Guru Bantil (mengenakan Sorban dan jubah)

SANGATTA (gemaislam) – Syaikh Muhammad alias Guru Besar alias Guru Bantil, si nabi palsu asal warga Kampung Rantau Bemban,  Sangatta Kutai Timur menyebarkan ajaran dustanya didalam penjara.

Wakil Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menerangkan, Guru Bantil masih mendekam di tahanan Rutan Tenggarong, karena telah didakwa akibat perbuatan penistaan agama dan penipuan ini.

“Guru Bantil menyebarkan aliran sesatnya di dalam penjara. Ini berbahaya dan dapat menimbulkan masalah dan meresahkan masyarakat,” kata Sulaiman, di Sangatta, Selasa (2/12/2014), dilansir Antara.

Ardiansyah juga berharap permasalahan Bantil dapat segera teratasi, karena aliran sempalan ini sangat membahayakan akidah masyarakat khususnya umat Islam.

Jika memang Bantil tidak mau bertobat maka tidak menutup kemungkinan dirinya bisa kembali terjerat pasal penistaan agama dan penipuan, seperti yang telah didakwakan pada dirinya sekarang.

“Heran, para pengikut Bantil ini seperti terhipnotis dengan iming-iming instan mudahnya mendapatkan surga hanya dengan janji-janji Bantil,” kata dia.

“Bantil memberikan pengikutnya janji masuk surga hanya dengan membayar zakat diri dengan jumlah uang,” ujarnya.

“Lebih memusingkan lagi, para pengikut ini tidak mau bertobat dan dibina untuk kembali ke jalan agama yang benar sesuai syariat Islam,” katanya.

Untuk diketahui, pada 4 Maret 2006 lalu sejumlah warga Kampung Tengah Kecamatan Sangatta Selatan mengadukan ajaran guru Bantil yang mengaku sebagai utusan Tuhan kepada Kementrian Agama Kutai Timur.

Atas pengaduan tersebut, pada 7 Maret 2006 ditindak lanjuti dengan membuatkan berita acara yang berisi 8 poin pengaduan masyarakat. Kemudian pada 21 Juni 2006, MUI bersama Tokoh Masyarakat Kutai bersilahturahmi dengan Bantil beserta murid senior dan pengikut lainnya. Dalam kesempatan itu juga Bantil beserta pengikutnya membuat pernyataan bila ditemukan dan diketahui mengajarkan ilmu agama seperti yang dilaporkan, mereka siap bertanggungjawab dan diproses.

Pernyataan itu ditandatangani Bantil di atas materai Rp6.000 yang diketahui Ketua Adat Kutai Sangatta H Pital dan Ketua MUI Kutim Muh Amin AF sebagai saksi. Namun pada 10 Desember 2012, Bantil justru diamankan polisi setelah dilaporkan mantan pengikutnya melakukan penipuan dan penggelapan. Tak hanya itu Bantil, ternyata juga mengajarkan ajaran Islam yang menyimpang dari al Quran dan Hadis.

Oleh karena itu, MUI mengambil sikap dan menyimpulkan ada 20 item yang menjadi indikasi ajaran Bantil disebut menyesatkan. Kesepatan pun tercapai dengan keluarnya Fatwa MUI terkait ajaran yang disebarkan Bantil pada pengikutnya.

Namun semua kesaksian yang menyudutkannya mendapat penolakan. Bantil menolak tudingan dari sejumlah saksi yang juga mantan pengikutnya. Ia mengaku tidak mengajarkan agama Islam yang menyimpang di Rantau Bemban. Ia pun menegaskan tidak membuat syariat yang berbeda dengan ajaran Islam.

Red: Budi Marta Saudin/gemasilm, Desember 03

05:59 2014

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.652 kali, 1 untuk hari ini)