Berikut sedikit ringkasan bagaimana para ulama’ hadith mengklasifikasikan pelbagai derajat hadith.

Insya Allah, dengan sedikit ilmu ini, kita lebih memahami ilmu hadith jauh lebih baik dari para pemikir2 Islam yang menilai sesebuah hadith secara bersembarangan tanpa ilmu dan tanpa mengikuti dasar & panduan para ulama’ hadith.

  1. Shohih lidzatihi (shohih dengan sendirinya) (الصحيح لذاته)

    Shohih lidzatihi adalah hadith yang para perawinya:
    Adil (عدل),
    Hafalannya kuat (تام الضبط),
    Sanadnya bersambung (بسند متصل),
    Terbebas dari kejanggalan dan kecacatan (سلم من الشذوذ و العلة القادحة).

    Contoh: Sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,

من يرد اللّه به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan maka akan difahamkan ilmu agama.” (HR. Bukhori dan Muslim)

2. Shohih lighoirihi (shohih dengan bantuan) (الصحيح لغيره)

Shohih lighoirihi adalah hadith hasan dengan sendirinya (hasan lidzatihi) apabila memiliki beberapa jalur periwayatan yang berbeda-beda.

Contoh: Dari ‘Abdillah Ibn ‘Amr bin ‘Ash rodhiallahu ‘anhu, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menyiapkan pasukan dan ternyata kekurangan unta.

Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Belikan untuk kita unta perang dengan unta-unta yang masih muda.” Maka ia mengambil 2-3 unta muda dan mendapat 1 unta perang.

Hadith Ini diriwayatkan Ahmad dari jalan Muhammad bin Ishaq dan diriwayatkan Baihaqi dari jalan ‘Amr bin Syu’aib. Setiap jalan ini jika dilihat secara bersendirian tidak boleh sampai derajat shohih, hanya sampai hasan. Tapi jika dilihat secara keseluruhan, maka jadilah hadith shohih lighoirihi. Hadith ini dinamakan shohih lighoirihi, walaupun nilai masing-masing jalan secara bersendirian tidak sampai derajat shohih, namun karena bila dinilai secara keseluruhan, boleh saling menguatkan hingga mencapai derajat shohih.

3. Hasan lidzatihi (hasan dengan sendirinya) (الحسن لذاته)

Hasan lidzatihi adalah hadith yang diriwayatkan oleh para perawi yang adil tapi hafalannya kurang sempurna dengan sanad bersambung dan selamat dari keganjilan dan kecacatan. Jadi, tidak ada perbezaan antara hadith ini dengan hadith shohih lidzatihi kecuali dalam satu persyaratan, yaitu hadith hasan lidzatihi itu kalah dalam sisi hafalan.

Contoh: Sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,

مفتاح الضلاة الطهور، و تحريمها التكبير، و تحليلها التسليم

“Sholat itu dibuka dengan bersuci, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.”

Hadith-hadith yang dimungkinkan hadith hasan adalah hadith yang diriwayatkan Abu Daud secara sendirian, demikian keterangan dari Ibnu Sholah.

4. Hasan lighoirihi (hasan dengan bantuan) (الحسن لغيره)

Hasan lighoirihi adalah hadith yang dho’ifnya ringan dan memiliki beberapa jalan yang boleh saling menguatkan satu dengan yang lainnya karena menimbang didalamnya tidak ada pendusta atau perawi yang pernah tertuduh membuat hadith palsu.

Contoh: hadith dari Umar ibn Khatthab rodhiallahu’anhu berkata bahwasannya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam jika mengangkat kedua tangannya dalam do’a maka beliau tidak menurunkannya hingga mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. (HR. Tirmidzi)

Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom berkata, “Hadith ini memiliki banyak hadith penguat dari riwayat Abu Daud dan yang selainnya. Gabungan hadith-hadith tersebut menuntut agar hadith tersebut dinilai sebagai hadith hasan.

Dan dinamakan hasan lighoirihi karena jika hanya melihat masing-masing sanadnya secara bersendirian maka hadith tersebut tidak mencapai derajat hasan. Namun, bila dilihat keseluruhan jalur periwayatan, maka hadith tersebut menjadi kuat hingga mencapai derajat hasan.

5.  Hadits dho’if (الضعيف)

Hadits dho’if adalah hadith yang tidak memenuhi persyaratan shohih dan hasan.

Contoh: ”Jagalah diri-diri kalian dari gangguan orang lain dengan buruk sangka.”

Hadith yang dho’if, tidak memberi faedah dzon (sangkaan) dan amal. Dan tidak boleh menganggapnya sebagai dalil. Tidak boleh pula menyebutkan hadith dho’if tanpa diiringi dengan penjelasan tentang dho’ifnya. Kecuali untuk masalah motivasi dan menakuti-nakuti (targhib wa tarhib). Maka diperbolehkan menyebutkan hadits dho’if dengan beberapa persyaratan menurut sebagian ulama. Sejumlah ulama memberi kemudahan untuk menyebutkan hadits dho’if dengan tiga syarat* .(*Namun, untuk orang awam yang bukan pakar hadith, cukuplah sekadar hadith-hadith shohih dan hasan.)

Sumber: “Taisir Musthalah Hadits” dihttps://muslimah.or.id

Facebook Abu Zidane

(nahimmunkar.com)

(Dibaca 2.798 kali, 1 untuk hari ini)