Muktamar Syiah ABI, Kemarin Dukung Ahok dengan Memojokkan Umat Islam, Kini Mengaku Syiah Tak Bisa Dipisahkan dari Umat Islam

 

Cara Syiah ABI (Ahlulbait Indonesia) memojokkan Umat Islam dapat dilihat dari bicaranya. Contohnya, waktu acara muktamar ABI ke-2 di kantor Kemenag di Jakarta, Sekjen ABI Ahmad Hidayat berkata ke wartawan:

“Jadi tidak masalah jika Ahok yang non-Muslim menjadi pemimpin Jakarta, dengan catatan selama dia bersikap adil. Karena bagi kita daripada Haji, Muslim tapi koruptor dan tidak adil maka lebih baik orang yang mempercayai agama lain tapi berlaku adil, menegakkan keadilan, memenuhi hak-hak rakyat, melaksanakan amanat konstitusi yang menjadi pemimpin,” jelas Ahmad kepada wartawan usai pembukaan Muktamar ke-2 Ahlulbait Indonesia (ABI) di gedung Kementerian Agama (Kemenag), Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, Jumat (14/11 2014) sore, dikutip dari Islampos.

Walau telah menyakiti Umat Islam dengan melontarkan kata-kata ‘daripada Haji, Muslim tapi koruptor dan tidak adil…’ demi mendukung Ahok yang bukan Islam, namun kini dalam muktmar ke-3, Syiah ABI mengklaim dirinya tak bisa dipisahkan dari umat Islam, dan bukan kaum minoritas.

Lhah, perkataan daripada Haji, Muslim tapi koruptor dan tidak adil…’ bukankah perkataan itu sudah menunjukkan diri syiah ABI bukan bagian dari Muslim yang sengaja dia katakan untuk dipojokkan itu? Memangnya setiap Haji, Muslim kelakuannya tidak adil, bahkan koruptor?

Jadi perkataan petinggi Syiah ABI itu hanya pantas keluar dari orang yang memang di luar haji, Muslim.

Inilah beritanya, dimulai dari yang Muktamar ke-3. Di bagian bawah, berita dari Muktamar ke-2 yang menyakiti umat Islam.

 

***

 

Ahlulbait Indonesia Tegaskan Muslim Syiah di Indonesia Bukan Kaum Minoritas


pidato sambutan seminar nasional ABI bertajuk “Peran Ormas Islam dalam Membangun Strategi Kebudayaan Nasional” di Hotel Arcadia, Mangga Dua, Jakarta, Jumat (29/11/2019). [Suara.com/Ummi Hadyah Saleh]

Ada pihak yang mengklaim muslim Syiah di Indonesia mencapai 5 juta orang. Ada pula yang mengklaim 1 juta maupun 2 juta jiwa.

Suara.com – Ahlulbait Indonesia atau ABI menegaskan, umat Islam bermazhab Syiah di Indonesia tidak bisa dikategorikan sebagai kaum minoritas.

Ketua Umum Dewan Syuro ABI Umar Shahab mengatakan, muslim Syiah di Indonesia tak bisa dipisahkan dari umat Islam secara umum di Tanah Air yang beraliran Sunni.

“Karena kami merasa syiah adalah bagian integral umat Islam yang tak terpisahkan. Karenanya, kami merasa syiah di Indonesia ini bukanlah, dalam tanda kutip, masuk kategori kaum minoritas,” kata Umar.

Hal tersebut ditegaskan Umar dalam pidato sambutan seminar nasional ABI bertajuk “Peran Ormas Islam dalam Membangun Strategi Kebudayaan Nasional” di Hotel Arcadia, Mangga Dua, Jakarta, Jumat (29/11/2019). Seminar itu adalah rangkaian acara Muktamar ke-3 ABI.

Sebagai konsekuensinya, kata Umar, tidak ada keharusan bagi para pecinta ahlul bait Nabi Muhammad SAW di Indonesia untuk menegaskan diri sebagai syiah.

“Untuk menjadi atau untuk menegaskan diri sebagai pengikut syiah itu memang tidak ada keharusan. Tidak harus menyatakan sebagai syiah atau sebagainya,” kata dia.

Ia mengakui, tak ada penghitungan yang komprehensif untuk menentukan jumlah muslim Syiah di Indonesia.

Reza Gunadha | Ummi Hadyah Saleh

https://www.suara.com/
Jum’at, 29 November 2019 | 19:48 WIB

 

***


Ormas Syiah ABI Nyatakan tak Masalah Ahok yang Non-Muslim Memimpin Jakarta

Terakhir Diperbaru 16 Nov 2014 01:44

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Ormas Syiah Ahlulbait Indonesia (ABI) lewat sekjennya Ahmad Hidayat memberikan dukungan terhadap Basuki Tjahja Purnama alias Ahok untuk menjadi gubernur DKI Jakarta. Baginya setiap warga negara Indonesia berhak untuk menjadi apa saja di negeri ini termasuk gubernur bahkan presiden sekalipun.

“Ini adalah negeri yang berasaskan Pancasila sebagai dasar konstitusinya. Negeri ini mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak untuk menjadi apa saja termasuk gubernur, termasuk presiden,” ujar Ahmad kepada wartawan usai pembukaan Muktamar ke-2 Ahlulbait Indonesia (ABI) di gedung Kementerian Agama (Kemenag), Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, Jumat (14/11) sore, dikutip dari Islampos.

Menurut Ahmad Hidayat, selagi pemimpin itu adil, melaksanakan amanat rakyat, benar dalam bertindak, maka dia berhak menjadi pemimpin meskipun non-Muslim.

“Jadi tidak masalah jika Ahok yang non-Muslim menjadi pemimpin Jakarta, dengan catatan selama dia bersikap adil. Karena bagi kita daripada Haji, Muslim tapi koruptor dan tidak adil maka lebih baik orang yang mempercayai agama lain tapi berlaku adil, menegakkan keadilan, memenuhi hak-hak rakyat, melaksanakan amanat konstitusi yang menjadi pemimpin,” jelas Ahmad. (fq/Islampos)

salam-online

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.412 kali, 1 untuk hari ini)