Nabi Dihina, Ormas Islam Indonesia Serukan Boikot Produk Prancis dan Akan Geruduk Kedubesnya

  • Ormas Persatuan Islam, salah satu ormas Islam tertua di Indonesia, menyerukan agar umat Islam melakukan boikot produk Prancis.
  • Nabi Muhammad Dihina, Ormas Islam Serukan Boikot Produk Prancis
  • PA 212 Bakal Geruduk Kedubes dan Boikot Produk Prancis

Silakan simak ini.

***


PA 212 Bakal Geruduk Kedubes dan Boikot Produk Prancis

 

Wakil Sekretaris Jendral PA 212, Novel Bamukmin mengatakan pihaknya bakal menggeruduk Kedubes Prancis dan menyerukan boikot produk Prancis. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

 

Jakarta,

Persaudaraan Alumni (PA) 212 bakal mendatangi Kedutaan Besar Prancis di Jakarta untuk mengecam pernyataan Presiden Emmanuel Macron yang dinilai menghina Islam dan Nabi Muhammad.

“Insya Allah kami siap turun ke jalan melakukan aksi ke depan Kedutaan Prancis,” kata Wakil Sekretaris Jendral PA 212, Novel Bamukmin kepada CNNIndonesia.com, Senin (26/10).

PA 212, kata Novel, mengecam keras pernyataan Macron yang dianggap menghina Islam. Ia menilai Macron sama saja telah mendukung penistaan terhadap umat Islam di seluruh dunia.

“Yang jelas umat Islam seluruh dunia termasuk Indonesia marah,” ujarnya.

Novel lantas menyerukan kepada umat Islam di Indonesia memboikot produk-produk berasal dari Prancis yang beredar di Indonesia. Namun, ia menyatakan bahwa pihaknya tak bisa menghalangi jika ada keinginan umat Islam melakukan sweeping warga negara Prancis yang menetap di RI.

“Untuk saat ini sikap yang paling spontan adalah memboikot produk Prancis dan meminta kepada Dubes Prancis mempunyai sikap tegas,” kata Novel.

Macron mengeluarkan pernyataan kontroversial dan dianggap menyinggung umat Islam dengan menyatakan kejahatan terorisme Islam harus ditindak tegas.

Ketua umum Partai La Republique en Marche (LREM) melontarkan pernyataan itu sebagai responsnya terhadap kasus pemenggalan Samuel Paty, guru yang dibunuh setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada para muridnya. Macron pun langsung mendapat kecaman dari berbagai pihak. Sejumlah negara Timur Tengah bahkan menyerukan boikot produk Prancis sebagai bentuk protes.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengecam pernyataan Macron tersebut. MUI pun meminta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memanggil Duta Besar Prancis untuk Indonesia guna meminta klarifikasi pernyataan Macron.

(rzr/fra)

CNN Indonesia | Senin, 26/10/2020 18:42 WIB

***

 

Ormas Islam dan anggota DPR kutuk pernyataan Macron soal Islam

Ormas Persatuan Islam, salah satu ormas Islam tertua di Indonesia, menyerukan agar umat Islam melakukan boikot produk Prancis sebagai bentuk solidaritas

 

JAKARTA

Anggota DPR dan ormas Islam mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron terhadap Islam dan Umat Muslim yang dinilai melancarkan ujaran kebencian.

Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP), anggota fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Mardani Ali Sera mengatakan ucapan Macron merupakan bentuk Islamofobia dan merusak keharmonisan kerukunan umat beragama di dunia.

“Indonesia menolak pernyataan Macron yang menghubungkan Islam dengan separatisme dan mengolok-olok Nabi Muhammad SAW. Saya mendesak Kementerian Luar Negeri RI untuk mengecam Presiden Marcon melalui pernyataannya yang berbau rasis,” kata Mardani dalam pernyataannya kepada Anadolu Agency pada Selasa.

Mardani juga menolak ucapan Macron yang menyebut Islam sebagai sumber segala aksi terorisme yang ada di dunia.

“Prancis sebagai negara yang sekuler seharusnya menghormati kebebasan beragama. Tidak pantas Islamophobia dilancarkan pemimpin negeri itu,” ucap dia.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi menyampaikan Presiden Prancis Emmanuel Macron harus belajar toleransi beragama terutama belajar tentang Islam.

MUI juga menilai tindakan dan kebijakan yang telah diambil Presiden Prancis membuat Islamophobia tumbuh subur.

“Macron secara tidak langsung telah mendukung gerakan Islamofobia,” ujar Muhyiddin dalam pernyataannya.

Sementara itu, ormas Islam Hidayatullah menilai ucapan Macron yang menyudutkan Islam sangat tidak produktif untuk dialog antar peradaban.

Ketua Bidang Luar Negeri Hidayatullah Dzikrullah Pramudya menyampaikan Macron seharusnya melakukan diplomasi dan dialog beradab antar budaya agar dapat menyelesaikan banyak masalah dengan baik.

Dzikrullah mengatakan Prancis juga menerapkan standar ganda atas kecaman yang dilakukan Turki kepada mereka.

Saat Presiden Erdogan mengatakan Macron perlu melakukan pemeriksaan mental, pemerintah Prancis merasa tidak senang dan menarik duta besar mereka dari Ankara.

“Hal itu bertentangan dengan apa yang mereka katakan bahwa mengkritik Nabi Muhammad adalah kebebasan berekspresi atau berbicara. Oleh karena itu kami setuju orang seperti ini harus menjalani perawatan mental yang intensif,” ucap Dzikrullah kepada Anadolu Agency.

Sementara itu, Muhammadiyah, ormas Islam terbesar di Indonesia, juga mengkritik pernyataan-pernyataan Islamofobia yang dilancar pemerintah Prancis.

“Elit politik pemerintah Prancis tidak selayaknya memberikan pernyataan-pernyataan yang mengganggu perdamaian di antara warga negara. Sementara tokoh-tokoh Muslim harus memperkuat pernyataan-pernyataan hidup damai di manapun negeri dipijak,” ujar Wahid Ridwan, Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerja sama Internasional Muhammadiyah kepada Anadolu Agency.

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), organisasi Islam yang didirikan mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir, menyesalkan tindakan Perancis yang melakukan standar ganda soal penistaan agama.

Ketua Bidang Pusat Kajian Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Teten Romli Qomaruddin menyampaikan di satu sisi Perancis sangat menjunjung tinggi UU penistaan agama.

Namun, kata dia, hal itu tidak diterapkan kepada Islam, melainkan hanya untuk Yahudi dan Nasrani.

“Seharusnya kita mampu menyelaraskan dua budaya yang berbeda yakni Islam dan Barat,” kata Teten kepada Anadolu Agency.

Seruan boikot

Persatuan Islam, salah satu ormas Islam tertua di Indonesia, menyerukan agar umat Islam melakukan boikot produk Prancis sebagai bentuk solidaritas sebagaimana telah dilakukan elemen Muslim di negara-negara lain.

“Ini langkah yang baik untuk diikuti oleh Indonesia sebagai tekanan keras terhadap pernyataan Macron yang rasis,” ujar Wakil Ketua Umum Persatuan Islam Jeje Zaenuddin kepada Anadolu Agency.

Jeje mengatakan Indonesia selama ini menjadi pasar yang besar bagi produk-produk Eropa, oleh karena itu kebijakan boikot bisa menjadi terapi kejut bagi Prancis.

“Agar negara mana pun kapok melakukan diskriminasi kepada umat Islam,” kata dia.

Awal bulan ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron menggambarkan Islam sebagai agama “dalam krisis” dan mengumumkan rencana membuat undang-undang yang lebih keras untuk menangani apa yang disebutnya “separatisme Islam” di Prancis.

Selama beberapa hari terakhir, Prancis juga membiarkan pemasangan karikatur dan gambar yang menghina Nabi Muhammad di beberapa bangunan di negara itu.

 

Website Anadolu Agency, Pizaro Gozali Idrus |27.10.2020

 

***

 

  • Nabi Muhammad Dihina, Ormas Islam Serukan Boikot Produk Prancis

    Organisasi masyarakat (ormas) Wahdah Islamiyah mengutuk keras tindakan penistaan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan agama Islam yang terjadi di Prancis, termasuk kecaman kepada Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang belakangan mengeluarkan pernyataan dukungan akan tindakan penistaan itu.

    “Kecintaan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam adalah bagian dari keislaman yang melekat pada diri muslim,” demikian surat pernyataan Wahdah Islamiyah yang ditandatangani langsung ketua umumnya, Muhammad Zaitun Rasmin, Selasa, 27 Oktober 2020.

    Baca juga: Guru Prancis Ditikam Mati Karena Kartun Nabi Muhammad

     

    Dalam surat tersebut menjelaskan bahwa kejadian beberapa waktu lalu itu, terutama di negara Prancis, di mana penistaan terhadap Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam menjadi marak dan menjadi fenomena umum.

    “Sungguh merupakan hal sangat memicu kemarahan kita sebagai kaum Muslimin yang sangat mencintai nabinya yang mulia Shallallahu ‘alaihi wassalam,” tulis surat tersebut.

    Sebanyak tujuh poin pernyataan sikap yang dilayangkan ormas nasional yang berkantor di Kota Makassar itu, yakni mengutuk setiap bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, kapan dan di mana pun serta siapa pun, termasuk yang terjadi di Prancis beberapa waktu lalu yang didukung Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

    Kemudian, Wahdah meminta pemerintah Prancis serta semua pihak yang terlibat untuk segera menghentikan penghinaan ini, di mana provokasi keji ini sangat berpotensi memicu tindak kekerasan yang telah mereka rasakan sendiri.

    Berikutnya, Wahdah mendesak pemerintah Indonesia untuk segera memulangkan Duta Besar Prancis dan menutup kedutaan besarnya di Jakarta.

    Wahdah juga mengimbau kepada segenap anggota, kader, dan simpatisan serta seluruh umat Islam untuk memboikot produk Prancis dan semua yang mendukungnya dalam penghinaan pada Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

    Selanjutnya, Wahdah juga menyeru kepada kaum Muslimin internasional untuk menjadikan peristiwa itu sebagai momentum semakin meningkatkan persatuan dan persaudaraan umat Islam sedunia, karena kekuatan untuk membela dan mempertahankan kehormatan Islam dengan izin Allah Ta’ala terletak pada persatuan dan kesatuan kaum muslim.

    “Menyerukan kepada segenap kaum muslimin untuk meningkatkan pengkajian dan internalisasi sirah nabawiyah (kitab-kitab berisi kisah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat yang mulia) yang akan menjadi sebab utama aktualisasi perilaku beragama Islam yang semakin baik dan indah,” bunyi surat itu lagi.

    Wahdah juga menyerukan kepada semua pihak di Indonesia untuk menjaga suasana kondusif hubungan antar umat beragama dan menghindari upaya provokatif terutama dalam konteks umat Islam dan Nabinya tercinta Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Di mana kaum Muslimin siap mempertaruhkan nyawa untuk membela kehormatan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

    Oleh :

    VIVA – Selasa, 27 Oktober 2020 | 17:01 WIB

(nahimunkar.org)

(Dibaca 351 kali, 1 untuk hari ini)