Namanya Saja yang ‘PPKM Mikro Darurat Jawa-Bali’, Sedang Pelaksanaannya Tanpa Bali he he…

Silakan simak ini.

***
Sekda: Bali Tidak Terapkan PPKM Mikro Darurat

Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra saat memberikan keterangan kepada awak media di Denpasar, Rabu, 30 Juni 2021. (Foto: Antara)

Denpasar, – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan Pulau Dewata tidak termasuk kategori daerah yang akan menerapkan PPKM Mikro Darurat, karena sampai saat ini sembilan kabupaten/kota di provinsi itu masih berada di zona oranye.

“Bali ‘astungkara’ sampai saat ini di zona oranye. Karena itu, Bali tidak masuk dalam PPKM darurat,” kata Dewa Indra saat berbincang dengan awak media di Denpasar, Rabu (30/6/2021).

Menurut Dewa Indra yang juga Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Bali, kebijakan PPKM Mikro Darurat tidak bisa dipukul rata diterapkan untuk semua daerah di Tanah Air. Tetapi, itu berlaku khusus untuk wilayah yang berada di zona merah.

“Oleh karena itu, mari kita terus bekerja. Media saya berharap berada di depan untuk terus membangun disiplin masyarakat. Jangan sampai kita masuk ke situ (zona merah-red),” ucapnya.

Jika sampai menerapkan PPKM Mikro Darurat, dikhawatirkan perekonomian Bali akan terpuruk makin parah, setelah hampir 1,5 tahun aktivitas ekonomi masyarakat terdampak karena pandemi Covid-19.

“Tetapi, kita tidak menolak PPKM Darurat sebagai sebuah kebijakan. Bukan itu maksudnya. Kalau bisa kita hindari, mari kita hindari. Caranya bukan tidak mengambil kebijakan itu, tetapi membuat kondisi wilayah kita tidak masuk ke zona merah. Itu tugas kita,” ucapnya.

Sumber: ANTARA

Beritasatu.com Rabu, 30 Juni 2021 | 16:48 WIB

Oleh : JEM

***

Yang disebut ‘PPKM Mikro Darurat Jawa-Bali’ itu diterapkan 3 Juli- 20 Juli 2021, tepat Hari raya Idul Qurban/ Idul Adha bagi Umat Islam, 10 Dzulhijjah 1442H. Dan itu selain Islam seperti Hindu Bali tidak berhari raya itu. Bahkan pentolan di Bali ada yang pernah dikabarkan menentang penyembelihan sapi hewan Qurban bagi Umat Islam.

Karena entah kenapa PPKM itu dikenakan pada hari raya Idul Adha pula, dan namanya meyertakan Bali namun tanpa Bali, maka jadi teringat adanya pentolan Bali yang menentang Idul Adha penyembelihan sapi hewan qurban.

Ingat pada pembenci Islam kan boleh.

Ini beritanya.

***

Nglunjak! Raja Bali minta Umat Islam tidak sembelih sapi untuk kurban

Posted on 24 Oktober 2012

by Nahimunkar.org


  • Raja Bali meminta agar umat Islam tidak menyembelih sapi dengan dalih sapi adalah hewan yang disucikan kaum Hindu.
  • Keyakinan Islam pun diinterupsi oleh orang kafir. Ayo, tokoh Islam mau bilang “Ummat Islam harus sabar dan toleran” demi menjilat entah siapa, atau berani memegangi ayat “lakum dienukum waliyadien”. Kita tunggu saja. Di negeri mayoritas Muslim ini tokoh Islamnya menjilat orang kafir atau berani menegakkan agamanya dengan kepala yang tegak dan dada yang dipasang demi keyakinan iman.
  • Yang minortas kafir saja berani lantang, tetapi yang mayoritas justru kadang sebaliknya. Di negeri kafir seperti Prancis saja ketika ada seorang bintang film menghalang-halangi Muslimin berqurban dengan alasan sebagai penyayang binatang, dia diadukan Muslimin ke pengadilan dan diadili, lantas apakah di negeri Muslim Indonesia ini justru sebaliknya pro kepada penghalangnya?  Kita tunggu saja.

inilah beritanya.

***

Raja Majapahit Bali Minta Umat Islam Tak Sembelih Sapi untuk Kurban

Shodiq Ramadhan | Rabu, 24 Oktober 2012 | 15:19:23 WIB

Jakarta (SI ONLINE) – Beginilah nasib umat Islam jika jumlahnya minoritas. Tak ada yang namanya kebebasan beribadah. Kaum mayoritas bisa seenaknya sendiri meminta umat Islam untuk tidak menjalankan ibadah sesuai keyakinan dan ajaran agamanya.

Di Bali, selama ini ketika umat Hindu menjalankan Nyepi, umat Islam dilarang mengumandangkan adzan. Kini, menghadapi Idul Qurban ternyata umat Islam masih juga diimbau untuk tidak menyembelih sapi.

Adalah Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, President The Hindu Center Of Indonesia yang juga Raja Majapahit Bali, di sela– sela dialog Islam – Hindu di Jawa Tengah, seperti dikutip Tribunnews.com,Rabu (24/10/2012), meminta agar umat Islam tidak menyembelih sapi dengan dalih sapi adalah hewan yang disucikan kaum Hindu.

“Dalam rangka Idul Adha 2012 nanti, saya menghimbau semeton (saudara, red) Islam agar tidak menyembelih sapi sebagai kurban. Mungkin bisa diganti dengan hewan lainnya. Ini penting, karena di Bali, Sapi adalah hewan yang disucikan, dan juga dipercaya sebagai kendaraan Dewa Siwa. Dan mayoritas orang Bali adalah penganut Siwaisme,” katanya.

Dengan dalih toleransi, Arya meminta Desa Adat di Bali untuk memberikan pemahaman kepada umat Islam. Harapannya, kata Arya, tanah Bali tetap sakral dan suci.

“Ya ibaratnya, dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung seperti yang dilakukan Sunan Kudus yang sangat toleran.” ungkap Arya yang juga President World Hindu Youth Organization (WHYO) ini. Tak berhenti sampai disitu, Arya juga mengimbau kepada perusahaan-perusahaan dan pejabat di Bali jika ingin membagikan dana CSR supaya tidak berupa sapi.

“Karena umat Hindu harus memberi contoh dan teladan sebagaimana tatwa yang diajarkan Sang Sulinggih. Mari hargai perasaan umat Hindu sehingga persatuan bisa dijaga,” ungkap President World Hindu Youth Organization (WHYO) ini.

Arya beralasan, imbauannya itu sesuai dengan kebijakan Sunan Kudus saat mendakwahkan Islam di tanah Jawa dahulu. Menurutnya, kala itu Sunan Kudus melarang umat Islam menyembelih sapi di wilayah Kudus demi menghargai penganut agama Hindu.

red: shodiq ramadhan

***

Para pejuang HAM dan hak kaum minoritas kemungkinan bungkam

Ketika yang diinjak-injak itu hak kaum Muslimin maka hampir dapat dipastikan, mereka yang biasanya lantang selaku apa yang mereka sebut pejuang HAM (hak asasi manusia) ataupun hak kaum minoritas, akan bungkam. Seakan yang punya hak untuk diperjuangkan itu hanya orang kafir.

Yang lebih menyakitkan hati Ummat Islam lagi, ketika yang bersikap hanya membela kepentingan kafirin itu mereka yang mengaku sebagai tokoh Islam atau bahkan resmi sebagai pemimpin lembaga Islam atau ormas Islam.

Masih pula, tidak jarang mereka itu ketika Ummat Islam dianiaya bahkan dibunuhi, mereka justru membela penganiaya atau pembunuh dengan aneka ucapan yang sama sekali tidak ada pembelaannya terhadap penderitaan Muslimin. Tetapi sebaliknya, kalau yang terkena itu orang kafir atau munafik maka segera saja diarahkan tuduhan yang mengarah kepada Muslimin sambil memprovokasi agar diusut tuntas.

Salah satu contoh tokoh yang dielu-elukan namun sebenarnya benci terhadap kepentingan Islam dan hanya membela kepentingan kafirin adalah sorotan berikut ini.

Bohong Besar, Gus Dur Bela Minoritas!

Assalamu’alaikum warahmarullahi wabarakatuh

Suara-suara yang menyanjung Gus Dur itu kebanyakan tipuan belaka. Misalnya, dia disebut-sebut sebagai pembela kaum minoritas. Itu dusta belaka. Dia hanya mau membela kalau itu merusak Islam. Misalnya Ahmadiyah yang nabinya palsu tetapi mengaku Islam, bahkan menganggap kafir bagi yang tidak ikut mereka. itulah yang dia bela. Tapi muslim Denpasar yang dilarang punya kuburan Muslim, dilarang bangun masjid lagi, tak dia bela.

Contoh Gus Dur membela kesesatan, berita ini:

Gus Dur Siap Jadi Pembela Ahmadiyah

Sabtu, 19 April 2008 – 11:33 wib

Yuni Herlina Sinambela – Okezone

JAKARTA – Mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menyatakan siap menjadi pembela kelompok Ahmadiyah jika nantinya ada proses pengadilan.

“Kalau dibawa ke pengadilan, saya akan jadi saksi ahli. Kalau diperlukan, saya akan jadi anggota tim pembela,” kata Gus Dur usai diskusi di Utan Kayu, Jalan Utan Kayu, Jakarta,

Sabtu (19/4/2008).

Mengenai pernyataan Bakor Pakem yang menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran sesat dan terlarang, Gus Dur menyatakan telah terjadi pelanggaran Undang Undang Dasar. Karenanya,

menurut Gus Dur, aliran itu tidak perlu dibubarkan.

“Kalau berdasar UUD, harus dipertahankan kemerdekaan berpikir dan berbicara. Jadi karena itu ahmadiyah tidak usah dibubarkan. Bakor Pakem itu salah, melanggar UUD,” nilai mantan presiden ini.(jri)

http://news. okezone.com/ index.php/ ReadStory/ 2008/04/19/ 1/102013

Ya, memang dia siap jadi pembela kalau itu merusak Islam, seperti Ahmadiyah dengan nabi palsunya. Sebaliknya, dia tak mau tahu kalau itu yang menderita adalah orang Islam.

Buktinya, berkali-kali ada berita, orang Islam di Bali khususnya di Denpasar yang berjumlah 30 persen itu tidak dibolehkan punya pekuburan Muslim. Mereka sudah sering mengeluh, tetapi adakah pembelaan Gus Dur? Muslimin Denpasar tidak boleh mendirikan lagi musholla, apalagi masjid, padahal yang ada sudah tak memadahi. pernahkah Gus Dur kerangkang-rangkang untuk membela Muslimin yang didholimi itu seperti yang ia lakukan di antaranya membela Gereja di Karang Tengah Tangerang, dan membelanya pun dengan melabrak ke masjid, akhirnya diusir oleh masyarakat karena asal bela gereja begitu saja? Jadi secara singkatnya, dia adalah pembela siapa dan apa saja yang merusak dan membenci Islam. sebaliknya, tidak mau tahu kalau itu Islam yang didholimi.

Itu kalau dalam ilmu aqidah, wala’ (kecintaannya) terbalik. Seharusnya cinta kepada Allah, Rasul, Islam, dan Muslimin; tapi justru sebaliknya. jadi wala’ dan bara’nya terbalik.

Maka benarlah perkataan seorang Kiai NU di Madura, KH Kholil Muhammad, “Semoga tidak ada lagi kiai nyeleneh secara pemikiran setelah Gus Dur,”

Banyaknya orang yang menyanjung Gus Dur, barangkali saja filter hidung-hidung manusia sudah banyak yang tidak mampu menyaring secara obyektif. Sehingga mereka sudah berubah jadi berhidung lalat, justru merasa sedap ketika bertemu dengan barang busuk apalagi sangat busuk. Makanya bau busuk yang sangat menyengat itu justru sangat wangi bagi mereka, hingga menyanjungnya dan mengelu-elukannya.

Meskipun demikian, masih ada pula kiyai yang sudah benar-benar muak dengan Gus Dur di antaranya KH Ali Yafie, sampai dua kali mundur ketika Gus Dur memimpin.

Pertama, KH Ali Yafie mundur dari petinggi kiyai NU (struktural) ketika Gus Dur jadi ketua umum PBNU karena Gus Dur minta dana dari YDBKS yayasan yang mengelola judi nasional, SDSB yang dulunya bernama Porkas.

Kedua, KH Ali Yafie mundur dari ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) ketika ternyata Gus Dur naik jadi presiden.

Ada lagi KH Kholil Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Gunung Jati Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur menilai, pluralisme agama yang diusung Gus Dur sangat berbahaya bagi umat Islam. “Semoga tidak ada lagi kiai nyeleneh secara pemikiran setelah Gus Dur,” ujarnya.(TEMPO Interaktif, Rabu, 30 Desember 2009 | 23:24WIB).

Apakah kita akan ikut-ikut jadi lalat yang lebih senang terhadap yang busuk-busuk?

Wassalam

Hajaiz Ahmad/ 4 January 2010 | Filed under: Ahmadiyah,Sepilis | Posted by: nahimunkar.org

(nahimunkar.org)


(Dibaca 412 kali, 1 untuk hari ini)