Astaghfirullah. Capres 01 Jokowi dan Capres 02 Prabowo  sama-sama mengucapkan salam Islam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh) lalu dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain. Itu berlangsung dalam debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu malam (13/4/2019).

Mereka sama-sama orang Islam. Perlu diketahui benar-benar, Salam dalam Islam itu termasuk doa. Doa itu ibadah. Sedangkan dalam Islam sudah jelas melarang mencampur ibadah dengan ritual agama lain. Ditegaskan, ibadah itu haram dicampur atau disertai ritual agama-agama lain. Karena telah ditegaskan dalam QS Al-Kafirun: 6.

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ  ٦ [ الـكافرون:6-6]

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. [Al Kafirun:6]

Dengan demikian, mengucapkan salam Islam, lalu dilanjutkan dengan salam agama-agama lain itu jelas-jelas melanggar. Bahkan dapat menjadikan pelakunya murtad alias keluar dari Islam, membatalkan syahadat. Karena sama dengan mengikrarkan ketuhanan agama lain yang otomatis kontradiksi dengan Syahadat. Ini berlaku bagi setiap Muslim, tanpa terkecuali capres maupun presiden.

Ini musibah agama!

Ini biangnya. Nasaruddin Umar imam besar Masjid Istiqlal Jakarta berdoa untuk membuka debat kelima (terakhir) capres cawapres 2019. Nasaruddin Umar imam besar Masjid Istiqlal Jakarta mengucapkan salam Islam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh), lalu dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain dan bahkan aliran kepercayaan. ini di antara biangnya, karena telah diketahui, Nasaruddin Umar Menyamakan konsep Asmaul Husna dalam Islam dengan doktrin ketuhanan Trinitas dalam Kristen. Maka dia pantas untuk bertanggung jawab atas musibah agama, dua capres (Jokowi dan Prabowo) pun kemudian mengucapkan salam Islam disertai salam-salam agama-agama lain.

***

Bisa Murtad dan Musyrik! Mengucapkan Salam Islam Disertai Salam Agama Lain

Posted on 30 Oktober 2014 – by Nahimunkar.com

Presiden Joko Widodo (ANTARA/Yudhi Mahatma) dalam acara pelantikan yang digelar di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/10/2014). Jokowi pidato sejak 11.40 WIB sampai 11.50 WIB. Ia membuka pidatonya dan menyampaikan salam menurut 4 agama: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya.

  • Salam Oplosan Mencopot Iman, Miras Oplosan Mencopot Nyawa.
  • Salam Oplosan, Haram! Dapat Membatalkan Iman bagi Muslim. Lebih dahsyat bahayanya dibanding miras oplosan yang dapat mengakibatkan copotnya nyawa.
  • Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang monothetisme itu sangat dikecam oleh Hindu.

Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010) menyatakan: “Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).

Oleh karena itu, orang Islam yang mengucapkan salam Hindu, Om Swastiastu (yang itu kental dengan ketuhanan Hindu) maka dapat mengeluarkannya dari Islam alias bisa murtad dan musyrik. Na’udzubillahi min dzalik! Bila meninggal dalam keadaan tetap belum bertaubat, bila terhitung musyrik, maka haram masuk surga, dan kekal di nereka. Na’udzubillahi min dzalik!

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Walaupun sama-sama sangat berbahaya antara salam oplosan dengan miras oplosan, namun sejatinya lebih berbahaya salam oplosan, karena jatuhnya ke syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya, yang itu dosa paling besar dan tidak diampuni bila meninggal dalam keadaan belum bertaubat.

***

Kita masih ingat saat kemarin di gedung perwakilan rakyat, seorang penguasa yang baru dilantik dan memberikan pidato perdananya. Ia membuka pidatonya dan menyampaikan salam menurut 4 agama: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya.

Tindakan pejabat tinggi Indonesia dalam mengucapkan salam dalam berbagai versi agama itu sudah seringkali terdengar. Bagi kaum Hindu, “Om Swastyastu” memang ucapan ibadah dalam agama Hindu.

Dr. Adian Husaini, dalam Catatan Akhir Pekan-nya di Hidayatullah Online, 12 November 2012, menyebutkan bahwa Seorang Hindu menjelaskan tentang makna Om Swastyastu sebagai berikut:
“Salam Om Swastyastu yang ditampilkan dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan.

Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng.” (http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/msg07018.html).

Itulah penjelasan Hindu tentang ucapan salam khas Hindu, “Om Swastyastu”. Dari penjelasan itu tampak, bahwa ungkapan salam Hindu itu sangat terkait erat dengan konsep Tuhan dan sembahyang dalam agama Hindu. Jadi, kata “Om” dalam agama Hindu berarti “Ya Tuhan”.

Dalam buku kecil berjudul “Sembahyang, Tuntunan Bagi Umat Hindu” karya Jro Mangku I Wayan Sumerta (Denpasar: CV Dharma Duta, 2007), disebutkan sejumlah contoh doa dalam agama Hindu yang diawali dengan kata “Om”, seperti doa sebelum mandi: “OM, gangga di gangga prama gangga suke ya namah swaha”.

Meskipun sama-sama menyatakan bertuhan SATU, agama-agama memiliki konsep Tuhan yang berbeda-beda tentang “Yang Satu” itu. Kaum Hindu, misalnya, mempunyai konsep dan juga sebutan-sebutan untuk Tuhan mereka secara khas. Dalam buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010), dijelaskan perbedaan konsep Tuhan antara Hindu, Kristen, Yahudi, dan Islam. Tentu saja penjelasan itu dalam perspektif Hindu. Menurut penulis buku ini, Tuhan dalam agama Hindu, yakni Sang Hyang Widhi tidak dapat disebut “Allah”. Disimpulkan oleh penulis buku ini: “Membangun toleransi bukan dengan mencampuradukkan pemahaman tentang Tuhan, tetapi sebaliknya justru dengan mengakui perbedaan itu. Dalam pengertian ini, Krishna bukan Kristus, Sang Hyang Widhi bukan Allah!” (hal. 33).

Misalnya, tentang perbedaan antara Kristus dan Krishna dijelaskan: “Ingat Hindu tidak percaya akan dosa asal, tidak percaya dengan Adam dan Hawa, dan Krishna juga tidak mati di kayu salib. Krishna datang ke dunia sebagai Avatara, bukan untuk menebus dosa, tetapi untuk menegaskan kembali jalan menuju moksha (empat yoga itu) terutama karma yoga. Jadi manusia sendiri harus aktif untuk memperoleh keselamatannya. Tidak perlu akal yang terlalu kritis untuk membedakan misi keberadaan Kristus dengan Krishna di dunia ini.” (hal. 31).

aum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku terbitan Media Hindu ini menyatakan:

“Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).

Untuk membanggakan agama Hindu sebagai agama yang lebih hebat dari agama Yahudi, Kristen, dan Islam, buku ini juga memberikan gambaran yang tidak sepenuhnya benar tentang ajaran Islam. Dalam bab berjudul “Agama-agama Langit Kualitasnya Jauh di Bawah Hindu” ditulis ungkapan-ungkapan sebagai berikut: “Hakikat manusia adalah dosa (Yahudi/Kristen) atau budak Allah (Islam). Artinya agama-agama ini memandang manusia secara sangat negatif. Untuk membuat manusia tetap percaya kepada Tuhan dan agennya dan taat beribadah, ia terus diancam dengan kiamat, siksa neraka bahkan termasuk pembunuhan di dunia ini. Di samping itu, agar manusia terus memerlukan Tuhan, Tuhan menciptakan dan memelihara setan untuk menggoda manusia.

Sebagai budak manusia tidak memiliki kebebasan. Hidupnya ditentukan secara sepihak dan sewenang-wenang oleh Tuhannya, pemilik budak-budak itu. Karena Tuhan bermukim jauh di langit, kekuasaan Tuhan itu didelegasikan atau diasumsikan oleh para agennya, apakah dengan sebutan nabi, rasul, sultan, atau paus. Kebebasannya digantungkan pada seorang tokoh pendiri agama. Kematian Yesus menyelamatkan semua pengikutnya. Muhammad, pada waktu Pengadilan Akhir, merekomendasikan siapa dari pengikutnya masuk sorga atau neraka, dan Allah hanya mengikuti rekomendasi itu. Keselamatan mereka semata-mata karena iman. Bukan karena perbuatannya. Etika tidak perlu. Ini tentu saja merupakan ketidakadilan rangkap dua…

Tujuan tertinggi manusia menurut agama-agama ini adalah sorga di mana mereka hidup abadi dengan badannya, yang berasal dari badan yang hina, tempat pencabulan, kata Paulus, salah satu pendiri agama Kristen. Bahkan di dalam sorga salah satu agama ini, dijelaskan secara rinci bagaimana hidup untuk memenuhi nafsu birahinya, terutama seks, tanpa batas. Sorga menjadi tempat pesta orgi yang menjijikkan.” (hal. 217-218).

Itulah pandangan Hindu yang pada realitasnya tidak bisa disatukan dengan konsep tauhid dalam Islam. Sehingga mengucapkan salam “Om Swastyastu” adalah tidak diperbolehkan. Selain itu, salam “Om Swastyastu” juga merupakan syiar agama lain yang mana umat Islam diharamkan untuk menyebarkannya.

Mengucap salam “Om Swastyastu” yang merupakan ciri khas keagamaan Hindu merupakan bentuk tasyabbuh bil kufar yang haram.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Lantas, bagaimana hukum mengucapkan salam “Assalamu’alaikum” untuk sekelompok orang yang terdiri dari orang Islam dan non Islam?

وعن أُسَامَة – رضي الله عنه – : أنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيهِ أخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكينَ – عَبَدَة الأَوْثَانِ – واليَهُودِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِم النبيُّ- صلى الله عليه وسلم –

Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati suatu majelis yang di situ bercampur antara muslim, orang musyrik -penyembah berhala-, dan orang Yahudi. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi salam kepada mereka. (HR. Bukhari no. 6254 dan Muslim no. 1798).

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan disunnahkan jika melewati majelis yang bercampur antara Muslim dan non Muslim untuk tetap mengucapkan salam untuk maksud umum dengan diniatkan salam tersebut untuk Muslim. (Al Adzkar, hal. 464).

Nah, bagaimana jika terhadap orang non Islam yang di situ tidak ada orang Islamnya sama sekali? Bolehkah memberi salam, “Assalamu’alaikum”?

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zadul Ma’ad jilid 2 halaman 424 menuliskan bahwa sebagian ulama membolehkan untuk mendahului non muslim dalam memberi salam demi kemashlahatan yang kuat dan nyata amat diperlukan, atau karena kwatir dari ulah non muslim itu, atau karena adanya hubungan kekerabatan dengan mereka. Atau karena sebab-sebab lain yang seperti itu.

Imam Al-Qurtubi menyebutkan nama beberapa ulama salaf yang membolehkan memberi salam kepada non Muslim. Di anataranya Ibnu Mas’ud, Al-Hasan Al-Bashri, An-Nakhai, dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menyebutkan di dalam kitabnya Fathul Bari bahwa Abu Umamah dan Ibnu Uyainah berpendapat sedemikian.

Sementara itu, ulama lain menyatakan tidak boleh memberi salam berdasarkan hadits berikut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

“Jangan kalian mengawali mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani. Jika kalian berjumpa salah seorang di antara mereka di jalan, maka pepetlah hingga ke pinggirnya.” (HR. Muslim no. 2167)
Fimadani/Tarqiyah
***

Kesimpulan

  • Mengucapkan salam Isam kepada hadirin yang ada muslimnya dan ada non muslimnya, tidak jadi persoalan.
  • Mengucapkan salam Islam kepada hadirin yang tidak ada muslimnya, menurut hadits riwayat Muslim tersebut tidak boleh mengawalinya/ tidak boleh memulai duluan.
  • Yang jadi persoalan adalah mengucapkan salam Islam disertai mengucapkan salam agama selain Islam. Itu dapat mengakibatkan murtad bahkan syirik, pelakunya disebut musyrik menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya. Karena mengucapkan salam (selain salam Islam) yang berisi ketuhanan yang bertentangan dengan Tauhid, keesaan dan kemahasucian Allah Ta’ala.

Hakekatnya: Mengucapkan salam Islam disertai salam agama selan Islam pada hakekatnya adalah penodaan terhadap Islam secara terang-terangan. Bahkan bila disengaja atau bahkan disengaja agar ditiru, maka berarti punya misi pemurtadan secara massal. Mencontohi praktek salam Islam disertai salam agama selain Islam, resikonya mendapatkan dosa, masih pula memperoleh dosa dari para penirunya tanpa mengurangi dosa para penirunya. Betapa beratnya, menumpuk dosa. Orangnya (yang mencontohi itu) sudah meninggal pun bila ajaran atau contohnya itu masih dilakukan orang, maka tetap masih mendapatkan aliran dosa . Betapa beratnya. Maka sebaiknya para pelakunya (yang mencontohi itu) mengumumkan untuk mencabut dari kesalahannya dan bertaubat. Semoga saja.

HAJ/BR

(nahimunkar.com)

***

Bantahan Telak untuk Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal yang Samakan 99 Asmaul Husna dengan Trinitas

Posted on 11 Oktober 2017 – by Nahimunkar.com

Ilustrasi: Pendiri Lippo Group Mochtar Riady (kedua dari kanan) menyambut kehadiran Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (kedua dari kiri), di acara Halalbihalal Lippo Group, Karawaci (Foto, BeritaSatu) Senin, 10 Juli 2017 

Menyamakan konsep Asmaul Husna dalam Islam dengan doktrin ketuhanan Trinitas dalam Kristen adalah tindakan yang sangat ceroboh dan tidak berdasar. Karena keduanya jelas bertolak belakang dengan empat perbedaan yang paling mendasar.

Dalam Asmaul Husna terdapat 99 nama dan sifat Allah yang Esa, sedangkan dalam Trinitas ada tiga oknum Tuhan yang berbeda bentuk/wujud.

Pengkajian mengenai Tauhid dalam akidah Islam sangat mudah dipahami baik secara aqli maupun naqli. Sedangkan perbincangan apologetika mengenai Trinitas sampai kapan pun tidak akan menemui titik terang dari selimut kebuntuan dan kegelapan. Pada tanggal 28 April 2007 pukul 10.00-16.00 pihak Kristen mengadakan seminar dengan tema “Keilahian Yesus Kristus dari Perspektif Alkitab” di Alam Indah Resto, Semarang. Pembicara yang paling banyak mendapat sorotan adalah Romo Tom Jacobs. Dengan berani Romo Tom menghantam doktrin Trinitas:

“Saya keberatan dengan istilah Allah Bapak, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Yesus itu jalan menuju Allah. Rumusan Yesus 100% Allah dan 100% manusia itu tidak tepat. Rumusan ini hasil dari Calcedon, bukan dari kitab suci.”

([ Jadi kalau Romo Tom dari Kristen saja berani menghantam doktrin Trinitas, lalu Nasaruddin Umar yang mengaku Muslim bahkan duduk jadi Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta tega-teganya mengumumkan diri membebek kepada cerita pendeta yang menyamakan 99 asmaul husna dengan trinitas, lantas akan diletakkan di mana muka Nasruddin Umar –bila tidak mau bertobat dan sampai matinya– ketika di kuburan nanti ditanya oleh Malaikat dengan pertanyaan Man Rabbuka – siapa Tuhanmu?

Bila dijawab dengan; Tuhanku Allah tapi sama dengan Tuhannya Kristen yang trinitas, maka giliran ditanya apa agamamu, apa jawabnya? Jawaban yang merupakan konsekuensi dari pendapat Nasaruddin Umar yang telah ia sebarkan adalah: Islam tapi yang sudah saya ubah Tuhannya sama dengan trinitasnya Kristen.

Ketika sudah sampai ke titik itu, maka betapa gembiranya iblis, karena cita-cita sangat buruk dari iblis yaitu menyuruh manusia untuk mengubah ciptaan Allah (maksudnya mengubah agama Allah) telah terlaksana.

{لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا (118) وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا (119) يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا (120) أُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلَا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا } [النساء: 118 – 121]

(118). yang dilaknati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), (119). dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, lalu benar-benar mereka meubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata, (120). Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka, (121). Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya [An Nisa”,118-121].

Mengubah ciptaan Allah dapat berarti mengubah yang diciptakan Allah seperti mengebiri binatang. Ada yang mengartikannya dengan mengubah agama Allah. – catatan kaki Al-Qur’an dan Terjemahnya no 352. ])

Berikut ini arsip tulisan pakar kristologi  yang juga aktif di media online, mengenai Trinitas Versus Asmaul Husna. Tulisan ini insya Allah bermanfaat untuk membungkam pendapat sangat sesat dan menyesatkan dari Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta yang menyamakan 99 asmaul husna dengan trinitas hanya berdasarkan cerita seorang pendeta. (lihat: Astaghfirullah…  Na’udzubillah… Nasaruddin Umar  Imam Besar Masjid Istiqlal Samakan 99 Asmaul Husna dengan Trinitashttps://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-naudzubillah-nasaruddin-umar-imam-besar-masjid-istiqlal-samakan-99-asmaul-husna-dengan-trinitas/)

Silakan simak baik-baik.

***

TRINITAS VERSUS ASMAUL HUSNA

Oleh: A. Ahmad Hizbullah M.A.G.

[www.kristenisasi.wordpress.com, ahmadhizbullah@gmail.com]

PERTANYAAN:

Setahu saya, Trinitas adalah doktrin yang bertolak belakang dengan ajaran Tauhid karena meyakini adanya tiga Tuhan yaitu Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Beberapa waktu yang lalu seorang evangelis menjelaskan kepada saya bahwa pandangan itu tidak benar. Menurutnya, doktrin ketuhanan Trinitas itu sama dengan doktrin Asmaul Husna dalam aqidah Islam yang meyakini adanya 99 nama pribadi Allah. Jika doktrin Trinitas itu disebut musyrik (mempersekutukan Tuhan) karena meyakini tiga nama Tuhan, maka umat Islam lebih musyrik lagi karena meyakini adanya 99 oknum Tuhan yang disebut Asmaul Husna. Bagaimana cara menjelaskannya?

Bagus, Malang Jawa Timur (bagus_malang@excite.com)

JAWABAN:

Inti ajaran semua agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam) yang dibawa oleh para nabi adalah tauhid (mengesakan Tuhan dalam beribadah). Semua nabi memiliki kesamaan dalam risalah tauhid. Tidak seorang rasul pun yang menyimpang dari dakwah tauhid. Karena Allah mengutus semua nabi untuk berdakwah kepada manusia agar beribadah hanya kepada Allah saja.

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ} [الأنبياء: 25]

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (Qs Al-Anbiya` 25).

Semua agama dan semua nabi mengajarkan Tauhid, ajaran yang menyimpang dari Tauhid jelas menyimpang dari ajaran para Nabi. Nabi yang mengajarkan ajaran non Tauhid pasti nabi palsu.

Tauhid ada tiga macam, yaitu Tauhid Rububiyah (mengesakan Allah sebagai Rabb yang mencipta, memberi rezeki, menguasai dan mengatur segenap makhluk di alam semesta), Tauhid Uluhiyah (mengesakan Allah dengan beribadah hanya kepada-Nya), dan Tauhid asma’ wa shifat (mengesakan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah SWT berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah).

Menyamakan konsep Asmaul Husna dalam Islam dengan doktrin ketuhanan Trinitas dalam Kristen adalah tindakan yang sangat ceroboh dan tidak berdasar. Karena keduanya jelas bertolak belakang dengan empat perbedaan yang paling mendasar.

Pertama, dalam Asmaul Husna terdapat 99 nama dan sifat Allah yang Esa, sedangkan dalam Trinitas ada tiga oknum Tuhan yang berbeda bentuk/wujud.

Asmaul Husna berarti nama-nama Allah yang terbaik. Istilah lainnya adalah Ismullah al-A’dham yang berarti nama-nama Allah yang agung.

{اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى } [طه: 8]

“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al-Asmaul Husna (nama-nama yang baik)” (Qs. Thaha 8).

Dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa Allah memiliki 99 nama:

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا  ، مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ،  إِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, seratus kurang satu. Tiadalah seseorang menghafalkan kecuali dia akan masuk sorga. Dia itu witir dan menyukai yang witir” (HR. Bukhari dan Muslim).

Secara detail, Rasulullah SAW menyebutkan 99 asmaul husna ini dalam hadits riwayat Tirmidzi, antara lain: Allah (yang tidak ada Tuhan selain-Nya), Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahiim (Maha Penyayang), Al-Malik (Maha Merajai), Al-Qudduus (Maha Suci), As-Salaam (Maha Menyelamatkan), Al-Mu’min (Maha Pemelihara Keamanan), Al-Muhaymin (Maha Penjaga), Al-‘Aziiz (Maha Mulia), Al-Jabaar (Maha Perkasa), Al-Mutakabbiu (Maha Megah), Al-Khaaliq (Maha Pencipta), Al-Baariu (Maha Pembuat), Al-Mushawwir (Maha Pembentuk), Al-Ghaffaaru (Maha Pengampun), dan lain seterusnya.

Meski Allah memiliki 99 nama yang disebut Asmaul Husna, bukan berarti bahwa Allah itu terdiri dari 99 oknum/pribadi, karena pemilik nama-nama itu adalah Allah yang Maha Esa (Al-Ahad). Allah juga tidak menampakkan diri dalam 99 wujud, karena Allah dalam akidah Islam adalah Maha Gaib (Al-Ghoib) dan Maha Tersembunyi (Al-Bathin) yang tidak dapat ditangkap dengan indera makhluk-Nya (Qs Asy-Syura 42:11).

Dalam akidah Islam, mengenal Asmaul Husna adalah satu keharusan, karena setiap berdoa dan beribadah kepada Tuhan harus menyebut nama-nama tersebut, misalnya: Ya Allah, Ya Rohman, Ya Rohim, Ya Hayyu Ya Qayyum, Ya Robbal Alamin, dan seterusnya.

{ وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } [الأعراف: 180]

“Hanya milik Allah Al-Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu…” (Al-A’raf 180).

{ قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا } [الإسراء: 110]

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman, dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik)…” (Qs. Al-Isra` 110).

Jelaslah bahwa Asmaul Husna dalam akidah Islam bukanlah suatu kemusyrikan, melainkan kemurnian Tauhid yang tidak dimiliki oleh agama lain.

Hal ini bertolak belakang dengan doktrin Trinitas (tri-unitas = tiga tapi tunggal) dalam iman kristiani yang mengimani adanya tiga oknum Tuhan, yaitu Allah Bapa, Allah Anak (Yesus) dan Allah Roh Kudus.

Dalam The Catholic Encyclopedia, Gereja Katolik Roma menjelaskan definisi Trinitas sbb: “The Trinity is the term employed to signify the central doctrine of the Christian religion… Thus, in the words of the Athanasian Creed: ‘the Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God, and yet there are not three Gods but one God.’ In this Trinity… the Persons are co-eternal and co-equal: all alike are uncreated and omnipotent.”

(Tritunggal adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan doktrin utama agama Kristen… Jadi, dalam kata-kata Kredo Athanasia: ‘sang Bapa adalah Allah, sang Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, namun tidak ada tiga Allah melainkan satu Allah.’ Dalam Tritunggal ini… Pribadi-Pribadinya sama kekal dan setara: semuanya tidak diciptakan dan mahakuasa).

Rumusan di atas hampir diterima oleh semua gereja. Gereja Orthodoks Yunani menyebutnya sebagai “the fundamental doctrine of Christianity” (doktrin dasar dari Kekristenan). Dalam buku Our Orthodox Christian Faith, gereja ini berkata:

“God is triune. The Father is totally God. The Son is totally God. The Holy Spirit is totally God.” (Allah adalah suatu kesatuan tiga serangkai. Sang Bapa adalah Allah sepenuhnya, Sang Anak adalah Allah sepenuhnya, dan Roh Kudus adalah Allah sepenuhnya).

Ketiga oknum Tuhan Trinitas Kristiani ini memiliki wujud yang berbeda. Allah Bapak tidak bisa dilihat, sedangkan Allah Anak berwujud manusia Yesus, dan Allah Roh Kudus wujudnya seperti burung merpati. Gambaran ketiga oknum Tuhan ini dikisahkan dalam Bibel, ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan, Roh Kudus turun seperti burung merpati dan Allah berfirman dari langit.

“Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Lukas 3:21-22; bdk: Matius 3:16-17 dan Markus 1:10-11).

Ayat tersebut jelas menyatakan bahwa ketiga oknum Trinitas memiliki bentuk pribadi yang berbeda di tempat yang berbeda pula, yaitu: Allah Bapak ada di langit dan bersuara, Allah Anak kelihatan berupa manusia Yesus yang sedang basah kuyup di sungai, dan Allah Roh Kudus menjelma menjadi burung merpati yang sedang terbang di atas kepala Yesus.

Kedua, konsep Asmaul Husna bukan rumusan manusia, melainkan wahyu dari Allah dan sabda Rasul-Nya, yang dituangkan secara gamblang dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi (Qs. Thaha 8, Al-A’raf 180, Al-Isra` 110, hadits riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dll).

Sedangkan doktrin Trinitas sama sekali tidak tertulis dalam Alkitab (Bibel), baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Satu-satunya ayat yang secara eksplisit diyakini sebagai penopang Trinitas, yaitu 1 Yohanes 5:7 pun diakui oleh Gereja sebagai ayat yang palsu karena tidak terdapat dalam manuskrip yang paling tua. Ayat ini baru muncul sejak abad ke-16.

Ketiga, Asmaul Husna sudah diajarkan pada masa awal Islam ketika Rasulullah masih hidup, sedangkan Trinitas tidak diajarkan oleh para nabi maupun jemaat Kristen yang mula-mula (primitive Christianity).

Doktrin Trinitas baru disusun jauh setelah Yesus tidak ada di dunia, yaitu pada konsili Konstan­ti­nopel pada tahun 381 M yang diadakan oleh kaisar Theodosius untuk merevisi konsili Nicea 325 M. Konsili ini melahirkan formula Trinitas yang dikenal dengan Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel (Credo Niceano-Constantinopolitanum). Saat ini kredo ini dikenal oleh umat Kristen dengan sebutan “12 Pengakuan Iman Rasuli” atau “Sahadat Iman Rasuli.”

Keempat, dalam Asmaul Husna tidak memiliki pembagian tugas menjadi 99 tuhan sesuai dengan namanya. Karena disebut Al-Khaliq (Maha Pencipta), Ar-Razzaaq (Maha Pemberi Rizki), Al-Ghaffaar (Maha Pengampun), Al-Muhyi (Maha Menghidupkan), Al-Mumiit (Maha Mematikan), Al-Hayyu (Maha Hidup) dan seterusnya, semuanya bukan dzat yang berbeda, semuanya adalah Allah SWT.

Sedangkan dalam Trinitas ada pembagian fungsi tugas, antara lain: menciptakan adalah tugas Allah Bapak, inkarnasi untuk penebusan dosa adalah tugas Allah Anak (Yesus), dan penyucian adalah tugas Allah Roh Kudus. Dengan kata lain, Allah Bapak adalah oknum Tuhan yang di atas, Allah Anak (Yesus) adalah oknum Tuhan yang hadir bersama manusia, dan Allah Roh Kudus adalah oknum Tuhan yang hadir di dalam manusia.

Pengkajian mengenai Tauhid dalam akidah Islam sangat mudah dipahami baik secara aqli maupun naqli. Sedangkan perbincangan apologetika mengenai Trinitas sampai kapan pun tidak akan menemui titik terang dari selimut kebuntuan dan kegelapan. Pada tanggal 28 April 2007 pukul 10.00-16.00 pihak Kristen mengadakan seminar dengan tema “Keilahian Yesus Kristus dari Perspektif Alkitab” di Alam Indah Resto, Semarang. Pembicara yang paling banyak mendapat sorotan adalah Romo Tom Jacobs. Dengan berani Romo Tom menghantam doktrin Trinitas:

“Saya keberatan dengan istilah Allah Bapak, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Yesus itu jalan menuju Allah. Rumusan Yesus 100% Allah dan 100% manusia itu tidak tepat. Rumusan ini hasil dari Calcedon, bukan dari kitab suci.”

Lebih jauh Romo Tom mengungkapkan pengalaman rohaninya kenapa saat ini menolak Trinitas. “Dulu sebelum tahun 1974, kehidupan saya tidaklah baik. Saat itu saya yakin Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Tetapi, setelah tahun 1974 sampai sekarang, saya tidak lagi berdoa kepada Yesus, tetapi saya berdoa kepada Allah… Saya lebih kristiani sejak percaya Yesus bukan Allah daripada sebelumnya,” ungkapnya.

Ungkapan Romo Tom ini jangan dianggap remeh, karena beliau bukan orang awam. Semua tokoh Katolik di Indonesia tak ada yang tak kenal Romo Tom, guru besar ahli Dogma lulusan Roma, Italia.

Allah (yang tidak ada Tuhan selain-Nya), Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahiimu (Maha Penyayang), Al-Maliku (Maha Merajai), Al-Qudduusu (Maha Suci), As-Salaamu (Maha Menyelamatkan), Al-Mu’minu (Maha Pemelihara Keamanan), Al-Muhayminu (Maha Penjaga), Al-‘Aziizu (Maha Mulia), Al-Jabaaru (Maha Perkasa), Al-Mutakabbiru (Maha Megah), Al-Khaaliqu (Maha Pencipta), Al-Baari’u (Maha Pembuat), Al-Mushawwiru (Maha Pembentuk), Al-Ghaffaaru (Maha Pengampun), Al-Qahhaaru (Maha Pemaksa), Al-Wahhaabu (Maha Pemberi), Ar-Razzaaqu (Maha Pemberi Rizki), Al-Fattaahu (Maha Membukakan), Al-‘Aliimu (Maha Mengetahui), Al-Qaabidhu (Maha Mencabut), Al-Baasithu (Maha Meluaskan), Al-Haafidhu (Maha Menjatuhkan), Ar-Raafi’u (Maha Mengangkat), Al-Mu’izzu (Maha Pemberi Kemuliaan), Al-Mudzillu (Maha Pemberi Kehinaan), As-Samii’u (Maha Mendengar), Al-Bashiiru (Maha Melihat), Al-Hakamu (Maha Menetapkan Hukum), Al-‘Adlu (Maha ‘Adil), Al-Lathiifu (Maha Lemah Lembut), Al-Khabiiru (Maha Waspada), Al-Haliimu (Maha Penyantun), Al-‘Azhiimu (Maha Agung), Al-Ghafuuru (Maha Pengampun), Asy-Syakuuru (Maha Menghargai), Al-‘Aliyyu (Maha Tinggi), Al-Kabiiru (Maha Besar), Al-Hafiizhu (Maha Memelihara), Al-Muqiitu (Maha Pemberi Kecukupan), Al-Hasiibu (Maha Menghitung/Penjamin), Al-Jaliilu (Maha Luhur), Al-Kariimu (Maha Pemurah), Ar-Raqiibu (Maha Peneliti), Al-Mujiibu (Maha Mengabulkan), Al-Waasi’u (Maha Luas), Al-Hakiimu (Maha Bijaksana), Al-Waduudu (Maha Pencinta), Al-Majiidu (Maha Mulia), Al-Baa’itsu (Maha Membangkitkan), Asy-Syahiidu (Maha Menyaksikan/Mengetahui), Al-Haqqu (Maha Benar), Al-Wakiilu (Maha Memelihara Penyerahan), Al-Qawiyyu (Maha Kuat), Al-Matiinu (Maha Kokoh/Perkasa), Al-Waliyyu (Maha Melindungi), Al-Hamiidu (Maha Terpuji), Al-Muhshii (Maha Penghitung), Al-Mubdi’u (Maha Memulai), Al-Mu’iidu (Maha Mengulangi), Al-Muhyi (Maha Menghidupkan), Al-Mumiitu (Maha Mematikan), Al-Hayyu (Maha Hidup), Al-Qayyuumu (Maha Berdiri Sendiri), Al-Waajidu (Maha Menemukan/Kaya), Al-Maajidu (Maha Mulia), Al-Waahidu (Maha Esa), Al-Aahadu (Maha Esa), Ash-Shamadu (Maha Dibutuhkan), Al-Qaadiru (Maha Kuasa), Al-Muqtadiru (Maha Menentukan), Al-Muqaddimu (Maha Mendahulukan), Al-Muakhkhiru (Maha Mengakhirkan), Al-Awwalu (Maha Awal/Pertama), Al-Aakhiru (Maha Akhir/Penghabisan), Azh-Zhaahiru (Maha Nyata), Al-Baathinu (Maha Tersembunyi), Al-Waali (Maha Menguasai), Al-Muta’aali (Maha Agung/Suci), Al-Barru (Maha Dermawan), At-Tawwaabu (Maha Menerima Taubat), Al-Muntaqimu (Maha Penyiksa), Al-‘Afuwwu (Maha Pema’af), Ar-Ra’uufu (Maha Pengasih), Maalikul Mulki (Maha Menguasai Kerajaan), Dzul Jalaali wal Ikraami (Maha Memiliki), Kebesaran dan Kemuliaan), Al-Muqsithu (Maha Adil), Al-Jaami’u (Maha Mengumpulkan), Al-Ghaniyyu (Maha Kaya), Al-Mughniy (Maha Pemberi Kekayaan), Al-Maani’u (Maha Menolak/Membela), Adh-Dhaarru (Maha Pemberi Bahaya), An-Naafi’u (Maha Pemberi Manfaat), An-Nuuru (Maha Bercahaya), Al-Haadi (Maha Pemberi Petunjuk), Al-Badii’u (Maha Pencipta Yang Baru), Al-Baaqii (Maha Kekal), Al-Waaritsu (Maha Mewarisi), Ar-Rasyidu (Maha Cendekia), dan Ash-Shabuuru (Maha Penyabar).[]

(Dimuat berseri di Majalah Al-Mujtama’ edisi 5 Th 1/12 Sya’ban 1429 h. 50-51 dan edisi 6 Th 1/11 Ramadhan 1429, hlm. 40-41)

Sumber : ahmad-hizbullah.com /Diberi teks ayat dan hadits oleh nahimunkar.org

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.609 kali, 1 untuk hari ini)