamin. Jadi tidak perlu kita bonsai, Islam yang sudah besar untuk seluruh alam lalu dijadikan Islam Indonesia, Islam Barat, Islam Timur,” ujarnya.

Ulama kelahiran Jakarta ini menghimbau kepada pemerintah agar tidak memaksakan istilah Islam Nusantara. Jika terus dibesar-besarkan dia khawatir akan menjadi masalah bagi umat Islam sendiri.

“Akhirnya umat Islam akan punya PR terus, dan akan ketinggalan terus. Sekarang di-cooling down sajalah,” pungkasnya.

Reporter : Imam S.

Editor: Fajar Shadiq/kiblatnet

***

WALISONGO ISLAMKAN NUSANTARA – JIN NUSANTARAKAN ISLAM

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=411020582432257
wali songo

Muhammad Rizieq Syihab

Bismillaah wal Hamdulillaah …
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah …

Salah satu Tak-Tik dalam Strategi Devide et Impera, yaitu Politik Adu Domba yang dilakukan Penjajah Belanda di Indonesia, adalah membenturkan Hukum Islam dengan Hukum Adat.

Dengan Tak-Tik tersebut, Belanda berhasil memecah belah perjuangan Rakyat Aceh yang terkenal paling solid dan paling gigih.

Dan dengan Tak-Tik itu pula, Belanda berhasil menyulut Perang Paderi di Padang – Sumatera Barat antara pengikut Imam Bonjol dengan para pelaku ma’siat atas nama adat.

Begitu pula di berbagai Daerah lain di Nusantara, Belanda terus mengobarkan permusuhan antara Ulama dan Pemuka Adat.

Pembenturan Hukum Islam dan Hukum Adat di berbagai negeri merupakan salah satu Tak-Tik unggulan Zionis Internasional melalui Gerakan Freemasonry dan Illuminaty.

Kini, kelahiran ISLAM NUSANTARA merupakan Babak Baru dalam pembenturan Hukum Islam dan Hukum Adat.

Dan Episode kali ini dipastikan lebih berbahaya dan akan sangat sengit, karena Jemaat Islam Nusantara (JIN) menggunakan Dalil-Dalil ajaran Islam untuk pembenaran paham sesat mereka.

Ditambah lagi, JIN telah menyusup ke berbagai Perguruan Tinggi dan Instansi Pemerintah, serta menunggangi sejumlah “Ormas Islam” besar yang memiliki akar kuat di masyarakat.

ISLAM NUSANTARA

Sesuai Data dan Fakta bahwa para pengusung ISLAM NUSANTARA adalah Gerombolan Liberal yang selama ini telah menyelewengkan ajaran Islam, maka bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Terminologi “Islam Nusantara” ialah :

1. Islam yang ingin di-Indonesia-kan, sehingga semua ajaran Islam yang dianggap beraroma “Arab” seperti Jilbab, Salam hingga cara baca Al-Qur’an harus diganti dengan Budaya Nusantara.

2. Islam yang ingin di-Lunak-kan, sehingga semua ajaran Islam yang dianggap beraroma “Keras” seperti Hisbah dan Jihad mesti dihapuskan.

3. Islam yang ingin di-Kerdil-kan, sehingga agama Islam hanya dijadikan sebagai sekedar sebuah aspek kehidupan, bukan Islam yang meliputi semua Aspek Kehidupan.

4. Islam yang ingin di-Liberal-kan, sehingga Aqidah Islam harus di-Dekonstruksi dan Syariat Islam mesti di-Anulirisasi, agar sesuai dengan Tuntutan Zaman.

5. Islam yang ingin dijadikan sebagai Pengusung Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Kebebasan Mutlak, Persamaan Agama, Kearifan Lokal, Pelestarian Budaya Primitif, Kesetaraan Gender, Revolusi Mental, Modernisasi, Globalisasi dan Deradikalisasi, serta Kebangsaan yang Rasis dan Fasis.

ISLAMKAN NUSANTARA

Para Ulama Habaib dari Hadhromaut – Yaman banyak melakukan perjalanan Da’wah ke berbagai Dunia, sambil berdagang untuk menopang Da’wah mereka.

Di antara mereka ada yang musafir ke India dan beranak pinak disana, hingga ada yang menjadi Pedagang Gujarat.

Lalu anak keturunan mereka melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dari sana mereka menyebar ke seluruh pelosok Nusantara, yang meliputi Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Patani di Selatan Thailand, hingga Mindanau di Selatan Philipina.

Di Indonesia, ada Walisongo yang merupakan keturunan dari Sayyid Ahmad Jalaluddin putra dari Sayyid Abdullah Khan yang terkenal di India dengan nama marga ‘Azhmat Khan, seorang Ulama Besar dari kalangan Habaib yang bermukim di India.

Abdullah Khan adalah putra dari Sayyid Abdul Malik yang merupakan putra dari Imam ‘Alwi bin Muhammad (‘Ammul Faqiih). Dengan kata lain bahwa Sayyid Abdul Malik adalah sepupu dari Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawi.

Tercatat dalam sejarah bahwa keturunan Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawi banyak yang musafir langsung dari Yaman ke Indonesia, sehingga banyak dari mereka yang menjadi Sultan di Indonesia, seperti Sultan Siak, Pontianak dan Kubu, serta lainnya.

Dengan izin Allah SWT di tangan mereka inilah, Indonesia diislamkan, hingga 90 % penduduk Indonesia beragama Islam.

Para Walisongo datang ke Nusantara membawa misi untuk meng-Islam-kan Nusantara, bukan me-Nusantara-kan Islam. Sedangkan gerombolan JIN yang kini banyak bergentayangan memiliki misi terbalik dari Walisongo, yaitu me-Nusantara-kan Islam.

Kini, tugas para Da’i Indonesia melanjutkan perjuangan Walisongo untuk mengislamkan Indonesia, bahkan Nusantara, secara TOTAL.

ISLAM NUSANTARA NO ! ISLAMKAN NUSANTARA YES !

Dengan demikian, jelas sudah bahwa Misi Walisongo adalah ISLAMKAN NUSANTARA, sedang Misi JIN adalah NUSANTARAKAN ISLAM.

Selain itu, Walisongo membawa Panji ASWAJA, sedang JIN membawa Panji LIBERAL, sehingga perbedaan Visi Misi Walisongo dengan Visi Misi JIN bagaikan Langit dan Bumi.

Karenanya, kita wajib tolak Islam Nusantara yang diusung JIN. Ayo, katakan NO untuk Islam Nusantara … !!!

Pada saat yang sama, kita wajib mengirim para Da’i ke seluruh pelosok Nusantara untuk meng-Islam-kan segenap masyarakat di seantero Nusantara. Ayo, katakan YES untuk Islamkan Nusantara … !!!

Semoga Allah SWT menyempurnakan keislaman seluruh Nusantara, sehingga tidak ada sejengkal pun tanah di Bumi Nusantara, kecuali Islam tegak di atasnya.

Aamiiin Allaahumma Aamiiin …

(Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab)

Top of Form

28 Juni

Bottom of Form

***

Dakwah Wali Songo, Desakralisasi Budaya Bukan Dekulturisasi

15 hari lalu 325 views

KIBLAT.NET, Jakarta – Dakwah Wali Songo yang menjadikan kebudayan sebagai sarana mengenalkan Islam kepada masyarakat Jawa, sering disebut-sebut seiring mencuatnya wacana Islam Nusantara.

Cara berdakwah yang digunakan Wali Songo dijadikan dalil untuk membenarkan adanya Islam Nusantara. Benarkah tujuan dakwah Wali Songo menciptakan Islam Nusantara?

Peneliti Budaya Jawa, Susiyanto,M.Ag menjelaskan bahwa ada paradigma yang berbeda dalam memandang kebudayaan yang dikaitkan dengan Islam Nusantara. Dia menambahkan, Wali Songo melakukan proses desakralisasi (menghilangkan nilai sakral) dalam dakwahnya ketika bertemu dengan kebudayaan yang belum tersentuh Islam.(Baca: Umat Islam Harus Kritisi Wacana Islam Nusantara)

“Tapi hampir tidak pernah ada proses dekulturisasi,” kata Susiyanto kepada Kiblat.net, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, dekulturisasi berarti ketika masuk ke dalam kebudayaan, maka Islam akan berfungsi secara dinamis terhadap kebudayaan itu. Islam akan mengubah unsur-unsur negatif dalam kebudayaan itu sehingga lebih menjadi positif. Menurutnya, keberadaan Islam dalam satu kebudayaan akan memperkaya kebudayaan itu sendiri.

“Jadi memperkaya dengan nilai-nilai yang lebih positif,” ujar Susiyanto.

Susiyanto menambahkan, desakralisasi itulah yang dilakukan Wali Songo ketika berdakwah di tanah Jawa. Wujud kebudayaan yang ada dalam masyarakat dihilangkan nilai-nilai sakralnya.

Dia mencontohkan, jika dalam kebudayaan masyarakat sebelumnya bernilai mistis dan mitologi, nilai mistis dan mitologi itu kemudian dihilangkan. Wujud kebudayaan yang ada, sebagian dipertahankan tetapi yang tidak sesuai dengan Islam diubah menjadi lebih baik. Kebudayaan yang tak sesuai dengan Islam itu berarti juga tidak sesuai dengan fitrah manusia. (Baca: Ada Penumpang Gelap dalam Wacana Islam Nusantara)

Jadi, lanjut Susiyanto, Wali Songo pada masanya memanfaatkan kebudayaan yang sudah ada, sehingga masyarakat itu tidak mengalami kondisi gegar budaya. Masyarakat Jawa, yang menjadi obyek dakwah Wali Songo, adalah masyarakat yang sebelumnya sudah berbudaya. Jadi tidak mungkin kemudian masyarakat itu akan dipisahkan dari budayanya begitu saja.

“Hanya saja, kalau saya lihat paradigma yang digunakan untuk memandang kebudayaan yang kemudian dikaitkan dengan Islam Nusantara itu saya lihat berbeda,” ungkap Susiyanto. (Baca: KH Ali Mustafa Yaqub: Islam Itu Agama, Nusantara Itu Budaya)

Menurutnya, istilah Islam Nusantara yang digulirkan saat ini seperti mencoba untuk memisah-misahkan umat Islam. Selain itu dia melihat bahwa wacana itu justru menyerang entitas Arab.  (Baca: Islamisasi Tak Sama Dengan Arabisasi)

Reporter: Imam Suroso
Editor: Hunef Ibrahim/kiblatnet

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.403 kali, 1 untuk hari ini)