Etnis Tionghoa Penghina Pribumi dilaporkan ke Polda Metro


Jakarta, Aktual.com – Masyarakat Muslim Tionghoa Indonesia (MUSTI) secara resmi melaporkan kepada Polda Metro Jaya atas dugaan rasis yang dilakukan Steven Hadi Surya sulistiyo kepada Gubernur NTB, Muhammad Zainal Majdi.

MUTI merasa dirugikan oleh perilaku Steven yang telah menghina masyarakat pribumi. Dalam pernyataannya, Ketua MUTI Muhammad Jusuf Hamka mengatakan bahwa latar belakang Steven sebagai etnis Tionghoa telah mengadu domba dan mengacam kerukunan etnis di Indonesia.

Berikut kutipan laporan yang disampaikan ke Polda Metro Jaya pada Jumat 14 April 2017, pukul 23.00 Wib.

“Menerangkan bawah kejadian bermula pada tanggal 9 April 2017 dimana, pelapor melihat atau mengetahui bahwa adanya dugaan penyebaran kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi Ras dan Etnis yang terutama ditujukan untuk korban (Muhammad Zainal Majdi) dan Masyarakat Muslim Tionghoa indonesia melalui langsung maupun pemberitaan yang diduga dilakukan oleh terlapor di bandara Soekarno-Hatta dengan kata-kata ‘Dasar Pribumi Tiko’. Dari kejadian tersebut, korban menduga (Masyarakat Muslim Tionghoa Indonesia) bahwa terlapor telah sengaja menyebarkan kebencian tersebut agar dapat merusak nama organisasi Muslim Tionghoa Indonesia. Atas kejadian tersebut korban merasa dirugikan dan selanjutnya korban melalui pelapornya (Kaasa Hulum yakni Farhan Abbas) datang ke SPKT Polda Metro jaya untuk membuat laporan pengaduan pemyidik lebih lanjut sesui hukum yang berlaku,” demikian kutipan Laporan tersebut.

Dasar laporan itu mengacu pada UU Republik Indonesia No 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi dan Ras Etnis sebagaimana pasal 16.

(Dadangsah Dapunta)

(Ismed Eka Kusuma)

http://www.aktual.com/

***

Nahdlatul Wathan Laporkan Penghina Gubernur NTB ke Polisi

Pengurus Wilayah Nahdhlatul Wathan (NW) DKI Jakarta dan Jawa Barat mendatangi Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (14/4).

JAKARTA — Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (NW) DKI Jakarta dan Jawa Barat mendatangi Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (14/4). Kedatangan mereka dalam rangka melaporkan Steven Hadisuryo Sulistiyo terkait penghinaannya terhadap Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi.

“Kami pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan DKI Jakarta dan Jawa Barat, sengaja datang ke Polda Metro Jaya ini untuk mengadu terkait ulah daripada Steven yang melontarkan pernyataan arogan terhadap Gubernur NTB,” ujar Ketua Pengurus Wilayah NW DKI Jakarta, Muslihan Habib.

NW mendorong Steven tidak hanya meminta maaf secara pribadi kepada TGB. Mereka mendorong mahasiswa berusia 25 tahun itu juga meminta maaf kepada warga NW, umat Islam, dan masyarakat Indonesia seluruhnya.

“Itulah kami datang ke Mapolda Metro Jaya ini, untuk koordinasi dengan Mapolda Metro Jaya ini supaya Steven ini mau minta maaf kepada masyarakat NW khususnya, dan masyarakat Indonesia secara umum. Umat Islam juga,” kata Muslihan.

Kejadian penghinaan tersebut terjadi Ahad (9/4), pukul 14.30 waktu Singapore. Saat itu Gubernur NTB yang biasa dipanggil Tuan Guru Bajang (TGB) sedang mengantre di counter check in Bandara Changi, Singapura. Lalu ia keluar dari antrean untuk sejenak melihat jadwal penerbangan dan beberapa saat kemudian kembali ke barisan.

Tiba-tiba dari arah belakang TGB, Stephen marah kepadanya dan melontarkan kata-kata bernada sara dan kebencian. Menurut Ketua Umum NW Wilayah Jawa Barat, Wahyu Setiawan, penghinaan tersebut juga berlangsung di pesawat. Ketika pesawat mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, TGB langsung melaporkan Steven ke kepolisian bandara.

“Awalnya kan Pak Gubernur sedang antre di bandara Changi. Kemudian beliau ingin keluar dari antrean untuk melihat jadwal penerbangan. Setelah itu beliau masuk lagi ke barisan. Steven yang ada di belakangnya, langsung marah–marah ke Pak Gubernur dan mencaci maki beliau,” kata Wahyu, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (14/4).

Steven sendiri telah melayangkan surat permohonan maaf yang telah dibubuhi materai. Menurut surat tersebut, ia mengakui dirinya melayangkan kata-kata bernada sara  yaitu “Dasar Indo, Dasar Indonesia, Dasar Pribumi, Tiko!”

“Beliau mengatakan bahwa Pak Zainul Majdi itu “Dasar pribumi, dasar Indo dan Tiko dan dia juga mengumpat yang lainnya. Dia memang orang Tionghoa, dan menghina orang Indonesia, padahal dia orang Indonesia dan mencari nafkah di Indonesia,” kata Wahyu.

TGB sendiri sudah memaafkan sikap Stephen. Namun dari pihak NW sendiri mengatakan akan terus mengusut kasus ini hingga ke pidana.

“Beliau sudah memaafkan, tetapi kami dari warga NW merasa tidak puas. Supaya ada efek jera terhadap Steven. Ini memecah kebhinekkaan masalahnya, tidak hanya dari warga NW, tetapi juga terhadap warga Indonesia. Bahaya. Sara larinya seperti ini,” ujar Wahyu.

Rep: Alfan Tiara Hilmi/ Red: Andi Nur Aminah/republika.co.id

(nahimunkar.com)

(Dibaca 9.850 kali, 1 untuk hari ini)