Ziarah Makam Gus DurSejumlah pelajar berdoa di makam mantan presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di komplek Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (14/4 2012). Beberapa hari terakhir makam Gus Dur ramai dikunjungi pelajar. (FOTO ANTARA/HO/Syaiful Arif)

Para ulama madzhab Syafi’i sangat tegas dalam memperingatkan Ummat Islam tentang bahaya berdoa di kuburan untuk hajat dan kepentingan dirinya dengan tujuan mendapat berkah dengannya serta mengharapkan terkabulnya doa. Bahkan diperingatkan bahwa itu adalah  inti penentangan terhadap Allâh dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam. Menyimpang dari agama dan syariatnya.

Anehnya, para murid di berbagai tempat, ketika mau ujian justru mereka digiring ke kubur-kubur untuk berdoa agar lulus ujian. Itu jelas pembodohan dan penyesatan yang nyata. Padahal para ulama madzhab Syafi’I sangat jelas dan tegas melarangnya. Di antaranya Imam as-Suyuthi (911 H) menegaskan:

فهذه المفسدة هي التي حسم النبي مادتها حتى نهى عن الصلاة في المقبرة مطلقاً وإن لم يقصد المصلى بركة البقعة ولا ذلك المكان سداً للذريعة إلى تلك المفسدة التي من أجلها عبدت الأوثان.

“Kerusakan (kemusyrikan) inilah yang Nabi saw. telah menumpas bahan-bahannya hingga beliau melarang shalat di  kubur secara mutlak, walaupun orang yang shalat tidak bermaksud mencari berkah dari kubur atau dari tempat kubur itu demi menutup sarana yang menuju kepada kerusakan tersebut yang karena itu berhala-berhala disembah. 

Selanjutnya Imam as-Suyuthi menegaskan:

فأما إن قصد الإنسان الصلاة عندها، أو الدعاء لنفسه في مهماته وحوائجه متبركاً بها راجياً للإجابة عندها، فهذا عين المحادّة لله ولرسوله، والمخالفة لدينه وشرعه، وابتداع دين لم يأذن به الله ولا رسوله ولا أئمة المسلمين المتبعين آثاره وسننه. ) الكتاب : الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع

المؤلف : جلال الدين عبد الرحمن السيوطي(

 “Jika seorang insan menyengaja shalat di kuburan atau berdoa untuk dirinya sendiri dalam kepentingan dan urusannya, dengan tujuan mendapat berkah dengannya serta mengharapkan terkabulnya doa di situ; maka ini merupakan inti penentangan terhadap Allâh dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam. Menyimpang dari agama dan syariatnya. Juga dianggap bid’ah dalam agama yang tidak dizinkan Allâh, Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam, maupun para imam kaum muslimin yang setia mengikuti ajaran dan sunnah beliau.” (Al-Amr bi al-Ittibâ’ (hal. 139). Lihat pula: Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm (II/193). Ibn Hajar al-Haitamy (w. 974 H) Cermati: Az-Zawâjir (I/148). al-Munawy Periksa: Faidh al-Qadîr (VI/407).  dan ar-Rumy (w. 1043 H) juga menyampaikan keterangan senada Lihat: Majâlis al-Abrâr (hal. 126, 358-359, 364-365) sebagaimana dalam Juhûd ‘Ulamâ’ al-Hanafiyyah fî Ibthâl ‘Aqâ’id al-Quburiyyah karya Syamsuddin al-Afghany (III/1593-1594). (lihat artikel Shalat dan Berdoa di Kuburan oleh Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga, Rabu, 25 Mei 2011. Artikel www.muslim.or.id 9 Juli 2011).

***

Inilah berita tentang murid-murid berdoa di makam.

Menjelang UN Ramai-Ramai Ke Makam Gus Dur?

Sabtu, 14 Apr 2012

Makam mantan presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dijejali  pelajar. Mereka datang sembari berdoa. Para pelajar yang datang dari berbagai kota itu, ingin memiliki kesiapan mental saat mengerjakan Ujian Nasional (UN).

Peristiwa ini bukan hanya berlangsung di makam Gus Dur, tetapi di tempat-tempat lainnya, banyak dikunjungi para pelajar, yang ingin lulus saat UAN. Termasuk banyak sekolah-sekolah yang menyelenggarakan istighosah, saat menghadapi UN.

Ini menjadi tren di hampir setiap sekolah diberbagai kota di Indonesia, yang melakukann kunjungan ke makam ulama, tokoh, yang dianggap keramat. Mereka bukan hanya berdoa, tetapi mereka mengharapkan doa dari para ulama dan tokoh yang sudah meninggal.

Pengurus Ponpes Tebuireng Jombang, Teuku Azwani, mengatakan, peziarah di makan Gus Dur didominasi kalangan pelajar sejak sepekan terakhir ini. Mereka datang berombongan ditemani urunya.

Bahkan, sebelumnya, banyak penziarah yang datang ke makam Gus Dur, yang mengambil tanah yang ada di atas makam Gus Dur, yang dianggap dapat memberikan berkah, dan digunakan jimat. Sehingga, hal  ini menjadi kepercayaan sendiri, dikalangan penduduk, yang ada di sekitar Jombang, bahkan sampai kota Kediri dan kota Jawa Timur lainnya.

Sementara itu, menurut Azwani,  “Ini sudah menjadi tren setiap menjelang UN. Seperti tahun-tahun sebelumnya, makam Gus Dur selalu ramai menjelang UN”, kata santri asal Aceh ini, Sabtu (14/4/2012).

Begitu sampai di lokasi makam, para pelajar ini duduk bersimpuh sembari membaca surat Yasin dan Tahlil. Tak jarang mereka meneteskan air mata. Usai berdoa dan memohon, mereka kembali ke sekolah masing-masing secara berombongan ditemani seorang guru.

Ayu Safitri, pelajar dari MAN Jombang menuturkan, kedatangannya ke makam Gus Dur bermunajat dan memohon  doa. Harapannya, ia dan teman-temannya bisa lulus dalam UN yang digelar 16-19 April. “Semoga diberi kemudahan dalam mengerjakan ujian,” kata Safitri usai mengikuti doa bersama di makam Gus Dur Tebuireng.

“Ke makam Gus Dur ini hanya salah satu dari ikhtiar. Selain itu kami juga tetap belajar,” kata pelajar berjilbab ini. Tapi mengapa mereka harus ke makam? Mengapa harus berdoa di makam? Adakah ini ada tuntunannya atau kafiatnya dalam Islam? Menjelang UN ramai-ramai pergi ke makam atau ke kuburan? (af/ilh) voaislam.com, Sabtu, 14 Apr 2012

***

Mencari Berkah dari Kubur Menurut Para Ulama Madzhab Syafi’i

Wahai saudaraku, berikut ini kami sebutkan pandangan para ulama tentang kebiasaan mencari berkah dari kubur.

Imam Syafi’i (204 H)

Dalam kitab Al-Muhadzdzab dan Al-Majmu’ disebutkan seperti di bawah ini,

قال الشافعي رحمه الله وأكره ان يعظم مخلوق حتي يجعل قبره مسجدا مخافة الفتنة عليه وعلى من بعده من الناس.

“Imam Syafi’i berkata, ‘Aku membenci makhluk diagungkan hingga kuburnya dijadikan masjid karena dikhawatirkan timbul fitnah terhadapnya dan orang-orang setelahnya.’”[1]

Makna menjadikan kubur sebagai masjid sudah kami terangkan di atas.

Imam Suyuthi (911 H)

Imam Suyuthi juga tidak ketinggalan dalam memperhatikan masalah besar yang pada zaman sekarang jarang ulama yang memperhatikannya, yaitu masalah quburiyyahyang merupakan pintu besar menuju kemusyrikan bagi orang-orang yang tidak berilmu. Hal ini dapat kita ketahui dari kitab beliau Al-Amr bil-Ittiba’, dalam bab pengagungan tempat-tempat dan kubur-kubur.

Imam Suyuthi berbicara panjang lebar mengenai masalah ini. Beliau menyebutkan bahwa asal mula penyembahan berhala-berhala pada zaman dulu adalah pengagungan terhadap orang-orang saleh dengan cara membangun kubur-kubur mereka atau membuat patung mereka demi mengenang mereka. Latta yang menjadi sesembahan orang-orang Arab jahiliyah sebenarnya adalah orang saleh yang suka menyediakan makanan sawiq (roti gandum) yang dicampur dengan minyak samin untuk diberikan kepada orang-orang yang  haji pada saat itu. Setelah ia meninggal dan dikubur, orang-orang Arab selalu mendatangi kuburnya untuk mengagungkannya dan akhirnya mereka terseret kepada kemusyrikan. Begitu juga sesembahan Wadd, Suwa’, Ya’uq, Yaghuts, dan Nasr semula adalah orang-orang saleh yang hidup pada zaman antara Nabi Adam dan Nabi Nuh. Setelah mereka meninggal, mereka diagungkan dan dikenang dengan cara membuat patung-patung yang serupa dengan mereka. Akhirnya setan menyimpangkan mereka ke arah kemusyrikan.[2]

Oleh karena itulah, Nabi saw. tidak ingin umat beliau meniru jejak-jejak mereka sehingga terjerumus kepada kemusyrikan. Dan itulah wasiat terakhir yang beliau sampaikan kepada para sahabat ketika beliau tengah sakit dan berbaring di atas ranjang.

Kemudian Imam Suyuthi mengatakan,

فهذه المفسدة هي التي حسم النبي مادتها حتى نهى عن الصلاة في المقبرة مطلقاً وإن لم يقصد المصلى بركة البقعة ولا ذلك المكان سداً للذريعة إلى تلك المفسدة التي من أجلها عبدت الأوثان. فأما إن قصد الإنسان الصلاة عندها، أو الدعاء لنفسه في مهماته وحوائجه متبركاً بها راجياً للإجابة عندها، فهذا عين المحادّة لله ولرسوله، والمخالفة لدينه وشرعه، وابتداع دين لم يأذن به الله ولا رسوله ولا أئمة المسلمين المتبعين آثاره وسننه.

“Kerusakan (kemusyrikan) inilah yang Nabi saw. telah menumpas bahan-bahannya hingga beliau melarang shalat di  kubur secara mutlak, walaupun orang yang shalat tidak bermaksud mencari berkah dari kubur atau dari tempat kubur itu demi menutup sarana yang menuju kepada kerusakan tersebut yang karena itu berhala-berhala disembah. Adapun jika seseorang sengaja shalat di kubur atau berdoa untuk dirinya agar kepentingan-kepentingannya dan hajat-hajatnya terkabulkan dengan mencari berkah dari kubur dan mengharap doanya terkabulkan di kubur, maka ini adalah penentangan yang sebenarnya kepada Allah dan Rasul-Nya, menyelisihi agama dan syara’-Nya, dan mengada-adakan agama yang tidak diizinkan Allah, Rasul-Nya, dan para imam kaum muslimin yang mengikuti jejak-jejak dan Sunnah beliau.”[3]

Di sini tampak dengan jelas bahwa Imam Suyuthi menganggap shalat, berdoa dan sejenisnya di kubur adalah perbuatan yang terlarang, walaupun tidak bertujuan mencari berkah. Dan, jika diiringi dengan tujuan mencari berkah, itu sudah termasuk penentangan yang sebenarnya kepada Allah dan Rasulullah saw. Imam Suyuthi di sini mendukung pendapat yang mengatakan bahwa shalat di kubur dengan tujuan mencari berkah dari kubur adalah penentangan yang sebenarnya terhadap Allah dan Rasulullah atau kafir sebagaimana pendapat sebagian ulama madzhab Hanbali yang telah dikutip oleh Ibnu Hajar dalam kitab Az-Zawajir dan beliau tidak mengingkarinya.[4]

Memang di kalangan ulama Syafi’iyah, umumnya masalah shalat di kubur dan sejenisnya dianggap sebagai makruh apabila tidak disertai dengan tabarruk danta’zhim (pengagungan). Dan apabila disertai dengan tabarruk dan ta’zhim, maka perbuatan tersebut dihukumi haram. Sebagian ulama yang lain menganggap bahwa shalat di kubur, termasuk berdoa di sana agar hajat-hajat terkabulkan adalah haram secara mutlak. Dan apabila disertai dengan tabarruk dan ta’zhim, maka termasuk perbuatan kafir atau syirik.

Yang menarik, Imam Suyuti mengkritik sebagian ahli fiqih yang mengatakan bahwa alasan larangan shalat di kubur adalah karena khawatir terkena najis di kubur. Imam Suyuthi mengatakan,

واعلم أن من الفقهاء من اعتقد أن سبب الكراهة في الصلاة في المقبرة ليس إلا كونها مظنة النجاسة، ونجاسة الأرض مانع من الصلاة عليها، سواء كانت مقبرة أو لم تكن. وليس ذلك كل المقصود بالنهي، وإنما المقصود الأكبر بالنهي إنما هو مظنة اتخاذها أوثاناً

“Ketahuilah bahwa sebagian ahli fiqih meyakini bahwa sebab dibencinya shalat di kuburan tidak lain adalah karena kuburan itu tempat yang disangka adanya najis. Padahal kenajisan tanah itu mencegah shalat, baik tanah kuburan atau selain kuburan. Yang disebutkan itu bukanlah satu-satunya tujuan larangan shalat di kubur. Akan tetapi, tujuan yang lebih besar dari larangan adalah kuburan itu merupakan tempat yang dikhawatirkan dijadikan sebagai sesembahan-sesembahan.”[5]

Ibnu Hajar al-Haitami (974 H)

Ibnu Hajar al-Haitami mempunyai kitab yang bernama az-Zawajir ‘an Iqtirafi al-Kaba`ir,yaitu kitab yang membahas dosa-dosa besar. Ia menyebutkan bahwa dosa besar nomor 93 sampai 98 adalah menjadikan kubur sebagai masjid, menyalakan lampu-lampu di atasnya, menjadikannya sebagai sesembahan-sesembahan, thawaf di sekelilingnya, mengusap-usapnya, dan shalat dengan menghadap kepadanya.[6]

Syaikh Ibnu Hajar  kemudian menjelaskan dosa-dosa tersebut dan menyebutkan hadits-hadits, termasuk hadits-hadits yang telah kami sebutkan. Syaikh Ibnu Hajar mengatakan,

ومن ثَمَّ قال أصحابنا : تحرم الصلاة إلى قبور الأنبياء والأولياء تبركًا وإعظامًا , فاشترطوا شيئين : أن يكون قبر معظم , وأن يقصد بالصلاة إليه ومثلها الصلاة عليه التبرك والإعظام.

“Oleh karena itu, kalangan ulama Syafi’iyah mengatakan, ‘Shalat dengan menghadap ke kubur para Nabi dan wali dengan tujuan mencari berkah dan mengagungkan adalah haram.’ Mereka mensyaratkan dua hal: (1) kubur tersebut diagungkan, (2) dan tujuan shalat dengan menghadap kepadanya, sebagaimana shalat di atasnya, adalah untuk mencari berkah dan pengagungan.”[7]

Ibnu Hajar menganggap mencari berkah dengan shalat dan sebagainya termasuk dosa besar, bahkan kufur dengan syaratnya. Namun, kemudian ia menyebutkan pendapat sebagian ulama madzhab Hanbali yang menghukumi perbuatan tersebut dengan kafir dan ia tidak membantahnya. Ia mengatakan,

نعم قال بعض الحنابلة : قصد الصلاة عند القبر متبركًا به عين المحادة لله ورسوله , وإبداع دين لم يأذن به الله للنهي عنها , ثم إجماعًا فإن أعظم المحرمات وأسباب الشرك الصلاة عندها , واتخاذها مساجدًا أو بناؤها عليها.

 “Memang, sebagian ulama madzhab Hanbali mengatakan, ‘Sengaja shalat di kubur dengan maksud mencari berkah dengannya adalah penentangan yang sebenarnya kepada Allah dan Rasul-Nya dan membuat agama baru yang tidak diizinkan Allah.’ Hal ini berdasarkan larangan (Nabi saw.) terhadapnya dan ijma’ para ulama, karena sesungguhnya perbuatan haram yang paling besar dan sebab-sebab syirik adalah shalat di kubur, menjadikannya sebagai masjid atau membangun masjid di atas kubur.”[8]

Kemudian Syaikh Ibnu Hajar menegaskan bahwa masjid-masjid dan kubah-kubah yang dibangun di atas kubur wajib segera dihancurkan. Namun, untuk hal ini harus lebih hati-hati agar tidak terjadi tumpah darah dan kerusakan yang besar.

Imam Ar-Razi (606 H)

Imam ar-Razi dikenal sebagai ulama yang bermadzhab Syafi’i, pakar ilmu kalam, pakar ilmu tafsir, pakar filsafat dan disiplin ilmu-ilmu lainnya. Dalam tafsirnya yang sangat terkenal yaitu tafsir at-Tafsir al-Kabir atau yang lebih dikenal dengan Mafatih al-Ghaib ia menjelaskan bentuk-bentuk kekafiran bangsa Jahiliyah. Salah satunya, tujuan orang-orang jahiliyah dalam menyembah berhala-berhala mereka adalah agar berhala-berhala itu menjadi perantara (wasilah) untuk memintakan kepada Allah, karena mereka merasa tidak layak untuk meminta kepada Allah. Jadi, sebenarnya mereka tidak mengingkari keberadaan Allah, tetapi mereka menyembah dan mengagungkan berhala-berhala itu agar mereka diberi syafaat oleh berhala-berhala yang akan memintakan kepada Allah.

Kemudian Imam ar-Razi menyebutan penafsiran para ulama tentang ucapan kaum Jahiliyah bahwa berhala-berhala yang mereka sembah adalah agar menjadi pemberi syafaat di sisi Allah. Imam ar-Razi mengatakan,

ورابعها: أنهم وضعوا هذه الأصنام والأوثان على صور أنبيائهم وأكابرهم، وزعموا أنهم متى اشتغلوا بعبادة هذه التماثيل فإن أولئك الأكابر تكون شفعاء لهم عند الله تعالى. ونظيره في هذا الزمان: اشتغال كثير من الخلق بتعظيم قبور الأكابر، على اعتقادهم أنهم إذا عظموا قبورهم فإنهم يكونون لهم شفعاء عند الله.

“Penafsiran yang keempat adalah mereka membuat patung-patung dan berhala-berhala ini dengan rupa para Nabi dan orang-orang besar mereka. Mereka menyangka bahwa ketika mereka sibuk menyembah patung-patung ini, maka orang-orang besar (yang telah meninggal) itu akan menjadi pemberi syafaat di sisi Allah. Yang serupa dengan ini pada zaman sekarang adalah sibuknya banyak manusia dengan mengagungkan kubur orang-orang besar dengan keyakinan mereka bahwa ketika mereka mengagungkan kubur-kubur mereka, maka mereka akan menjadi pemberi syafaat (wasilah) di sisi Allah.”[9]

Jelas, kutipan dari Imam ar-Razi ini menganggap sibuk di kubur, makam wali, makam keramat dengan mengagungkan tempat-tempat tersebut adalah sama dengan yang dilakukan kaum Jahiliyah terhadap patung-patung mereka. Dan yang dimaksud mengagungkan adalah shalat di kubur atau shalat menghadap ke kubur, mencari berkah dari kubur, khusyu’ dan menangis-nangis di kubur agar keinginannya tercapai, menyembelih hewan lalu dibawa ke kubur, dan bentuk-bentuk pengagungan lainnya.

Demikianlah fatwa dari para ulama Syafi’iyah, mulai dari Imam  Syafi’i sendiri, Imam Suyuthi, Imam Ibnu Hajar al-Haitami, dan Imam ar-Razi. Kami menyebutkan nama-nama ulama di sini bukan bermaksud membatasi, tetapi hanya sekadar contoh saja.

Seringkali ulama yang mendakwahkan seperti itu akan dicap sebagai Wahabi dan Wahabi itu sesat dan menyesatkan. Namun, kami telah menyebutkan penjelasan para ulama Syafi’iyah dan para ulama ini bukanlah ulama yang sembarangan, mereka adalah ulama-ulama besar dari kalanggan madzhab Syafi’i dan nama mereka dikenal di dunia hingga sekarang. Pertanyaan yang perlu dimunculkan, apakah mereka kelompok Wahabi?

 Dari uraian yang panjang ini, jelas bahwa tradisi ziarah kubur para wali dengan maksud mencari berkah darinya, cepat mendapat jodoh, cepat kaya, harapan-harapannya tercapai, dan mengagung-agungkannya adalah sangat bertentangan dengan wasiat terakhir Nabi saw. dan para ulama yang terpercaya.

Namun, sebelum kami mengakhiri, kami sadar bahwa ada pihak-pihak yang menentang keras wasiat Nabi dan fatwa para ulama di atas. Mereka mengklaim bahwa kelompok merekalah kelompok Ahlussunah wal-Jama’ah. Mereka adakalanya orang yang pintar tetapi mengikuti hawa nafsu dan adakalanya orang bodoh yang tidak tahu duduk permasalahan yang sebenarnya. Dan mereka pun akan mengajukan argumen-argumen untuk paham mereka ini. Adakalanya dalil-dalil yang mereka gunakan benar, tetapi mereka menyimpang dari maksudnya. Dan adakalanya dalil-dalil mereka hadits palsu, dhaif, mungkar, mimpi, khurafat dan takhayul-takhayul yang tidak ada sandaran akal maupun syara’nya. Contoh hadits palsu yang sering mereka gunakan adalah,

إذا أعيتكم الأمور فعليكم بأصحاب القبور.

“Jika kamu bingung dengan urusan-urusan, maka hendaklah kamu mendatangi ahli kubur.”

Ini adalah hadits yang jelas-jelas palsu dan tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits. Hadits ini sengaja dipalsukan oleh kelompok yang serupa dengan penyembah berhala demi paham mereka diterima masyarakat muslim, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibnu Qayyim.

Sebagai penutup, di sini kami mengakhiri tulisan ini dengan pesan Imam Suyuthi yang tertulis dalam kitab Al-Amr bil-Ittiba’. Imam Suyuthi mengatakan,

فاقتد أيها المسلم إن كنت عبد الله بسلفك الصالح، وتحقق التوحيد الخالص؛ فلا تعبد إلا الله، ولا تشرك بربك أحداً، كما أمر الله تعالى بقوله: (فإياي فاعبدون)، وقال تعالى: (فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملاً صالحاً ولا يشرك بعبادة ربه أحداً). فلا تعبد إلا إياه ولا تدْعُ إلا هو، ولا تستعن إلا به، فإنه لا مانع ولا معطي ولا مضارّ ولا نافع إلا هو سبحانه وتعالى، لا إله إلا هو عليه توكلت وإليه أنيب.

“Wahai muslim, jika kamu hamba Allah, maka ikutilah salafu-salehmu dan wujudkan tauhid yang murni. Kamu tidak menyembah kecuali Allah dan tidak mempersekutukan Tuhanmu dengan sesuatu apapun. Hal ini sebagaimana yang diperintahkan Allah,

‘Maka sembahlah Aku saja.’ (al-Ankabut: 56)

Dan firman Allah swt.,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (١١٠)

‘Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.’ (al-Kahfi: 110)

 Maka janganlah kamu menyembah kecuali kepada-Nya, janganlah kamu berdoa kecuali kepada-Nya, dan janganlah kamu meminta tolong kecuali kepada-Nya. Sungguh, tidak ada yang dapat mencegah, memberi, menimbulkan kerugian, dan memberi manfaat kecuali Allah swt., tidak ada tuhan selain Dia, kepada-Nya aku bertawakal dan kembali.”[10]


[1] Al-Majmu’, 5/314, dan Al-Muhadzdzab, 1/139.

[2] Al-Amr bil-Ittiba’, hlm. 12.

[3] Al-Amr bil-Ittiba’, hlm. 12.

[4] Hukum kafir ini tentunya dijatuhkan kepada orang yang telah mengetahui hukumnya sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Adapun yang tidak mengetahuinya, maka dimaafkan, Insya Allah.

[5] Al-Amr bil-Ittiba’, hlm. 12.

[6] Az-Zawajir, 1/385.

[7] Az-Zawajir, 1/386.

[8] Az-Zawajir, 1/386.

[9] Mafatih al-Ghaib, 17/49.

[10] Al-Amr bil-Ittiba’, hlm. 12.

http://abidun.com/mencari-berkah-dari-kubur-menurut-para-ulama-madzhab-syafii/  Sep 24 2011

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.208 kali, 1 untuk hari ini)