JAKARTA – Forum Ilmiah Internasional yang ke-5 (Al Multaqa al Duwaly al ‘Ilmy  al Khamis) kembali diselenggarakan di Grand Hotel Jakarta.  Forum internasional ini diagendakan berlangsung selama empat hari yaitu Selasa-Jumat, 3 sd 6 Juli 2018.

Acara ini diselenggarakan oleh Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara diketuai Al Ustaz Dr. Muhammad Zaitun Rasmin bekerja sama dengan Yayasan al Manarah Al Islamiyah diketuai oleh Syekh Khalid Al Hamudy,  dan didukung oleh Pemprov. DKI Jakarta.

“Acara ini sebagai wujud dari komitmen terhadap terciptanya kesatuan dan persatuan umat dalam ikatan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta panduan para ulamanya dari generasi-ke generasi,” kata Dr. Jeje Zaenudin, selaku Sekretaris Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara, Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Acara forum pertemuan tahunan para ulama, cendekiawan dan aktivis dakwah ini dibuka oleh Wakil Presiden, Muhammad Jusuf Kalla dan sambutan dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

“Dengan menyajikan beberapa saran yang disampaikan dan dibahas oleh para tokoh ulama dan cendekiawan dari luar dan dalam negeri,”ungkap Jeje.

Tema dari perhelatan Multaqa kelima ini adalah “Wa’tashimu…” (berpegang teguhlah kalian semua…)” yang mencerminkan tujuan utama dari forum ini adalah merumuskan langkah-langkah konkrit dalam mewujudkan kesatuan-persatuan para ulama dan dai dalam berdakwah, menjauhi perselisihan dan perpecahan umat.

“Serta mengembangkan cara-cara dialog yang saling menghormati dalam menghadapi berbagai isu kontroversi di tengah masyarakat,”tuturnya.

Forum akbar tahunan ini, lanjut Jeje, konsisten dengan pengambangan wacana dakwah yang murni tanpa ditunggangi kepentingan-kepentingan politik pragmatis. Oleh karena itu, dari perhelatan akbar ini diharapkan melahirkan kesadaran bersama tentang besarnya tanggung para ulama dan dai dalam mengembangkan dakwah Islam yang penuh hikmah dengan berorentasi kepada terwujudnya peradaban Islami yang memberi kontribusi nyata bagi keharmonisan, kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, keamanan dan kedamaian.

“Serta keselamatan dan kebahagiaan umat manusia di dunia dan akhirat sebagaimana yang digariskan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW,” jelasnya.

Acara forum internasional ini sendiri telah menjadi agenda tahunan dari program kerja Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara sejak didirikannya pada tahun 2014.

Pada Multaqa pertama diselenggarakan di Depok Tahun 2014 sebagai tahun pembentukan Rabithah. Multaqa kedua tahun 2015 diselenggarakan di Lembang-Bandung dengan tema “Waman Ahsanu Qaulan..” Multaqa ketiga diselenggarakan di Sentul-Bogor dengan tema Ummatan Wasatha.

Multaqa ke empat tahun 2017 diselenggarakan di Kota padang dengan Tema “Wihdatul Ummat”, tandasnya.

Para peserta yang hadir lebih dari 500 orang, didominasi oleh para undangan dalam negeri yang terdiri dari para ulama, cendekiawan, dai, dan para utusan pimpinan ormas Islam seperti MUI, Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, PERSIS, Wahdah Islamiyah, Dewan Dakwah Islamiyah, FPI,  Al Irsyad, Syarikat Islam, An Najat al Islamiyah, PUI,  Al Washliyah,  Hidayatullah,  GP Anshar DKI, dan ormas-ormas lainnya.

Demikian juga lebih dari seratus ulama dan dai datang sebagai undangan dari negara-negara Asia Tenggara dan beberapa ulama dan tokoh utusan dari negara-negara Afrika dan Eropa serta belasan duta besar negara-negara Islam untuk Indonesia. (bil/voa-islam)

voa-islam.com Selasa, 23 Syawwal 1439 H / 3 Juli 2018 10:00 wib

***

Ulama Serukan Umat Bela Tiga Kota Suci

JAKARTA – Ulama-ulama internasional berkumpul di Jakarta membahas tiga kota suci, yakni Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis yang kini tengah terancam. KH Muhammad Zaitun Rasmin, Ketua Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara menyerukan kepada umat Islam sedunia untuk melakukan pembelaan terhadap ketiga kota suci tersebut.

Seperti diketahui, Baitul Maqdis saat ini dikuasai oleh Zionis Yahudi. Serta Makkah dan Madinah terancam dengan upaya mencabut pengelolaannya dari pelayannya yang sah.

“Perjuangan membebaskan Baitul Maqdis dari cengkraman Zionis Yahudi sama pentingnya dengan menjaga dan melindungi Haramain dari usaha mengacaukan dan mencabutnya dari pelayannya yang sah,” ujar Zaitun saat membacakan pernyataan sikap usai seminar internasional Pembelaan terhadap Tanah Suci Umat Islam”, di Grand Hotel Cempaka, Jakarta Pusat, Jumat (6/7/2018).

Dikatakan Zaitun, semua kota suci harus berada dalam penguasaan, pemeliharaan, dan penjagaan umat Islam sendiri. “Karena hakikat kota suci itulah adalah keberadaan ‘Rumah Allah’, yaitu masjid-masjid suci, dan Allah hanya mengizinkan penjaga dan pemakmur masjid-masjid Allah itu adalah rang-orang yang beriman, bukan orang-orang yang kafir dan menyekutukan-Nya,” ungkap Zaitun.

 Zaitun melanjutkan, patut disyukuri sampai saat ini dua kota suci Makkah dan Madinah masih terpelihara dan terjaga penuh oleh kaum muslimin di bawah kepemimpinan Raja Saudi Arabia sebagai pelayan dua kota suci.

Kemudian, Wakil Sekjen MUI Pusat ini menjelaskan upaya pencabutan pengelolaan Makkah dan Madinah dari Arab Saudi dinilai sangat berbahaya. Usaha-usaha untuk mengacaukan kedamaian dan stabilitas dua kota suci Mekah dan Madinah mulai didengungkan lagi, di antaranya dengan isu dan wacana internasionalisasi dua kota suci itu yang dipelopori oleh negara tertentu.

“Isu dan gagasan seperti itu tentu sangat berbahaya bagi negara pelayan dua kota suci khususnya, stabilitas kawasan, dan bagi umat Islam di seluruh dunia pada umumnya. Oleh sebab itulah kewajiban kaum muslimin di dunia untuk menolak gagasan tersebut dan bersatu padu untuk membela kesucian dan keselamatannya,” jelas Zaitun.

Namun demikian, kaum muslimin tidak boleh lupa dengan kondisi kota suci yang ketiga, yaitu Baitul Maqdis yang sudah lebih dari tujuh puluh tahun dalam cengkeraman penjajahan Zionis Israel hingga saat ini. “Sesungguhnya keberadaan tanah suci bagi agama apapun tidak bisa dipisahkan dari aqidah dan ibadah umatnya. Demikianlah keberadaan kota Mekah, Madinah, dan Baitul Maqdis tidak bisa dipisahkan dari Aqidah dan Ibadah kaum muslimin,” ujar Zaitun.

Sementara itu, di tempat dan waktu yang sama, Ketua Aliansi Indonesia untuk Pembebasan Baitul Maqdis, Ustaz Bachtiar Nasir mengatakan ada sejumlah langkah yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan Baitul Maqdis. Untuk membebaskan Baitul Maqdis perlu langkah-langkah strategis.

“Perlu persatuan umat serta edukasi atau kampanye kepada umat. Indonesia harus memanfaatkan sebagai anggota Dewan Keamanan PBB tidak tetap untuk membebaskan Baitul Maqdis,” kata Ustaz Bachtiar.

Sekitar seratus ulama dunia mengikuti seminar internasional “Pembelaan terhadap Tanah Suci Umat Islam”. Acara ini merupakan rangkaian Pertemuan Ilmiah Internasional ke-5 yang digelar sejak Selasa, 3 Juli lalu. Hadir sebagai narasumber pada seminar ini Syekh Dr Murawih Nassar dan Syekh Dr Isa Al-Masmali.

Saat konferensi pers, selain dua narasumber utama, Zaitun Rasmin juga didampingi oleh Sekjen MIUMI sekaligus Ketua Umum Spirit of Aqsa Ustaz Bachtiar Nasir, Mudir Aam JATMAN KH Wahfiudin, dan beberapa ulama dari negara lain.* [Syaf/voa-islam.com]

***

Ini 10 Rekomendasi Multaqo Dai dan Ulama V di Jakarta

Hari ini (Jumat 06/07) Multaqo (pertemuan) Ulama dan Dai V resmi ditutup. Acara ini digelar sejak Selasa (03/06) di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat. Lebih dari 600 dai dan ulama dari Indonesia dan berbagai negara Asia Tenggara, Afrika dan Eropa.

Dalam penutupan tersebut, Sekjen Persatuan Dai dan Ulama se-Asia Tenggara, Ust. Jeje Zainuddin membacakan 10 rekomendasi dari Multaqo tersebut.

Sepuluh Multaqo Ulama dan Dai V rekomendasi itu adalah:

1. Menekankan pentingnya rahmat dalam Islam dan hidup berdampingan secara damai dan harmoni antara Muslim dan non-muslim dan bahwa cinta terhadap kebaikan antar sesama merupakan hal yang baik, maka seharusnya tidak menginginkan keburukan untuk dirinya sendiri dan orang lain

2. Untuk mencapai persatuan dan kesatuan di antara umat. Perlu berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang komprehensif dan terintegrasi yang sejalan dengan kaidah-kaidah ilmiah dan praktis yang telah disusun oleh para ulama otoritatif dari masa ke masa.

3. Pentingnya membangun kemitraan kerja sama antara lembaga-lembaga dakwah dengan berbagai lembaga-lembaga ilmiah dan pendidikan baik pemerintah atau swasta, dalam rangka mencapai perdamaian, stabilitas, kemajuan, pembangunan dan kemakmuran dalam naungan ridha Allah SWT.

4. Meningkatkan peran strategis lembaga-lembaga dakwah dan kontribusinya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Muslim di berbagai bidang dan disiplin ilmu dalam rangka mewujudkan misi “khairu ummah” dan “ummatan wasatha”.

5. Memperkuat posisi keluarga sebagai institusi terkecil dan pondasi dasar bangsa dan negara, melalui pendidikan dan pengembangan karakter yang mulia yagn sejalan dengan ajaran Islam yang hanif.

6. Mendorong para ulama dan da’i untuk melakukan revolusi penyampaian dakwah yang cepat dengan memanfaatkan teknologi informasi (IT) dan media sosial sebagai media untuk menyampaikan dakwah Islam yang berorientasi kepada budaya literasi.

7. Mengingat Indonesia adalah negara Muslim terbesar dalam hal jumlah penduduk, ia harus memainkan peran utama dalam menciptakan perdamaian dunia melalui dakwah dan pendidikan yang didukung oleh kebijakan pemerintah yang benar

8. Karena Jakarta sebagai Ibu Kota Negara memiliki berbagai keragaman agama, etnis, sosial, budaya dan lain-lain, maka setiap orang yang bekerja di bidang dakwah Islam harus mengambil metode dan strategi yang dapat membina dan mempertahankan kohesi sosial.

9. Memperkuat kedudukan kota Jakarta sebagai pusat Peradaban berbasis Dakwah dan Pendidikan Islam di konteks nasional dan internasional.

10. Membentuk panitia khusus untuk merealisasikan seluruh keputusan forum multaqa ini dengan melibatkan semua unsur-unsur terkait.

Reporter: Hafiz Syarif
Editor: Imam S./ .kiblat.net

(nahimunkar.org)

(Dibaca 237 kali, 1 untuk hari ini)