Dikabarkan, santrinya ada pelacurnya, pengasuhnya Kyai Haji tapi suka ceramah natalan di gereja-gereja

Di saat LGBT merajalela dan meresahkan Umat Islam, muncul berita bahwa di Jogja kelompok banci (waria) punya pesantren dan bahkan akan menyusun Kitab Fiqh Waria.

Padahal di dalam Islam, sekadar banci, tidak menjadi pelaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender)  saja sudah diusir.

Dalam hadits disebutkan, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjatuhkan sanksi kepada orang banci dengan mengasingkannya atau mengusirnya dari rumah. Demikian pula yang dilakukan oleh para Sahabat sepeninggal beliau.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ، وَقَالَ: «أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ قَالَ: فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلاَنًا، وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلاَنًا

Dari Ibnu Abbas, katanya, “Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki mukhannats dan para wanita mutarajjilah. Kata beliau, ‘Keluarkan mereka dari rumah kalian’, maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengusir Si Fulan, sedangkan Umar mengusir Si Fulan” (HR. Bukhari).

Adapun pelaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) maka hukumannya adalah dibunuh. Dalam hadits:

مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمَ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَ الْمَفْعُوْلَ بِهِ

“Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelakunya beserta pasangannya.“ (HR. Ahmad)

Ketika ternyata sudah ada ketentuan dari Rasulullah Saw maka berlakulah ketentuan itu, dan tidak ada pilihan lain lagi.

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦ [سورة الأحزاب,٣٦]

36. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata [Al Ahzab36]

Namun anehnya, di Jogjakarta justru didirikan pesantren waria yang diantara santrinya adalah pelacur yang kini disebut PSK, dan kini mau menyusun Kitab Fiqih (hukum Islam) Waria. Na’udzubillahi min dzalik!

Inilah beritanya.

***

LGBT Merajalela, Pesantren Waria akan Susun Kitab Fiqih Waria

YOGYAKARTA (Panjimas.com) – Semakin lama, kelakukan kaum LGBT semakin aneh. Shinta Ratri, Ketua Pondok Pesantren (Ponpes) Waria al-Fatah yang terletak di Notoyudan, Pringgokusuman, Gedongtengen, Yogyakarta, mengaku akan menyusun kitab fiqih khusus waria.

Padahal, sebagaiman diketahui, syariat Islam sangat mengecam perilaku waria, karena jelas menyimpang.(Baca: Begini Hukum Syariat Islam Menyikapi LGBT)

Mereka sendiri sebenarnya menyadari, bahwa kitab-kitab fiqih yang dipelajari di pesantren tidak akomodatif terhadap keberadaan mereka.

Shinta kemudian menyebut kitab Al-Hikam yang dirasa tidak membedakan gender.

“Jadi kami mengkaji kitab Fikih yang tidak membedakan gender, misalnya kitab al-Hikam,” kata Shinta, Selasa (2/2/2016).

Padahal, kitab Al-Hikam bukanlah kitab fiqih, melainkan kitab tasawuf yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Athailah As Sakandari.

Sebagai satu-satunya pesantren waria, pesantren al-Fatah saat ini sedang mengumpulkan bahan untuk menyusun kitab Fikih yang nantinya bakal mereka namai kitab fiqih waria.

“Semoga kitab fiqh waria itu bisa dipakai oleh waria muslim di seluruh dunia,” jelas Shinta.

Saat menyusun kitab Fikih waria, pihak pesantren mengaku akan meminta pertimbangan dari sejumlah ulama sepuh di Jawa.

“Nanti ada sepuluh ulama yang akan kami mintai pendapat,” terangnya. [AW/tribun]

panjimas.com, Kamis, 24 Rabi`Ul Akhir 1437H / February 4, 2016

***

Santrinya ada pelacurnya, pengasuhnya Kyai Haji tapi suka ceramah natalan di gereja-gereja

Jumlah santri di pesantren waria ini ada sekitar 30 orang. Mereka tinggal di kediaman masing-masing dan akan berkumpul di pondok sesuai dengan jadwal kegiatan pesantren yang telah ditentukan. Para santri memiliki berbagai macam profesi, mulai dari berdagang, ngamen, pengrajin, hingga ada juga yang menjadi pekerja seks komersial (PSK)., menurut situs NU Online, Minggu, 24 Januari 2016 13:03.

Bila ditilik siapa pembina dan pengasuh pondok pesantren waria ini, ternyata adalah AM orang yang suka ceramah natalan di gereja-gereja, tetapi bergelar KH dan memimpin pesantren di Kota Gede Jogjakarta. Pesantrennnya pun pernah dipersilakan untuk perayaan Imlex.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 8.769 kali, 1 untuk hari ini)