Status fb Musdah Mulia aktivis JIL yang juga Direktur Megawati Institute yang ditulisnya pada 23 Juli lalu memuat tulisan yang menghebohkan.
Menurut Musdah yang juga pendukung LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) ini, pelajaran agama hanya melahirkan koruptor, makanya perlu dihapus. Apa Musdah tidak berkaca, bahwa koruptor di Indonesia itu paling banyak itu bersarang di partai pimpinan Megawati PDIP?

grafik-korupsi002

grafik-korupsi001

Kenapa bukan PDIP yang ‘dihapus’ saja? Kok malah mau menghapus pelajaran agama?

Demikian tulisa sebuah situs berupa pertanyaan yang menohok Musdah Mulia yang menurunkan tulisan untuk menghapus pendidikan agama.

Pertanyaan menohok terhadap tokoh liberal di PDIP itu untuk membalikkan tulisan di fb Musdah Mulia.

 Inilah beritanya.

***

Minggu, 26 Juli 2015KabarNASIONAL

Pendukung Jokowi Musdah Mulia Inginkan Pelajaran Agama Dihapus Di Sekolah

Musdah mulia0002
Melalui akun facebooknya Musdah Mulia II, timses Jokowi ini menulis:

Copas dari seorang teman:
Mari belajar dari Singapura ttg Agama:
Sekitar 22 tahun lalu Singapura melarang pengajaran agama di Sekolah. Hasilnya, penduduk negeri itu dikenal paling tertib, disiplin, dan toleran padahal mrk terdiri dari beragam etnik, bahasa dan agama.

PM Singapura, Lee Hsien Loong tetap menegaskan, pemerintahnya tdk akan mengijinkan pengajaran agama masuk sekolah. Sejak PM Lee Kuan Yew ditetapkan bhw agama urusan pribadi, bukan urusan sekolah atau negara. Keputusan itu diambil krn Lee Kuan Yew melihat pengajaran agama justru menimbulkan perpecahan dan konflik, bukan perdamaian.

Sebaliknya, Indonesia menjadikan pengajaran agama wajib di sekolah. Bahkan, ada Kementrian Agama yg memiliki jutaan pegawai di bidang agama, puluhan ribu Sekolah Agama, Ratusan ribu rumah ibadah, trilyunan rupiah untuk pembangunan bidang agama. Namun hasilnya? Indonesia masuk negara terkorup di dunia, bahkan korupsi pun marak di Kementerian Agama.

Ringkasnya, semua orang Indonesia beragama kecuali jika berhadapan dg uang, kekuasaan dan proyek!!!!

***

Demikian status fb aktivis JIL yang juga Direktur Megawati Institute ini yang ditulisnya pada 23 Juli lalu.

Jadi menurut Musdah yang juga pendukung LGBT ini, agama hanya melahirkan koruptor. Apa Musdah tidak berkaca, bahwa koruptor di Indonesia itu paling banyak itu bersarang di partai pimpinan Megawati PDIP?

Kenapa bukan PDIP yang ‘dihapus’ saja? Kok malah mau menghapus pelajaran agama?

http://kabarngawur.blogspot.com/

***

Mari kita tengok, bagaimana geramnya sikap mahasiswa terhadap Musdah Mulia ternyata sudah sejak lama.

Inilah beritanya.

***

Kamis, 02 Juni 2011

Musdah Mulia Banyak Dikecam Mahasiswanya Sendiri

Musdah-Mulia

Kendati menjadi guru besar dan dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tidak menyurutkan mahasiswa UIN Jakarta mengecam tindakan Musdah Mulia. Salah seorang mahasiswa UIN yang mengirim sms ke Eramuslim.com, 1/06/2010, menilai Musdah Mulia sudah tidak bisa dipandang intelek dan telah kehilangan akhlak “Profesor kok tidak intelek, memang beginilah akibat hilangnya akhlak,” ujar salah seorang mahasiswa Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin dan Filsafat berinisial S. Lain lagi dengan salah seorang Mahasiswa UIN di Group 50 Juta Dukung Umi Kaltsum, yang membuat pernyataan bahwa banyak mahasiswa UIN sudah muak dengan pemikiran Guru Besar yang lulus dengan disertasi Muhammad Husain Haikal tersebut. “Saya mahasiswa UIN Jakarta mendukung antum (Umi Kaltsum, red.). Sudah banyak mahasiswa UIN yang muak dengan pemikiran Bu Musdah gak mulia itu.” Selama ini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memang sering mendapat cerita miring akibat dosen-dosen di kampus yang terletakdi Ciputat tersebut aktif menyuarakan pemikiran Liberal. Nama-nama seperti Azyumardi Azra (Direktur Sekolah Pasca Sarjana), Komaruddin Hidayat (Rektor), Zainun Kamal (Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat), Abdul Moqsith Ghazali (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum), juga tidak ketinggalan Musdah Mulia sendiri sering mendapat cap sebagai perusak Islam akibat gagasan-gagasannya yang mendobrak pemahaman Islam. Pada tahun 2005 sendiri, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sempat heboh setelah Ustadz Hartono Ahmad Jaiz mengeluarkan buku dengan judul menantang, “Ada Pemurtadan di IAIN” Buku tersebut mengungkap fakta banyaknya mata kuliah dan pengajaran yang diselenggarakan di UIN yang justru mengantarkan mahasiswanya murtad dari Islam. Uniknya pada tahun 2005 saat bedah buku itu, acara yang semula diadakan di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat sampai harus dipindahkan ke Mesjid Student Center UIN, karena tidak muat menampung animo pengunjung yang berjumlah hampir seribu. Mahasiswa UIN pun kala itu banyak yang mengamini temuan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, dan tidak sedikit mahasiswa liberal yang menolak.
(eramuslim.com)

Tentang bedah buku itu dapat disimak artikelnya di sini: https://www.nahimunkar.org/melawan-setan-jil-di-sarangnya/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 18.451 kali, 1 untuk hari ini)