• Tanpa asas praduga tak bersalah, 5 warga Muslim Uyghur ditembak mati di tempat

***

 

Muslim protes larangan Ramadhan di Cina dan menyerukan boikot

XINJIANG– Pemerintah Cina yang melarang ummat Islam Uighur untuk menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan di distrik barat laut yang berpenduduk mayoritas Muslim, Xinjiang, telah memicu protes dari Saudi dan para ekspatriat yang menuntut pemboikotan produk-produk Cina.

Pihak berwenang Cina telah memberlakukan pembatasan kepada Muslim Uighur selama bulan Ramadan, melarang pegawai pemerintah dan anak-anak sekolah untuk puasa, dimana hal ini telah ditolak oleh Muslim Uigur yang dianggap sebagai upaya sistematis tahunan untuk menghapus identitas Islam di kawasan itu.

Pihak berwenang Cina telah membenarkan pelarangan puasa tersebut dengan dalih bahwa hal itu dimaksudkan untuk melindungi kesehatan siswa, dan pembatasan untuk menjalankan ajaran agama oleh pejabat pemerintah dimaksudkan untuk memastikan negara tidak mendukung agama tertentu.

“Ini adalah tingkat tertinggi dari ketidakadilan. Orang-orang harus diperbolehkan untuk mempraktikkan agama mereka,” Muhammad Badahdah, asisten sekretaris jenderal World Assembly of Muslim Youth, mengatakan kepada Arab News.

“Ini menunjukkan sikap anti-Islam mereka karena mereka menganggap orang-orang yang menerapkan Islam sebagai teroris. Jika hal ini dibiarkan terus, mereka akan melarang Muslim untuk menunaikan ibadah Haji dan Umrah.“

Setiap tahun, pemerintah Cina telah berulang kali memberlakukan pembatasan terhadap Muslim Uighur di wilayah Xinjiang setiap Ramadan.

Badahdah mengatakan bahwa pemerintah China telah memberlakukan kebijakan anti-Islam selama beberapa tahun terakhir, PBB dan Dewan Keamanan telah gagal melindungi umat Islam.

“China adalah negara yang tertutup dan kami sudah mulai mengetahui tentang kebijakan opresif terhadap ummat Islam melalui media sosial,” katanya.

“Kami umat Islam harus bersatu dan kembali ke ajaran Al Qur’an dan Sunnah. Itulah satu-satunya solusi untuk masalah kami,” katanya kepada Arab News.

Menolak pembatasan yang dilakukan oleh otoritas Cina terhadap sesama Muslim, Badahdah mendesak persatuan Muslim untuk mengambil tindakan politik dan ekonomi terhadap Cina atas kebijakan meninda tersebut.

“Jadi ummat Islam di seluruh dunia harus bersatu melawan praktek-praktek yang tidak adil dan tidak manusiawi tersebut untuk mengakhirinya,” kata Badadah.

“Kita adalah sebuah kekuatan besar dengan jumlah penduduk 1,5 miliar dan harus mengalahkan intrik musuh untuk memecah belah kita. Kita harus menjadi Muslim sejati agar mendapat pertolongan dari Allah.“

“Pemerintah kami mengambil tindakan tegas terhadap Belanda ketika seorang politisi sayap kanan di negara itu melecehkan Islam dan bendera Saudi. Kita harus mengambil tindakan serupa terhadap Cina jika mereka tidak menghentikan sikap anti-Muslim mereka,” Fuad Tawfik, seorang insinyur Saudi, mengatakan kepada Arab News.

Sementara itu, 57 anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengatakan bahwa pihaknya telah menghubungi pemerintah Cina untuk membahas masalah tersebut.

“Kami sedang menunggu balasan dari China,” kata sumber informasi Arab News.

Blogger Hashmet Hussain juga menyerukan kepada Muslim untuk memboikot produk-produk Cina.

“Melarang hak-hak untuk menjalankan agama Islam adalah semacam terorisme,” katanya.

Blogger lain berkata: “Untuk kepentingan mereka sendiri Cina harus segera menarik keputusan mereka dan meminta maaf kepada umat Islam.”

Mengandung cadangan minyak, gas alam, dan batu bara terbesar di Cina, Xinjiang merupakan rumah bagi mayoritas populasi Muslim Uighur – kelompok etnis Turki dengan bahasa dan budaya lebih dekat ke Asia Tengah. Sebelum wilayah itu diserap ke dalam Republik Rakyat China pada tahun 1949, hampir semua orang di sini adalah Uighur, tetapi jumlahnya sejak itu menurun menjadi setengan bagian pada tahun 2000, sebagai akibat dari perpindahan besar-besaran dari puluhan juta Cina Han – mayoritas penduduk daratan Cina – yang didorong untuk menetap di wilayah ini oleh pemerintah Cina.

Demografis tersebut kemudian mengalami pergeseran, yang dipercepat pada 1990-an saat Beijing mulai mengembangkan Xinjiang, yang dikombinasikan dengan undang-undang Cina yang membatasi praktek Islam oleh Muslim Uighur, dan pada 1997 pemerintah Cina mengeksekusi 30 separatis Uighur, memicu gelombang kekerasan yang telah menewaskan ratusan orang, sebagian besar warga sipil.

Sementara itu, Cina telah membubarkan lebih dari 40 kelompok yang mereka sebut “geng teror kekerasan” dan menangkap lebih dari 400 orang di Xinjiang sejak pemerintah melakukan tindakan keras pada bulan Mei, kata media pemerintah, Senin (7/7).

Kelompok Uighur dan aktivis hak asasi manusia mengatakan bahwa kebijakan represif pemerintah di Xinjiang, termasuk kontrol terhadap Islam, telah memicu kerusuhan.

“Kebijakan politik Cina akan menyebabkan lebih banyak orang menghadapi dakwaan yang tidak adil,” Dilxat Raxit, juru bicara kelompok Kongres Uighur Dunia, mengatakan dalam sebuah email.

(ameera/arrahmah.com) Ameera Selasa, 11 Ramadhan 1435 H / 8 Juli 2014 21:00

***

Tanpa asas praduga tak bersalah, 5 warga Uyghur ditembak mati di tempat

Adiba Hasan Selasa, 10 Ramadhan 1435 H / 8 Juli 2014 17:12

XINJIANG (Arrahmah.com) – Lima etnis minoritas Uighur, termasuk dua polisi, meninggal dunia terkait isu serangan ke rumah seorang pejabat. Sumber RFA melaporkan pada Senin (7/72014), bahwa mereka yang ditembak mati di tempat tanpa mengindahkan asas praduga tak bersalah, telah dituduh pemerintah Cina sebagai tersangka utama di belakang rencana pnyerangan kantor polisi di wilayah Xinjiang barat laut Cina yang sedang bergolak.

Tersangka, yang diidentifikasi sebagai Qeyser Qurban (23) juga ditembak mati dalam sergapan bulan lalu di kota Qumqusar, di prefektur Kashgar, Makita county (dalam bahasa Cina, Maigaiti), seorang perwira polisi di Qumqusar mengatakan kepada RFA Uyghur Service, berbicara dengan syarat anonim.

Dia menolak untuk memberikan rincian tetapi para pejabat setempat mengatakan serangan itu terjadi di rumah Qurban di perkampungan desa No 6 .

Kepala Desa Nomor 6 Memetimin Mamut, yang diberitahu oleh pihak berwenang mengenai insiden tersebut, mengatakan kepada RFA Uyghur Service ia diberitahu oleh atasannya bahwa Qurban adalah dalang di balik “sebuah kelompok yang berencana untuk melakukan serangan ke kantor polisi.”

“Qeyser Qurban ditangkap pada pagi 14 Juni dan telah ‘mengakui kejahatannya’,” kata Mamut, dan delapan petugas polisi telah menyambangi rumah tersangka untuk mengamankan apa yang mereka katakan sebagai bahan dan senjata yag direncanakan kelompok itu untuk digunakan dalam serangan mereka.

“Enam polisi (Cina etnis) Han berjaga di halaman, sementara dua polisi Uyghur memasuki rumah dengan tersangka, dan polisi melepas borgol sehingga ia bisa mengumpulkan bahan-bahan … seperti pisau, sabit, kapak, dan tongkat,”tambah Mamut.

Dia mengatakan bahwa ketika dua polisi mencoba untuk memotret Qurban dengan bukti diletakkan di depannya, tersangka menyerang mereka dengan pisau dari meja di dekatnya.

“Dia menikam seorang petugas di rumah dan berlari mengejar (yang) kedua saat ia mencoba untuk keluar rumah,” kata Mamut.

“Pada saat itu, polisi Han di halaman menembaki tersangka, tapi salah satu dari beberapa peluru nyasar menghantam polisi [Uyghur] karena ia melarikan diri di depannya. Petugas polisi ditikam dan tersangka meninggal di tempat kejadian, dan petugas yang keliru ditembak meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.”

Mamut mengatakan dia tidak yakin apakah item yang dikumpulkan dari rumah Qurban itu benar-benar bagian dari rencana untuk menyerang kantor polisi setempat atau hanya alat-alat yang keluarga tersangka gunakan untuk pertanian. Namun atasannya kemudian mengeluarkan surat perintah untuk empat tersangka tambahan dan memerintahkan Mahmut untuk mengambil bagian dalam serangan tambahan dan patroli.

Dua tersangka lain tewas ditembak. Kemudian, satu lagi, yang diidentifikasi sebagai Enver Rozi ditahan, kata para pejabat setempat.

Salah satu tersangka ditembak mati empat hari setelah serangan di rumah Qurban sementara yang lain tewas pada 1 Juli -hari kedua bulan suci Ramadhan- setelah ia menolak untuk menyerah ketika dia dikepung, mendorong pemerintah untuk menembak dirinya .

“Penembakan itu telah begitu berdampak negatif terhadap suasana hati publik di desa kami, karena terjadi selama Ramadhan,” kata Abbas Tursun, kepala desa No. 2 Qumqusar kepada RFA, Minggu (6/7), menambahkan bahwa ia tidak pernah diminta untuk membantu dalam operasi, tetapi telah diberitahu tentang hasilnya.

“Saya belum mendengar ada yang mengatakan apa-apa terhadap polisi, tetapi semua wajah dan mata orang-orang yang saya temui hari ini mengatakan bagaimana perasaan mereka tentang insiden itu.”

Tursun mengatakan bahwa polisi sedang mencari tersangka kelima dan terakhir.

Reaksi warga

Seorang warga Makit county, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan kepada RFA bahwa telah ada laporan di media resmi mengenai serangan di rumah Qursun itu, “tapi banyak cerita tentang kejadian yang beredar di kalangan masyarakat.”

Dia mengatakan bahwa beberapa warga percaya bahwa polisi Han telah tidak adil telah dikirim kepada sesama perwira Uyghur dan memasukkan mereka ke dalam bahaya selama operasi -tindakan yang mereka lihat sebagai khas dari kebijakan diskriminasi di wilayah tersebut.

“Salah satu keluhan tentang insiden itu adalah bahwa dua polisi yang meninggal adalah etnis Uyghur dan polisi Han menggunakan mereka sebagai ‘perisai’ selama operasi,” kata warga tersebut.

“Sebagai hasil dari ini, semua [dari] korban yang tewas dalam insiden itu -termasuk para tersangka- adalah warga Uyghur.”

Penduduk lain yang menghadiri upacara peringatan bagi dua petugas polisi mengeluh bahwa “sebagian besar peserta … dikumpulkan oleh perintah resmi dan berada di sana di luar kemauan mereka, mengatakan bahwa upacara (pemakaman) itu tidak sejalan dengan tradisi etnis dan aturan agama (Islam).”

RFA menerima foto dari upacara, yang berlangsung pada Minggu (7/7) setelah serangan di rumah Qursun, menunjukkan potret polisi dan spanduk digantung di atas podium dengan kata-kata: “Upacara Memorial dari Dua Pahlawan (yang) Kita Lupa di 14 Juni, Insiden di Makit County.”

“Tidak ada pahlawan”

Warga yang menghadiri upacara tersebut medentifikasi petugas polisi yang ditembak mati saat melarikan diri dari Qursun sebagai seorang pria bernama Kurbanjan, mengatakan ia seharusnya tidak diperingati sebagai “pahlawan.”

“Sebenarnya, ia dibunuh ketika tersangka melarikan diri dan dia tidak dibunuh oleh tersangka -dia dibunuh oleh sesama polisi (salah sasaran)” katanya. Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak pernah diberitahu apa langkah-langkah hukuman yang diambil terhadap petugas yang menembaknya,”tapi kami tidak berani bertanya tentang hal itu.”

Ia menyebut polisi Han “egois” karena telah menempatkan sesama perwira Uyghur mereka ke dalam bahaya.

“Kedua perwira Uyghur mengambil bagian dalam operasi itu hanya untuk mempertahankan pekerjaan mereka. Selain itu, petugas Han, agar tetap aman, menembaki tersangka tanpa pandang bulu, menyebabkan kematian Kurbanjan-kawan mereka,” katanya.

“Tidak ada pahlawan atau patriot antara polisi dalam kasus ini yang layak diperingati. Mereka hanya mengintensifkan komunis dan propaganda nasionalis Han sementara mereka terus untuk membatasi kegiatan reguler keagamaan kami.”

Serangan terbaru

Serangan di rumah Qursun menyusul beberapa serangan dahsyat yang dipersalahkan pada gerilyawan di Xinjiang, rumah tradisional Uighur. Mereka mengeluh telah lama mengalami diskriminasi etnis, kontrol agama yang menindas, dan terus ditekan dalam kemiskinan dan pengangguran.

Pihak berwenang Xinjiang mengumumkan kebijakan hukum yang keras selama satu tahun terhadap “kegiatan teroris kekerasan” setelah bom 22 Mei di sebuah pasar di ibukota Xinjiang Urumqi yang menewaskan 43 orang, termasuk empat penyerang. (adibahasan/arrahmah.com)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 414 kali, 1 untuk hari ini)