Inilah beritanya.

***

 Jamaah haji dari Iran tak mau diatur, penyebab tragedi Mina 2015?

Adiba HasanJum’at, 11 Zulhijjah 1436 H / 25 September 2015 14:40

Tragedi-mina00007

Ilustrasi – Jamaah haji dari Iran tak mau diatur, penyebab tragedi Mina 2015?

MEKKAH (Arrahmah.com) – Dalam proses penyelidikan tragedi Mina 2015, sejumlah saksi mata di lokasi mengatakan, bahwa insiden diawali dengan terburu-burunya para jamaah haji dari Iran untuk melewati dan menerobos rute jamaah lainnya sambil mengampanyekan ide revolusi Iran. Mereka menolak diatur saat diminta kembali ke rute yang sudah ditentukan.

Pejabat Keamanan di Saudi mengatakan, penyebab insiden Mina disebabkan jamaah haji dari Iran tidak mengikuti rute yang sudah ditentukan pemerintah Saudi. Ini selalu terjadi setiap tahun.

“Jamaah dari Iran tidak mendengarkan dan mengabaikan instruksi kemudian bentrok dengan kami dan meneriakkan slogan-slogan revolusi sebelum terjadinya insiden,” ungkap seorang pejabat keamanan Saudi sebagaimana dikutip Sabq.org, Jumat (25/9/2015).

Para saksi mata mengungkap bahwa, mereka sering menyaksikan jamaah haji dari Iran mempropagandakan apa yang mereka sebut sebagai “Revolusi Islam” kepada jamaah haji dari negara lain. “Mereka juga kerap mengambil keuntungan dengan memprovokasi jamaah agar bentrok (terjadi) antarjamaah dan pasukan keamanan Saudi.”

Sementara Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdallahaan, menegaskan, bahwa pemerintah Saudi harus bertanggungjawab atas kecelakaan ini. Dia mengatakan, Kementerian Luar Negeri Iran akan memanggil resmi Dubes di Arab Saudi di Teheran untuk menyampaikan protes Iran dan meminta penjelasan yang diperlukan tentang penyebab insiden, demikian lansir Salam-Online, Jum’at (25/9).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, 90 jamaah haji Iran meninggal dan lebih dari 60 lainnya terluka akibat insiden tersebut. (adibahasan/arrahmah.com).

***

Musibah Haji dan Pertanyaan-pertanyaan Bernada Konspiratif

Redaksi Salam-Online – Kamis, 10 Zulhijjah 1436 H / 24 September 2015 19:14

Tragedi-mina00006

SALAM-ONLINE: Musibah kembali menimpa jamaah haji. Setelah crane yang jatuh di Masjidil Haram dan kebakaran di hotel tempat jamaah haji Indonesia menginap, kini tragedi Mina yang merenggut nyawa (setidaknya sampai berita ini dibuat) 453 orang, kembali terjadi.

Ada suara-suara yang mempertanyakan, misalnya jatuhnya crane, apakah ini murni musibah atau ada sabotase? Kemudian serentetan musibah berikutnya, termasuk yang terjadi saat ini di Mina saat jamaah haji mau melempar jumroh pada pagi waktu Saudi (siang WIB).

Seperti diberitakan hari ini, Kamis (24/9), ada sekelompok jamaah (disebut-sebut berasal dari Iran) yang tiba-tiba berhenti, menyebabkan terjadinya penumpukan dan berdesak-desakannya jamaah di belakangnya.

Dari Kementerian Luar Negeri RI diperoleh informasi, peristiwa di Mina terjadi di jalan menuju tempat lontar jumroh di antara tenda-tenda.

“Awal kejadian, karena ada sekelompok jamaah yang tiba-tiba berhenti, sehingga terjadi penumpukan dan desak-desakan,” rilis dari Kemenlu RI, Kamis (24/9).

Dilaporkan, kejadian berlangsung pada pukul 7 pagi waktu setempat (sekitar pukul 11 siang WIB). Sebagian korban meninggal berasal dari jamaah Mesir dan beberapa negara Afrika.

Menurut Kemenlu RI, ini bukan merupakan jalur yang digunakan oleh jamaah asal Indonesia untuk menuju lontar jumroh tersebut. Jamaah Indonesia sendiri memang sudah diwanti-wanti untuk tidak melontar jumroh di pagi hari atau di waktu-waktu membludaknya jamaah.

Untuk sementara, selain 453 korban meninggal, lebih 719 lainnya mengalami luka-luka akibat saling dorong dan berdesak-desakannya jamaah. Korban ini diperkirakan masih terus bertambah.

Dari musibah berturut-turut ini, tentu saja yang paling baik adalah mengevaluasi pelaksanaan jamaah haji dan mengintrospeksi setiap kejadian sebagai ujian atau teguran dari Allah agar kita berbenah.

Namun pertanyaan-pertanyaan bernada konspiratif, terkadang sulit kita hindarkan. Sebut misalnya, sudah tahu musim haji sudah tiba dan jamaah sudah memadati Masjidil Haram, mengapa crane masih dipasang? Lantas, mengapa jamaah haji asal Indonesia dibiarkan membawa kompor ke dalam kamar hotel? Disebut-sebut asal sumber kebakaran lantaran jamaah haji asal Indonesia lupa mematikan kompor sebelum berangkat ke Masjidil Haram.

Terkait tragedi Mina yang terbaru, dari laporan Kemenlu di atas, ada kelompok jamaah yang tiba-tiba berhenti, yang menyebabkan terjadi penumpukan jamaah di belakangnya sehingga berdesak-desakan.

Kenapa ada sekelompok jamaah yang berhenti tiba-tiba? Pertanyaan ini senada dengan pertanyaan konspiratif terkait musibah jatuhnya crane dan lupanya jamaah asal Indonesia mematikan kompor listrik yang menyebabkan kebakaran di hotel tempat jamaah menginap tersebut—meski kebakaran ini tak menimbulkan korban jiwa.

Pertanyaan-pertanyaan yang juga ada yang mencoba mengaitkannya dengan perang Yaman dan upaya-upaya untuk membuat citra buruk pelaksanaan ibadah haji yang tentu saja sasaranya adalah Saudi. Benarkah? Sesuatu yang sulit dijawab, karena, bagaimanapun, hal-hal konspiratif biasanya dikaitkan dengan intelijen. Padahal operasi intelijen itu seperti orang buang angin yang mengeluarkannya tanpa terdengar orang lain. Baunya terasa, sementara siapa yang buang angin itu, hanya bisa diduga-duga, tidak bisa diketahui secara pasti.

Di Indonesia, ada pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan tragedi Mina ini, dengan menyebar informasi hoax, lansir detik.com, Kamis (24/9). Infohoax itu berisi daftar jamaah haji asal Indonesia yang jadi korban di Mina, sebanyak 52 orang. Padahal, setelah ditelusuri, jumlah korban 52 dari Indonesia itu adalah berita tragedi Mina tahun 2004.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.630 kali, 1 untuk hari ini)