muslimsuria

Syaikh Ghoyyats Abdul Baqi aktivis kemanusiaan Suriah/ bumisyam.com

Muslimin Suriah menderita akibat kebengisan biadab rezim Bashar Assad menghancurkan nyawa, harta, kehormatan, bahkan agama (Islam). Serangan terhadap Muslimin Sunni Suriah dari penguasa durjana bukan hanya membantai dan membakar rumah-rumah, namun juga memperkosa wanita-wanita Muslimah, mengusik keimanan di antaranya agar bersujud ke gambar  Bashar Assad. Dinding-dinding pun ditulisi kalimat kufur Laa ilaaha illal Bashar (tiada tuhan selain Bashar).

Hingga saat ini sudah 4 juta pengungsi yang berada di tempat-tempat pengungsian di berbagai tempat dan negeri. Mereka tinggal di tempat yang tidak layak. Begitu juga korban yang terluka akibat peperangan, mengalami luka permanen, karena tidak tersedianya pelayanan medis.

Demikian dikatakan aktivis kemanusiaan Suriah (Syrian Society for Humanitarian Relief and Development) Syaikh Ghiyats Abdul Baqi, saat menjadi pembicara dalam acara Silaturahim bersama tokoh yang diselenggarakan Forum Indonesia Peduli Syam  (FIPS), sekaligus launcing situs Bumisyam.com di AQL (Al Qur’an Learning Islamic Center), Jakarta, Rabu (3/4/2013).

Hadir dalam launcing situs Bumisyam.com itu diantara Ketua FIPS Ustz Bachtiar Nasir, Ust Abu JIbril (MMI), Ust. Abdul Wahid Alwi (Dewan Dakwah), para anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU), dan Ust Hartono Ahmad Jaiz (Nahi Munkar.com).

Oleh karena itu, lanjutnya, dia mengharapkan kepedulian Umat Islam di belahan dunia ini, di antaranya Indonesia. Dia juga berterimakasih dengan adanya kepedulian bahkan ada yang aktif langsung berkaitan dengan derita Muslimin Suriah ini seperti adanya forum di Indonesia yang peduli terhadap nasib Muslimin Suriah yang dibantai dan diserang rezim syiah Nushairiyah sampai kini.

Serangan terhadap Muslimin Suriah itu,lanjutnya, rezim Syiah Nushairiyah Suriah pimpinan Bashar Assad dibantu Syiah Iran, Rusia, dan Cina; berupa senjata, pesawat tempur, tank baja, hingga rudal anti tank.  Senjata canggih apapun yang digunakan rezim Bashar Asad tak membuat Mujahidin Suriah melemah. Mereka akan hadapi meski hanya menggunakan senjata ringan.

Dikatakan Syaikh Ghiyats Abdul Baqi, bantuan peralatan militer canggih dari Cina, Rusia dan Iran adalah tak lain untuk melindungi wilayah territorial Zionis Yahudi Israel. Diprediksi, peperangan di Suriah akan berlangsung lama.

Dikabarkan, hingga saat ini sudah 4 juta pengungsi yang berada di tempat-tempat pengungsian. “Mereka tinggal di tempat yang tidak layak. Begitu juga korban yang terluka akibat peperangan, mengalami luka permanen, karena tidak tersedianya pelayanan medis,” ujar Ghiyats.

Syaikh Ghiyats meyakinkan, rakyat Suriah akan tetap bersabar dan melakukan perlawanan jihad fi sabililah untuk menghadapi kebengisan rezim Bashar Asad yang hingga saat ini terus berlanjut. Ia berharap, kaum muslimin di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, agar mengikuti perkembangan yang terjadi di Suria. Tentu saja melanjutkan program kemanusiaan agar terus berjalan. Begitu juga dengan divisi media untuk diperkuat. Mengingat belum banyak umat Islam yang memahami konflik di Suriah.

Aktivis kemanusiaan Suriah tersebut menyatakan dukungannya atas diluncurkannya situs Bumisyam.com. Dan ia menyetujui kata Bumi Syam untuk mengganti kata Suriah, karena menjangkau masalah Palestina dan lainnya pula.

Kematian Syaikh Al-Buthi

Ditanya tentang kematian Syaikh Al-Buthi, aktivis Suriah ini menjawab, dengan ungkapan yang tidak seperti biasanya orang Arab menjawab. Biasanya kalau ada yang meninggal, apalagi seorang syaikh, maka ucapannya adalah rahimahullah (semoga Allah menyayanginya). Tetapi aktivis Suriah ini berkali-kali menyebut Syaikh Al-Buthi dengan ucapan rahima Allah muslimin wa muslimat (semoga Allah menyayangi Muslimin dan Muslimat). Ucapan itu tentu ada maksud tertentu, wallahu a’lam.

Kata dia,  ada dua kepentingan yang ditargetkan Bashar Al Assad saat membunuh tokoh ulama Suriah, Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi.

“Yang pertama, Bashar ingin mengadu domba sesama kaum Muslimin. Dengan terbunuhnya Syaikh Al Buthi, akan terjadi sikap saling tuduh di antara kalangan Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan cara ini Bashar ingin opini mengenai perjuangan Suriah terpecah belah,” ungkap Syaikh Ghoyyats.

Yang Kedua, lanjutnya, Bashar ingin merusak citra Mujahidin Suriah. Rezim Bashar ingin menggulirkan opini bahwa pembunuh Al Buthi adalah Mujahidin Suriah.

“Semua ini untuk menyebar fitnah sekaligus melahirkan stigma buruk kepada pejuang oposisi,” jelas Syaikh Ghoyyats.

Ditanya tentang bila NATO hadir ke Suriah, bagaiamana, dia menjawab bahwa itu tidak ada manfaatnya. (voais/slm/bms/ nahimunkar.com)

(Dibaca 494 kali, 1 untuk hari ini)