Munarman Ditangkap, Fahri Hamzah Ingatkan Rezim Orba Runtuh karena Lampaui Batas


Mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI), Munarman ditangkap Tim detasemen khusus (Densus) anti teror di kediamannya di Perumahan Modern Hills, Cinangka, Pamulang, Tangerang Selatan, Selasa (27/4/2021).

 

Pengacara utama Habib Rizieq ini ditangkap atas dugaan terlibat terorisme dalam kasus kegiatan baiat/pengambilan sumpah setia ISIS di Makassar beberapa tahun yang lalu (2015).

 

Dia diduga menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme, bermufakat jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme dan menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme.

 

Merespon itu, politikus Partai Gelora, Fahri Hamzah menyarankan agar negara tidak memandang semua orang yang bertentangan sebagai musuh negara. Sebab bisa saja negara akan kewalahan jika rakyat melawan.

 

“Janganlah semua orang dianggap musuh negara dan pemerintah…sebab nanti kewalahan kalau tiba-tiba semua orang ingin menjadi musuh negara dan pemerintah,” kata Fahri Hamzah di Twitter-nya, Selasa (27/4/2021).

 

Mantan Wakil Ketua DPR RI ini mengingatkan, Indonesia punya sejarah bahwa rezim orde baru yang lampaui batas. Namun rontok di tangan rakyatnya.

 

“Untuk diingat bahwa di negara kita ini ada tradisi melawan negara yang melampaui batas. Rezim orba yang kuat pun dilawan,” katanya.

 

Diketahui, Munarman kini ditahan rutan narkoba Polda Metro Jaya. Densus juga menggeledah bekas kantor sekretariat DPP FPI di Petamburan Jakarta Barat.

 

Pengacara Azis Yanuar mengatakan sedikitnya 20 advokat akan mendampingi Munarman terkait kasus yang membelitnya. (fin). 

Janganlah semua orang dianggap musuh negara dan pemerintah…sebab nanti kewalahan kalau tiba-tiba semua orang ingin menjadi musuh negara dan pemerintah. Untuk diingat bahwa di negara kita ini ada tradisi melawan negara yg melampaui batas. Rezim ORBA yg kuat pun dilawan.

— #FahriHamzah2021 (@Fahrihamzah) April 27, 2021

[PORTAL-ISLAM.ID] Rabu, 28 April 2021 BERITA NASIONAL, Fahri Hamzah

***

Ngono Yo Ngono Neng Ojo Ngono

Penulis

 MAN 2 BANYUWANGI

 –


Sering sekali mendengar nasihat, “ngono yo ngono, neng ojo ngono” (begitu ya begitu, tapi jangan sebegitunya, red NM) dari kakek dan nenek kita. Falsafah hidup orang Jawa zaman dulu memang sangat mantab. Bentuk sindiran dalam bahasa Jawa itu memiliki makna yang sangat dalam. Sindiran yang merupakan nasihat itu sering aku dengarkan saat tingkahku mulai di luar batas. Ya namanya anak yang hidup di lingkungan kampung, dengan wahana permainan yang sangat alami, mulai dari manjat pohon, berenang di sungai, lari-lari di persawahan mengejar layangan putus, delikan atau jumpritan, sampai iseng-iseng mancing tapi kolamnya orang. Bocah ndablek kalau masyarakat menyebutnya. Maka jika polahe sudah keblabasen, maka kata-kata sindiran itu keluar. Seperti ada mantra magisnya. Tatkala mendengar sindiran syahdu itu dilontarkan, sekejap itu pula langsung memberhentikan polah-polah tak jelasku.

https://www.man2banyuwangi.sch.id/ 12 Maret 2021

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 718 kali, 1 untuk hari ini)