KOSA-KATA Eyang akhir-akhir ini menjadi begitu populer. Dalam bahasa Jawa, Eyang bisa berarti Nenek (Eyang Putri) dan berarti Kakek (Eyang Kakung). Namun, kosa-kata Eyang yang kini mencuat, sangat bernuansa kemusyrikan, sangat berkonotasi negatif.

Eyang Subur

 SuburArtis Adi Bing Slamet, membuat mata publik terbelalak, ketika ia dengan keberanian total mengungkap sesosok makhluk praktisi kesesatan bernama Eyang Subur, lelaki asal Jombang, Jawa Timur, yang kini menjadi guru spiritual sejumlah selebritis.

 Mata publik terbelalak bukan hanya karena ajaran sesat yang diajarkan Eyang Subur, sebagaimana dituturkan Adi Bing Slamet di berbagai media, namun juga karena terkuak sebuah fakta bahwa kalangan artis memanfaatkan ‘jasa’ dukun untuk menggapai dan mempertahankan popularitasnya.

 Menurut Adi, Eyang Subur melarang muridnya mengerjakan shalat, membayar zakat, bersedekah, menjalankan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji, serta berinfaq. Selain mempraktikkan poligami yang tidak sesuai ajaran Islam yaitu mempunyai delapan istri, Eyang Subur diduga suka melakukan pelecehan seksual dan gemar minum, tentu yang dimaksud adalah minum khamar.

 Isteri kedelapan Eyang Subur adalah sosok wanita yang saat dinikahi masih menjadi istri Septian Dwi Cahyo, artis pantomim yang pernah terlibat dalam produksi acara komedi di TV swasta. Sebelum merebut istri Septian, Eyang Subur ‘memanjakan’ Septian dengan memberikan sejumlah hadiah seperti mobil dan sebagainya.

 Bersikap royal seperti itu juga dibuktikan oleh Tarzan alias Toto Muryadi, seniman Srimulat yang mengenal Eyang Subur sejak 1984, saat Subur masih menjadi tukang jahit. Setelah lama tak bertemu, Tarzan kembali bertemu Eyang Subur saat yang bersangkutan sudah menjadi dukun.

 Menurut pengakuan Tarzan, ia pernah diberi satu unit TV ukuran besar dan seratus gram emas. Bahkan, setiap bertandang ke kediaman Eyang Subur, Tarzan justru disangoni uang sebesar satu hingga dua juta rupiah. Tarzan belum seberapa. Sejumlah artis lain malah ada yang dihadiahi mobil oleh Eyang Subur.

 Sikap royal Eyang Subur sepertinya menjadi semacam tameng atas kesesatan dan kebejatan yang dilakoninya selama ini. Namun tidak semua orang bisa terus terpedaya dengan cara-cara batil yang dilakoninya. Salah satunya Adi Bing Slamet. Keberanian Adi membangkitkan keberanian para korban lainnya membuka kesesatan dan kebejatan Eyang Subur.

 Dalam rangka memperbaiki citranya yang sudah sedemikian negatif, Eyang Subur memberanikan diri tampil di hadapan publik, dan diliput secara luas. Ia menggelar perayaan Maulid Nabi di rumahnya di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat pada Ahad 31 Maret 2013. Bersamaan dengan itu, Eyang Subur membagi-bagikan uang sebesar Rp 50.000 kepada anak-anak yatim yang hadir pada perayaan maulid tadi.

 Begitulah cara praktisi kesesatan di dalam memperbaiki citranya, yaitu dengan menggelar acara bernuansa bid’ah. Yaitu, sebuah acara perayaan maulid nabi, dan itu digelar di bulan Jumadil Awwal, sekitar dua bulan setelah bulan Maulud atau bulan Rabiul Awwal, di saat kesesatannya sedang dibicarakan khalayak ramai atas pengakuan para korban yakni Adi Bing Slamet dan lain-lainnya.

 Pada perayaan bid’ah itu, Eyang Subur ditemani sejumlah orang yang mengesankan sebagai ulama, diantaranya Habib Soleh al Muchdar. Namun menurut Adi Bing Slamet, selama 17 tahun ia mengenal Eyang Subur, baru kali ini didapatinya Eyang Subur merayakan Maulid Nabi dan membagi-bagi uang kepada sejumlah anak Yatim.

 ***

 Eyang Gentar.

 Dari Sukabumi Jawa Barat, konon pernah hidup sesosok yang tak jelas sejarahnya namun dimasyhurkan dengan nama Eyang Gentar. Menurut penuturan para pengikutnya yang jahil, Eyang Gentar adalah Wali yang sakti. Untuk mengelabui umat, para pengikutnya mengklaim bahwa Eyang Gentar ini merupakan wali penyebar Islam di wilayah Selatan Sukabumi, tepatnya di kaki Gunung Halimun, yang merupakan basis pelarian sisa-sisa laskar Pajajaran.

 Oleh para pengikutnya, Eyang Gentar dikisahkan sebagai manusia takwa, keturunan wali Cirebon dan ulama besar di Garut, Jawa Barat, yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah pondok pesantren di kawasan Garut. Salah satu kesaktian Eyang Gentar adalah, dengan sekali hentakan kakinya, setiap lawannya pasti oleng, karena mereka merasa tanah yang dipijaknya bergetar serasa dilanda gempa dahsyat.

 Ujung-ujungnya, cerita tentang sosok fiktif bernama Eyang Gentar yang sakti tadi, merupakan ramuan yang beracun, namun mampu mendorong sejumlah umat yang jahil untuk mendatangi sebuah kuburan yang diklaim sebagai makam Eyang Gentar, waliullah yang sakti, penyebar agama Islam di Selatan Sukabumi. Padahal bohong belaka.

***

 Eyang Agung Tjokro Koesoemo

 Dari Jawa Timur, pernah terdengar ada sosok bernama Eyang Agung Tjokro Koesoemo. Sosok yang tidak bisa dikonfirmasi keberadaannya ini, konon punya kesaktian yang bisa menebarkan karomah kepada peziarah yang mendatangi kuburannya.

 Kuburan Eyang Agung Tjokro Koesoemo berada di Dusun Mojo Desa Wajak Kidul Kecamatan Boyolangu Tulungagung, Jawa Timur. Setiap hari kuburan Eyang Agung Tjokro Koesoemo banyak didatangi sejumlah peziarah. Para peziarah yang datang dari berbagai daerah di tanah air ini, meyakini bahwa dengan menziarahi makam Eyang Agung tadi, mereka bisa menjadi kaya dan mendapatkan kedudukan di Pemerintahan, serta bisa memperoleh kesembuhan dari penyakit yang sedang dideritanya.

 Kuburan tua yang ditemukan pada tahun 1501 ini, konon pernah hendak dihancurkan oleh warga sekitar, namun tidak seorang warga pun yang berhasil mendekati kuburan tersebut, apalagi menghancurkannya. Walhasil, kuburan tua yang diklaim sebagai makam Eyang Agung ini, keberadaannya tetap terjaga, bahkan akhirnya dipugar dan diperbaiki dengan biaya pemerintah daerah setempat, dengan alasan melestarikan situs bersejarah. Padahal di situlah tersebar bahaya kemusyrikan, dosa terbesar, karena mempercayai/ meyakini bahwa dengan menziarahi makam Eyang Agung tadi, mereka bisa menjadi kaya dan sebagainya. Padahal, hanya Allah lah yang Maha Kuasa untuk menjadikan kaya dan sebagainya dalam hal nasib manusia ini.

{وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ } [يونس: 107]

107. jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Yunus/ 10: 107)

 ***

Berantas para penyesat dan jangan percaya kepada para pendukungnya

 Kalau terhadap sosok fiktif Eyang Gentar dan Eyang Agung Tjokro Koesoemo saja sebagian umat yang jahil bisa begitu mudah percaya terhadap keberadaan dan kesaktiannya, apalagi bila sosok pelaku kesesatan tadi benar-benar ada seperti Eyang Subur. Disamping nyata, sosok praktisi kesesatan Eyang Subur ini juga menunjukkan sikap royal kepada sebagian muridnya. Tentu dengan maksud-maksud yang menguntungkan dirinya sendiri. Artinya, ia bersikap royal kepada sosok tertentu yang diyakini bisa menjaring sejumlah korban, dan dari sejumlah korban itulah ia bisa meraup keuntungan yang lebih besar lagi.

 Eyang Subur hanyalah salah satu saja dari praktisi kesesatan yang berhasil dimunculkan oleh para korbannya. Sesungguhnya, masih banyak eyang-eyang lain yang perlu diberantas karena selain merusak akidah umat, melakukan pelecehan seksual juga memiskinkan umat.

Praktisi kesesatan seperti ini selain cenderung dengan sebutan Eyang juga cenderung dengan sebutan padepokan bagi tempat praktiknya, yang adakalanya berfungsi sebagai tempat tinggalnya. Hati-hatilah terhadap hal ini.

 Hati-hati pula lah terhadap siapa saja, walau pakai sorban dan pakai atribut keagamaan bahkan semacam keulamaan, namun bila mereka mendukung kesesatan, bid’ah, apalagi kemusyrikan; maka jauhilah mereka dan jangan dipercaya.

Hati-hatilah terhadap siapa saja walau duduk di lembaga agama bahkan keulamaan, bila mereka mendukung keharaman (seperti music yang jelas haram pun mereka dukung asal pelakunya berjilab. Astaghfirullah!, berani banget manusia sekarang dalam mempermainkan agama. Bahkan ada pelopor yang mengadakan wisuda penghafal Al-Qur’an namun di dalam paradenya ada pertunjukan kemuysrikan barongsai, bahkan dia masih berkata dengan nada menyayangkan karena grup music yang penggemarnya jutaan orang berhalangan hadir. Astaghfirullah! Benar-benar mencampur yang haq dengan yang batil. Lihat judul Astaghfirullah! Menyebarkan kemusyrikan barongsai berkedok wisuda penghafal Qur’an?, https://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-menyebarkan-kemusyrikan-barongsai-berkedok-wisuda-penghafal-quran/ ).

Hati-hatilah terhadap mereka yang mendukung bid’ah, kesesatan, kemaksiatan, perdukunan, aneka kebatilan bahkan kemusyrikan; maka jauhilah mereka, dan jangan dipercaya. Karena bila kita mempercayai pendukung dukun, maka pada dasarnya sama dengan mempercayai dukun pula. Sedangkan mempercayai dukun itu menurut hadits dinyatakan ingkar (kafir) terhadap apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ». (رواه أحمد والترمذي وأبو داود وابن ماجة). مشكاة المصابيح – (ج 1 / ص 120) 551 – [ 7 ] ( صحيح )

Hadits dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Orang yang mendatangi (menyetubuhi) wanita yang sedang haidh, atau menjima’ istrinya di duburnya, atau mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya maka sesungguhnya orang tersebut telah ingkar (kafir) terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad saw”. (HR. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Misykatul mashabih nomor 551). 

Pertanyaan yang diajukan, mungkin adalah: Kalau begitu, harus percaya kepada siapa?

Percayalah kepada wahyu Alah Ta’ala yaitu Al-Qur’an dan as-Sunnah shahihah, maka dijamin tidak sesat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي

“Sesungguhnya aku telah tinggalkan untuk kalian dua pedoman yang kalian tidak akan tersesat setelahnya: kitabullah dan sunnahku” (HR.Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/172), dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu. Disahihkan Al-Albani dalam Shaih Al-jami’: 2937)

(haji/tede/nahimunkar.com)

(Dibaca 22.733 kali, 1 untuk hari ini)