ilustrasi PDIP demo menolak kenaikan BBM zaman SBY/ foto itd

Kebijakan pemerintah menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) secara diam-diam seperti maling jemuran.

 “Ogeb juga!! yg diributin bukan naiknya, tapi NAIK DIEM2 kayak maling jemuran!!” kata musisi Frans Mohede di akun Twitter-nya @muaydico75.

 Ia juga mengkritisi pendukung Jokowi (Jokower) yang menyatakan memilki mobil mewah tidak perlu protes.

 “Laah ..kalo perlu mesin potong rumput juga gw isiin pertamax turbo,” jelasnya.

Pemerintah Joko Widodo (Jokowi) memberikan hadiah istimewa dengan kenaikan harga pertamax cs secara diam-diam mulai, Ahad (1/7). Menurut VP Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito, besaran kenaikannya antara Rp600 sampai Rp900.

Harga baru Pertamax di DKI Jakarta, misal, naik menjadi Rp9.500 per liter dari sebelumnya Rp8.900. Harga Pertamax Turbo sebelumnya Rp10.100 per liter kini menjadi Rp10.700 per liter.

Harga Dexlite dari harga Rp8.100 per liter menjadi Rp9.000 per liter. Pertamax Dex dari harga Rp10.000 per liter menjadi Rp10.500 per liter.

Secara umum, kata Adiatma, kenaikan harga masing-masing jenis BBM nonsubsidi itu di bawah sepuluh persen saja. Kenaikan harga menyesuaikan dengan harga minyak dunia yang juga sedang naik sekarang. “Harga minyak dunia kan naik. BBM kita (BBM yang dijual di Indonesia) hampir sembilan puluh persen kan impor, jadi mengikuti harga minyak dunia, sehingga kita tidak bisa mengontrolnya,” katanya.

Sumber: suaranasional.com/  Ibnu Maksum

***

Lempar ke Pertamina Kenaikan BBM, Pemerintah Jokowi Bergaya Petak Umpet

Pemerintah Joko Widodo (Jokowi) bergaya petak umpat dengan melempar kenaikan harga BBM ke Pertamina padahal ketika diturunkan, penguasa yang mengumumkan. Demikian dikatakan pengamat politik Ahmad Yazid kepada suaranasional, Selasa (3/7). “Kalau kebijakan dinilai merugikan pemerintah, dilempar, namun (bila) memberikan citra positif langsung pemerintah yang mengklaim,” ungkapnya.

 Kata Yazid, pemerintahan Jokowi tidak berani bertanggungjawab dalam kenaikan harga BBM. “Ini pemerintah bukan seperti laki-laki yang bertanggungjawab,” papar Yazid. Menurut Yazid, rakyat akan menilai pemerintahan Jokowi hanya mengklaim yang baik-baik bahkan kebijakan sebelumnya (pun) diakuinya.

“Pencintaraan Jokowi terlalu lebay sehingga memuakkan,” jelasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kebijakan kenaikan BBM merupakan ranah dari PT Pertamina dan bukan kebijakan pemerintah. “Kenaikan BBM Itu kan corporate ya, yang dilakukan Pertamina,” katanya usai rapat dengan komisi XI, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (2/7) malam.

Ibnu Maksum / suaranasional.com

***

Kok Bisa, Rezim Jokowi Naikkan Harga BBM dan TDL Berkali-kali Bisa Mulus Tanpa Demonstrasi?

itoday – Menaikkan tarif dasar listrik (TDL) secara diam-diam bisa berbahaya, karena hal itu dirasakan langsung oleh rakyat. Dalam kondisi seperti itu dipoles dengan pencitraan apapun akan sulit bagi rezim penguasa.

Penegasan itu disampaikan mantan staf khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Andi Arief, terkait TDL yang akan naik lagi pada 1 Juli 2017 menjadi Rp 1.467,28/Kwh.

“Menaikkan tarif dasar listrik secara diam-diam bisa berbahaya, karena ini dirasakan langsung. Dipoles dengan pencitraan apapun akan sulit. Sebetulnya yang dinantikan rakyat pembangkit 35 ribu MW yang katanya mudah membangunnya, bukannya naikin tarif diam-diam, kayak cinta terlarang,” tulis Andi Arief di akun Twitter @andiariefaa.

Andi Arief pun berharap Presiden Joko Widodo mendengar keberatan masyarakat soal kenaikan TDL. “Pak Jokowi mudah-mudahan mendengar keresahan yang sudah sangat meluas soal kenaikan Tarif dasar listrik, masyarakat sangat keberatan,” kata @andiariefaa.

Pertanyaan pun mengemuka, karena di sisi lain tidak ada aksi protes atau demontrasi terkait kenaikan TDL ataupun harga BBM.

“Koq bisa direzim @jokowi, kebijakan naikan harga BBM dan TDL berkali-kali bisa mulus tanpa gejolak demo-demo robohkan pagar gedung DPR, bakar-bakar di jalan? ada apa sih?” tulis urologist kondang dr Gunawan di akun Twitter @dr_gundi.

Seperti diketahui, jika diukur dari tahun 2016, kenaikan TDL hingga 1 Juli 2017 mencapai 250% atau 2,5 kali lipat dalam kurun 1,5 tahun. Uniknya, di era Presiden SBY, kenaikan TDL sebesar 15% saja mengundang aksi protes dari PDIP./ itoday.co.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 319 kali, 1 untuk hari ini)