Ilustrasi muda mudi berhura-hura campur aduk di tempat clubbing di Bandung. /Foto bndgpandunwst id

YERUSALEM (voa-islam.com) – Sungguh ironi. Muslim Indonesia tanpa sebutir pelurupun sudah bertekuk lutut dibawah telapak kaki Yahudi.

Tak ada invasi militer di Indonesia oleh Zionis. Tak ada pemboman udara terhadap kota-kota di Indonesia oleh rezim Zionis. Tak ada bunyi tembakan atau gemuruhnya rudal dari pesawat tempur diatas langit Indonesia.

muda Muslim

Kenyataannya pemuda atau genarasi muda Muslim, sudah berada dalam penjajahan dan telapak kaki Zionis atau Yahudi. Budaya hidup hedonis sudah merasuki  ruh dan raga mereka. Hidup dengan gaya sekuler, dan permisif, tak mau lagi terikat dengan aturan agamanya, al-Islam, masuk ke sungsum-sungsum.

Kehidupan mereka menjadi sangat ‘hina’, karena agama mereka sudah luruh, lumer, dan tak berbekas. Tak  ada sedikitpun  ‘atsar’ bekasnya, tentang agama mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Malam Minggu, di Bandung, seperti penulis saksikan, ratusan anak-anak muda Muslim, perempuannya menggunakan kerudung (jilbab), tapi mereka dengan sangat bangga, menikmati ‘weekend’ atau ‘long week end’, mereka jalan-jalan sambil bergandengan tangan, berpelukan, dan duduk di kursi-kursi yang disediakan oleh Pemda, sambil bercengkarama. Tempat-tempat hiburan penuh sesak. Mereka sangat menikmatinya.

Mereka bukan lah pasangan yang sudah diikat oleh ikatan pernikahan. Tapi, mereka menikmati kehidupan malam, sambil bergandengan tangan atau berpelukan, dan terkadang ada yang melayangkan ‘kecupan’ atau ‘ciuman’ di pipi pasangannya. Mereka tak peduli itu haram.

Setiap akhir pekan “weekend’, ribuan orang Jakarta melakukan ‘weekend’ ke Bandung. Seluruh kota Bandung macet total. Orang Jakarta tumplek blek ke Bandung. Mereka menikmati akhir pekan alias ‘week end’, malam minggu di kota Bandung.

Makan, bercanda, bercengkarama, dan berakhir di hotel-hotel, di sepanjang Dago, sampai Lembang. Sungguh sangat luar biasa. Hidup mereka persis seperti digambarkann oleh al-Qur’an, hanya untuk :

يَتَمَتَّعُونَ وَيَأۡكُلُونَ كَمَا تَأۡكُلُ ٱلۡأَنۡعَٰمُ

Bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. (al-Qur’an : 47/ Muhammad : 12).

Kalau pagi hari, bangun langsung mereka pergi ke mall, toko, dan tempat belanja, membeli pakaian, sepatu, tas, dan sejumlah aksesoris lainnya, sebagai pemantas kehidupan mereka. Pantas kalau dulu kota Bandung dijuluki “Paris van Java”, kini hanya menjadi seperti tempat “kebun binatang”, makan, minum, bercengkarama,dan dilanjutkan dengan : seks bebas.

Di Jakarta, di saat menjelang “weekend’, lebih aneh lagi, laki perempuan berombong-rombongan, mereka berspeda motor, pergi ke daerah Puncak, Bogor. Semalam suntuk. Bermalam. Mereka pasangan suami siteri? Belum tentu.

Nampaknya budaya seks bebas sudah menjadi gejala umum. Bukan lagi sesuatu yang tabu. Maka, bukan hal yang sensasioanal, kalau sekarang ini ada bisnis seks, melalui media sosial, di antara pelakunya ada artis.

Begitulah negeri yang bobrok ini. Kondisi  atau fenomena anak-anak muda Muslim dan Muslimah, bukan hanya di Bandung dan  Jakarta, tapi juga di kota-kota lainnya di Indonesia. Mereka sudah luruh dalam budaya sekuler. Tanpa terasa mereka sudah meninggalkan agama (murtad). Mereka tidak lagi ‘baro’ (menolak) terhadap segala kemungkaran, kejahiliyahan, dan mereka menikkmati hidup yang sesat.

Maka, tanpa ada serangan udara Zionis, sudah hancur, tak berbekas. Mereka ujudnya manusia, tapi mereka sudah tidak berharga dan hina. Sungguh. Karena kehidupan mereka tak memberikan manfaat apapun bagi kehidupan. Kecuali  hanya bersenang-senang, makan dan seks.  Tidak ada nampak suasana krisis ekonomi di wajah-wajah mereka, saat “week end”,  terutama di kota besar.

Di Depok, di Mall Margocity, sebagian besar pengunjungnya perempuan berkerudung. Naifnya, di sebuah sudut mall itu, di lantai dua, terdapat tempat “Nyanyi Bersama”, suatu kali nampak rombongan Muslimah muda berkerudung, masuk ke tempat “Nyanyi Bersama” milik penyanyi Dangdut, Inul Daratista, yang dikenal dengan ‘goyang ngebor’, Mungkin ditempat-tempat lainnya juga sama.

Lihat acara-acara di telivisi yang penuh dengan suasana yang sangat ‘absurd’, terutama kalau ada ‘concert’ musik, atau nyanyi di telivisi dan acara lainnya,  banyak anak muda Muslimah, yang ikut bersama-sama dengan pakaian kerudung (jilbab), tapi talbis dalam kehidupan yang  mungkar. Tidak ada lagi di dalam dirinya ‘furqan’ (pembeda) antara Mukmin dan kafir. Na’udzubilah.

“Berbahagialah” wahai Zionis, kau tanpa mengeluarkan sebutir peluru pun, dapat menaklukan Muslim Indonesia. Kebebasan telah membawa bencana dan kehancuran total bagi Muslim Indonesia. Mereka larut ke dalam budaya materialisme, ciptaan Zionnis. Inilah sebuah fakta kehidupan yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun.

Berbahagialah Muslim dan Muslimah Palestina, walaupun engkau menghadapi serbuan Zionis-Israel dengan berbagai jenis senjata, dan tembakan rudal dari pesawat tempur, seluruh harta benda, tempat tinggal, dan gedung, masjid semua luluh lantak, dan diembargo, tapi engkau masih tetap hidup, dan terus melawan Zionis-Israel.

Engkau tidak peduli dengan kamatian yang bakal terjadi. Engkau tetap memegangi al-Qur’an dengan teguh dan erat, tak pernah engkau lepaskan. Engkau berikan segala yang engkau miliki bagi al-Aqsha. Berbahagialah saudaraku. Kelak engkau di akhirat. (mashadi/voa-islam.com)

voa-islam.com, Kamis, 2 Muharram 1437 H / 15 Oktober 2015 11:00 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 8.942 kali, 1 untuk hari ini)