[Nasehat Tentang Rejeki]

 


 

Seberapa kadar yakin Anda kepada Allah, tawakalnya Anda kepada-Nya, percayanya Anda kepada-Nya dan terhadap apa yang ada di Tangan-Nya, seberapa itulah luasnya hati Anda dalam masalah rejeki.

Namun seberapa yakin dan harapnya Anda pada manusia dan apa yang ada di tangan mereka, maka seberapa itulah sempit hati Anda dalam masalah rejeki.

Maka kita lihat raut-raut kelesuan di wajah banyak insan. Guratan keputusasaan. Juga ada di antara mereka yang lidahnya menjilat kemana-mana. Bukan anjing gila, tetapi manusia. Manusia yang betul-betul menggantungkan harapannya kepada dunia dan isinya yang fana.

Ingatkan mereka kisah Maryam alaihassalam. Yang sebegitu kuat keimanan beliau kepada Allah. Contohlah akan tawakkal dan yakinnya beliau. Hingga di kediaman beliau -di mihrab masjid-, selalu didapatkan makanan, yang tak satupun insan mengirimnya ke sana. Namun selalu ada di sana makanan untuk beliau.

Allah ar-Razzaq berfirman:

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا ٱلْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقًۭا ۖ قَالَ يَٰمَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” [Q.S. Ali Imran: 37]

Apa maksud ‘tanpa hisab’ di ayat tersebut?

Al-Imam Abu Ja’far ath-Thabary menyebutkan dalam tafsir beliau:

فربنا تبارك وتعالى غيرُ خائف نفادَ خزائنه، ولا انتقاصَ شيء من ملكه، بعطائه ما يعطي عبادَه، فيحتاج إلى حساب ما يعطي، وإحصاء ما يبقي

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala tidak takut akan surutnya kekayaan-Nya, tidak pula akan berkurangnya sedikitpun dari kepemilikan-Nya, dengan pemberian yang Dia berikan pada hamba-Nya, sehingga Dia (tidak) perlu menghitung-hitung apa yang Dia beri dan (tidak perlu) menghimpun yang tersisa.” [Jami’ al-Bayan, 4/275]

Jika Anda mendapatkan ada seorang yang sangat kaya raya, dan dia jika memberi tak pernah berpikir akan berkurangnya kekayaannya, maka mesti Anda akan memiliki kecondongan kepadanya di saat berkebutuhan. Padahal:

1. Kekayaannya terbatas
2. Kekayaannya akan berkurang dan terus berkurang seiring dia memberi orang
3. Bukan tak mungkin esok ia berubah sikap
4. Setelah ia berubah sikap, boleh jadi ia akan mengungkit pemberian dan menagih

Lalu bagaimana dengan Allah Ta’ala?

1. Kekayaannya tak terbatas
2. Segala yang di langit dan bumi adalah milik-Nya
3. Kekayaannya tak berkurang sedikitpun kendati setiap saat seluruh makhluk diberi oleh-Nya
4. Dia Maha Pengasih dan semakin mengasihi jika kita kian dekat dengan-Nya
5. Dia takkan mengungkit dan menagih agar kita kembalikan semua rejeki, namun Dia menanyakan seberapa syukur atau seberapa kufur, dan di balik itu ada balasan.

Maka, kenapa masih ada di antara insan kurang percaya pada Allah?

Sungguh Allah merizkikan siapapun yang Dia kehendaki tanpa khawatir sedikitpun akan berkurangnya khazanah kerajaan-Nya.

 

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

Kemarin pukul 11.31 ·

 

Ilustrasi/ foto pinterest.com

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 343 kali, 1 untuk hari ini)