Warga memadati area Kompleks Makam Priok, Koja, Jakarta Utara (Liputan6.com/ Ika Defianti)


Jahilnya manusia menyeret manusia lain ke arah perusakan Islam. Betapa tidak. Yang namanya makam atau kuburan itu sudah ada aturan-aturan khusus dalam Islam, untuk masuk saja perlu mengucapkan salam, melepas alas kaki,  dan menziarahinya adalah untuk mengingat akherat dan mendoakan mayat khusus yang Muslim.

Tapi anehnya, kini kawasan kuburan justru dijadikan ajang musik nyanyi-nyanyi, dan praktek agama baru doa lintas agama dengan menyalakan lilin untuk Ahok (tanda simpati) penista agama Islam.

Ini benar-benar musibah agama bagi Umat Islam. Bila dibiarkan maka ancaman adzab bisa merata. Karena kemaksiatan terang-terangan di depan mata namun dibiarkan. Hingga doa pun tidak akan diterima akibat membiarkan kemaksiatan terang-terangan yang merusak agama Islam itu.

Berikut ini berita tentang kawasan makam Mbah Priok dijadikan ajang musik dan ibadah baru doa lintas agama dengan menyalakan lilin (tanda simpati untuk Ahok si penista Agama Islam); dan penjelasan tentang haramnya doa lintas agama serta haramnya musik. Maka betapa mengerikannya ketika semua itu diaksikan justru di kawasan kuburan. Dan tentunya memakan biaya, yang dapat diduga asalnya juga dari menyedot dana dari penduduk Muslim karena mayoritas penduduk negeri ini adalah Muslim. Rupanya penghinaan terhadap ajaran Islam semakin menjadi-jadi di mana-mana.

***

Ratusan Warga Nyalakan Lilin di Makam Mbah Priok

Liputan6.com, Jakarta – Ratusan warga mengikuti kegiatan Malam 1000 Cahaya Shalawat dan Doa Lintas Agama Untuk Indonesia Bangkit yang diadakan di Kompleks Makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara malam ini.

Pantauan Liputan6.com, Sabtu (20/5/2017), sejumlah mobil pribadi hingga bus Transjakarta memadati area parkir di kawasan makan Mbah Priok. Warga juga tampak rapi duduk beralasan koran hingga tikar.

Di lokasi, terdapat panggung besar dan dua layar lebar. Terlihat pula beberapa warga yang membentuk lilin dengan tulisan “JUSTICE FOR AHOK”. Tulisan dari lilin sebagai simpati untuk Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok itu menjadi daya tarik berfoto pengunjung.

Pelaksana tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat datang bersama istrinya Happy Farida langsung berziarah ke makam Mbah Priok.

Acara dimulai dengan lagu nasional yaitu Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki.

“Indonesia​ tanah air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja puja bangsa,” ucap warga serentak.

Selanjutnya dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa.

“Tanah Airku Indonesia​, Negeri elok amat kucinta. Tanah tumpah darahku yang mulia yang kupuja sepanjang masa,” lanjut mereka.

Usai menyanyikan lagu Nasional, musikus Badai mantan personel Band Kerispatih yang mengiringi nyanyian tersebut meneriakkan salam untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diikuti sautan serentak pengunjung.

“Salam Bhineka Tunggal Ika. Merdeka,” teriak Badai./ http://news.liputan6.com – Ika Defianti

***

Gejala Ibadah Baru: Doa Bersama Antar Agama

by Nahimunkar.com, 13 Desember 2014

Kaum Muslimin rahimakumullah, ada yang perlu dicermati, pada momen-momen tertentu, orang kadang menyamakan antara yang haq dan yang batil. Sebagaimana kita dapat menyimak adanya gejala menyamakan yang haq dengan yang batil, lalu dipraktekkan dalam rangka ibadah baru, misalnya do’a bersama antar agama. Dalihnya, karena Nabi pernah mengajak orang Nasrani untuk mubahalah. Sedang mubahalah itu sama-sama berdoa, katanya. Jadi boleh dong kita mengadakan doa bersama antar agama, kata mereka yang dikenal sebagai dedengkot liberal.

Kita katakan, cara menyimpulkan hukum seperti itu, jelas cara yang tidak benar. Karena menyamakan mubahalah dengan do’a begitu saja, itu tidak teopat. karena mubahalah itu bukan sekadar do’a.

Mari kita runtut masalahnya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disuruh Allah Ta’ala untuk mubahalah dengan pihak Nasrani dari Najran, lalu di masa sekarang ini ada tokoh yang dengan lancangnya menjadikan mubahalah itu sebagai landasan bolehnya doa bersama antar agama. Padahal mubahalah itu adalah dua belah pihak saling berdoa agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta. Itu ada di dalam Al-Qur’an:

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ (٦١)

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta[197]. (QS Ali ‘Imran: 61)

[197] Mubahalah ialah masing-masing pihak diantara orang-orang yang berbeda pendapat mendoa kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta. Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. (catatan kaki dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI).

Orang sekarang yang berani menjadikan ayat tentang mubahalah sebagai landasan untuk bolehnya doa bersama antar agama, itu tidak dapat membedakan mana yang diridhoi Allah dan mana yang tidak. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas diridhai Allah Ta’ala. Sedang utusan Nasrani Najran jelas tidak. Karena mereka mengusung kekafiran.

Dengan menjadikan mubahalah sebagai landasan untuk bolehnya doa bersama antara agama,  berarti menganggap bahwa Allah ridho’ terhadap kekufuran sebagaimana ridho’ kepada Islam. Ini sangat bertentangan dengan firman Alah:

وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

…dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya…[Az-Zumar:7]

 وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

…dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. [Al- Ma‘idah :3].

Ketika Allah sudah jelas tidak ridho kekafiran, maka otomatis tidak boleh ibadah (dalam hal ini doa) dicampur atau digabung dengan kekafiran sama sekali. Dan kalau digabung, berarti memberi peluang untuk masuknya aneka kekafiran sekaligus mempraktekkan untuk memakai dan memfungsikan kekafiran. Sedangkan Allah telah memerintahkan:

 [فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [غافر/14

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (QS Al-Mu’min= Ghafir/ 40: 14).

Ketika kita mengaku berdo’a (ibadat) murni ikhlas untuk Allah Ta’ala, tetapi orang kafir menyukai do’a yang kita lakukan itu bahkan suka rela mereka bergabung, atau bersama-sama, maka perlu dipertanyakan: apakah kemurnian iman Islam kita yang sudah tergadaikan kepada orang kafir, atau memang orang kafir sudah berubah jadi murni ke Islam.

Apabila masih teguh dalam kekafiran mereka, dan mereka rela berdoa bersama kita atas kekafiran mereka, berarti justru keimanan kita yang dipertanyakan. Karena tidak ada kekafiran yang suka kepada murninya keimanan. Dan sebaliknya tidak ada keridha’an Allah Ta’ala kepada kekafiran sebagaimana tersebut di atas. Hingga Allah Ta’ala memberikan ancaman:

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا (73) وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا (74) إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا (75)  [الإسراء/73-75]

  1. Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.
  2. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,
  3. kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami.(QS Al-Israa’/ 17: 73, 74, 75).

Imam Al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya:

{ وَإِذاً لاَّتَّخَذُوكَ خَلِيلاً } أي : لو اتبعت أهواءهم لاتخذوك خليلاً لهم

“dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Artinya kalau kamu telah mengikuti hawa nafsu mereka tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.

وقال ابن عباس: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم معصوما، ولكن هذا تعريف للامة لئلا يركن أحد منهم إلى المشركين في شئ من أحكام الله تعالى وشرائعه. تفسير القرطبي – (ج 10 / ص 300)

Ibnu Abbas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ma’shum (terjaga dari dosa), tetapi ini adalah pemberitahuan kepada ummat agar tidak seorang pun di antara mereka (Muslimin) yang condong kepada orang-orang musyrikin dalam hal apapun dari hukum-hukum Allah Ta’ala dan syari’at-Nya. (Tafsir Al-Qurthubi juz 10 halaman 300).

Dalam ayat itu dijelaskan, kalau kamu telah mengikuti hawa nafsu mereka tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dalam kenyataan, orang-orang yang mengaku Muslim tetapi mengadakan doa bersama dengan orang-orang kafir (bukan Islam) tampaknya memang jadi sahabat setia. Berarti yang terjadi adalah perbuatan yang telah mengikuti hawa nafsu mereka (orang-orang kafir).

Yang namanya mengikuti hawa nafsu diri sendiri saja sudah tercela, apalagi ini mengikuti hawa nafsu orang kafir, betapa tercelanya!

Semoga Allah Ta’ala memberikan kefahaman kepada kita dan kaum Muslimin pada umumnya bahwa yang haq itu tampak haq, sehingga kita mampu mengikutinya. Dan semoga Allah memahamkan bahwa yang batil itu tampak batil sehingga kita mampu menghindarinya. Dan semoga Ummat Islam terhindar dari bahaya orang-orang yang mencampur adukkan kekafiran dan keimanan, sehingga iman yang ada di dada Ummat Islam senantiasa terhindar dari kekafiran. Amien ya Rabbal ‘alamien.

(Hartono Ahmad Jaiz)

***

Haramnya Musik dan Profesi Penyanyi

by Nahimunkar.com, 4 Juli 2008

Hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:

وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا…

 dan wanita-wanita yang kasiyat ‘ariyat mailat mumilat, kepala mereka bagaikan punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan merasakan baunya surga…(HR Muslim) itu menurut sebagian ahli ilmu, maksudnya adalah wanita-wanita penyanyi/ al-mughonniyyaat. (Ashbahani, Dalailun Nubuwwah, juz 1 hlm 224).

Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, khathib Masjid Nabawi Madinah menulis satu buku berjudul Pengumuman bahwa musik dan nyanyian itu haram (al-I’laam bi annal ‘azfa wal ghina’a haroom).

Allah menyatakan kepada Iblis musuh seluruh manusia:

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ

Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu(QS Al-Israa’: 64).

Mujahid, seorang Imam Tafsir menyatakan, dari Ibnu Abbas ra dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan “suaramu” (suara syaitan) adalah lagu, musik, dan senda gurau. Sementara itu Ad-Dhahhak menjelasakannya serupa: Suara syaitan yang dimaksud dalam ayat ini adalah suara musik. (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 15).

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ(6)

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (QS Luqman: 6).

Mujahid mengatakan, “perkataan yang tidak berguna” (lahwal hadits) adalah mendengarkan lagu/ nyanyian dan kebatilan yang serupa”. Abdullah bin Mas’ud menyatakan, “Demi Allah yang tiada Ilah kecuali Dia, sesungguhnya lahwal hadits itu maksudnya adalah lagu-lagu/ nyanyian. (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 16).

أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ(59)

Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?

وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ(60)

Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?

وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ(61)

Sedang kamu melengahkan (nya) (dengan bernyanyi-nyanyi)? (QS An-Najm/ 53: 59, 60, 61).

Riwayat dari Ibnu Abbas, Ikrimah berkata, As-sumud menurut bahasa Himyar (salah satu kabilah dari bangsa Arab) adalah lagu. Jika dikatakan, usmudi lana ya fulanah, artinya: Nyanyikanlah untuk kami wahai Fulanah. Dalam menafsiri ayat di atas, Ikrimah berkata, “apabila mereka (orang-orang kafir) mendengar Al-Qur’an (dibacakan), mereka bernyanyi-nyanyi dengan lagu-lagu untuk menghalangi manusia dari mendengarkan Al-Qur’an itu. Maka diturunkanlah ayat di atas.” Karenanya, para ulama salafus shalih (generasi pertama yang shalih) menyebut (nyanyian itu) dengan istilah Qur’annya syaithan, karena lagu-lagu itu digunakan syaitan untuk menentang dan menandingi Al-Qur’an serta menghalangi orang dari mengingat Allah dan mengingat Al-Qur’an. Apakah celaan Allah terhadap kelakuan mereka yang menertawakan dan bernyanyi-nyanyi itu menunjukkan bahwa lagu tidak haram?

Ketiga ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan di atas oleh para Imam tafsir, di antaranya Imam Al-Qurthubi, dikomentari dengan suatu keputusan: “Sesungguhnya ayat-ayat tersebut menunjukkan haramnya lagu/ nyanyian.” (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 18)

Allah SWT berfirman:

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا(32)

Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS Al-Ahzaab: 32).

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…(QS Al-Ahzaab: 33)

Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkomentar: Oleh karena itu sangat aneh, jika suara lembut dari wanita yang sedang berbicara dengan lelaki lain diharamkan, tetapi nyanyian-nyanyiannya dengan kata-kata kotor dan manja yang ditujukan kepada siapa saja itu tidak diharamkan! Semestinya kaum zhahiri (yang memahami ayat dan hadits hanya secara dhahirnya teks belaka, pen) serta para pecandu lagu dan musik dapat menerima jika dikatakan: tergeraknya syahwat melalui suara-suara para penyanyi wanita dan lelaki itu lebih cepat dan lebih kuat dibandingkan melalui suara gelang kaki, karena ucapan dan ungkapan (nyanyian) itu disertai irama dan musik. (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 37).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.131 kali, 1 untuk hari ini)