(Ambiguistis) – Indonesia memiliki kader penghafal Al Quran yang mendunia. Namanya adalah Musa La Ode Abu Hanafi yang masih berusia 7 tahun. Musa sang penghafal Al Quran adalah Salah satu hafiz termuda Indonesia ini menjadi juara tiga di Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) Internasional di Sharm El-Sheikh Mesir pada 10-14 April 2016.

Atas prestasinya itu, Musa mendapatkan undangan resmi dari Menteri Wakaf Mesir Prof. Dr. Mohamed Mochtar Gomaa memanggil Musa dan Abu Hanafi secara khusus. Pada kesempatan tersebut Menteri Gomaa atas nama Pemerintah Mesir mengundang Musa dan Hanafi pada peringatan malam Lailatul Qadar yang diadakan pada Ramadan mendatang.

Musa penghafal Al Quran dari Indonesia ini telah menjadi pelopor kebaikan yang langsung harum dikancah Internasional. Meskipun masih kecil, ia telah memberikan teladan yang baik bagi bangsa Indonesia. Bahwasanya untuk menjadi figur yang mendunia dan disegani, tidak perlu banyak omong atau banyak mencela dan berkata kotor. Cukup ia buktikan dengan membaca ayat Al Quran dan menghafalkannya. Terlebih lagi sedikit demi sedikit mendalami makna dan mengamalkannya.

Cukup miris dengan kisah DKI Jakarta. Meskipun bukan berita baru, namun masih saja menjadi polemik di kalangan mayoritas. Pemerintah DKI Jakarta, pada 2014 lalu telah melegalkan produksi minuman keras (Miras). Hal ini diungkapkan secara resmi oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Seperti diketahui,‎ Pemprov DKI Jakarta memiliki saham di BUMD DKI Jakarta, PT Delta Djakarta yang meproduksi bir bermerek Angker Bir. Namun, Ahok mengatakan bir produksi BUMD tersebut bukan termasuk miras, dikutip dari Metrotvnews.com (12/12/2014).

“Bir bukan termasuk miras lho. Kita Anker Bir ada saham 20 persen. Makanya, saya katakan ini fakta ada orang butuh, turis juga butuh. Tapi belinya dibatasi. Anak kecil mau beli enggak boleh,” jelas dia.

Sumber: ambiguistis.net/2016/04/Musa

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.503 kali, 1 untuk hari ini)