Nasehat untuk Muslim yang Disakiti


Ilustrasi. Parkir sembarangan yang dilakukan mobil warna kuning [Facebook: SANDAKANKINI]./ .suara.com

Di antara ajaran agama Islam dari segi adab yang patut untuk diamalkan adalah sabar terhadap gangguan tetangga, baik tetangga di kehidupan nyata maupun semakna dengannya yaitu teman di media sosial. Termasuk pula di dalamnya gangguan dari segi perbuatan atau perkataan. Kesabaran itu melazimkan kita menahan diri dari membalas dengan hal serupa.

Barangsiapa yang berlaku sebaik itu, ia akan mendapatkan cintanya Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkenaan dengan 3 orang yang Allah cintai mereka. Salah satunya beliau sebutkan:

وَرَجُلٌ لَهُ جَارٌ يُؤْذِيهِ، فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ وَيَحْتَسِبُهُ حَتَّى يَكْفِيَهُ اللهُ إِيَّاهُ بِمَوْتٍ أَوْ حَيَاةٍ

“Seseorang yang mendapatkan tetangganya selalu mencaci dan mengganggunya sedang ia tetap bersabar dan berharap Allah akan menghentikannya dengan kematian atau semasa hidupnya.” [H.R. Ahmad, no. 20550, dari hadits Abu Dzar radhiyallahu anh, dengan sanad sesuai syarat Muslim]

Wallahu a’lam.

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy/ via fb

***

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam  bersabda dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu’anhu:

ثَلَاثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ رَجُلٌ غَزَا فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ فَلَقِيَ الْعَدُوَّ مُجَاهِدًا مُحْتَسِبًا فَقَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ وَرَجُلٌ لَهُ جَارٌ يُؤْذِيهِ فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ وَيَحْتَسِبُهُ حَتَّى يَكْفِيَهُ اللَّهُ إِيَّاهُ بِمَوْتٍ وَرَجُلٌ يَكُونُ مَعَ قَوْمٍ فَيَسِيرُونَ حَتَّى يَشُقَّ عَلَيْهِمُ الْكَرَى أَوِ النُّعَاسُ فَيَنْزِلُونَ فِيْ آخِرِ اللَّيْلِ فَيَقُومُ إِلَى وُضُوئِهِ وَصَلَاتِهِ

“Tiga orang yang Allah cintai, seorang yang berjumpa musuhnya dalam keadaan berjihad dan mengharap pahala Allah, lalu berperang sampai terbunuh dan seseorang memiliki tetangga yang mengganggunya lalu ia sabar atas gangguan tersebut dan mengharap pahala Allah sampai Allah cukupkan dia dengan meninggal dunia serta seseorang bersama satu kaum lalu berjalan sampai rasa capai atau kantuk menyusahkan mereka, kemudian mereka berhenti di akhir malam, lalu dia bangkit berwudhu dan shalat.”(Riwayat Ahmad dengan sanad yang shohih) (Lihat Huququl Jaar Fi Shohihis Sunnah wal Atsar, karya Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid hal 32)/ suaraaliman.com/

***

(nahimunkar.org)

(Dibaca 269 kali, 1 untuk hari ini)