ilustrasi/ foto myahok.com


GM (Goenawan Mohammad) menulis di twitter semacam nasehat politik. Bunyinya: Menang tak mentang2, kalah tak meradang—sikap ksatria dalam sport yang perlu dihidupkan dlm politik kita.

Ternyata tampaknya nasehat politik GM itu justru diplenteti (disepelekan) orang dengan komen-komen yang menohok. Di antaranya ini.

Maksudnya seperti ini kali ya?? Menang mabuk (disertai gambar), kalah ngamuk (bergambar pula) / Muuuhaaaaannn‏ @muhanpr_

Retweet

  1. Muuuhaaaaannn‏ @muhanpr___Jun 30

Replying to @gm_gm

Mksdnya spt ini kli ya??

2 replies23 retweets66 likes

  1. badan purwanto‏ @badanpurwantoJun 30

More

Replying to @gm_gm

Kalah pilpres 10th ga pernah mau nemui presiden terpilih,kalah pilgub DKI lari dari sertijab,bakar lilin,ngrubuhin pager LP,nyampah,kalah pilgub KALBAR potong kepala babi bakar warung2 org JAWA Siapa yg perlu diajari jiwa ksatria mbah? @RestyCayah @ustadtengkuzul @eae18 @saididu

  1. ᴍᴀᴋ ʜɪᴛᴀᴍ™️ ?‏ @mak_hitam Jun 30

Replying to @gm_gm

Ada yg masih meradang sampai hari ini atas kekalahan Ahok.

  1. Abi Londo‏ @Abi_LondoJun 30

Replying to @gm_gm

Kalbar gimana mbah ??!!!

  1. Muuuhaaaaannn‏ @muhanpr___Jun 30

Replying to @gm_gm

Kalah di Jatim – mengkambing hitamkan koalisi Kalah di KalBar – Rusuh Ada yg mau nambahin??

 yudhi‏ @thenmustyudhi Jun 30

Kalah di DKI nyampah lilin dan demo sepanjang malam…

***

Untuk sekadar tahu sikap GM, silakan baca ini.

***

Goenawan  Mohamad (Pendukung Ahok) Ini pun Perusak Agama

Posted on 6 Mei 2017 – by Nahimunkar.com

ilustrasi/ foto myahok.com

Goenawan Mohamad (GM) melalui tulisannya berjudul “Tentang Atheisme Dan Tuhan Yang Tak Harus Ada” sebagaimana dipublikasikan harian Kompas  edisi 6 Oktober 2007, antara lain dikatakan GM, “…Ketika kita mengatakan ‘Tuhan itu Satu’, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya…”

Mengapa demikian? Karena menurut GM, kata esa atau tunggal atau satu itu menunjuk kepada sesuatu yang dapat dihitung. Maka, jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Begitulah pendapat GM

Padahal, dalam perspektif Islam, Allah sendiri yang menyebut dirinya satu, esa, tunggal atau ahad, sebagaimana bisa ditemui pada Al-Qur’an al-Kariem surat ke-112 (Al-Ikhlaash): Qul huwallaahu ahad.

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدُ

(1) Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. (2) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (3) Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, (4) Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS Al-Ikhlash/ 112: 1, 2, 3, 4).

Masa’ sih, GM yang konon beragama Islam tidak pernah membaca surat Al-Ikhlaash. Kalau buku-buku yang tergolong ‘berat’ saja ia sempat baca, masak sih surat sependek itu seumur hidupnya tidak sempat terbaca.

Baik GM pernah membaca surat Al-Ikhlaash maupun tidak, GM telah berfatwa tentang hal yang sangat amat besar dalam agama, yakni tentang kemusyrikan. Dan yang amat sangat fatalnya, “fatwa”nya itu justru menjatuhi hukum musyrik bagi setiap orang yang bertauhid, yang mengimani bahwa Allah itu satu. Perkataan GM: “…Ketika kita mengatakan ‘Tuhan itu Satu’, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya…” itu benar-benar kesesatan yang amat sangat tinggi. Itu tidak akan keluar dari mulut siapapun, kecuali dari orang yang jelas-jelas merusak agama. Apalagi masih berbau marxisme komunisme, maka jelas itu adalah suara orang yang sejatinya anti agama. (tede/haji/ nahimunkar.com)

***

Goenawan harus menelan kekecewaan atas perkataannya ini:

Ini Ahok dijaga betul sama Jokowi. Saya mengira, 2017 Ahok jadi gubernur lagi dan 2019 jadi wakil presiden. DKI nanti dipegang orang lain. Makanya PDIP seharusnya pasang orang untuk nanti gantikan Ahok./lihat myahok.com 05/08/2016

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.958 kali, 1 untuk hari ini)